Chapter Nine

Undangan yang Tidak Ambigu

POV: Evan

Pevita mengajakku makan tiga hari setelah rapat pertama.

Dia menunggu sampai semua orang keluar dari ruang konferensi, lalu berdiri di seberang meja dengan buku biru dipeluk di dada.

“Kamu sibuk Sabtu malam?” tanyanya.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tujuan pertanyaannya.”

Dia berkedip. “Aku mau mengajak kamu makan.”

“Untuk membahas proyek?”

“Nggak.”

“Sebagai teman lama?”

Pevita membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Kita memang teman lama.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kamu sengaja membuat ini sulit?”

“Aku cuma nggak mau mengartikan sesuatu secara keliru.”

Wajahnya berubah. Luka kecil muncul sebelum dia menyembunyikannya.

Aku nggak merasa menang.

“Baik,” katanya. “Aku akan memperjelas.”

Dia mengambil tas dan pergi tanpa menambahkan apa-apa. Lima menit kemudian, notifikasi kalender muncul di laptopku.

*Undangan baru: Kencan Evan dan Pevita.*

Sabtu, pukul tujuh malam. Restoran Italia di Senopati. Agenda: makan malam berdua dalam konteks romantis, bukan rapat proyek dan bukan pertemuan teman lama.

Aku membaca deskripsinya dua kali.

Di bagian catatan ada tambahan: Kalau masih ambigu, hubungi penyelenggara.

Aku menahan senyum yang muncul tanpa izin.

Pevita berdiri di luar ruang rapat, pura-pura bicara dengan staf. Aku menekan tombol tentative.

Ponselnya berbunyi. Dia melihat layar, lalu berbalik dengan mata menyipit.

Aku mengubah status menjadi accepted.

Notifikasi kedua masuk. Pevita mengembuskan napas, kemudian berjalan kembali ke dalam.

“Kenapa pakai tentative dulu?”

“Aku sedang mengecek agenda.”

“Selama empat detik?”

“Kalenderku terorganisasi.”

“Kamu menyebalkan.”

“Undangannya sangat jelas.”

“Berarti kamu datang?”

“Statusnya sudah diterima.”

“Aku mau dengar langsung.”

Aku menatapnya. Delapan tahun lalu, akulah yang berdiri menunggu jawaban jelas. Ada bagian buruk dalam diriku yang ingin membiarkannya merasakan ketidakpastian sedikit lebih lama. Namun kalau aku melakukan itu, aku hanya mengubah luka menjadi alat.

“Iya,” kataku. “Aku datang.”

Senyumnya muncul cepat dan terang. Tubuhku mengingat respons terhadap senyum itu, meski pikiranku sudah memasang banyak peringatan.

Malam sebelum kencan, Dimas menelepon sambil menggendong bayinya yang menolak tidur. Aku seharusnya nggak menceritakan undangan itu, tetapi entah bagaimana dia bisa membaca diamku.

“Kamu menerima?” tanyanya.

“Iya.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Karena kamu penasaran. Kalau nggak, kamu akan menolaknya dalam tiga detik.”

“Aku menerima karena dia menyatakan tujuannya dengan jelas.”

“Tentu. Sama sekali nggak ada hubungannya dengan perempuan yang masih kamu pikirkan delapan tahun.”

“Aku nggak memikirkannya delapan tahun penuh.”

“Berapa tahun? Tujuh setengah?”

Suara tangis bayi muncul. Dimas menghela napas. “Lihat? Bahkan anakku nggak percaya.”

Aku menutup telepon setelah dia menyuruhku memakai kemeja yang pas badan. Lima menit kemudian Alin mengirim pesan yang hampir sama. Aku memblokir keduanya selama satu jam demi ketenangan.

Sabtu malam, Pevita tiba lebih awal. Dia memakai blus hitam sederhana dan rok panjang warna cokelat. Nggak terlihat seperti kepala divisi yang memimpin rapat. Lebih mirip perempuan yang dulu duduk di meja kedai sampai shift-ku selesai.

“Kamu cantik,” kataku sebelum sempat menyaring kalimat.

Pevita berhenti menarik kursi. “Makasih.”

“Itu observasi, bukan sinyal.”

“Sayang sekali. Padahal aku sengaja berdandan buat kamu.”

Aku duduk. “Kalimat itu cukup jelas.”

“Aku sedang belajar.”

Kami memesan makanan. Lima menit pertama dipenuhi percakapan aman. Pevita akhirnya meletakkan kedua tangannya di meja.

Sebelum makanan datang, dia bertanya tentang hidupku setelah kuliah. Aku menjawab soal pekerjaan pertama, perpindahan ke Jakarta, dan keputusan membeli apartemen. Dia mendengarkan tanpa menyela, tetapi matanya berubah ketika tahu aku pernah bekerja dua tempat sekaligus.

“Kamu masih memaksa diri sampai batas,” katanya.

“Sekarang aku dibayar lebih baik untuk itu.”

“Bukan berarti sehat.”

“Kamu masih menasihati orang sambil melupakan dirimu sendiri?”

Dia menerima seranganku tanpa defensif. “Masih. Tapi sudah lebih jarang.”

Aku hampir bertanya apa yang terjadi pada keluarganya dulu. Pertanyaan itu sudah lama tinggal di kepalaku, tetapi malam ini bukan tempatnya. Aku ingin tahu apakah aku bisa duduk bersamanya tanpa menjadikan semua percakapan sebagai sidang masa lalu.

“Alin bilang kamu atasan yang baik,” kataku.

“Alin bicara soal aku?”

“Dia membela kamu.”

“Kamu butuh pembelaan?”

“Nggak perlu.”

Pevita mengangguk pelan. “Aku juga nggak mau menang karena dibela orang lain.”

Jawaban itu berbeda dari perempuan yang dulu menentukan semuanya sendirian, tetapi aku belum tahu apakah perubahan itu nyata atau cuma kalimat yang sudah dia latih.

“Aku nggak mengajak kamu buat memaksa membahas masa lalu,” katanya. “Aku juga nggak menganggap satu makan malam bisa memperbaiki semuanya.”

“Lalu tujuanmu?”

“Aku mau mengenal kamu lagi.”

“Memangnya kenapa?”

“Karena aku masih tertarik sama kamu.”

Jawabannya datang tanpa jeda, tetapi ujung jarinya mencengkeram serbet.

“Kamu mengenalku delapan tahun lalu,” kataku.

“Makanya aku bilang mengenal lagi.”

“Bagaimana kalau orangnya sudah berbeda?”

“Aku akan cari tahu apakah aku tetap suka.”

“Dan kalau iya?”

Dia menatapku lurus. “Aku akan bilang. Dengan kata-kata. Bukan sinyal.”

Pelayan datang membawa makanan tepat ketika ketegangan mulai terlalu rapat. Pevita tertawa kecil setelah pelayan pergi.

“Aku latihan kalimat itu di rumah,” akunya.

“Berapa kali?”

“Tujuh.”

“Kurang efisien.”

“Kamu alasan aku butuh tujuh kali.”

Makan malam itu terasa lebih mudah setelahnya. Kami bicara soal delapan tahun yang hilang tanpa menyentuh bagian paling menyakitkan. Dia bercerita tentang pekerjaannya, Raka yang sekarang sudah mandiri, dan ibunya yang mulai membaik. Aku bercerita soal karier, apartemen, serta Ibu yang masih memasak untuk empat orang meski di rumah cuma ada satu.

Saat tagihan datang, Pevita mengambilnya lebih dulu.

“Aku yang mengajak.”

“Kita bagi.”

“Ini kencan.”

“Kencan tetap bisa dibagi.”

“Kalau aku bayar, maknanya jelas aku serius.”

“Kalau aku membiarkanmu bayar, maknanya aku pelit.”

Kami berdebat sampai pelayan berdiri canggung di samping meja. Akhirnya kami membagi tagihan dan Pevita mencatatnya sebagai kegagalan romantis pertama.

Di parkiran, dia berhenti di samping mobilku.

“Aku ingin mengajakmu lagi,” katanya.

“Makan?”

“Kencan.”

“Kirim undangannya.”

Dia tersenyum. “Kamu bercanda?”

“Aku suka dokumentasi yang jelas.”

Malam itu, undangan kedua masuk sebelum aku sampai apartemen.

Judulnya: *Kencan Kedua—Masih Romantis, Tetap Bukan Rapat.*

Aku menerimanya tanpa memakai status tentative.

Beberapa menit kemudian, Pevita mengirim pesan pribadi pertama sejak kami bertemu lagi.

Pevita: Makasih sudah datang. Ini bukan pesan formal setelah rapat.

Aku mengetik tiga jawaban berbeda sebelum memilih yang paling jujur.

Evan: Aku tahu. Aku juga menikmati malam ini.

Balasannya cuma satu emoji tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku nggak menuntut penjelasan lebih lanjut dari sebuah simbol.

Aku menaruh ponsel di meja, lalu mengambilnya lagi saat notifikasi kalender muncul. Pevita sudah menambahkan lokasi untuk kencan kedua: toko buku dan makan siang. Di catatan, dia menulis bahwa pemilihan tempat itu bukan kode nostalgia, hanya karena kami sama-sama suka buku.

Aku membalas lewat kalender: Pernyataan “sama-sama suka buku” belum didukung data terbaru.

Perubahan undangan masuk satu menit kemudian.

Agenda tambahan: mengumpulkan data terbaru tentang kesamaan Evan dan Pevita.

Aku tertawa sendiri di ruang tengah yang biasanya terlalu sunyi. Sesaat kemudian, pesan dari Alin masuk.

Alin: Kencannya gimana?

Evan: Tidak ada laporan untuk penyelenggara.

Alin: Berarti bagus.

Aku nggak membalas. Kali ini, diamku bukan karena aku ingin menghindari jawaban. Aku cuma belum siap mengakui bahwa adikku benar.

Sebelum tidur, aku melihat lagi undangan kencan kedua dan memastikan jadwalku kosong dua jam setelahnya. Bukan karena berharap sesuatu. Aku hanya nggak ingin buru-buru pulang.

Aku juga sadar ada sesuatu yang bergeser. Sebelum makan malam, aku datang untuk menguji apakah Pevita sungguh berubah. Setelahnya, aku mulai bertanya apakah diriku sendiri masih mampu memberi ruang bagi perubahan itu.

Pertanyaan tersebut nggak punya jawaban praktis. Nggak ada tabel, data, atau tenggat yang bisa membantu. Namun untuk pertama kalinya sejak bertemu lagi, ketidakpastian itu tidak langsung ingin kuhindari.

Aku membiarkannya ada, bersama rasa penasaran yang semakin sulit kusebut sekadar urusan masa lalu.

Mungkin rasa penasaran itu memang bukan tentang masa lalu lagi sepenuhnya.