← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Twelve

Terlalu Terbiasa

POV: Evelyn

Aku mengenali langkah Reza sebelum melihat orangnya.

Itu fakta yang seharusnya tidak penting.

Koridor gedung Manajemen ramai oleh mahasiswa yang baru keluar kelas. Ada suara sepatu, sandal, kursi digeser dari dalam ruangan, dan obrolan yang bertumpuk. Di antara semuanya, aku tetap tahu langkah yang mendekat dari belakang itu milik siapa.

“Vel.”

Benar.

Aku menoleh. “Berisik.”

Reza mengangkat payung lipatku. “Belum ngomong apa-apa.”

“Suara lo udah termasuk.”

“Payung lo.”

Aku mengambilnya. Sudah kering dan terlipat lebih rapi daripada saat kuberikan kemarin.

“Lo nyetrika ini?”

“Gue punya bakat.”

“Bakat nganggur.”

Dia tertawa.

Kami berjalan ke arah tangga. Biasanya dia akan langsung menawarkan makan. Aku sudah menyiapkan jawaban “nggak” bahkan sebelum dia bertanya.

“Mau makan?”

“Lihat nanti.”

Aku berhenti satu langkah kemudian.

Reza juga berhenti. “Apa?”

“Nggak ada.”

Jawabanku barusan bukan “enggak”.

Aku melanjutkan jalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Masalahnya, semakin aku mencoba menganggap Reza sebagai gangguan acak, semakin banyak hal tentang dia yang ternyata sudah tersimpan di kepalaku.

Aku tahu kelasnya hari Selasa selesai jam tiga. Aku tahu dia lebih suka Americano tanpa gula. Aku tahu kalau sedang capek dia akan mengusap belakang leher sebelum duduk. Aku tahu dia tidak suka daun bawang. Aku tahu kalau pesannya hanya “Vel” tanpa kalimat tambahan, biasanya dia mau bertanya apakah aku sudah makan.

Aku juga tahu dia sering menungguku di depan kelas sebelah kiri pintu, bukan kanan, karena di sana tidak menghalangi mahasiswa keluar.

Tidak ada satu pun informasi itu yang sengaja kuhafalkan.

Itu yang mengganggu.

Siang itu aku selesai kelas lebih cepat. Tara mengajakku ke kantin, tetapi saat turun tangga mataku otomatis bergerak ke area dekat vending machine.

Kosong.

Aku memperlambat langkah.

Tara menatapku. “Kenapa?”

“Apanya?”

“Lo lihat apa?”

“Vending machine.”

“Haus?”

“Nggak.”

“Terus?”

Aku menatapnya. “Lo interogasi gue?”

“Belum. Tapi menarik.”

“Apanya?”

“Lo tadi nyari orang.”

“Gue lihat vending machine.”

“Vending machine-nya tinggi seratus delapan puluh sentimeter, pakai kacamata, sama namanya Reza?”

Aku berjalan lebih cepat.

“Bacot.”

Tara tertawa di belakangku.

Reza ternyata sudah ada di kantin. Dia duduk di meja ujung bersama Dion, dan di kursi kosong sebelahnya ada satu gelas es teh tawar.

Begitu melihatku, dia mengangkat gelas itu.

“Gue tadi lewat tempat biasa.”

Aku duduk.

“Siapa bilang buat gue?”

“Kalau bukan, gue minum.”

Tanganku langsung mengambil gelas.

Dion tertawa pendek. “Kalian sadar nggak sih dialog kalian makin lama makin kayak orang yang udah latihan?”

Aku menusuk sedotan ke tutup gelas. “Lo iri?”

“Enggak. Gue takut.”

“Bagus.”

Reza menyandarkan punggung ke kursi. “Dia emang gitu.”

Aku menoleh. “Dia?”

“Evelyn.”

“Gue tahu nama gue.”

“Meyakinkan diri sendiri.”

Aku menendang ujung sepatunya di bawah meja. Tidak keras. Dia hanya tertawa.

Dan lagi-lagi semuanya terasa terlalu mudah.

Reza tahu aku akan datang ke kantin. Aku tahu dia akan menyisakan kursi. Dia membelikan minum tanpa bertanya. Aku mengambilnya tanpa protes sungguhan.

Seolah ada pola yang terbentuk tanpa pernah kami sepakati.

Sore harinya aku keluar kelas dan refleks menoleh ke kiri pintu.

Reza belum ada.

Aku berdiri beberapa detik.

Mahasiswa lain lewat di sampingku. Aku mengecek ponsel. Tidak ada pesan darinya.

Lima menit.

Aku seharusnya pergi.

Tujuh menit.

Aku membuka chat Tara, menutupnya lagi.

Menit kedelapan, Reza muncul dari ujung koridor sambil setengah berlari.

“Sorry. Dosen gue nahan.”

Aku menatapnya. “Siapa yang nunggu?”

Dia berhenti di depanku, napas sedikit berat. “Gue nggak bilang lo nunggu.”

“Bagus.”

“Lo belum pergi aja.”

“Gue lagi males jalan.”

“Delapan menit?”

Aku menyipitkan mata. “Lo mau ditinggal?”

“Enggak.”

“Ya udah.”

Kami berjalan berdampingan.

Malamnya, aku menelepon Tara.

Bukan chat. Menelepon.

Begitu diangkat, suara Tara terdengar curiga. “Siapa yang meninggal?”

“Gue mau nanya.”

“Lebih serem.”

Aku berbaring di kasur sambil menatap langit-langit.

“Kalau lo terbiasa sama orang, itu normal, kan?”

Hening.

“Tara.”

“Gue lagi menikmati pertanyaannya.”

“Jawab.”

“Normal.”

Aku mengembuskan napas.

“Tapi,” lanjutnya.

“Tapi apaan?”

“Kenapa lo nanya?”

“Ya nanya aja.”

“Orangnya Reza?”

Aku menutup mata.

“Gue nggak bilang.”

“Lo juga nggak perlu.”

Aku memutar badan. Ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk.

Reza.

**Udah makan?**

Aku menatap layar lebih lama daripada yang seharusnya.

“Tar.”

“Hm?”

“Kalau tiap hari orang yang sama ngelakuin hal yang sama, terus kita jadi otomatis nunggu… itu cuma kebiasaan, kan?”

“Kebiasaan juga bisa punya alasan.”

“Jawaban lo nggak membantu.”

“Karena pertanyaan lo bukan soal kebiasaan.”

Aku diam.

Di layar, Reza mengirim pesan kedua.

**Jangan bilang belum.**

Tanpa sadar aku tersenyum kecil.

Aku langsung menghapus senyum itu.

“Gue tutup.”

“Takut?”

“Ngantuk.”

“Jam sembilan.”

“Gue bisa ngantuk kapan aja.”

Aku menutup telepon sebelum Tara semakin menyebalkan.

Lalu kubalas Reza.

**Udah.**

Tiga titik muncul hampir seketika.

**Bagus. Besok kelas jam 10 kan?**

Jariku berhenti.

Dia hafal.

Yang lebih mengganggu adalah aku juga hafal jadwalnya.

Aku meletakkan ponsel di dada.

Mungkin Tara benar. Pertanyaanku bukan tentang kebiasaan.

Tapi malam itu aku belum mau mencari tahu jawabannya.

Jadi aku memilih istilah paling aman.

Kebiasaan.

Reza cuma sudah menjadi kebiasaan.

Keesokan paginya aku mencoba eksperimen kecil. Aku sengaja tidak melihat ke sisi kiri pintu ketika kelas selesai. Aku berjalan lurus sambil mendengarkan Tara bercerita soal tugas. Tiga langkah kemudian aku sudah tahu eksperimennya gagal karena seluruh perhatianku justru sibuk menahan diri agar tidak menoleh. “Lo kenapa jalannya kaku?” tanya Tara. “Sepatu gue.” “Sepatu lo dari kemarin.” Aku mendecakkan lidah. Pada akhirnya aku menoleh juga. Reza belum ada. Ada rasa turun kecil di dada yang langsung kubenci.

Lima menit setelah itu dia mengirim pesan bahwa dosennya menahan kelas. Aku membaca pesannya sambil berdiri di depan lift. Tidak ada alasan bagiku untuk merasa lega. Namun bahuku yang sejak tadi tegang turun sendiri. Aku mulai memahami kenapa kata “kebiasaan” terasa nyaman: kata itu tidak menuntutku melakukan apa-apa. Kalau ini hanya kebiasaan, aku tidak perlu bertanya kenapa kehadiran satu orang bisa mengubah suasana koridor. Aku tidak perlu bertanya kenapa ketidakhadirannya terasa seperti sesuatu yang belum lengkap.

Dan aku mengulang kalimat itu sampai terdengar seperti sesuatu yang bisa dipercaya.