Chapter Seventeen
Kenapa Lo Berhenti?
POV: Reza
Pesan Evelyn masuk pukul sembilan lewat dua puluh tiga.
**Za.**
Aku sedang mengerjakan tugas dan langsung berhenti mengetik.
Selama beberapa hari terakhir, aku sudah membayangkan pesan itu terlalu sering. Karena itu aku memaksa diri menunggu beberapa detik sebelum membalas.
**Iya?**
Ketika dia bilang ingin bicara besok, bagian egois dalam diriku langsung berharap terlalu jauh.
Aku mematikannya.
Evelyn boleh menghubungiku tanpa berarti dia berubah pikiran.
Besok aku harus mendengarkan, bukan menebak.
Kami bertemu di area belakang perpustakaan setelah kelas siang. Evelyn sudah ada lebih dulu, berdiri sambil memegang botol air.
Biasanya aku akan menggodanya karena datang duluan.
Hari ini tidak.
“Hai.”
“Hai.”
Aku duduk di bangku beton. Dia ikut duduk dengan jarak satu orang di antara kami.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Akhirnya Evelyn menoleh.
“Lo marah sama gue?”
“Enggak.”
Jawabanku membuat alisnya turun.
“Serius?”
“Iya.”
“Terus kenapa sekarang kayak orang nggak kenal?”
Aku hampir tertawa karena pertanyaan itu terasa tidak adil, tetapi wajahnya serius.
“Lo minta gue berhenti.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan, “Jadi gue berhenti.”
“Gue bilang berhenti ngejar. Bukan pura-pura nggak kenal.”
“Aku—” Aku menahan diri, lalu kembali ke register yang biasa kupakai dengannya. “Gue nggak pura-pura.”
“Lo manggil gue Evelyn.”
“Nama lo memang Evelyn.”
“Biasanya Vel.”
Aku tidak menyangka itu yang dia perhatikan.
“Gue lagi nyari jarak yang aman.”
“Aman buat siapa?”
“Buat lo.”
Dia menatap botol di tangannya.
Aku bisa saja membuat semuanya lebih mudah dengan mengatakan aku juga tersiksa. Bisa bilang aku kangen. Bisa menggunakan rasa bersalahnya untuk menarik dia kembali.
Aku tidak mau.
“Waktu itu gue lagi kacau,” katanya.
Aku menunggu.
“Bukan karena lo doang.”
“Oke.”
“Jangan oke terus.”
Aku menahan senyum. “Terus gue harus apa?”
“Entahlah.”
Itu terdengar lebih jujur daripada semua kalimat sebelumnya.
Evelyn menarik napas.
“Cara gue ngomong waktu itu keterlaluan.”
Aku menatapnya.
“Gue minta maaf.”
“Gue terima.”
Dia menoleh cepat, mungkin karena mengira aku akan membuatnya lebih sulit.
Aku tidak punya alasan untuk itu.
“Tapi,” kataku, “gue tetap nggak tahu batas lo sekarang.”
Dia mengerutkan kening.
“Lo bilang jangan ngejar. Oke. Tapi hal yang selama ini gue anggap biasa ternyata bisa bikin lo penuh. Jadi gue nggak mau sok tahu mana yang masih boleh.”
“Lo bisa chat.”
“Oke.”
“Lo bisa ngomong sama gue normal.”
“Oke.”
“Za.”
Aku tertawa kecil. “Iya.”
“Jangan kayak customer service.”
“Baik, Kak Evelyn.”
Dia memukul lenganku pelan.
Gerakan itu kecil, tetapi dadaku langsung terasa lebih ringan.
Aku benci betapa mudahnya dia memengaruhiku.
Kami bicara beberapa menit tentang kelas. Tidak ada hal romantis. Tidak ada pembahasan tentang perasaanku. Aku sengaja tidak mengundangnya makan setelah itu.
Ketika kami berdiri, Evelyn seperti menunggu sesuatu.
Aku memasukkan tangan ke saku.
“Gue duluan.”
Dia berkedip. “Lo nggak makan?”
“Makan.”
“Terus?”
“Terus makan.”
“Sendiri?”
“Dion.”
“Oh.”
Aku tahu pola lama kami. Biasanya aku akan berkata, *Ikut.*
Aku tidak mengatakannya.
Evelyn menggigit bagian dalam pipinya.
“Besok kelas lo sampai jam berapa?”
“Jam tiga.”
“Gedung SI?”
“Iya.”
“Hmm.”
Aku menatapnya. “Kenapa?”
“Nggak ada.”
Dia pergi lebih dulu.
Aku berdiri beberapa detik sambil melihat punggungnya.
Dion menelepon saat aku berjalan ke kantin.
“Gimana?”
“Apanya?”
“Evelyn.”
“Lo pasang CCTV?”
“Gue punya intuisi.”
“Dia minta maaf.”
“Terus?”
“Gue terima.”
“Terus?”
“Terus nggak ada.”
Dion mengeluh. “Hidup lo capek banget.”
Aku tersenyum.
Sebenarnya ada sesuatu.
Evelyn menghubungiku duluan. Datang lebih dulu. Meminta agar aku tetap bicara dengannya.
Tapi aku tidak mau mengubah tiga hal itu menjadi kesimpulan yang belum dia ucapkan.
Malamnya dia mengirim pesan.
**Besok kelas lo beneran selesai jam 3?**
Aku membalas:
**Kalau dosen nggak berubah jadi antagonis, iya.**
**Oke.**
Aku menunggu.
Tidak ada pesan lain.
Aku meletakkan ponsel.
Sepuluh menit kemudian aku mengambilnya lagi.
Tetap tidak ada.
Aku tertawa sendiri.
Ternyata sekarang giliranku yang menunggu chat berikutnya.
Besok jam tiga.
Aku tidak tahu apa yang Evelyn rencanakan.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku berhenti mengejarnya, ada sesuatu yang terasa bergerak lagi.
Bukan karena aku mengambil langkah.
Sepulang dari perpustakaan, aku memikirkan percakapan kami berulang kali. Ada bagian diriku yang ingin langsung kembali ke pola lama—menunggu di depan kelasnya besok, membawakan minum, berjalan di sampingnya sampai gerbang. Tapi kalau kulakukan sekarang, aku akan kembali menjadikan keinginanku sebagai pusat keputusan. Evelyn baru saja meminta agar kami bicara normal. Itu bukan izin otomatis untuk menghidupkan seluruh kebiasaan lama.
Aku teringat wajahnya ketika aku bilang sedang mencari jarak yang aman. Dia terlihat kesal. Aneh sekali merasa lega karena Evelyn kesal kepadaku. Setidaknya kekesalan itu berarti dia memperhatikan jarak yang kubuat. Aku segera menegur diri sendiri. Lagi-lagi aku sedang mengubah reaksinya menjadi harapan. Sulit rupanya menyukai seseorang sambil tidak menafsirkan setiap detail sebagai kemungkinan.
Yang bisa kulakukan cuma memberi ruang untuk dia menentukan langkah berikutnya. Kalau besok jam tiga dia tidak datang, aku tidak akan menanyakan kenapa. Kalau dia datang, aku akan ada. Sederhana dalam teori, menyiksa dalam praktik. Tapi mungkin beginilah bentuk mengejar yang harus kupelajari sekarang: tahu kapan kaki sendiri harus diam.
Sebelum tidur, aku membaca pesan terakhirnya sekali lagi. Pertanyaan tentang jam kelasku terlihat biasa. Namun Evelyn jarang bertanya jadwalku tanpa alasan. Aku meletakkan ponsel telungkup. “Jangan geer,” kataku pada diri sendiri. Kalimat itu terdengar persis seperti sesuatu yang akan dia ucapkan. Aku tertawa pelan. Bahkan ketika aku sedang berusaha menjaga jarak, suara Evelyn rupanya sudah telanjur tinggal di kepalaku.
Ada satu hal lain yang tidak kukatakan kepada Dion. Saat Evelyn meminta agar aku kembali bicara normal, rasa lega yang muncul hampir membuatku malu. Aku ternyata tidak membutuhkan permintaan besar darinya. Satu celah kecil saja sudah cukup untuk membuatku ingin berlari masuk. Itu sebabnya aku harus lebih hati-hati. Aku tidak mau rasa senangku mengubah satu izin kecil menjadi sepuluh izin yang tidak pernah dia berikan.
Kalau hubungan kami akan berubah setelah ini, aku ingin perubahan itu bisa dilihat dari langkahnya juga, bukan hanya dari seberapa keras aku berharap. Mungkin besok pertanyaan tentang jam tiga memang tidak berarti apa-apa. Mungkin dia cuma ingin mengembalikan sesuatu. Aku akan tetap datang ke kelas, menyelesaikan hari seperti biasa, dan membiarkan jawabannya muncul sendiri. Untuk sekali ini, menunggu adalah bagian yang harus kulakukan.
Karena dia yang melakukannya.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti? reading
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue