← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Nineteen

Kali Ini Gue yang Beli

POV: Evelyn

Hari berikutnya aku datang membawa dua kopi.

Satu latte untukku.

Satu Americano tanpa gula untuk Reza.

Aku berdiri di depan gedung SI pukul sebelas dua puluh tujuh. Tiga menit sebelum kelasnya selesai.

Kemajuan.

Ketika Reza keluar, dia melihat gelas di tanganku lalu melihat wajahku.

“Ini mulai serem.”

Aku menyerahkan Americano.

“Minum.”

Dia menerimanya. “Buat gue?”

“Enggak. Buat satpam.”

“Satpamnya tersentuh.”

Kami duduk di bangku taman.

Reza membuka tutup gelas dan mencium aromanya.

“Bener.”

“Apanya?”

“Pesanan gue.”

“Americano tanpa gula bukan informasi rahasia negara.”

“Tetep aja.”

Aku minum latte.

Masalah yang baru kusadari adalah aku tahu sangat sedikit tentang Reza dibandingkan sebaliknya.

Dia tahu jadwalku. Minumanku. Makanan yang kuhindari. Bahkan jenis cokelat yang kupilih.

Aku tahu Americano dan daun bawang.

Memalukan.

“Lo dengerin musik apa?”

Reza menoleh. “Hah?”

“Musik.”

“Kenapa?”

“Jawab.”

Dia menyebut beberapa band.

Aku membuka notes di ponsel.

Reza melihat layar. “Lo nyatet?”

“Biar nggak lupa.”

“Vel.”

“Apa?”

“Lo lagi wawancara gue?”

“Belum.”

Aku melanjutkan.

“Film?”

“Thriller.”

“Yang paling lo suka?”

Dia menjawab.

“Makanan?”

“Mi ayam.”

“Selain itu.”

“Kenapa mi ayam didiskriminasi?”

“Jawab.”

Dia tertawa lalu menyebut sate dan nasi goreng.

Aku mengetik.

“Warna?”

“Hitam.”

“Basi.”

“Abu.”

“Lebih basi.”

“Kenapa selera warna gue dihakimi?”

“Karena gue yang nanya.”

Reza menggeleng sambil tersenyum.

Aku bertanya tentang tempat yang ingin dia kunjungi, parfum yang dia pakai, apakah dia benar-benar suka gym atau cuma terpaksa karena Dion, sampai ukuran sepatu.

Pada pertanyaan terakhir dia mengangkat tangan.

“Stop.”

“Kenapa?”

“Lo mau beliin sepatu?”

“Belum tahu.”

“Belum tahu?”

Aku mengunci ponsel.

Reza menatapku beberapa detik.

“Serius. Kenapa?”

Aku sebenarnya sudah menyiapkan jawaban.

Karena aku kangen.

Karena aku baru sadar aku selalu menerima perhatian tanpa pernah belajar memberikan perhatian yang sama.

Yang keluar lebih sederhana.

“Gue sadar gue nggak terlalu kenal lo.”

Dia tidak bercanda.

Aku melanjutkan, “Lo tahu banyak soal gue. Gue tahu dikit.”

“Gue yang milih merhatiin.”

“Nah.”

“Nah apa?”

“Sekarang gue juga.”

Reza diam.

Aku membuka notes lagi.

“Jadi gue belajar.”

“Belajar apa?”

Aku menatapnya.

“Lo.”

Wajah Reza kosong.

Benar-benar kosong.

Aku menunggu.

“Kenapa diem?”

“Gue lagi proses.”

Aku tersenyum tipis. “Lemot.”

Dia mengusap wajah.

“Dulu gue kira hal paling susah itu bikin lo nggak ngusir gue.”

“Sekarang?”

“Sekarang lo bikin gue bingung.”

“Bagus.”

Siang itu kami makan bersama. Kali ini aku yang memilih tempat berdasarkan jawaban yang baru kudapat.

Reza memperhatikan itu.

“Lo sengaja?”

“Apanya?”

“Tadi gue bilang suka nasi goreng.”

“Terus?”

“Sekarang kita makan nasi goreng.”

“Hebat. Otak lo nyambung.”

Dia tertawa.

Aku mulai menikmati satu hal yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan: membuat Reza kehilangan kata-kata.

Selama ini dia terlalu santai. Selalu punya jawaban. Selalu bisa mengubah ketusku jadi bahan bercanda.

Sekarang satu kalimat lurus dariku bisa membuatnya diam.

Menarik.

Selesai makan, Reza berdiri.

“Gue ada rapat.”

“Jam berapa selesai?”

“Lima.”

“Besok?”

“Kenapa jadwal gue sekarang diaudit?”

“Jawab.”

“Besok kosong setelah jam satu.”

Aku mengangguk.

Dia mengangkat alis. “Lo mau nyari gue lagi?”

“Iya.”

Tidak ada alasan untuk berbohong.

Reza terdiam lagi.

Aku menunjuk wajahnya. “Nah. Nge-lag.”

“Gue belum biasa.”

“Biasain.”

Dia memasukkan tangan ke saku.

“Vel.”

“Hm?”

“Lo nggak perlu ngebales semua yang dulu gue lakuin.”

Aku mengerutkan kening.

“Gue nggak lagi bayar utang.”

“Terus?”

Aku berdiri dan merapikan tas.

“Gue pengen.”

Kalimat itu membuat kami sama-sama diam.

Aku mengenal kalimat itu.

Reza sudah berkali-kali mengatakannya kepadaku.

**Gue tahu. Gue pengen.**

Sekarang giliran dia yang menerimanya.

Aku berjalan dua langkah lalu menoleh.

“Hati-hati rapatnya.”

Reza mengerutkan kening. “Hati-hati rapat?”

“Ya.”

“Rapat nggak berbahaya.”

“Kalau gitu batal.”

Aku berbalik.

“Vel.”

“Apa?”

“Makasih kopinya.”

Aku mengangkat tangan tanpa menoleh.

Malamnya aku membuka notes yang kubuat.

Nama band.

Film.

Makanan.

Warna.

Tempat.

Hal-hal sederhana.

Aku tersenyum kecil.

Ternyata mengenal Reza terasa menyenangkan.

Bukan karena aku sedang membalas kebaikannya.

Bukan karena merasa bersalah.

Aku memang ingin tahu.

Dan mungkin itu perubahan paling besar.

Dulu aku selalu bertanya kenapa Reza terus memperhatikanku.

Sekarang aku akhirnya mengerti jawabannya.

Setelah Reza pergi ke rapat, aku duduk beberapa menit lagi dan melihat daftar di notes. Rasanya sedikit konyol. Manusia tentu tidak bisa dipahami lewat daftar makanan dan film favorit. Tapi daftar itu bukan tujuannya. Aku sedang melatih diri untuk melakukan sesuatu yang selama ini Reza lakukan tanpa banyak bicara: memperhatikan. Bukan supaya suatu hari aku bisa membuktikan seberapa banyak yang kuhafal, melainkan karena hidupnya mulai membuatku penasaran bahkan ketika tidak berhubungan denganku.

Aku mengirim satu lagu dari band yang tadi dia sebut. Tidak ada komentar. Hanya link. Lima menit kemudian dia membalas, “Lo beneran dengerin?” Aku menjawab, “Enggak. Gue kirim buat dekorasi chat.” Dia mengirim emoji tertawa. Lalu aku mengaku lagu kedua lebih bagus daripada yang pertama. Percakapan berlanjut hampir setengah jam. Untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang membuka pintu percakapan dan berharap orang di seberang tidak cepat menutupnya.

Reza tidak pernah membuatku membayar kembali perhatian yang dulu dia berikan. Itu justru membuatku semakin ingin melakukan semua ini dengan benar. Aku tidak sedang menyusun skor. Tidak ada lima kopi dari dia yang harus dibalas lima kopi dariku. Hubungan bukan spreadsheet. Aku hanya ingin, suatu hari nanti, Reza juga bisa mengalami hal sederhana yang selama ini tanpa sadar kunikmati: merasa diperhatikan oleh orang yang dia inginkan.

Malam itu aku menambahkan satu catatan baru, bukan fakta tentang Reza, melainkan pengingat untuk diriku sendiri: jangan buru-buru. Aku sudah membuatnya mundur karena pernah merasa terlalu penuh. Aku tidak ingin sekarang melakukan hal yang sama kepadanya hanya karena baru sadar perasaanku. Mengejar bukan berarti menyerbu. Aku bisa jelas tanpa memaksa. Besok aku akan datang lagi, dan kalau dia bilang butuh waktu, aku akan belajar menunggu.

Ketika seseorang mulai penting, detail-detail kecil tentang dia tidak lagi terasa kecil.