Chapter One
Orang Paling Mengganggu di Kampus
POV: Evelyn
Begitu pintu kelas terbuka, aku langsung melihat Reza.
Sulit tidak melihatnya. Tingginya sekitar seratus delapan puluh sentimeter, berdiri santai di dekat pilar dengan satu tangan masuk saku celana dan satu lagi memegang kantong kertas. Di antara mahasiswa yang berhamburan keluar, dia satu-satunya orang yang kelihatan seperti memang sengaja menunggu seseorang.
Sialnya, seseorang itu aku.
Aku berhenti satu langkah di luar kelas.
Reza tersenyum. “Hai.”
“Ngapain?”
“Nungguin lo.”
“Gue nggak nanya siapa yang lo tunggu.”
“Berarti lo udah tahu.”
Aku berjalan melewatinya.
Dia menyusul.
Sudah tiga bulan kurang lebih begini. Reza muncul di depan kelas, kantin, perpustakaan, atau tempat-tempat yang seharusnya tidak punya alasan untuk mempertemukan mahasiswa Sistem Informasi semester enam dengan mahasiswa Manajemen semester empat sesering ini.
Awalnya kukira kebetulan.
Setelah minggu kedua, aku berhenti menghina kecerdasanku sendiri.
“Lo nggak punya kelas?” tanyaku.
“Udah selesai.”
“Organisasi?”
“Nanti.”
“Temen?”
“Banyak.”
“Terus kenapa ngikutin gue?”
“Karena pengen.”
Aku mendecak.
Jawaban Reza selalu seperti itu. Tidak panjang, tidak malu, dan sangat sulit dipatahkan karena dia tidak berusaha terdengar masuk akal.
Dia mengangkat kantong kertas. “Mau?”
“Apa?”
“Roti.”
“Nggak.”
“Belum lihat isinya.”
“Kalau isinya sertifikat tanah baru gue lihat.”
Reza tertawa.
Aku terus berjalan menuju tangga.
“Cokelat,” katanya.
“Nggak suka terlalu manis.”
“Makanya gue beli yang dark chocolate.”
Langkahku melambat sepersekian detik.
Reza menangkapnya.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa.”
“Gue bener?”
“Lo kebanyakan merhatiin.”
“Bagus, kan?”
“Nggak.”
Aku turun tangga.
Reza masih mengikuti.
Di lantai dua, Tara sudah menunggu dekat vending machine. Begitu melihat kami, matanya berpindah dari aku ke Reza, lalu ke kantong kertas di tangannya.
“Paket langganan datang lagi,” katanya.
Aku menatap Tara. “Lo mau gue tinggal?”
“Gue cuma observasi.”
Reza menyodorkan kantong itu kepadanya. “Mau?”
Tara hampir mengambil.
Aku lebih dulu merebut kantong tersebut.
Keduanya menatapku.
Aku menatap balik.
“Apa?”
Tara menahan senyum. “Nggak.”
Reza jelas lebih buruk. “Katanya nggak mau.”
“Daripada dikasih ke orang.”
“Kenapa nggak boleh dikasih ke Tara?”
Aku membuka kantong. “Karena sekarang gue berubah pikiran.”
Reza mengangguk sangat serius. “Baik.”
Aku mengambil roti.
Benar. Dark chocolate.
Aku benci fakta bahwa dia ingat.
Kami bertiga berjalan ke kantin. Tara punya rapat kelompok di sana, sedangkan aku sebenarnya berniat pulang setelah membeli minum.
Reza tentu saja tidak punya niat membiarkanku pulang secepat itu.
“Makan dulu,” katanya.
“Nggak laper.”
“Rotinya tinggal setengah.”
“Itu bukan makan.”
“Makanya makan.”
Aku berhenti.
“Lo sadar nggak sih kalau lo cerewet?”
“Sering dikasih tahu.”
“Terus nggak ada niat berubah?”
“Kalau sama lo, enggak.”
Tara menoleh ke arah lain, bahunya bergerak karena menahan tawa.
Aku menunjuknya. “Kalau ketawa, gue pulang.”
“Gue batuk.”
“Batuk lo nggak bersuara.”
Kami sampai kantin.
Reza menarik kursi di meja kosong.
Aku tidak duduk.
Dia melihatku.
“Kenapa?”
“Gue mau pulang.”
“Lima belas menit.”
“Buat?”
“Temenin gue makan.”
“Temen lo banyak.”
“Tapi gue maunya lo.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Reza tidak pernah mengatakan kalimat semacam itu dengan nada dramatis. Justru itu masalahnya. Dia mengatakannya seperti sedang memilih lauk makan siang.
Tara duduk duluan.
“Gue ada rapat lima belas menit lagi. Duduk aja, Vel.”
Pengkhianat.
Aku akhirnya duduk.
Reza tersenyum.
“Jangan senyum.”
“Kenapa?”
“Ganggu.”
“Gue belum ngapa-ngapain.”
“Eksistensi lo cukup.”
Dia tertawa dan pergi memesan makan.
Aku membuka ponsel.
Tara langsung mendekat.
“Lo sebenarnya nggak keberatan, kan?”
Aku menatapnya.
“Pertanyaan bodoh.”
“Kalau keberatan banget, lo bisa tinggalin dia dari tadi.”
“Gue lagi makan roti.”
“Roti dari dia.”
“Terus?”
“Enggak. Cuma menarik.”
Aku menggigit roti lebih keras.
“Tar.”
“Hm?”
“Rapat lo kapan?”
“Kenapa?”
“Pergi sekarang.”
Tara tertawa.
Reza kembali membawa semangkuk bakso dan dua minuman.
Satu Americano untuk dirinya.
Satu es teh tawar untukku.
Aku menatap gelas itu.
“Gue nggak pesan.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
“Gue beliin.”
“Tangan gue masih berfungsi.”
“Gue juga tahu.”
Aku tidak menyentuh minumannya.
Setidaknya selama tujuh detik.
Kemudian kuambil.
Reza tidak berkomentar.
Bagus.
Kalau dia tersenyum saja, mungkin gelas itu akan kukembalikan.
“Besok kelas jam sepuluh?” tanyanya.
Aku mengernyit. “Kenapa lo tahu?”
“Pernah bilang.”
“Kapan?”
“Minggu lalu.”
Aku bahkan tidak ingat pernah membicarakan jadwalku.
“Ngapain dihafal?”
Reza mengangkat bahu. “Kehafal.”
“Buang memori buat hal berguna.”
“Ini berguna.”
“Buat apa?”
“Biar tahu kapan bisa ganggu lo.”
Aku mendecak.
Reza makan dengan tenang.
Anehnya, dia tidak pernah terlihat terganggu oleh caraku bicara. Orang lain kadang salah paham. Ada yang mengira aku marah ketika sebenarnya aku hanya tidak suka membungkus kalimat dengan pita.
Reza justru seperti punya kamus sendiri.
Dia tahu “pergi sana” kadang benar-benar berarti pergi.
Dia juga tahu kapan itu hanya kebiasaan mulutku.
Setidaknya sejauh ini.
“Besok gue tunggu depan kelas,” katanya.
“Nggak usah.”
“Oke.”
Aku menoleh.
Jawabannya terlalu mudah.
“Beneran?”
“Beneran.”
Entah kenapa aku malah curiga.
Reza menghabiskan satu bakso.
“Gue tunggu di tangga.”
Aku menendang sepatunya di bawah meja.
Dia tertawa.
“Nyebelin.”
“Iya.”
“Bangga?”
“Kalau berhasil bikin lo duduk makan, lumayan.”
Aku melihat es teh di tanganku.
Lalu roti yang tinggal bungkus.
Aku memang akhirnya duduk.
Tapi bukan berarti dia menang.
“Gue pulang habis ini.”
“Gue anter ke depan.”
“Gue bisa jalan sendiri.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
Reza menatapku sambil tersenyum kecil.
“Gue kan cuma nemenin.”
“Gue nggak minta.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
“Gue pengen.”
Aku tidak punya jawaban yang tidak terdengar seperti pengulangan.
Jadi aku mendecak.
Lima belas menit kemudian, aku benar-benar berjalan menuju gerbang dengan Reza di sebelahku.
Tara sudah pergi rapat.
Reza tidak mencoba mengambil tasku. Tidak memaksaku memperpanjang waktu. Dia cuma berjalan, membicarakan dosen yang salah masuk kelas pagi tadi dan mahasiswa yang baru sadar setelah hampir lima menit.
Aku beberapa kali tertawa kecil sebelum berhasil menahannya.
Di depan gerbang, aku berhenti.
“Udah.”
Reza ikut berhenti. “Iya.”
“Jangan ikut.”
“Gue nggak ikut.”
“Bagus.”
Aku memesan kendaraan.
Reza berdiri dua langkah dariku.
“Kenapa masih di sini?”
“Nunggu kendaraan lo datang.”
“Gue bukan anak TK.”
“Gue tahu.”
“Pulang.”
“Nanti.”
Aku ingin menyuruhnya pergi lagi.
Tapi kendaraan pesananku tinggal satu menit.
Ribet.
Jadi kubiarkan.
Saat motor berhenti, aku memakai helm.
Reza mengangkat tangan. “Hati-hati.”
Aku naik.
“Lo juga. Jangan mati di jalan. Besok ada tugas.”
Reza tertawa.
“Siap.”
Motor mulai bergerak.
Aku tidak menoleh.
Tapi selama beberapa meter pertama, aku masih bisa mendengar tawanya dari belakang.
Berisik.
Sangat berisik.
Dan entah kenapa, aku tidak benar-benar membencinya.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus reading
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue