Chapter Twenty Five
Jangan Berhenti Ganggu Gue
POV: Evelyn
Tiga minggu pacaran dengan Reza membuktikan satu hal.
Dia tetap mengganggu.
Bedanya, sekarang aku punya hak lebih besar untuk membalas.
“Vel.”
Aku sedang membaca di perpustakaan.
“Apaan?”
“Lihat.”
“Gue lagi baca.”
“Sebentar.”
Aku menoleh.
Reza menunjukkan foto kucing dengan ekspresi marah.
“Mirip lo.”
Aku menatapnya.
“Lo datang jauh-jauh cuma buat mati?”
Dia tertawa.
Aku kembali membaca, lalu tanpa melihat mengulurkan tangan.
Reza langsung menggenggamnya.
Jari kami bertaut di bawah meja.
Aku tetap membaca.
Itulah bentuk hubungan kami sekarang.
Aku masih menyuruhnya diam.
Dia masih mengganggu.
Tapi kalau dia duduk terlalu jauh, aku yang menarik kursinya.
Di kantin, Tara memperhatikan ketika aku mengambil kopi Reza tanpa izin.
“Itu punya gue,” katanya.
“Sekarang punya gue.”
Reza mengangkat alis. “Semuanya?”
Aku minum.
“Kenapa?”
“Nggak.”
Tara menunjuk kami. “Kalian menjijikkan.”
“Pergi.”
“Ini meja umum.”
“Cari meja khusus.”
Reza tertawa.
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
Tara menatapku seolah melihat fenomena langka.
“Kenapa?” tanyaku.
“Evelyn Angelista nyender.”
“Punya gue.”
Reza hampir menjatuhkan sendok.
Aku menoleh. “Apaan?”
“Gue cuma suka kalimat tadi.”
“Jangan geer.”
“Sulit.”
Aku mencubit lengannya.
Hubungan kami tidak membuatku berubah menjadi orang yang tiba-tiba manis setiap lima menit.
Kalau Reza lupa makan, pesanku tetap:
**Makan. Muka lo udah kayak orang belum digaji tiga bulan.**
Kalau dia pulang terlalu malam:
**Udah sampai kabarin. Jangan bikin gue nyari.**
Kalau dia sakit:
**Minum obat. Kalau besok masih demam gue ke sana. Jangan sok kuat.**
Reza bilang itu romantis versi ancaman.
Aku bilang dia terlalu banyak bicara.
Sore itu kami kembali ke warung mi tempat kami dulu pertama kali makan berdua.
Pelayan yang pernah mengira kami kencan mengenali kami.
“Sekarang beneran pacaran?” tanyanya sambil tersenyum.
“Iya,” jawabku.
Reza menoleh cepat.
“Kenapa?”
“Biasanya lo protes.”
“Dulu bukan.”
“Sekarang?”
“Sekarang iya.”
Dia tersenyum lebar.
“Jangan senyum begitu.”
“Pacar gue ngaku.”
“Gue tinggal, ya.”
“Oke, oke.”
Kami makan.
Setelah keluar, hujan tipis turun.
Reza membuka payung.
Kami berjalan berdua di bawahnya.
Situasinya hampir sama seperti beberapa bulan lalu.
Bedanya, sekarang tanganku memegang lengannya.
“Vel.”
“Hm?”
“Dulu gue beneran seganggu itu?”
Aku berpikir.
“Kadang.”
“Kadang?”
“Lo sering muncul.”
“Karena gue suka.”
“Gue tahu.”
“Lo sering bilang berisik.”
“Emang.”
“Terus kenapa sekarang kalau gue diem lima menit lo nanya?”
Aku menatapnya.
“Siapa?”
“Lo.”
“Fitnah.”
“Kemarin gue main game, lo bilang ‘kok diem?’”
“Itu observasi.”
Reza tertawa.
Kami berhenti di depan minimarket karena hujan membesar.
Dia menutup payung.
“Jadi sekarang gue masih ganggu?”
“Masih.”
Reza mengangguk serius.
“Oke.”
Dia berbalik seolah mau pergi.
Aku langsung menarik belakang jaketnya.
“Mau ke mana?”
“Katanya ganggu.”
“Terus?”
“Gue berhenti.”
Aku menariknya kembali.
“Jangan aneh.”
Reza tertawa. “Dulu lo sendiri yang bilang berhenti.”
Aku diam.
Ada bagian dari masa itu yang sekarang bisa kami bicarakan tanpa rasa sakit.
Aku tetap tidak ingin menghapusnya.
Kalau hari itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan pernah memahami seberapa besar ruang yang Reza isi dalam hidupku.
“Gue bilang lo ganggu,” kataku.
“Iya.”
“Bukan bilang berhenti.”
Reza menatapku.
Aku memperbaiki, “Sekarang.”
“Oh.”
“Jangan geer.”
“Sulit.”
Aku memegang ujung jaketnya.
“Lo boleh ganggu.”
“Syarat?”
Aku menatapnya.
“Asal lo.”
Senyumnya berubah.
Terlalu lembut.
Aku langsung menyesal memilih kalimat jujur.
“Jangan muka begitu.”
“Muka bahagia?”
“Najis.”
Dia tertawa dan mencium keningku.
Hujan mereda.
Kami berjalan lagi.
Di depan tempat tinggalku, Reza bertanya, “Besok gue tunggu depan kelas?”
“Iya.”
“Bawain kopi?”
“Iya.”
“Makan bareng?”
“Iya.”
“Ganggu terus?”
Aku menatapnya.
“Iya.”
Reza tersenyum.
Aku menarik lengannya sebelum dia pergi.
“Apa?” tanyanya.
Ada kalimat yang selama tiga minggu terakhir belum pernah kukatakan persis.
Aku sudah bilang suka.
Sudah bilang pacaran.
Sudah melakukan banyak hal yang seharusnya cukup jelas.
Tapi mungkin sekali-sekali Reza pantas mendapat kata yang tidak perlu dia tafsirkan.
Aku menatap matanya.
“Iya.”
Dia mengerutkan kening. “Iya apa?”
Aku baru sadar belum mengucapkan pertanyaannya.
Menyebalkan.
Reza tertawa. “Vel?”
Aku mendecakkan lidah.
“Gue sayang lo.”
Dia berhenti tertawa.
Wajahnya berubah lembut lagi.
Aku langsung menunjuknya.
“Jangan.”
“Gue belum ngomong.”
“Jangan terharu.”
“Gue sayang lo juga.”
Aku merasakan wajahku panas.
“Kesempatan lo udah lewat.”
“Hah?”
“Gue nggak bakal ulang.”
“Barusan gue dengar.”
“Halusinasi.”
Aku mencium pipinya cepat.
Reza memegang pergelangan tanganku sebelum aku kabur.
“Besok gue ganggu lagi.”
“Silakan.”
“Lusa?”
“Kalau gue belum bosan.”
“Bulan depan?”
“Bacot.”
Dia tertawa.
Aku melepaskan tangannya dan berjalan ke pintu.
“Vel!”
Aku menoleh.
“Gue ganggu terus, ya?”
Aku menatap orang yang dulu paling sering ingin kusuruh pergi.
Orang yang kemudian benar-benar pergi ketika kuminta.
Orang yang membuatku belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang kehilangan hanya berupa kursi kosong, chat yang tidak masuk, dan tidak ada seseorang yang menunggu di sisi kiri pintu kelas.
Aku tersenyum kecil.
“Jangan berhenti ganggu gue.”
Reza tertawa.
Aku masuk.
Besok pagi dia mungkin akan menungguku di depan kelas.
Tapi aku sudah memasang alarm lebih awal.
Karena pacaran tidak mengubah satu hal yang baru kusukai dari diriku sendiri.
Tiga minggu juga cukup untuk membuat rutinitas baru. Selasa dan Kamis, siapa yang kelasnya selesai lebih dulu akan menunggu. Jumat kami biasanya makan di luar kampus. Kalau Reza punya rapat malam, aku mengirim pesan mengingatkan makan. Kalau aku sibuk tugas, dia datang membawa minuman lalu duduk tanpa mengganggu sampai aku selesai. Tidak ada aturan tertulis. Semuanya tumbuh dari kebiasaan kecil, seperti dulu, hanya sekarang keduanya sama-sama membangun.
Ada hari ketika aku yang lebih banyak mencari Reza. Ada hari ketika dia kembali menjadi gangguan profesional. Aku tidak lagi menghitung siapa mengejar siapa. Itu mungkin bagian terbaiknya. Reverse chase yang kulakukan bukan hukuman untuk dia atau pembayaran utang. Itu cuma jembatan agar kami bisa bertemu di tempat yang sama.
Suatu siang Dion bertanya apakah Reza sekarang takut menggodaku. Reza menjawab, “Takut dibales.” Aku yang duduk di sebelahnya berkata, “Bagus. Berarti belajar.” Dion tertawa. “Dulu gue pikir Reza yang bahaya.” Tara menyahut, “Kita semua salah.” Aku menyuruh mereka makan. Reza berbisik, “Predator.” Aku menginjak sepatunya.
Meski begitu, Reza masih sesekali menang. Saat aku sedang kesal karena tugas, dia tidak mencoba membuat lelucon. Dia hanya duduk, menggeser minuman ke arahku, lalu berkata, “Gue suka versi lo yang ini juga.” Aku langsung kehilangan kalimat. “Bacot,” jawabku akhirnya. Reza tersenyum seperti baru memenangkan sesuatu. Aku membenci fakta bahwa ketulusan tetap menjadi senjata paling efektif melawanku.
Aku tidak berubah menjadi orang yang mudah mengatakan semua hal manis. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku mulai memahami bahwa orang yang kusayang tidak seharusnya dipaksa menebak terus-menerus. Jadi sesekali aku bilang aku kangen. Sesekali aku bilang dia ganteng tanpa menariknya kembali. Dan malam ini, di bawah suara hujan, aku akhirnya mengatakan bahwa aku sayang padanya. Rasanya memalukan. Juga benar.
Kadang-kadang, aku ingin menemukan Reza lebih dulu.
- 1 Orang Paling Mengganggu di Kampus
- 2 Kursi Lain Mati Semua?
- 3 Tangan Gue Masih Dua
- 4 Jangan Chat Gue Terus
- 5 Satu Payung
- 6 Ini Bukan Kencan
- 7 Bagus Kalau Dia Nggak Ada
- 8 Kursi yang Disimpan
- 9 Pesanan Gue
- 10 Masih Hidup?
- 11 Tenang, Gue Tahu
- 12 Terlalu Terbiasa
- 13 Berhenti Ngejar Gue
- 14 Akhirnya Tenang
- 15 Kursi Kosong
- 16 Sial, Gue Kangen
- 17 Kenapa Lo Berhenti?
- 18 Sekarang Gue yang Nunggu
- 19 Kali Ini Gue yang Beli
- 20 Gue Lagi PDKT
- 21 Kurang Deket?
- 22 Mau Gue Pangku?
- 23 Gue Ngejar Orangnya
- 24 Gue Suka Lo. Puas?
- 25 Jangan Berhenti Ganggu Gue reading