Chapter Twenty
Gue Lagi PDKT
POV: Evelyn
Tara melihat dua gelas kopi di tanganku dan langsung berhenti berjalan.
“Enggak.”
Aku mengangkat alis. “Apaan?”
“Gue belum siap.”
“Siapa yang minta?”
Dia menunjuk gelas Americano.
“Lagi?”
“Iya.”
“Kemarin juga.”
“Iya.”
“Buat Reza?”
“Iya.”
Tara menatapku lama.
Aku mulai kesal. “Kalau lo mau nanya, nanya.”
“Lo lagi ngapain?”
“PDKT.”
Tara berkedip.
Aku berjalan melewatinya.
Dia menyusul cepat. “Tunggu. Apa?”
“Pendekatan.”
“Gue tahu singkatannya.”
“Bagus.”
“Lo sama Reza?”
Aku berhenti.
“Menurut lo gue PDKT sama dosen?”
“Bukan. Gue cuma mau dengar lo ngomong lagi.”
“Najis.”
Tara tertawa sampai harus memegang lenganku.
Aku menarik tangan.
“Norak.”
“Evelyn Angelista bilang dia PDKT.”
“Terus?”
“Lo suka Reza?”
Pertanyaan itu dulu mungkin akan membuatku mengeluarkan sepuluh alasan.
Hari ini tidak.
“Iya.”
Tara berhenti tertawa.
Aku melanjutkan jalan.
“Gue suka Reza.”
“Lo ngomongnya kayak ngumumin jadwal kelas.”
“Harus pakai backsound?”
“Enggak. Gue cuma…”
“Jangan norak.”
Tara tersenyum lebar.
“Terus sekarang?”
“Gue kejar.”
Kalimat itu terasa benar.
Aku menemukan Reza di taman belakang gedung SI. Dia sedang membaca sesuatu di laptop.
Aku meletakkan Americano di samping tangannya.
Dia mendongak.
“Pajak.”
“Apaan?”
“Setiap hari kopi.”
“Kalau nggak mau balikin.”
Tangannya langsung menahan gelas.
“Siapa bilang?”
Aku duduk di sebelahnya.
Bukan di seberang.
Sebelah.
Jarak bahu kami sekitar satu telapak tangan.
Reza melihat kursi kosong di depanku, lalu melihatku.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Lo mau gue pindah?”
“Enggak.”
“Ya udah.”
Aku membuka ponsel.
Beberapa menit kami diam.
Aku sengaja membiarkan jarak itu.
Kemudian Reza menutup laptop.
“Vel.”
“Hm?”
“Gue boleh nanya serius?”
“Tergantung.”
“Lo lagi ngapain?”
Aku menatapnya.
“PDKT.”
Dia tertawa pendek. “Sama siapa?”
“Lo.”
Tawanya berhenti.
Aku hampir menikmati ekspresinya terlalu banyak.
“Gue lagi PDKT sama lo.”
“Vel…”
“Apa?”
Dia memandang gelas kopinya.
“Gue nggak mau salah baca lagi.”
Nada suaranya mengubah suasana.
Aku tahu persis apa yang dia maksud.
Beberapa hari lalu aku menyuruhnya berhenti. Sekarang aku datang tiap hari, menunggu, mengajak makan, membawakan kopi.
Kalau aku berada di posisinya, aku juga akan curiga.
Jadi aku tidak bercanda.
“Gue nggak minta lo langsung percaya.”
Reza menatapku.
“Gue juga nggak minta lo ngejar gue lagi.”
“Terus?”
“Gue yang ngejar.”
Dia diam.
Aku melanjutkan, “Kalau lo beneran terganggu, bilang.”
Sudut bibirnya bergerak.
“Kenapa?”
“Biar gue berhenti.”
Kalimat itu penting.
Aku baru mengerti nilainya setelah melihat Reza benar-benar menghormati permintaanku.
Dia menggeleng pelan.
“Gue nggak terganggu.”
“Bagus.”
“Tapi gue bingung.”
“Biasain.”
Reza tertawa.
Kami makan siang bersama. Saat antre, dia melihat rambutku.
“Lo hari ini beda.”
“Apanya?”
“Rambut.”
Aku menyentuh ujung rambut. “Cuma diikat.”
“Bagus.”
Aku menatapnya.
Reza tersenyum. “Jangan geer.”
Dulu aku mungkin akan bilang bacot.
Hari ini aku melihat rambutnya balik.
“Rambut lo juga lumayan.”
Dia mengangkat alis. “Lumayan apanya?”
“Ganteng.”
Reza benar-benar terdiam.
Aku menahan senyum.
“Nggak jadi.”
“Kenapa?”
“Senyum lo ngeselin.”
Dia masih tersenyum.
Aku mengambil nampan dan berjalan.
Dua langkah kemudian aku menoleh.
“Tapi emang ganteng.”
“Vel.”
“Apa?”
“Lo sengaja, ya?”
“Baru sadar?”
Kami duduk. Reza masih terlihat belum pulih.
