Chapter Sixteen
Sial, Gue Kangen
POV: Evelyn
Aku bangun dengan keputusan sederhana: hari ini aku tidak akan mencari Reza.
Keputusan itu gagal sebelum jam sepuluh.
Aku keluar kelas, menoleh ke kiri, lalu baru sadar apa yang kulakukan.
Kosong.
“Bagus,” gumamku.
Tara yang berjalan di belakangku mendengar. “Apanya?”
“Nggak ada.”
Kami turun ke lantai dasar. Di tengah perjalanan aku mengecek ponsel.
Tidak ada pesan.
Aku memasukkannya kembali ke tas dengan sedikit terlalu keras.
Tara memperhatikan, tetapi untungnya tidak berkomentar.
Di kantin, Kevin dari kelas sebelah duduk bersama kami karena kelompok tugasnya belum datang. Dia pergi membeli minum lalu kembali membawa tiga gelas.
“Vel, gue sekalian beliin. Es teh tawar, kan?”
Aku melihat gelas di depanku.
Pesanannya tepat.
“Thanks.”
Aku minum.
Rasanya sama seperti es teh yang biasa dibelikan Reza.
Tentu saja sama. Air, teh, es. Tidak ada ilmu hitam di dalamnya.
Tapi rasanya biasa.
Aku menatap gelas beberapa detik.
Tara menangkap tatapanku. “Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Kevin tersenyum. “Salah pesanan?”
“Bener.”
Aku minum lagi.
Tetap biasa.
Dan tiba-tiba aku memahami sesuatu yang membuatku ingin membenturkan kepala ke meja.
Aku tidak merindukan es tehnya.
Siang setelah kelas, aku melihat Reza dari lantai dua. Dia sedang berjalan bersama Dion di halaman bawah. Dion mengatakan sesuatu, lalu Reza tertawa sambil mendorong bahunya.
Aku berdiri di dekat pagar koridor lebih lama dari perlu.
Reza tidak melihat ke atas.
Ada masa ketika dia selalu berhasil menemukanku. Di kantin, depan kelas, perpustakaan, bahkan minimarket.
Sekarang aku yang melihatnya dari jauh.
“Lo bisa turun kalau mau,” kata Tara.
Aku hampir terlonjak. “Ngapain?”
“Nyamperin.”
“Siapa bilang gue mau?”
“Tidak ada.”
Aku menatap Reza lagi.
Dia dan Dion masuk gedung lain.
Aku kembali ke kelas.
Malamnya aku menyerah pada kebiasaan buruk baru: membaca percakapan lama.
Aku mulai dari tiga bulan lalu.
Reza mengirim foto langit.
**Warnanya kayak stabilo lo.**
Aku membalas:
**Lo chat gue cuma buat ini?**
**Iya.**
Percakapan lain.
**Udah pulang?**
**Belum.**
**Gue tunggu bawah.**
**Gue nggak minta.**
**Gue tahu.**
Aku menutup mata.
Ada terlalu banyak “gue tahu” dari Reza.
Dia tahu aku tidak meminta.
Dia tetap melakukan hal-hal itu karena dia ingin.
Sampai aku meminta satu hal yang berbeda.
Berhenti.
Dan dia juga menghormati itu.
Aku scroll lagi.
Pesan waktu aku lembur tugas.
**Jangan lupa makan.**
Pesan waktu hujan.
**Jangan keluar dulu. Gue ke sana.**
Pesan setelah aku mengeluh tentang presentasi.
**Lo bisa. Kalau gagal baru gue ketawain.**
Aku sadar aku hafal nada setiap kalimat meski hanya berupa teks.
Tara menelepon.
“Lo ngapain?”
“Tiduran.”
“Bohong.”
“Kenapa tiduran harus bohong?”
“Karena suara lo kayak orang lagi mikir.”
Aku menatap chat Reza.
“Tar.”
“Hm?”
“Misalnya.”
“Nah. Bahaya.”
“Diam.”
“Oke.”
“Misalnya lo terbiasa sama seseorang.”
“Reza.”
“Gue tutup.”
“Lanjut.”
Aku menarik napas.
“Terus orangnya nggak ada.”
“Dia ada. Cuma nggak ngejar lo.”
Aku memejamkan mata. “Lo bisa nggak sih nggak presisi banget?”
“Nggak.”
Aku diam cukup lama sampai Tara berkata, “Vel?”
“Gue kira gue cuma kangen kebiasaannya.”
“Sekarang?”
Aku menatap gelas kosong di meja. Siang tadi Kevin membelikanku pesanan yang sama. Tidak ada yang berubah.
Tapi semuanya berbeda.
“Kalau orang lain ngelakuin hal yang sama, rasanya nggak sama.”
Tara tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan sebelum keberanianku habis.
“Gue tadi dibeliin es teh yang sama.”
“Terus?”
“Ya es teh.”
“Dalam.”
“Bacot.”
Tara tertawa kecil.
Aku menggigit bibir.
“Gue nggak kangen minumannya.”
“Oke.”
“Gue juga nggak kangen ada orang yang sekadar nunggu.”
“Oke.”
“Gue…”
Kata berikutnya terasa memalukan karena begitu sederhana.
Aku sudah menghabiskan berhari-hari membangun alasan agar tidak perlu mengucapkannya.
Kebiasaan.
Rutinitas.
Belum adaptasi.
Sepi.
Semuanya terdengar pintar sampai dibandingkan dengan satu fakta bodoh.
Aku ingin Reza.
“Sial.”
Tara menunggu.
“Gue kangen dia.”
Tidak ada petir.
Tidak ada musik dramatis.
Hanya keheningan beberapa detik.
Lalu Tara berkata, “Akhirnya.”
“Jangan seneng.”
“Gue nggak seneng. Gue lega.”
“Lebih ngeselin.”
Aku menutup telepon beberapa menit kemudian.
Chat Reza masih terbuka.
Kali ini aku tidak menulis kalimat panjang.
Tidak ada permintaan maaf dulu.
Tidak ada alasan.
Aku mengetik:
**Za.**
Aku menatap tombol kirim.
Dua hari lalu aku menghapus tiga huruf yang sama.
Malam ini aku menekannya.
Terkirim.
Dadaku berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang sesederhana pesan satu kata.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga titik muncul.
Lalu pesan masuk.
**Iya?**
Aku menatapnya sampai layar hampir redup.
Dia membalas.
Tentu saja dia membalas. Reza tidak pernah bilang akan mengabaikanku. Dia hanya berhenti mengejar.
Perbedaan itu baru terasa sekarang.
Aku mengetik beberapa versi.
**Besok kelas jam berapa?**
Hapus.
**Lo sibuk?**
Hapus.
Akhirnya:
**Besok gue mau ngomong.**
Balasannya datang.
**Oke. Jam berapa?**
Aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak menyuruhnya pergi, aku tidak menunggu Reza mengambil langkah berikutnya.
Besok, aku yang akan datang.
Aku mencoba menguji pengakuanku sendiri. Kalau yang kurindukan memang Reza, harusnya aku bisa menyebut apa yang kurindukan tanpa memakai daftar jasa yang dia lakukan. Jawabannya datang menyebalkan cepat. Cara dia tertawa ketika berhasil membuatku kesal. Cara dia tetap santai saat aku ketus. Cara dia menatapku seolah jawaban satu kata pun layak ditunggu. Cara dia kadang mengatakan sesuatu yang tulus lalu buru-buru menutupinya dengan bercanda. Tidak satu pun dari itu bisa diganti oleh orang yang sekadar membelikan minuman.
Kesadaran itu tidak membuatku mendadak romantis. Aku malah berjalan mondar-mandir di kamar sambil mengomel sendiri. “Kenapa harus dia?” Tidak ada yang menjawab. Kalau Tara ada di sini, dia mungkin akan bilang pertanyaan itu sudah terlambat. Perasaan tidak meminta izin sebelum tumbuh. Rupanya tugasku sekarang bukan memilih apakah aku suka Reza. Pilihan itu sudah lewat. Tugasku adalah memutuskan apa yang akan kulakukan setelah mengetahuinya.
Aku juga sadar permintaan maaf saja tidak cukup. Reza sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan mengambil risiko ditolak setiap kali mendekat. Sekarang, kalau aku ingin dia kembali dekat, tidak adil kalau aku hanya berdiri dan berharap dia membaca pikiranku. Aku yang membuat batas itu. Aku juga yang harus cukup jelas kalau ingin mengubah bentuk hubungan kami. Pikiran tersebut menakutkan, tetapi setidaknya untuk pertama kali aku tahu arah yang ingin kutuju.
Dan anehnya, setelah mengakui bahwa aku kangen dia, semuanya justru terasa jauh lebih sederhana.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen reading
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue