← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Twenty Two

Mau Gue Pangku?

POV: Evelyn

Kantin penuh.

Reza berdiri sambil membawa nampan dan menatap meja kami yang hanya punya tiga kursi.

Aku, Tara, dan Dion sudah duduk.

Tidak ada kursi kosong.

“Gue cari kursi,” katanya.

Aku menepuk pahaku.

“Mau gue pangku? Sini.”

Dion tersedak minum.

Tara menutup wajah.

Reza tidak bergerak.

Aku menatapnya. “Kenapa?”

“Gue lagi mempertimbangkan hidup.”

“Kelamaan. Makanan lo dingin.”

Dion akhirnya berhasil bernapas. “Kayaknya predatornya ganti.”

Aku menunjuk dia. “Makan.”

Reza menarik kursi dari meja sebelah setelah penghuninya pergi.

“Sayang banget,” kataku.

Dia duduk. “Lo kecewa?”

“Sedikit.”

“Vel.”

“Apa?”

“Lo beneran nggak punya rem?”

“Punya.”

“Di mana?”

“Gue lepas.”

Tara berdiri membawa nampan. “Gue sama Dion pindah.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Survival.”

Mereka pergi ke meja lain.

Reza menatapku.

“Temen-temen kita ninggalin.”

“Bagus. Berisik.”

Kami makan.

Setelah beberapa menit Reza bertanya, “Vel.”

“Hm?”

“Lo suka gue?”

Aku mengangkat kepala.

Pertanyaannya sangat langsung.

Untung aku sudah selesai bersembunyi.

“Iya.”

Sendok Reza berhenti.

“Gue suka lo.”

Dia menatapku.

“Kenapa diem?”

“Gue nggak nyangka lo jawab secepat itu.”

“Lo nanya.”

“Iya, tapi…”

“Pertanyaan berikutnya.”

Reza tertawa pelan.

“Lo kangen gue waktu gue berhenti?”

“Iya.”

Kali ini dia benar-benar diam.

“Kok diem? Lo yang nanya.”

“Gue masih adaptasi sama Evelyn versi jujur.”

“Jangan lama-lama.”

Dia menyandarkan siku ke meja.

“Kenapa sekarang sering banget nyari gue?”

“Suka.”

“Sesimpel itu?”

“Iya. Pertanyaan berikutnya.”

Reza tertawa sampai menunduk.

Sore hari kami duduk di taman kampus. Reza memakai satu earphone. Aku mengambil earbud satunya dari tangannya dan memasangnya ke telingaku.

Dia menoleh.

“Nyolong?”

“Pinjam.”

Aku duduk dekat.

Lagu berjalan.

Reza bergeser sedikit karena kabelnya tertarik.

Aku ikut bergeser.

Dia bergeser lagi.

Aku ikut lagi.

Akhirnya dia menatapku.

“Kenapa ngikut?”

“Kan lagi PDKT.”

“PDKT nggak harus sedeket ini.”

Aku berpikir sebentar.

“Oh.”

Reza terlihat lega terlalu cepat.

“Berarti masih bisa lebih deket?”

Aku menggeser sampai bahu kami menempel.

“Vel.”

“Apa?”

“Lo sengaja.”

“Baru sadar?”

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Tubuh Reza kaku beberapa detik.

Aku tetap diam.

Lagu berganti.

Perlahan bahunya rileks.

“Berat?” tanyaku.

“Enggak.”

“Bagus.”

Kami mendengarkan dua lagu tanpa bicara.

Aku suka keheningan itu.

Dulu aku mengira Reza selalu harus membuat suasana ramai. Ternyata ketika kami cukup dekat, diam bersamanya juga nyaman.

Menjelang pulang, kami berjalan ke gerbang.

“Gue ke kanan,” kata Reza.

Aku berhenti.

“Sama gue.”

Dia melihat arah jalanku. “Kos gue kebalik.”

“Ya udah, anterin gue. Habis itu lo pulang.”

“Kenapa gue?”

“Karena gue pengen lebih lama sama lo.”

Reza berhenti total.

Aku berjalan dua langkah sebelum sadar dia tidak mengikuti.

Aku menoleh.

“Za.”

“Hm?”

“Gitu doang nge-lag. Dulu bacot banget.”

Dia menyusul sambil tertawa.

Kami naik motornya. Saat mulai jalan, tanganku awalnya memegang sisi jok.

Di lampu merah pertama, aku memindahkan tangan ke pinggangnya.

Reza sedikit menegang.

“Vel.”

“Apa?”

“Pegangan?”

“Iya.”

“Biasanya jok.”

“Sekarang pinggang.”

“Kenapa?”