Aku menyukai dinamika baru ini.
Selama berbulan-bulan dia menggodaku lalu tertawa ketika aku kesal. Sekarang aku tidak perlu mengalahkan godaannya.
Aku hanya perlu menjawab jujur.
Ternyata kejujuran jauh lebih efektif.
“Besok lo ada kelas?” tanyanya.
“Ada.”
“Selesai jam berapa?”
Aku mengangkat alis. “Mau nungguin?”
Reza berhenti.
Aku melihat keraguan itu.
Dia masih menahan diri.
“Kalau gue boleh.”
Aku menyandarkan dagu ke tangan.
“Boleh.”
Dia mengangguk.
“Tapi,” kataku.
“Apa?”
“Gue mungkin nyari lo duluan.”
Reza tertawa kecil.
“Kompetisi?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Gue cuma nggak suka kalah.”
Sore itu kami berjalan menuju parkiran.
Di persimpangan, Reza harus ke kanan dan aku ke kiri.
Biasanya dia akan mengantarku.
Sekarang dia berhenti.
“Gue ke sana.”
Aku mengangguk.
Dia mengambil dua langkah.
“Za.”
Dia menoleh.
“Besok.”
“Hm?”
“Jangan bikin gue nunggu lama.”
Senyumnya muncul perlahan.
“Siap.”
Aku berjalan pergi.
Ponselku bergetar sebelum sampai tangga.
**Makasih kopinya.**
Aku membalas:
**Besok gue tagih.**
**Apa?**
Aku tersenyum.
**Waktu lo.**
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Aku memasukkan ponsel ke tas sebelum balasannya datang.
Biar dia yang nge-lag sebentar.
Aku sudah selesai menyangkal.
Aku suka Reza.
Aku sedang mengejarnya.
Pengakuan “gue lagi PDKT” terasa jauh lebih ringan setelah keluar dari mulutku. Selama beberapa hari aku sibuk mencari cara menunjukkan niat tanpa mengatakan namanya. Ternyata menyebutnya langsung justru membuat napasku lega. Reza sekarang tahu. Tidak perlu menebak kenapa aku menunggu, kenapa aku membeli kopi, atau kenapa aku mulai bertanya tentang hidupnya. Semua tindakan itu punya arah.
Namun ekspresi hati-hatinya tadi tidak hilang dari kepalaku. Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku pernah mengatakan kehadirannya mengganggu, lalu beberapa hari kemudian datang membawa kopi dan menyebutnya PDKT. Kalau aku berada di posisinya, mungkin aku akan curiga ada kamera tersembunyi. Karena itu aku memutuskan satu aturan untuk diriku sendiri: aku boleh agresif soal kejujuran, tapi tidak boleh agresif soal jawaban. Reza berhak menentukan kecepatannya sendiri.
Ketika kami berjalan ke parkiran, jarak tangan kami beberapa kali sangat dekat. Aku bisa saja menyentuhnya. Aku tidak melakukannya. Belum. Ada dorongan untuk membuktikan bahwa aku serius dengan melakukan sesuatu yang lebih besar, tetapi aku menahannya. Dulu Reza membangun kedekatan kami lewat pengulangan kecil, bukan satu adegan dramatis. Kalau sekarang giliranku, aku juga bisa sabar. Besok masih ada.
Tara menelepon malam itu dan meminta laporan seolah aku baru pulang dari misi negara. Aku bilang Reza tahu aku sedang PDKT. Dia menjerit kecil. Aku menjauhkan ponsel. “Norak.” Tara bertanya apakah Reza menerima. “Ini bukan lamaran kerja,” jawabku. “Gue nggak butuh surat penerimaan.” Yang kubutuhkan cuma kesempatan untuk terus menunjukkan bahwa kali ini aku tidak sedang bingung.
Setelah telepon ditutup, Reza membalas pesan terakhirku. **Waktu gue mahal.** Aku tersenyum dan mengetik: **Gue mampu.** Dia membalas: **Bayarnya pakai apa?** Aku berpikir sebentar. **Kopi. Makan. Sama gue yang nggak kabur.** Balasannya lama. **Yang terakhir lumayan.** Aku membaca kalimat itu dua kali. Ada rasa hangat sekaligus perih karena aku tahu persis kenapa bagian terakhir berarti sesuatu baginya.
Aku mengetik lebih pelan. **Gue serius, Za.** Kali ini tidak ada lelucon. Balasannya datang: **Gue tahu. Gue cuma masih belajar percaya situasinya.** Aku mengangguk meski dia tidak bisa melihat. **Belajar aja. Gue nggak ke mana-mana.** Setelah mengirimnya, aku sadar kalimat itu mungkin janji pertama yang kuberikan kepadanya. Bukan pengakuan cinta. Belum. Hanya kepastian bahwa besok aku masih akan ada.
Dan ternyata setelah berhenti berbohong kepada diri sendiri, menjadi orang yang mengambil langkah pertama tidak semenakutkan yang kubayangkan.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT reading
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue