← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Eleven

Tenang, Gue Tahu

POV: Reza

Aku sudah masuk kampus lagi sejak pagi, tetapi baru benar-benar merasa kembali ketika melihat Evelyn keluar dari gedung Manajemen dengan Tara di sebelahnya.

Dua hari demam seharusnya tidak cukup untuk membuat kampus terasa berbeda. Nyatanya, dua hari cukup untuk membuatku sadar bahwa aku sudah terlalu terbiasa mencari satu kepala di antara kerumunan.

Evelyn melihatku lebih dulu. Tatapannya turun ke wajahku, lalu ke tas di bahuku.

“Masih hidup?”

Aku tertawa. “Pembukaan yang menyentuh.”

“Gue nanya kondisi, bukan ngajak lo terharu.”

“Udah mendingan.”

Dia mengangguk seolah itu informasi biasa. Lalu dari tote bag-nya dia mengeluarkan map bening.

“Ini.”

Aku menerimanya. Di dalamnya ada catatan kuliah yang dia kirim waktu aku sakit, tetapi versi ini sudah dicetak dan diberi penanda di beberapa bagian.

“Lo cetakin?”

“Tangan gue lagi pengen kerja.”

Tara mendengus di sampingnya. Evelyn langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak ada.”

Aku menahan senyum. “Makasih, Vel.”

“Jangan lebay. Balikin map-nya.”

Aku memang sudah menyiapkan sesuatu. Dari saku depan tas, kukeluarkan cokelat almond kecil dan kusodorkan padanya.

Evelyn menatap benda itu seperti sedang menilai barang bukti.

“Apaan?”

“Upah fotokopi.”

“Gue nggak minta.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Gue pengen.”

Matanya naik ke wajahku. Kalimat itu pernah kupakai beberapa kali dan biasanya dibalas dengan tatapan kesal. Kali ini dia mengambil cokelatnya.

“Kok almond?”

Aku mengangkat bahu. “Lo kalau beli cokelat selalu yang ada almond.”

Dia diam sepersekian detik.

“Lo ngapain merhatiin begituan?”

“Kan kerjaan gue gangguin lo. Harus riset.”

“Kurang kerjaan.”

Dia memasukkan cokelat ke tas, bukan mengembalikannya.

Siangnya kami bertemu lagi di perpustakaan. Tara dan Dion sudah duduk di meja panjang dekat jendela. Aku datang belakangan setelah mengambil buku referensi. Kursi kosong yang tersisa kebetulan berada di seberang Evelyn.

Atau mungkin bukan kebetulan. Aku sudah terlalu sering memilih kursi yang membuatku bisa melihat wajahnya.

“Demam dua hari bikin lo lupa cara duduk?” tanyanya.

Aku baru sadar masih berdiri sambil memegang sandaran kursi.

“Lagi menikmati sambutan.”

“Duduk sebelum gue pindahin kursinya.”

Aku duduk.

Dion menatap kami bergantian. “Gue kangen suasana ini.”

“Lo sakit juga?” Evelyn bertanya.

“Enggak.”

“Berarti nggak ada alasan ngomong aneh.”

Kami mengerjakan tugas hampir satu jam. Evelyn beberapa kali mendorong buku ke arahku tanpa bicara ketika menemukan halaman yang kubutuhkan. Aku membalas dengan menggeser charger laptop ketika baterainya tinggal sedikit. Tidak ada ucapan terima kasih. Kami memang sudah sampai di tahap aneh ketika bantuan kecil tidak perlu diumumkan.

Aku menyukainya.

Itu justru masalahnya.

Aku tahu sejak awal Evelyn tidak pernah meminta semua ini. Aku yang datang. Aku yang menunggu. Aku yang mengirim pesan. Aku yang menghafal jadwal kelas dan pesanan minumnya karena aku ingin punya alasan untuk tinggal sedikit lebih lama.

Dia membiarkanku, tetapi membiarkan bukan berarti menginginkan.

Sore hari hujan turun mendadak. Tara sudah pulang lebih dulu, sementara Dion pergi ke parkiran. Aku dan Evelyn berhenti di depan lobi.

Dia membuka payung.

“Lo bawa?”

Aku menepuk tas lalu baru ingat payungku tertinggal di kos.

“Kayaknya enggak.”

“Pinter.”

“Terima kasih.”

Dia berjalan dua langkah, lalu berhenti.

“Za.”

Aku menoleh.

Payungnya sedikit dimiringkan ke arahku.

“Sini.”

Aku mendekat dan masuk di bawah payung yang sama. Bahu kami sesekali bersentuhan. Aku sengaja mengambil sisi luar agar dia tidak terkena tempias.

“Lo baru sembuh,” katanya.

“Makanya gue jaga jarak dari hujan.”

“Bahu lo basah.”

“Sedikit.”

“Geser.”

Aku menurut.

Kami berjalan dalam diam sampai depan minimarket. Entah karena hujan, demam yang baru lewat, atau karena dua hari terakhir dia yang lebih dulu mengirim pesan, aku hampir mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan.

Aku menatap jalan di depan.

“Vel.”

“Hm?”

“Tenang.”

Dia mengerutkan kening. “Apaan?”

“Gue tahu lo nggak suka gue.”

Langkahnya berhenti.

Aku ikut berhenti.

Wajahnya tidak berubah banyak, tetapi aku mengenal jeda-jeda kecilnya. Yang ini berbeda dari jeda ketika dia kesal.

“Siapa yang bahas itu?” tanyanya.

“Nggak ada.”

“Terus kenapa ngomong begitu?”

Aku tersenyum tipis. “Biar lo nggak mikir gue salah paham cuma gara-gara lo baik pas gue sakit.”

Tatapannya menetap di wajahku.

Aku melanjutkan sebelum keberanianku berubah bentuk.

“Gue seneng lo nyariin gue. Tapi gue tahu batasnya.”

“Lo sok tahu.”

“Mungkin.”

“Nyebelin.”

“Iya.”

Dia kembali berjalan. Aku mengikutinya.

Di depan gedung parkir, dia menutup payung di bawah kanopi dan menyerahkannya kepadaku.

Aku mengernyit. “Lah?”

“Bawa.”

“Terus lo?”

“Gue dijemput.”

“Besok gue balikin.”

“Iya.”

Aku menerima payung itu.

Sebelum pergi, dia menatapku sekali lagi. “Jangan sakit lagi. Ribet.”

Aku tersenyum. “Siap.”

Dia pergi menuju mobil yang baru berhenti di tepi jalan.

Aku berdiri dengan payungnya di tangan dan perasaan yang tidak sesederhana beberapa menit lalu.

Aku memang tahu dia tidak suka padaku.

Setidaknya, selama ini aku memilih percaya begitu.

Itu membuat semuanya aman. Aku bisa terus mengejar tanpa menuntut hasil. Bisa bercanda tanpa berharap terlalu jauh. Bisa menerima setiap “berisik”, “geser”, dan “ganggu” sebagai harga murah untuk beberapa menit di dekatnya.

Tapi ketika kukatakan kalimat itu tadi, Evelyn terlihat seperti ingin membantah.

Di kelas berikutnya, aku sempat menemukan satu sticky note kecil terselip di antara halaman catatan yang dicetak Evelyn. Bukan pesan manis. Hanya tulisan: “Bagian ini dosen bilang keluar di kuis. Jangan skip.” Hurufnya tegas dan sedikit miring. Aku membaca kalimat itu dua kali, lalu menyimpan sticky note tersebut di halaman yang sama. Evelyn mungkin akan menyebutnya informasi akademik biasa. Bagiku, justru hal-hal seperti itu yang berbahaya. Dia tidak pernah memberiku sesuatu yang bisa dengan mudah disebut romantis. Dia hanya mulai memasukkanku ke dalam daftar orang yang perlu diingat. Dan untuk orang yang selama ini selalu datang lebih dulu, perubahan sekecil itu terasa besar.

Sebelum kelas dimulai, Dion melirik cokelat almond yang tadi kubeli cadangan di minimarket. “Buat siapa?” Aku memasukkannya kembali ke tas. “Nggak ada.” Dion tertawa. “Kalau jawabannya nggak ada, biasanya buat Evelyn.” Aku menyuruhnya diam, tetapi kalimatnya tinggal di kepalaku. Aku memang terlalu mudah melakukan sesuatu untuk Evelyn. Yang sulit justru memastikan semua yang kulakukan tidak berubah menjadi tagihan yang suatu hari harus dia bayar dengan perasaan yang sama.

Dan untuk pertama kalinya, aku takut kalau aku mulai berharap pada sesuatu yang belum pernah dia janjikan.