Chapter Twenty Three
Gue Ngejar Orangnya
POV: Reza
Aku sudah lama ingin mendengar Evelyn bilang dia suka padaku.
Ketika akhirnya dia mengatakannya, anehnya aku justru takut mempercayainya terlalu cepat.
Bukan karena kupikir dia berbohong.
Aku percaya Evelyn.
Masalahnya, beberapa hari sebelum semua ini dia merindukan rutinitas yang hilang. Aku perlu tahu apakah sekarang dia benar-benar menginginkanku, atau hanya ingin mengembalikan rasa nyaman yang selama ini kubangun di sekelilingnya.
Pertanyaan itu terdengar egois.
Tapi kalau aku kembali mengejarnya tanpa memastikan, aku takut kami mengulang kesalahan yang sama.
Kami bertemu di kafe sore itu.
Evelyn duduk di sebelahku seperti beberapa hari terakhir.
Aku memutar gelas kopi.
“Vel.”
“Hm?”
“Gue mau nanya sesuatu.”
“Kalau pertanyaannya ukuran sepatu gue, gue pulang.”
Aku tersenyum.
“Serius.”
Dia langsung menangkap nadaku.
“Oke.”
Aku mencari kalimat yang tidak terdengar menuduh.
“Waktu gue berhenti… lo kehilangan banyak hal.”
“Ya.”
“Chat. Kopi. Gue nungguin. Makan bareng.”
Evelyn menatapku.
Aku melanjutkan, “Gue cuma pengen tahu, lo sekarang ngejar gue karena lo kehilangan semua itu atau…”
“Atau?”
Aku menarik napas.
“Karena gue.”
Sunyi.
Aku menyesal sesaat setelah bertanya.
Wajah Evelyn tidak marah. Justru terlalu tenang.
“Lo pikir gue kangen perhatian lo?”
“Gue nggak bilang begitu.”
“Tapi itu pertanyaannya.”
“Iya.”
Dia bersandar.
Aku menunggu.
Kalau dia tersinggung, aku akan menerimanya. Aku lebih memilih percakapan tidak nyaman sekarang daripada membangun sesuatu di atas asumsi.
Evelyn akhirnya bicara.
“Awalnya gue juga mikir begitu.”
Aku menatapnya.
“Gue pikir cuma belum biasa.”
Dia memainkan sedotan.
“Terus ada orang lain yang beliin minuman gue. Pesanannya bener.”
Aku tidak tahu ke mana arahnya.
“Rasanya sama. Ya es teh.”
“Oke.”
“Tapi gue tetap nyari lo.”
Dadaku mengencang.
Evelyn menatap langsung ke mataku.
“Gue nggak ngejar perhatian lo.”
Aku diam.
“Gue ngejar orangnya.”
Kalimat itu masuk terlalu dalam.
Dia belum selesai.
“Gue kangen lo, Za. Bukan kopi lo. Bukan chat lo. Bukan karena ada orang yang nunggu depan kelas.”
Aku tidak mampu bercanda.
“Gue kangen lo yang bacot. Lo yang sok santai. Lo yang kalau gugup pegang belakang leher. Lo yang tahu gue lagi jelek mood tapi masih berani duduk di dekat gue.”
Aku tertawa kecil tanpa sengaja.
“Spesifik.”
“Biar otak lo nyampe.”
Aku menunduk sebentar.
Selama berbulan-bulan aku membayangkan pengakuan Evelyn dalam banyak versi. Tidak ada yang seperti ini.
Lebih baik.
“Gue nggak pernah berhenti suka sama lo,” kataku.
Sekarang giliran Evelyn diam.
Aku melanjutkan, “Gue berhenti ngejar karena lo minta. Bukan karena perasaan gue mati.”
“Kenapa lo nggak bilang?”
“Buat apa?”
Dia mengerutkan kening.
“Kalau waktu itu gue bilang ‘gue masih suka lo’, itu bisa bikin lo ngerasa harus ngapa-ngapain.”
Evelyn menatap meja.
“Perasaan gue urusan gue.”
Aku mengatakannya pelan.
“Batas lo urusan lo.”
Dia menarik napas.
Aku takut kalimatku terlalu berat, jadi aku menambahkan, “Walaupun ternyata batas lo sekarang geser tiap hari.”
Dia langsung menendang sepatuku.
“Nah. Gitu lebih normal.”
Aku tertawa.
Kami keluar kafe menjelang magrib. Trotoar ramai.
Tanganku beberapa kali hampir menyentuh tangannya.
Dulu aku akan langsung mengambil.
Sekarang aku berhenti.
“Vel.”
“Apa?”
“Pegang tangan boleh?”
Dia menatapku seperti aku baru bertanya sesuatu yang bodoh.
“Lama.”
“Hah?”
Evelyn mengambil tanganku sendiri.
Jari kami bertaut.
Aku menatap tangan itu.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Seneng?”
“Iya.”
Aku tertawa.
“Jangan geer.”
“Telat.”
Kami berjalan.
Tangannya hangat.
Setelah beberapa meter, Evelyn berkata, “Za.”
“Hm?”
“Gue serius.”
“Soal?”
“Lo.”
Aku menoleh.
Dia tetap melihat ke depan.
“Jangan ngomong bagus-bagus dulu.”
Aku bingung. “Lah, lo yang mulai.”
“Pokoknya.”
Aku baru sadar telinganya sedikit merah.
Aku tersenyum.
“Vel.”
“Apa?”
“Gue seneng yang lo kejar ternyata gue.”
Dia langsung menatapku tajam.
“Gue bilang jangan.”
Aku tertawa.
“Bacot.”
Nah.
Itu Evelyn yang kukenal.
Di gerbang, kami berhenti.
Dia belum melepaskan tanganku.
“Besok?” tanyaku.
“Gue cari.”
“Gue boleh nyari juga?”
Evelyn berpikir seolah sedang menilai kontrak.
“Boleh.”
“Wah.”
“Tapi jangan geer.”
“Kenapa?”
“Gue masih PDKT.”
“Sampai kapan?”
Dia mendekat sedikit.
“Sampai target gue dapet.”
Aku menelan ludah.
“Targetnya siapa?”
Evelyn menatapku datar.
“Bego.”
Dia melepaskan tanganku dan berjalan pergi.
Aku berdiri sambil tertawa sendiri.
Dion benar.
Predatornya memang ganti.
Tapi setelah percakapan hari ini, satu hal akhirnya jelas.
Evelyn tidak sedang mencoba mengembalikan rutinitas lama.
Dia sedang membangun sesuatu yang baru.
Aku menunggu cukup lama sebelum menanyakan hal itu karena takut jawabannya akan mengubah semuanya. Selama Evelyn mengejarku, aku menikmati setiap kopi, setiap pesan pertama, setiap kali dia muncul di depan kelas. Bagian paling sederhana dalam diriku ingin menerima semuanya tanpa pertanyaan. Tapi aku pernah salah membaca kenyamanannya sebagai izin untuk terus mendekat. Aku tidak ingin melakukan kesalahan serupa hanya karena sekarang situasinya menyenangkan bagiku.
Ada juga ketakutan yang lebih memalukan. Bagaimana kalau Evelyn memang hanya merindukan versi dirinya ketika ada seseorang yang selalu memperhatikannya? Aku tidak akan menyalahkannya. Rutinitas bisa terasa seperti perasaan. Tapi aku tahu diriku sendiri. Kalau kami mulai pacaran dan suatu hari aku sadar dia hanya menginginkan fungsi yang kuberikan, aku akan terluka jauh lebih dalam daripada saat dia menyuruhku berhenti.
Jawabannya di kafe menghapus ketakutan itu bukan karena terdengar romantis, tetapi karena terlalu spesifik. Dia menyebut kebiasaanku menyentuh belakang leher ketika gugup. Aku bahkan tidak sadar sering melakukannya. Dia menyebut caraku tetap duduk dekat saat mood-nya buruk. Itu bukan daftar layanan yang kuberikan. Itu aku. Untuk pertama kalinya, aku merasa dilihat oleh orang yang selama ini paling banyak kulihat.
Ketika tangannya mengambil tanganku di trotoar, aku hampir tertawa karena selama berbulan-bulan aku membayangkan momen seperti itu jauh lebih dramatis. Kenyataannya cuma dua telapak tangan, suara kendaraan, dan Evelyn berkata “lama” seolah aku bodoh karena meminta izin. Tapi justru karena sederhana, rasanya nyata. Tidak ada kemenangan. Tidak ada hadiah karena aku bertahan mengejar. Ada dua orang yang akhirnya memilih berjalan ke arah yang sama.
Dan kali ini, aku berani berharap aku boleh membangunnya bersama dia.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya reading
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue