Chapter Twenty One
Kurang Deket?
POV: Evelyn
Aku baru sadar Reza masih menjaga jarak ketika kami mengerjakan tugas di perpustakaan.
Bukan jarak besar. Hanya satu kursi kosong di antara kami.
Dulu dia akan duduk di sebelahku tanpa bertanya, lalu pura-pura butuh melihat layar laptop. Sekarang dia memilih kursi berikutnya dan memiringkan laptop agar tetap bisa menunjukkan pekerjaannya.
Aku menatap kursi kosong itu.
“Kenapa?” tanyanya.
“Geser.”
Reza melihat ke kanan. “Ke mana?”
“Sini.”
Dia memindahkan laptop dan duduk satu kursi lebih dekat. Masih ada beberapa sentimeter di antara lengan kami.
Aku kembali mengetik.
Lima menit kemudian dia berkata, “Font-nya kekecilan.”
Aku memiringkan layar. “Lihat.”
“Kurang deket.”
Aku berhenti.
Reza mungkin mengucapkannya tanpa berpikir. Wajahnya masih menghadap layar.
Kesempatan terlalu bagus untuk dilewatkan.
Aku menggeser kursi sampai bahu kami hampir bersentuhan.
“Sekarang?”
Dia menoleh.
Aku ikut menoleh.
Jarak wajah kami mungkin sepuluh sentimeter.
Reza membeku.
“Katanya kurang deket.” Aku menahan senyum. “Gini?”
Dia mundur sedikit.
Aku mengangkat alis.
“Takut?”
“Gue lagi mikir.”
“Lemot.”
“Vel, lo sadar muka lo deket banget?”
“Gue punya mata.”
“Terus?”
“Terus kenapa?”
Reza mengusap belakang leher. Gerakan yang sekarang sudah kukenal sebagai tanda dia gugup.
Menarik.
Selama berbulan-bulan dia punya seribu cara membuatku kesal. Sekarang ternyata membalasnya jauh lebih mudah daripada dugaanku.
Aku kembali ke laptop.
“Fokus.”
“Yang bikin nggak fokus siapa?”
“Skill issue.”
Dia tertawa pelan.
Kami menyelesaikan tugas dua jam kemudian. Ketika keluar perpustakaan, Reza mengajak ke kafe kecil di seberang kampus.
“Duduk depan gue?” tanyanya setelah kami mendapat meja.
Aku menarik kursi di sebelahnya.
“Enggak.”
Dia melihat kursi di seberang yang kosong.
“Kenapa sekarang sebelah terus?”
“Kenapa? Ganggu?”
“Enggak.”
“Ya udah.”
Aku duduk.
Pelayan membawa minuman. Reza membuka laptop lagi untuk mengecek file terakhir.
Aku memperhatikan wajahnya dari samping.
“Lo sekarang sering gugup.”
“Siapa?”
“Lo.”
“Enggak.”
“Barusan mundur.”
“Karena muka lo sepuluh senti dari gue.”
“Takut.”
“Bukan takut.”
“Terus?”
Dia menoleh.
Kali ini dia sengaja tidak mundur.
Malah mendekat sedikit.
Aku diam.
Oke.
Counterattack.
“Kalau gue nggak mundur gimana?” tanyanya.
Aku meletakkan sedotan.
Lalu aku mendekat juga.
Wajah Reza berubah.
“Lo salah pilih lawan, Za.”
Aku maju satu sentimeter lagi.
Reza mundur.
“Nah.”
Dia menutup wajah dengan tangan.
Aku tertawa. “Lemah.”
“Dulu lo nggak begini.”
“Dulu gue belum PDKT.”
“PDKT bikin orang kehilangan rasa malu?”
“Gue punya. Cuma selektif.”
Kami meninggalkan kafe menjelang sore. Trotoar masih basah karena hujan singkat. Saat hendak menyeberang, motor lewat terlalu cepat.
Refleks aku menarik ujung jaket Reza.
Dia berhenti.
Motor lewat.
Kami menyeberang.
Tanganku masih memegang jaketnya.
Reza melihat ke bawah.
“Udah aman.”
“Gue tahu.”
“Tangan lo.”
“Masih berfungsi.”
“Masih megang.”
Aku menatap tanganku sendiri seolah baru sadar, padahal tidak.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa.”
“Ya udah.”
Aku tetap memegangnya sampai kami melewati dua toko.
Akhirnya kulepas karena panas, bukan karena malu.
Di depan gerbang kampus, Tara kebetulan lewat dan melihat kami.
Matanya langsung turun ke tanganku, lalu ke jaket Reza.
Aku sudah melepasnya, tapi terlambat.
Tara tersenyum.
Aku menunjuknya. “Jangan.”
“Gue belum ngomong.”
“Jangan mikir juga.”
“Sulit.”
Reza tertawa.
Tara pergi setelah melambaikan tangan.
Aku menatap Reza. “Besok makan.”
Dia mengangkat alis. “Itu ajakan?”
“Perintah.”
“Jam?”
“Satu.”
“Oke.”
Dia diam sebentar lalu menambahkan, “Gue yang nyari lo?”
“Boleh.”
Sesuatu berubah di ekspresinya.
Selama beberapa hari terakhir, akulah yang selalu datang. Kali ini Reza akhirnya mengambil sedikit langkah kembali.
Aku menyukainya lebih dari yang ingin kutunjukkan.
“Jangan duduk depan gue,” kataku.
“Kenapa?”
“Jauh.”
Reza tersenyum.
“Katanya tadi gue yang takut.”
“Emang.”
Dia mendekat satu langkah.
Aku tidak bergerak.
“Kalau sekarang?”
“Apanya?”
“Kurang deket?”
Aku menatapnya.
Reza mempertahankan jarak dekat itu.
Bagus.
Aku maju setengah langkah.
“Masih.”
Dia langsung tertawa dan mundur.
“Nah,” kataku.
“Lo keterlaluan.”
“Baru mulai.”
Kami berpisah di gerbang.
Aku berjalan menuju kendaraan sambil tersenyum sendiri.
Ponselku bergetar.
Tara.
**Muka lo merah.**
Aku langsung membalas.
**Cuaca panas.**
**Bandung 22 derajat.**
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Sial.
Ternyata Reza masih bisa membuatku gugup juga.
Aku sempat memikirkan apakah semua godaan ini terlalu cepat. Bukan karena aku ragu pada perasaanku, tapi karena Reza baru saja belajar mempercayai perubahan sikapku. Bedanya, setiap kali aku mendekat, aku memperhatikan reaksinya. Kalau dia benar-benar meminta jarak, aku akan mundur. Sejauh ini dia hanya gugup, bukan tidak nyaman. Bahkan beberapa kali dia mulai membalas. Itu membuat permainan kecil di antara kami terasa aman, bukan perlombaan siapa yang paling berani.
Di perjalanan menuju gerbang, Reza sempat mengambil botol minumku seperti dulu. Dia berhenti sebelum membukanya. “Boleh?” Aku menatapnya. “Baru sekarang nanya?” “Gue sedang menjadi warga negara yang taat batas.” Aku menyerahkan botol itu. “Minum sebelum gue berubah pikiran.” Dia minum lalu mengembalikannya. Hal sekecil itu membuatku sadar kami memang belum kembali ke pola lama. Kami sedang membuat pola baru, dengan lebih banyak perhatian pada apa yang diinginkan satu sama lain.
Aku menyukai versi Reza yang mulai berani lagi. Bukan karena aku ingin dia kembali mengejarku sendirian. Justru aku ingin kami bertemu di tengah. Kalau dia maju satu langkah, aku bisa maju dua. Kalau dia menggoda, aku bisa membuatnya menyesal memulai. Tapi di balik semua itu, ada rasa lega ketika dia kembali tertawa tanpa kehati-hatian berlebihan. Aku tidak ingin menghapus kejadian saat aku menyuruhnya berhenti. Aku ingin membuktikan bahwa aku belajar darinya.
Malamnya Reza mengirim pesan menanyakan apakah aku sudah sampai. Aku menjawab iya lalu menambahkan, **Besok duduk sebelah gue.** Dia membalas, **Perintah lagi?** Aku mengetik, **Permintaan. Beda.** Balasannya lama. **Oke.** Aku tersenyum. Ternyata mengatakan apa yang kuinginkan tidak membuatku kehilangan kendali. Justru untuk pertama kalinya aku tidak memaksa orang lain menebak apa yang ada di kepalaku.
Bedanya, sekarang aku tidak punya niat untuk kabur dari perasaan itu.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket? reading
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue