Chapter Twenty Four
Gue Suka Lo. Puas?
POV: Evelyn
Sabtu sore Reza mengajakku jalan.
Bukan makan setelah kelas. Bukan mengerjakan tugas. Bukan kebetulan pulang bersama.
Jalan.
Aku datang lima menit lebih awal.
Reza sudah menunggu.
“Katanya jam lima,” kataku.
“Sekarang lima kurang lima.”
“Berarti lo kepagian.”
“Lo juga.”
“Gue beda.”
“Kenapa?”
“Gue boleh.”
Kami berjalan di area taman kota lalu mencari makan. Tidak ada agenda penting. Justru itu yang membuat semuanya terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya kami sengaja menyediakan waktu hanya untuk satu sama lain.
Reza membeli dua minuman.
Dia menyerahkan pesananku.
Aku menerimanya.
“Masih hafal.”
“Belum pikun.”
Kami duduk di bangku.
Beberapa menit kami hanya melihat orang lewat.
Reza akhirnya bicara.
“Vel.”
“Hm?”
“Gue masih suka lo.”
Aku menoleh.
Dia mengatakannya tanpa senyum usil.
“Gue tahu.”
“Gue cuma mau ngomong jelas.”
Aku memutar gelas.
“Kenapa?”
“Karena sekarang lo udah jelas. Gue juga harus.”
Aku diam.
Reza melanjutkan, “Waktu gue berhenti, gue nggak pernah berhenti suka.”
“Aku tahu.”
“Kok tahu?”
“Bab kemarin lo udah bilang.”
Aku mendengus pada pikiranku sendiri. Tidak. Aku tidak boleh menjadikan hidup seperti narasi.
Aku memperbaiki, “Lo udah bilang.”
Reza tertawa kecil.
Aku melihat jalan.
“Kayaknya gue dulu terlalu sibuk bilang lo ganggu.”
“Emang ganggu.”
“Iya.”
“Terus?”
Aku menarik napas.
“Sampai nggak sadar gue mulai nunggu gangguannya.”
Reza tidak bicara.
Aku menoleh.
“Jangan muka begitu.”
“Muka gue kenapa?”
“Kayak mau terharu.”
“Gue memang agak terharu.”
“Jangan.”
Dia tertawa.
Kami melanjutkan jalan setelah matahari turun.
Di bawah lampu taman, Reza berhenti.
Aku ikut berhenti.
“Ada satu pertanyaan.”
“Banyak banget pertanyaan lo.”
“Yang terakhir.”
“Bohong.”
Dia tersenyum.
“Lo suka gue?”
Aku menatapnya.
Setelah semua yang kulakukan seminggu terakhir, pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu.
Tapi aku tahu kenapa dia bertanya.
Dia ingin mendengarnya.
Bukan kode.
Bukan kopi.
Bukan aku menunggu di depan kelas.
Kata-kata.
Aku menarik bagian depan jaketnya sampai dia sedikit mendekat.
“Denger.”
Reza diam.
“Gue.”
Aku menariknya sedikit lagi.
“Suka.”
Jarak kami semakin dekat.
“Lo.”
Matanya tidak lepas dariku.
“Puas?”
Reza mengembuskan napas seperti baru ingat caranya.
“Lumayan.”
“Kurang?”
“Boleh minta bonus?”
“Kurang ajar.”
Dia tertawa.
Aku belum melepaskan jaketnya.
Reza melihat tanganku lalu kembali menatap wajahku.
“Vel.”
“Apa?”
“Gue boleh cium lo?”
Jantungku langsung kehilangan ritme.
Sial.
Semua flirting yang kulakukan ternyata tidak mempersiapkanku untuk pertanyaan langsung seperti itu.
Aku bisa merasakan wajahku panas.
Reza menunggu.
Tidak maju.
Tidak mengambil diamku sebagai jawaban.
Aku menyukai itu.
“Gue nggak bilang enggak.”
“Gue butuh yang lebih jelas.”
Aku mendecakkan lidah.
“Iya.”
Reza mendekat perlahan.
Ciuman pertama kami singkat.
Hati-hati.
Tidak dramatis.
Ketika dia mundur, aku masih memegang jaketnya.
Reza tersenyum.
“Merah.”
“Apanya?”
“Muka lo.”
“Nggak.”
“Vel.”
Aku menarik jaketnya lagi.
“Mau gue batalin?”
“Ciuman nggak bisa dibatalin.”
“Bisa gue pukul biar lupa.”
Dia tertawa.
Aku melepaskannya.
Kami berjalan menuju tempat makan dengan jarak yang sekarang terasa bodoh kalau terlalu jauh.
Tangan Reza menyentuh tanganku.
Aku langsung menggenggam.
Di restoran, dia bertanya, “Jadi sekarang status kita apa?”
Aku sedang minum.
“Pacaran.”
Dia hampir tersedak.
Aku menatapnya. “Kenapa?”
“Cepet banget.”
“Lo mau rapat dulu?”
“Enggak.”
“Ya udah.”
Reza tertawa.
Aku menyandarkan punggung.
“Oke. Formal.”
Dia menatapku.
“Reza Atmawijaya.”
“Serem.”
“Diam.”
“Oke.”
“Lo mau jadi pacar gue nggak?”
Senyumnya perlahan hilang dan digantikan sesuatu yang lebih lembut.
“Mau.”
“Bagus.”
“Cuma bagus?”
“Lo mau gue bikin sertifikat?”
Dia tertawa.
Beberapa saat kemudian dia berkata pelan, “Gue seneng.”
Aku menatapnya.
“Bukan cuma karena akhirnya pacaran.”
“Terus?”
“Karena orang yang selama ini gue tunggu akhirnya milih gue.”
Dadaku langsung sesak oleh rasa hangat yang menyebalkan.
Aku melihat ke samping.
“…bacot.”
Reza tersenyum.
Nah.
Kalimat tulus lagi.
Kelemahanku ternyata bukan jarak dekat atau godaan.
Ketulusan Reza jauh lebih berbahaya.
Saat dia mengantarku pulang, aku turun dari motor lalu menyerahkan helm.
Reza masih tersenyum.
“Kenapa?”
“Pacar gue galak.”
“Baru tahu?”
“Enggak.”
Aku mendekat dan mencium pipinya cepat.
Reza membeku.
“Biar adil.”
Aku berjalan menuju pintu.
“Vel!”
Aku menoleh.
“Gue suka lo.”
Aku mengangkat alis.
“Gue tahu.”
Lalu sebelum masuk, aku menambahkan, “Gue juga. Jangan bikin gue ulang.”
Aku menutup pintu sambil tersenyum.
Malam itu tidak ada lagi PDKT.
Targetku sudah kudapat.
Setelah resmi mengatakan kami pacaran, aku menunggu sesuatu berubah secara ajaib. Tidak ada. Reza tetap mencuri kentangku. Aku tetap menyuruhnya berhenti. Dia tetap tertawa. Bedanya, ketika tangannya berada di atas meja, aku tidak perlu mencari alasan untuk menyentuhnya. Aku tinggal menaruh tanganku di sana dan dia otomatis menggenggam.
“Jadi perjuangan gue selesai?” tanyanya sambil memakan kentang yang jelas-jelas milikku. “Siapa bilang?” Aku menarik piring menjauh. “Pacaran bukan pensiun.” Reza mengangguk serius. “Berarti KPI tetap jalan.” “Naik.” “Wah.” “Sama jangan nyolong makanan gue.” Dia mengunyah kentang terakhir sambil menatapku. “Terlambat.” Aku menendang sepatunya di bawah meja.
Aku memikirkan ciuman tadi dan wajahku kembali panas. Reza menangkapnya. “Kenapa?” “Nggak.” “Mikirin sesuatu?” “Mikirin cara buang lo ke sungai.” “Romantis.” Aku memutar mata. Aku mungkin sudah mengaku suka dan mengajak pacaran, tetapi rupanya tubuhku belum mendapat memo bahwa aku seharusnya santai setelah dicium.
Di sisi lain, aku lega Reza meminta izin. Bukan karena aku meragukan dia, tetapi karena pertanyaan itu menunjukkan bahwa semua yang terjadi beberapa minggu terakhir benar-benar mengubah cara kami memahami satu sama lain. Dia tidak menganggap status PDKT sebagai hak. Aku juga tidak menganggap perasaannya yang lama sebagai jaminan. Kami memilih setiap langkah. Mungkin terdengar tidak romantis bagi orang lain. Bagiku justru itu yang membuat ciuman tadi terasa aman.
Malam sebelum tidur, aku membaca chat terakhirnya. **Pacar gue udah tidur?** Aku membalas, **Belum. Pacar lo lagi nyesel.** Dia langsung menjawab, **Nyesel pacaran?** Aku membiarkannya panik tiga puluh detik sebelum menulis, **Nyesel tadi cuma cium pipi lo sekali.** Tiga titik muncul lama sekali. Aku tertawa sendiri. Menjadi pacarnya ternyata tidak menghilangkan kesenanganku membuat Reza kehilangan kata-kata.
Dan yang paling menyebalkan, ternyata aku bahagia sekali.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas? reading
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue