← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Eight

Kursi yang Disimpan

POV: Evelyn

Kantin penuh bahkan sebelum jam makan siang benar-benar dimulai.

aku datang lebih dulu bersama Tara dan berhasil mendapatkan meja kecil untuk empat orang dekat jendela. Dua kursi di satu sisi, dua di seberang.

Tara menjatuhkan tasnya.

“Gue beli makan dulu.”

“Titip es teh.”

“Manis?”

“Tawar.”

“Kayak yang pesen.”

aku menatap.

Tara langsung pergi sambil tertawa.

aku membuka ponsel. Ada pesan dari kelompok tugas, notifikasi marketplace, dan satu pesan Reza dari pagi yang sudah dia balas dengan satu kata.

Reza: Hari ini kelas sampai jam berapa?

aku: Kenapa?

Reza: Kepo.

aku: Penyakit.

Tidak ada pesan setelah itu.

aku meletakkan ponsel.

Seorang mahasiswa datang bersama temannya dan menunjuk dua kursi kosong di meja aku.

“Kak, ini kosong?”

aku melihat kursi di samping Tara, lalu kursi tepat di depannya.

Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Dia mengangkat tas sendiri dan meletakkannya di kursi depan.

“Yang itu dipakai.”

Mahasiswa itu menunjuk kursi satunya.

“Kalau ini?”

“Boleh.”

Satu orang duduk. Temannya mencari tempat lain.

aku baru sadar apa yang dia lakukan ketika Tara kembali membawa nampan.

Tara melihat tas aku di kursi seberang.

Kemudian melihat aku.

Kemudian melihat tas lagi.

“Kenapa?”

Tara meletakkan es teh. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Mulut lo pengen ngomong.”

“Enggak.”

“Ngomong aja.”

“Takut.”

“Lo nggak pernah takut.”

Tara duduk sambil menahan senyum. “Itu kursi buat siapa?”

aku menusukkan sedotan. “Tas gue.”

“Gue lihat tas.”

“Ya udah.”

“Tapi tadi tas lo di lantai.”

aku menatapnya.

Tara mengangkat kedua tangan. “Gue cuma observasi.”

“Ganggu banget.”

Lima menit berlalu.

Kantin semakin ramai.

Kursi di depan aku tetap ditempati tas.

Tara tidak mengatakan apa-apa lagi, yang justru membuat aku lebih sadar akan benda itu.

Akhirnya aku menarik tasnya.

“Apaan sih.”

“Mau dipindah?”

“Iya.”

Sebelum tas itu sampai ke lantai, suara yang terlalu dikenal muncul dari belakang.

“Wah, ada tempat.”

aku berhenti.

Reza berdiri sambil membawa nampan.

Tara langsung menunduk ke makanannya.

aku tahu dia sedang tertawa.

Reza menunjuk kursi depan. “Kosong?”

aku menatap tas di tangannya.

“Enggak.”

Reza mengernyit. “Siapa?”

“Barusan ada.”

“Ke mana?”

“Mati.”

Tara batuk keras.

Reza menatap Tara, lalu aku.

“Jadi boleh duduk?”

aku menjatuhkan tas ke lantai. “Udah berdiri di situ juga. Duduk.”

“Terima kasih.”

“Jangan bikin gue nyesel.”

Reza duduk.

Tara masih tidak berani mengangkat muka.

Reza membuka sendok. “Tar, kenapa?”

“Kesedak.”

“Minum.”

“Udah.”

aku menendang kaki Tara di bawah meja.

Tara akhirnya normal.

Mereka makan. Reza bercerita tentang dosennya yang tiba-tiba memindahkan deadline. Tara menanggapi. aku lebih banyak diam, tetapi sesekali menyela ketika cerita Reza terlalu berlebihan.

Di tengah percakapan, seorang teman Tara datang.

“Tar, gue duduk sini boleh? Penuh.”

Tara hendak menjawab ketika aku menunjuk kursi kosong di sampingnya.

“Sini.”

Teman Tara duduk.

Reza memperhatikan.

“Apa?” tanya aku.

“Nggak.”

“Jangan senyum.”

“Gue nggak senyum.”

“Sudut bibir lo naik.”

“Anatomi muka.”

“Turunin.”

Reza tertawa.

Setelah makan, teman Tara pergi lebih dulu. Tara mendapat pesan dari dosen dan ikut pamit.

Tinggal aku dan Reza.

Reza menyandarkan punggung.

“Jadi tadi kursi gue disimpen?”

aku langsung tahu Tara pasti mengirim pesan diam-diam.

“Siapa bilang?”

“Tara.”

“Pengkhianat.”

“Berarti benar?”

“Enggak.”

“Terus tas lo ngapain di sini?”

“Duduk.”

“Tas lo capek?”

“Banget.”

Reza mengangguk seolah masuk akal. “Kasihan.”

aku menatapnya tajam.

“Gue seneng, sih.”

“Kenapa?”

“Dapet kursi.”

“Ya udah.”

“Yang disimpen aku.”

“Gue lempar gelas, ya?”

Reza mengangkat tangan. “Oke.”

aku menghabiskan es tehnya.

Dia tidak mengerti kenapa merasa tertangkap basah padahal tindakannya sepele. Mungkin dia memang sekadar terbiasa Reza duduk di situ. Kalau orang lain mengambilnya, formasi meja terasa salah.

Itu saja.

Tidak ada arti lain.

Reza berdiri dan mengambil nampannya.

“Gue balik kelas.”

aku mengangguk.

Reza baru berjalan dua langkah ketika aku memanggil.

“Za.”

Reza menoleh.

aku sendiri tidak tahu kenapa memanggil.

“Apa?”

Dia melihat gelas kosong Reza yang tertinggal.

“Gelas lo.”

“Oh.”

Reza kembali mengambilnya.

“Thanks.”

“Ceroboh.”

Reza tersenyum. “Untung ada lo.”

“Jangan mulai.”

“Belum.”

“Udah pergi.”

Reza pergi.

aku memandangi kursi kosong di depannya.

Sekarang kursi itu benar-benar kosong.

Aneh.

Beberapa menit kemudian Tara kembali karena ternyata dosennya membatalkan pertemuan.

Dia duduk di kursi Reza.

aku spontan berkata, “Jangan situ.”

Tara membeku.

aku juga.

Mereka saling menatap.

Tara perlahan berdiri.

“Kenapa?”

aku melihat kursi.

Tidak ada alasan.

“Silau.”

Tara melihat jendela di belakang aku. Matahari datang dari arah yang sama sekali tidak mengenai kursinya.

“Silau?”

“Iya.”

Tara memindahkan kursi ke sebelah aku tanpa berkomentar.

Dua detik.

Tiga detik.

Lima detik.

Kemudian bahunya mulai bergetar.

“Ketawa aja sekalian.”

Tara pecah.

“aku, sumpah—”

“Jangan lebay.”

“Lo nyimpen kursi buat dia!”

“Enggak.”

“Terus gue dilarang duduk!”

“Silau.”

“Mana silaunya?”

“Di mata batin.”

Tara makin tertawa.

aku mengambil ponsel dan pura-pura sibuk.

Sebuah pesan masuk.

Reza: Makasih kursinya.

aku menatap layar.

Lalu melirik Tara.

“Lo yang bilang?”

Tara masih tertawa. “Bilang apa?”

aku menunjukkan ponsel.

Tara menggeleng. “Bukan gue.”

“Terus?”

“Dia mungkin nggak bego.”

aku mengetik.

aku: Geer. Itu buat tas gue.

Reza: Bilang makasih ke tas lo.

aku: Nanti.

Reza: Besok tas lo butuh kursi lagi nggak?

aku menggigit bagian dalam pipinya.

aku: Tergantung.

Balasan Reza agak lama.

Reza: Tergantung apa?

aku menatap kursi kosong.

Dia bisa saja menjawab tergantung kantin penuh atau enggak. Bisa juga tergantung gue bawa tas atau enggak.

Alih-alih, dia mengetik:

aku: Tergantung lo telat lagi apa nggak.

Dia menekan kirim.

Tara yang mengintip dari samping mengeluarkan suara kecil.

aku langsung mematikan layar.

“Lo ngintip?”

“Gue duduk di sebelah lo.”

“Pindah.”

“Ke kursi depan?”

“Jangan.”

Tara kembali tertawa.

aku menyandarkan kepala ke kursi.

Dia baru sadar pesannya bisa dibaca sebagai pengakuan bahwa kursi itu memang untuk Reza.

Ponselnya bergetar.

Dia tidak mau melihat.

Lima detik.

Sepuluh.

Akhirnya dibuka.

Reza: Besok gue nggak telat.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada emoji.

Entah kenapa justru itu yang membuat dada aku terasa sedikit aneh.

Dia mengunci layar.

Tara menatapnya.

“Apa?”

“Lo senyum.”

“Enggak.”

“Sedikit.”

aku berdiri dan mengambil tas.

“Gue tinggal.”

“Lah, mau ke mana?”

“Kelas.”

“Masih empat puluh menit.”

“Gue mau rajin.”

Tara menyusul sambil tertawa.

Di lorong, aku berusaha tidak memikirkan satu hal sederhana yang sekarang terlalu jelas.

Besok, tanpa perlu dibicarakan, Reza akan datang.

Dan tanpa perlu mengakuinya, aku sudah tahu kursi mana yang akan dia biarkan kosong.