Chapter Six
Ini Bukan Kencan
POV: Evelyn
Reza sudah berdiri di depan gedung Fakultas Ekonomi ketika aku keluar dari pintu utama.
aku melihatnya dari jarak belasan meter dan langsung menghela napas. Bukan karena terkejut. Justru karena sama sekali tidak terkejut.
Reza bersandar pada tiang sambil memainkan ponsel, tas selempang menggantung di bahu. Begitu melihat aku, dia memasukkan ponselnya ke saku.
“Laper?”
“Enggak.”
Perut aku berbunyi.
Reza menunduk sedikit.
aku menunjuk wajahnya. “Lo ketawa, gue tinggal.”
“Gue belum ngomong.”
“Muka lo udah ngomong.”
“Makan, yuk.”
“Gue bisa makan sendiri.”
“Gue juga.”
“Ya makan sendiri sana.”
“Kalau digabung lebih efisien.”
aku berjalan melewatinya. “Logika anak Sistem Informasi emang suka rusak, ya?”
Reza mengikuti. “Ada kedai mi baru di seberang. Katanya enak.”
Langkah aku melambat sepersekian detik.
“Mau, kan?”
“Siapa bilang?”
“Langkah lo.”
“Sepatu gue licin.”
“Jalan kering.”
“Reza.”
“Iya?”
“Diem.”
Tiga menit kemudian mereka sudah menyeberang.
Di depan pintu kedai, aku berhenti.
“Ini bukan kencan.”
Reza ikut berhenti. “Hah?”
“Gue makan karena laper. Bukan karena lo ngajak.”
“Iya.”
“Dan ini bukan kencan.”
Reza mengangguk serius. “Baik.”
aku menyipit. “Kenapa muka lo begitu?”
“Gimana?”
“Kayak orang mau bikin masalah.”
“Perasaan muka gue dari lahir begini.”
“Kasihan.”
Kedai itu kecil dan ramai. Mereka mendapat meja di dekat kaca. Reza menarik kursi di seberang aku, tetapi sebelum duduk dia mengambilkan menu yang terselip di ujung meja.
aku menerimanya.
“Terima kasih,” katanya otomatis.
Reza membeku.
aku mengangkat mata. “Kenapa?”
“Barusan lo bilang terima kasih?”
“Balikin.”
“Apanya?”
“Terima kasih gue. Nggak jadi.”
Reza tertawa.
Mereka memesan. aku memilih mi kuah pedas dan es teh tawar. Reza memesan mi ayam dan kopi susu.
Pelayan mencatat lalu bertanya, “Untuk pasangan ada promo tambah pangsit—”
“Bukan pasangan,” potong aku.
Pelayan itu berkedip. “Oh. Maaf, Kak.”
Reza menunduk menahan tawa.
“Lo ketawa aja,” kata aku. “Gue pulang.”
“Gue nggak ketawa.”
“Bahu lo gerak.”
“Itu napas.”
“Jangan napas.”
Reza akhirnya tertawa sungguhan.
aku memutar mata, tetapi sudut bibirnya hampir bergerak.
Setelah pelayan pergi, Reza menopang dagu. “Kenapa sih lo panik banget kalau dikira kencan sama gue?”
“Gue nggak panik.”
“Tadi pelayannya belum selesai ngomong.”
“Gue bantu klarifikasi.”
“Cepet banget.”
“Efisien. Bukannya lo suka efisiensi?”
Reza mengangguk. “Pinter juga.”
“Gue emang pinter.”
“Cantik juga.”
aku menatap datar. “Terus gue harus tepuk tangan?”
“Boleh.”
“Pake muka lo?”
Reza tertawa lagi.
Makanan datang. Beberapa menit mereka benar-benar makan tanpa banyak bicara. aku menyukai mi itu lebih dari yang ingin dia akui. Reza kelihatan puas melihat mangkuknya cepat berkurang.
“Enak?”
“Lumayan.”
“Kalau dari kamus aku, lumayan berarti enak banget?”
“Kalau dari kamus gue, banyak ngomong berarti pengen disiram kuah.”
Reza langsung kembali makan.
Di tengah makan, ponsel aku bergetar. Tara mengirim pesan.
Tara: Di mana?
aku membalas.
aku: Makan.
Balasan datang cepat.
Tara: Sama siapa?
aku melirik Reza.
Cowok itu sedang memisahkan daun bawang ke sisi mangkuk dengan konsentrasi tidak penting.
aku: Sendiri.
Belum sempat dia menyimpan ponsel, Tara mengirim lagi.
Tara: Bohong. Tas Reza tadi gue lihat di depan gedung lo.
aku mendecak.
aku: Lo intel?
Tara: KENCAN YA?
aku mengetik lebih keras daripada yang diperlukan.
aku: BUKAN.
Reza mengangkat kepala. “Kenapa HP lo dimarahin?”
“Bukan urusan lo.”
“Tara?”
aku berhenti. “Kok tahu?”
“Kalau muka lo sebel tapi nggak sampai pengen bunuh orang, biasanya Tara.”
“Analisis lo nggak guna.”
“Dia nanya kita kencan?”
aku meletakkan sumpit. “Lo punya ilmu hitam?”
“Enggak. Cuma polanya gampang.”
“Dan gue udah bilang bukan.”
“Ke dia?”
“Iya.”
“Ke pelayan?”
“Iya.”
“Ke gue?”
“Dari depan pintu.”
Reza mengangguk pelan. “Berarti hari ini tiga kali.”
aku menatap tajam. “Kenapa dihitung?”
“Biar ada data.”
“Anak SI emang penyakit.”
Setelah makan, Reza berdiri menuju kasir. aku mengambil dompet dan menyusul.
“Pisah,” kata aku sebelum Reza sempat bicara.
Kasir menatap mereka.
Reza menyerahkan uang. “Gabung aja, Mbak.”
aku langsung menoleh. “Reza.”
“Gue bayar dulu. Nanti lo transfer.”
“Kenapa?”
“Biar antreannya cepet.”
aku melihat tiga orang menunggu di belakang. Dia menahan protes.
Di luar kedai, dia segera membuka aplikasi bank.
“Berapa?”
Reza menyebut angka.
aku mentransfer tepat sampai rupiah terakhir.
Ponsel Reza berbunyi.
“Serius banget.”
“Kenapa?”
“Gue kira lo bakal kurangin dua ribu buat biaya nemenin gue.”
“Harusnya gue tambahin biaya karena kuping gue capek.”
Mereka berjalan kembali ke kampus. Matahari sudah turun, udara Bandung mulai dingin.
Di trotoar sempit, sebuah motor melintas terlalu dekat. Reza refleks memegang siku aku dan menariknya ke sisi dalam.
Gerakannya cepat. Setelah motor lewat, tangannya langsung dilepas.
aku memandang bekas tempat jari Reza tadi menyentuh lengannya.
“Kenapa?” tanya Reza.
“Nggak.”
Mereka kembali berjalan.
Anehnya, Reza tidak membuat lelucon soal itu.
aku justru merasa sedikit terganggu karena dia tidak membuat lelucon.
Sampai di gerbang kampus, jalan mereka akan berpisah.
“Besok makan lagi?” tanya Reza.
“Enggak.”
“Lusa?”
“Enggak.”
“Minggu depan?”
“Reza.”
“Iya?”
aku memasukkan ponsel ke tas. “Kalau gue mau makan, gue bisa cari sendiri.”
“Oke.”
Reza tersenyum dan mundur dua langkah. “Hati-hati.”
aku berbalik.
Baru beberapa langkah, Reza memanggil, “Vel.”
aku menoleh.
“Buat yang bukan kencan, tadi lumayan seru.”
aku mengangkat jari tengahnya setengah jalan, lalu ingat dia tidak mau mengumpat. Dia menggantinya dengan telunjuk yang menunjuk gerbang.
“Pulang.”
Reza tertawa.
Malamnya, Tara mengirim pesan lagi.
Tara: Jadi gimana kencannya?
aku menjatuhkan diri ke kasur.
aku: Bukan kencan.
Tara: Tapi seru?
Jarinya berhenti di layar.
Dia teringat mi yang enak, pelayan yang salah mengira, Reza yang tertawa, dan tangan yang menarik sikunya dari motor.
aku mengetik.
aku: Biasa aja.
Dia menekan kirim.
Lalu, setelah beberapa detik, menambahkan:
aku: Tempat makannya lumayan.
Tara membalas dengan stiker tertawa.
aku mengunci ponsel dan menaruhnya di dada.
Tempat makannya yang lumayan.
Dia mengulang kalimat itu dalam kepala.
Lalu mendecak sendiri.
“Ya emang tempatnya.”
Entah kenapa dia merasa perlu meyakinkan kamar kosong.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan reading
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue