Chapter Eighteen
Sekarang Gue yang Nunggu
POV: Evelyn
Jam menunjukkan 14.42 ketika aku tiba di gedung Sistem Informasi.
Kelas Reza selesai jam tiga.
Artinya aku datang delapan belas menit terlalu cepat.
Aku memilih berdiri dekat dinding dan membuka ponsel seolah punya urusan penting.
Tidak ada.
Lima menit kemudian Dion keluar dari ruangan sebelah.
Dia berhenti ketika melihatku.
“Wah.”
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Kalau mau ngomong, ngomong.”
Dion melihat pintu kelas Reza lalu kembali menatapku. “Nunggu?”
“Iya.”
Jawabanku membuatnya kehilangan ekspresi selama satu detik.
Aku menikmati itu.
“Reza?”
“Enggak. Rektor.”
Dion tertawa. “Oke. Gue nggak ganggu.”
“Bagus.”
Dia berjalan pergi, lalu berbalik.
“Vel.”
“Apa?”
“Semangat.”
“Pergi.”
Jam tiga lewat empat, pintu kelas terbuka.
Mahasiswa keluar satu per satu.
Reza muncul paling belakang sambil memasukkan laptop ke tas.
Dia melihatku.
Berhenti.
Benar-benar berhenti di ambang pintu.
Aku menyilangkan tangan.
“Kenapa?”
“Ngapain lo di sini?”
“Nungguin lo.”
Dia berkedip.
Aku hampir tertawa.
Reza yang selama berbulan-bulan bisa muncul di depan kelasku tanpa malu sekarang terlihat seperti sistemnya error hanya karena aku berdiri di depan kelasnya.
“Makan,” kataku.
“Hah?”
“Gue lapar.”
“Oke.”
“Sama gue.”
“Oh.”
Aku mendekat satu langkah. “Lo kalau gue ajak makan harus restart dulu?”
Dia akhirnya tertawa. “Enggak. Gue cuma nggak nyangka.”
“Sekarang udah nyangka?”
“Sedikit.”
“Jalan.”
Kami pergi ke warung mi yang pernah kami datangi. Tempat yang dulu berkali-kali kusebut bukan kencan.
Hari ini aku tidak mengatakan apa pun tentang itu.
Kami duduk berhadapan.
Ketika pelayan datang, aku memesan duluan lalu menoleh ke Reza.
“Mi ayam, nggak pakai daun bawang. Americano kalau ada.”
Reza menatapku.
“Apa?”
“Lo hafal?”
“Gue punya otak.”
“Gue tahu. Cuma…”
“Cuma apa?”
Dia tersenyum. “Nggak ada.”
Aku tahu kenapa dia kaget.
Selama ini dia yang hafal semuanya tentangku.
Aku baru mulai memperhatikan balik.
Saat makanan datang, aku mendorong mangkuknya.
“Makan.”
“Siap.”
Kami makan beberapa menit.
Aku sadar Reza tidak lagi mengambil kentang atau mencicipi minumanku tanpa izin. Dia menjaga tangannya di wilayahnya sendiri.
Jarak itu kecil.
Tapi aku bisa merasakannya.
“Za.”
“Hm?”
“Lo masih aneh.”
“Gue lagi sopan.”
“Jangan berlebihan.”
Dia menaruh sendok.
“Vel, gue serius. Gue nggak mau balik melakukan semuanya terus ternyata lo belum nyaman.”
Aku menatapnya.
Ada alasan aku datang hari ini.
Aku bisa saja bilang aku kangen. Kemarin aku sudah mengakuinya pada diri sendiri.
Tapi mengatakannya langsung kepada Reza terasa seperti tingkat kesulitan berbeda.
Jadi aku memilih langkah yang bisa kulakukan.
“Gue yang datang sekarang.”
Dia diam.
“Gue yang ngajak makan.”
“Iya.”
“Gue yang nunggu.”
“Iya.”
“Jadi jangan mikir gue ada di sini karena diculik.”
Sudut bibirnya naik.
“Gue nggak mikir begitu.”
“Bagus.”
Ketika tagihan datang, Reza mengambil dompet.
Aku lebih cepat.
“Gue bayar.”
“Vel.”
“Gue yang ngajak.”
“Biasanya—”
“Sekarang bukan biasanya.”
Dia berhenti.
Aku membayar.
Di luar warung, kami berjalan menuju kampus.
“Besok lo kelas pagi?” tanyaku.
“Jam sembilan.”
“Keluar?”
“Setengah dua belas.”
Aku mengangguk.
“Kenapa?”
“Gue cari lo.”
Reza menoleh.
Aku tetap melihat lurus.
“Kenapa muka lo begitu?”
“Gue nggak tahu muka gue gimana.”
“Bego.”
Dia tertawa.
Di persimpangan gedung, kami harus berpisah.
Biasanya Reza akan menawarkan mengantarku ke kelas.
Hari ini dia tidak.
Aku mulai memahami bahwa kalau aku ingin jarak itu hilang, aku tidak bisa menunggu dia menebak.
“Za.”
Dia menoleh.
“Besok jangan kabur.”
“Gue nggak pernah kabur.”
“Sekarang hobi jaga jarak.”
“Katanya gue sopan.”
“Nyebelin.”
“Ketularan.”
Aku berjalan pergi.
Malamnya aku mengirim pesan lebih dulu.
**Udah makan?**
Balasan datang satu menit kemudian.
**Udah.**
Lalu:
**Ini dunia paralel?**
Aku tersenyum.
**Besok gue cari lo lagi.**
Tiga titik muncul cukup lama.
**Oke.**
Aku menatap kata itu.
Dulu aku benci ketika dia terus datang tanpa diminta.
Sekarang aku justru sedang belajar melakukan hal yang sama—dengan satu perbedaan penting.
Aku tahu rasanya ketika seseorang diminta berhenti.
Jadi kali ini aku tidak akan menuntut.
Aku hanya akan datang.
Kalau Reza selama ini punya keberanian untuk terus menunjukkan bahwa dia memilihku, aku bisa belajar melakukan itu juga.
Besok aku akan menunggunya lagi.
Di perjalanan pulang, aku baru sadar telapak tanganku berkeringat. Menunggu Reza ternyata jauh lebih menegangkan daripada membiarkan dia menungguku. Selama ini aku selalu punya posisi aman: dia datang, aku memutuskan apakah mau menerima. Hari ini aku yang berdiri di depan pintu dan menghadapi kemungkinan dia tidak senang melihatku. Reza memang datang dan ikut makan, tapi pengalaman delapan belas menit di koridor tadi mengajariku sesuatu yang tidak pernah kupikirkan ketika dia mengejarku.
Mengejar seseorang itu memalukan. Ada harapan yang terlihat jelas. Ada kemungkinan ditolak. Ada detik-detik ketika kita bertanya apakah keberadaan kita diinginkan atau hanya ditoleransi. Aku membayangkan berapa kali Reza pernah berdiri di depan kelasku dengan perasaan seperti itu lalu tetap tersenyum ketika aku menyuruhnya berisik. Rasa bersalah muncul, tetapi aku tidak mau menjadikan rasa bersalah sebagai alasan untuk mendekatinya. Aku datang hari ini karena aku ingin berada dengannya.
Perbedaan itu penting. Kalau aku cuma merasa bersalah, satu permintaan maaf sudah cukup. Kalau aku cuma kehilangan kebiasaan, aku bisa membuat kebiasaan baru. Tapi aku ingin mengetahui kapan kelas Reza selesai. Aku ingin melihat ekspresinya ketika aku mengingat pesanannya. Aku ingin besok datang lagi dan melihat apakah dia masih akan terkejut. Tidak ada istilah aman untuk itu selain satu hal yang sudah kuakui: aku menginginkan orangnya.
Aku belum tahu apakah Reza masih menyukaiku dengan cara yang sama. Aku tidak berhak menganggap perasaannya membeku menungguku selesai memahami diri sendiri. Kemungkinan itu membuat perutku tidak nyaman. Namun justru karena itulah aku harus bergerak. Kalau nanti dia bilang terlambat, setidaknya kali ini aku akan mendengarnya setelah mengatakan dengan jelas apa yang kuinginkan.
Dan kali ini, aku tidak akan pura-pura kebetulan ada di sana.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu reading
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue