← Jangan Berhenti Ganggu Gue

Chapter Five

Satu Payung

POV: Evelyn

Hujan turun tepat lima menit sebelum kelasku selesai.

Bukan gerimis.

Hujan Bandung yang langsung membuat halaman kampus berubah abu-abu dan suara dosen kalah oleh air yang menghantam jendela.

Aku melihat keluar.

Payung ada di tas.

Bagus.

Begitu kelas selesai, mahasiswa menumpuk di depan gedung.

Aku membuka tas.

Tidak ada payung.

Aku membeku.

Lalu ingat.

Tadi pagi kupindahkan ke tote bag lain.

“Bagus.”

Tara berdiri di sebelahku. “Kenapa?”

“Payung ketinggalan.”

“Punya gue kecil.”

“Pake aja.”

“Lo?”

Aku melihat hujan.

“Pesan mobil.”

Ponsel dikeluarkan.

Harga naik.

Waktu tunggu dua puluh tiga menit.

Aku mendecak.

Tara sudah dijemput kakaknya.

“Lo yakin?”

“Iya. Pergi.”

“Gue bisa tunggu.”

“Ngapain? Gue bukan anak hilang.”

Tara akhirnya pergi.

Aku berdiri dekat pintu sambil melihat hujan.

Lima menit.

Sepuluh.

Ponsel berbunyi.

Reza: Di gedung?

Aku membalas:

Evelyn: Iya.

Reza: Jangan keluar.

Aku mengernyit.

Evelyn: Kenapa?

Tidak dibalas.

Dua menit kemudian aku melihat seseorang berlari dari arah gedung SI.

Payung hitam.

Celana bagian bawah basah.

Reza.

Aku memejamkan mata.

“Tentu aja.”

Dia sampai di bawah kanopi sambil mengatur napas.

“Payung lo?”

“Ketinggalan.”

“Feeling gue bagus.”

“Lo cenayang?”

“Tara bilang.”

Pengkhianat.

Reza mengangkat payung.

“Ayo.”

“Gue udah pesan mobil.”

“Mana?”

Aku melihat aplikasi.

Masih delapan belas menit.

“Lama.”

“Gue tunggu.”

“Gue temenin.”

“Ngapain?”

Reza menatap hujan.

“Karena gue udah telanjur basah ke sini.”

Aku melihat bahunya.

Memang ada titik-titik air.

“Bego.”

“Terima kasih.”


Akhirnya aku membatalkan mobil.

Bukan karena Reza.

Karena macet dan tarifnya tidak masuk akal.

Kami berjalan menuju area depan kampus di bawah satu payung.

Payungnya cukup besar.

Harusnya.

Tapi Reza memegangnya terlalu condong ke arahku.

Setelah beberapa puluh meter, aku melihat bahu kirinya mulai basah.

“Za.”

“Hm?”

“Payungnya tengah.”

“Udah.”

“Bahu lo basah.”

“Dikit.”

“Terus nanti sakit.”

Reza menoleh.

Aku langsung menambahkan, “Ribet. Besok ada tugas.”

Sudut bibirnya naik.

“Siap.”

Dia menggeser payung ke tengah.

Beberapa langkah kemudian tanpa sadar kembali condong ke arahku.

Aku meraih gagang payung.

Reza melihat tanganku.

“Apaan?”

“Pegang yang bener.”

Aku menarik sedikit ke tengah.

Jari kami bersentuhan di gagang.

Aku langsung melepas.

Reza tidak mengatakan apa-apa.

Bagus.

Kami terus berjalan.


Trotoar depan kampus penuh genangan.

Aku melangkah hati-hati.

Reza berjalan lebih pelan dari biasanya.

“Lo bisa jalan normal,” kataku.

“Sepatu lo licin.”

Aku melihat sepatuku.

“Lo tahu dari mana?”

“Kemarin hampir kepeleset di lantai kantin.”

Aku menatapnya.

“Lo lihat?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Lo nggak jatuh.”

“Kalau jatuh?”

“Gue tangkap.”

Aku mendecak.

“Percaya diri.”

“Lumayan.”

Sebuah motor melewati genangan.

Reza menarik lenganku ke dalam sebelum cipratan mengenai kami.

Tubuhku menabrak lengannya.

“Eh.”

“Motor.”

“Gue lihat.”

“Telat.”

Aku hendak membalas, tetapi motor itu memang baru saja menyiram sisi trotoar tempatku berdiri tadi.

“Ya udah.”

Reza melepas lenganku.

Tidak ada komentar.

Kami lanjut.

Jarak kami sekarang lebih dekat karena trotoar menyempit.

Bahu sesekali bersentuhan.

Aneh.

Biasanya aku akan bergeser.

Sekarang kalau bergeser, setengah badanku keluar payung.

Jadi tidak.

Alasan teknis.


Kami berhenti di minimarket.

Hujan makin deras.

Reza membeli dua minuman hangat.

Dia menyerahkan satu teh kepadaku.

“Gue bayar.”

“Udah.”

“Berapa?”

“Dua belas.”

Aku membuka aplikasi bank.

Reza menutup layar ponselku dengan telapak tangannya.

“Udah.”

Aku menatap tangannya.

Dia menarik.

“Sekali-sekali.”

“Lo udah sering.”

“Berarti sekali-sekali versi gue lebih banyak.”

“Nggak masuk akal.”

“Yang penting tehnya diminum.”

Aku membuka tutup.

Hangat.

Kami berdiri di depan kaca minimarket.

Hujan membuat jalan terlihat kabur.

“Za.”

“Hm?”

“Kenapa sih?”

“Kenapa apa?”

“Lo begini terus.”

Dia menoleh.

Aku menggerakkan gelas sedikit.

“Nunggu. Bawain makan. Datang bawa payung.”

Reza terlihat berpikir.

“Karena gue suka lo.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku menatap depan lagi.

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Kenapa harus segitunya?”

Reza diam beberapa detik.

“Menurut gue nggak segitunya.”

Aku menoleh.

“Lari hujan-hujanan bukan segitunya?”

“Tara bilang lo nggak bawa payung. Gue punya.”

“Bisa pinjemin doang.”

“Terus gue pulang kehujanan?”

Aku hampir tertawa.

“Beli payung baru.”

“Boros.”

Aku menggeleng.

Reza minum.

“Vel.”

“Apa?”

“Kalau lo beneran nggak nyaman, bilang.”

Nada suaranya berubah.

Tidak menggoda.

Aku melihatnya.

“Gue serius. Kalau gue kelewatan, bilang. Gue berhenti.”

Untuk sesaat aku tidak punya jawaban.

Selama ini aku sering bilang dia mengganggu.

Tapi kami berdua tahu sebagian besar itu caraku bicara.

Sekarang dia memberi pilihan yang jelas.

Aku bisa mengatakan iya.

Berhenti.

Jangan tunggu.

Jangan chat.

Jangan datang.

Anehnya, kalimat itu tidak keluar.

“Sekarang lo ganggu,” kataku akhirnya.

Reza mengangguk. “Karena?”

“Gue lagi minum tenang, lo ngajak ngobrol berat.”

Dia tertawa.

“Baik.”

Dan suasana kembali normal.

Aku menatap hujan.

Entah kenapa dadaku terasa sedikit lebih ringan.


Setelah hujan mengecil, kami berjalan lagi.

Payung tetap satu.

Kali ini aku memastikan posisinya di tengah.

Reza beberapa kali melirik.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Ngomong.”

“Takut dimarahin kalau payung geser.”

“Bagus.”

Kami sampai di titik penjemputan.

Kendaraanku tinggal tiga menit.

Reza berdiri di sebelah.

“Lo nanti gimana?”

“Motor gue di kampus.”

“Balik lagi?”

“Iya.”

Aku melihat hujan.

“Sendiri?”

“Ya.”

“Basah lagi.”

“Punya payung.”

Aku menatap payung.

Lalu dia.

“Ya udah.”

Reza tersenyum.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Kok senyum?”

“Lo khawatir?”

Aku langsung melihat jalan.

“Geer.”

“Gue cuma nanya.”

“Jangan mati di jalan. Besok ada tugas.”

Reza tertawa.

Kalimat itu sudah pernah kupakai.

Ternyata dia ingat.

Kendaraanku datang.

Aku hendak keluar dari payung.

Reza memindahkannya agar aku tetap tertutup sampai dekat motor.

Akibatnya bahunya kembali terkena hujan.

Aku menahan gagang payung.

“Tengah.”

“Iya, Bos.”

“Jangan panggil bos.”

“Siap, Evelyn.”

Aku memakai helm.

Sebelum naik, aku menatap bahunya yang basah.

“Ganti baju nanti.”

Reza mengangkat alis.

Aku langsung menambahkan, “Biar nggak sakit. Ribet.”

“Siap.”

Aku naik.

Motor bergerak.

Kali ini aku menoleh sekali.

Reza masih berdiri di bawah payung.

Dia mengangkat tangan.

Aku membalas sebentar.


Malamnya, tepat pukul sepuluh, pesan datang.

Reza: Udah sampai?

Evelyn: Udah dari tadi.

Reza: Kenapa nggak bilang?

Aku menatap layar.

Evelyn: Siapa yang suruh nunggu?

Balasan muncul.

Reza: Gue sendiri.

Aku terdiam.

Kalimat sederhana.

Sangat Reza.

Aku mengetik:

Evelyn: Lo udah ganti baju?

Tiga titik langsung muncul.

Reza: Khawatir?

Aku mendecak.

Evelyn: Jawab aja susah amat.

Reza: Udah.

Evelyn: Bagus.

Reza: Makasih udah khawatir.

Evelyn: Gue blok.

Reza: Selamat malam.

Aku tersenyum.

Evelyn: Malam.

Setelah layar mati, suara hujan masih terdengar di luar kamar.

Aku teringat satu payung.

Bahu Reza yang basah.

Tanganku yang berkali-kali menggeser gagangnya ke tengah.

Kalau ditanya, aku punya banyak alasan.

Aku tidak mau dia sakit.

Besok ada tugas.

Ribet kalau dia absen.

Semua alasan itu masuk akal.

Jadi aku memilih tidak memikirkan kenapa, saat membayangkan hujan sore tadi, bagian yang paling kuingat justru rasanya berjalan sangat dekat di bawah satu payung.