“Lebih aman.”

Lampu berubah hijau.

Aku menambahkan, “Sama lebih enak.”

Motornya sedikit tersentak.

“Fokus nyetir.”

“Yang ganggu siapa?”

Aku tertawa dan mempererat pegangan.

Di depan tempat tinggalku, aku turun.

Reza membuka helm.

“Lo sengaja bikin gue gugup seharian?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Lucu.”

Dia menggeleng.

Aku mengambil tasku.

“Besok rambut lo jangan berantakan.”

“Kenapa?”

“Gue suka yang tadi.”

Reza menatapku.

Aku tersenyum kecil.

“Udah. Pulang.”

Dia menyalakan motor.

Sebelum pergi, dia berkata, “Gue seneng lo ngejar gue.”

Kalimat itu menghantam lebih tepat daripada semua godaannya.

Aku terdiam.

Reza tersenyum, lalu pergi sebelum aku sempat membalas.

Aku berdiri di trotoar.

Pipiku panas.

Sial.

Flirting mudah.

Yang susah justru ketika Reza tulus.

Aku masuk sambil mengirim pesan:

**Udah sampai kabarin.**

Balasannya muncul:

**Siap, Bu PDKT.**

Aku tersenyum.

Aku memang sedang mengejarnya.

Setelah Reza mengabariku sudah sampai, percakapan kami tidak langsung selesai. Dia mengirim foto helm di meja dan menulis, **Pinggang gue masih jadi fitur keselamatan besok?** Aku membalas, **Tergantung performa.** Dia mengirim emoji tertawa. Aku menatap layar sambil tersenyum sendiri. Beberapa minggu lalu aku selalu menunggu dia yang menjaga percakapan tetap hidup. Sekarang aku yang mencari alasan agar chat tidak cepat berakhir.

Aku juga mulai memahami bahwa flirting tidak selalu berarti mengatakan sesuatu yang berani. Ada saat ketika aku hanya ingin duduk di sampingnya, mengambil satu earbud, dan membiarkan bahu kami menempel. Kedekatan itu tidak perlu selalu menjadi pertandingan. Saat kepalaku tadi bersandar di bahunya dan Reza akhirnya rileks, ada rasa tenang yang berbeda dari semua lelucon kami. Aku bisa menyukainya tanpa harus terus membuktikan bahwa aku lebih berani.

Tapi tentu saja aku tetap lebih berani.

Keesokan paginya, Reza mengirim selfie rambutnya setelah dirapikan. **Lulus inspeksi?** Aku memperbesar foto tanpa sadar. Rambutnya memang terlihat bagus. Aku mengetik, **Lumayan.** Dia membalas, **Lumayan apanya?** Aku menatap pesan itu dan tersenyum. **Ganteng.** Tiga titik muncul lalu hilang. Aku menambahkan, **Jangan senyum. Jadi ngeselin.** Reza akhirnya menjawab, **Gue bahkan belum ketemu lo dan udah kalah.** Aku merasa hari itu dimulai dengan sangat baik.

Yang paling aneh adalah aku tidak lagi merasa perlu melindungi setiap perasaan dengan penyangkalan. Kalau kangen, aku bilang kangen. Kalau suka rambutnya, aku bilang ganteng. Kalau ingin lebih lama bersama, aku minta diantar. Reza masih bisa membuatku malu ketika dia tulus, tetapi malu ternyata tidak sama dengan lemah. Aku bisa memerah dan tetap tidak menarik kembali kata-kataku.

Besoknya ketika bertemu di kampus, Reza benar-benar merapikan rambut seperti foto yang dikirimnya. Aku berhenti di depannya dan menilai beberapa detik. “Kenapa?” tanyanya. “Inspeksi.” “Lulus?” Aku merapikan satu bagian rambut yang masih mencuat dengan ujung jari. Reza langsung diam. “Sekarang lulus.” Tanganku turun, tetapi dia masih menatapku. “Apaan?” “Gue baru sadar inspeksinya manual.” Aku mendengus. “Kalau protes besok gue acak.” “Nggak protes.” Tentu saja.

Aku berjalan lebih dulu dan Reza menyusul dengan senyum yang berusaha dia sembunyikan. Ada kepuasan kecil melihat dia seperti itu. Namun di balik permainan kami, aku juga merasa semakin nyaman menyentuhnya dalam cara-cara sederhana: merapikan rambut, menarik lengan, menyandarkan kepala. Bukan untuk memancing reaksi saja. Tubuhku mulai menganggap dekat dengannya sebagai tempat yang memang ingin kupilih.

Dan semakin dekat aku sampai kepadanya, semakin yakin aku tidak ingin berhenti.