Chapter Twenty Six

Kali Ini Aku yang Menjawab

POV: Evan

Hari Jumat datang tanpa membuatku lebih berani.

Di meja kerja ada dua dokumen yang perlu kusetujui, satu janji dokter Ibu yang sudah diurus Alin, dan satu email dari Pevita di kanal proyek tentang materi rilis. Dia mengirim semuanya tepat waktu. Tidak ada pesan pribadi, tidak ada pertanyaan apakah aku sudah memutuskan. Aku yang meminta ruang; kini ruang itu cukup luas untuk mendengar pikiranku sendiri dan sama sekali tidak nyaman.

Saat makan siang, aku menemukan gantungan Saturnus di saku tas. Pagi tadi aku memasukkannya tanpa alasan yang berani kusebutkan. Benda itu tidak memberi petunjuk apakah Pevita akan berbohong lagi. Kalau kugunakan sebagai jawaban, aku cuma kembali membaca sinyal dari benda mati.

Aku menulis dua kalimat di catatan ponsel: Aku mencintai Pevita. Aku belum sepenuhnya percaya padanya. Keduanya benar. Biasanya aku mencoba membuat salah satunya menghapus yang lain.

Dimas menelepon saat aku keluar kantor. “Kamu mau aku bilang sesuatu yang bijak?”

“Kemungkinannya kecil.”

“Bagus. Aku cuma mau ngabarin roda kereta bayi masih nempel. Keputusan besar keluarga kami hari ini berhasil.”

“Selamat.”

“Kamu udah ambil keputusanmu?”

“Aku mau ketemu dia.”

“Itu baru tindakan. Jawabannya punya kamu.”

Aku mematikan telepon dan membuka percakapan pribadi Pevita untuk pertama kalinya sejak kami mengambil jarak. Jemariku sempat berhenti di atas layar. Ternyata meminta bertemu lebih menakutkan daripada menolaknya.

Evan: Kamu ada waktu malam ini? Aku mau bicara tentang kita, bukan proyek. Kalau kamu belum bisa, sebutkan waktu lain.

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

Pevita: Aku bisa. Aku selesai jam enam. Kamu maunya di mana?

Aku memilih apartemenku. Bukan karena tempat itu milikku, melainkan karena terakhir kali dia pergi dari sana tanpa menyentuhku. Aku ingin memberi percakapan kami kesempatan memiliki akhir yang berbeda. Pilihan itu kuberitahu, bukan kutetapkan begitu saja. Dia setuju.

Pukul tujuh lewat sedikit, Pevita berdiri di depan pintu dengan tas kerja di bahu. Wajahnya lelah. Dia tidak membawa berkas, buku biru, atau kopi. Tangannya kosong. Aku mempersilahkannya masuk. Saturnus ada di meja dekat pintu; aku tidak menyembunyikannya.

“Aku jawab kantor sore tadi,” katanya setelah kami duduk.

Dadaku mengencang. “Apa jawabanmu?”

“Aku terima posisi itu. Syarat enam bulan tertulis. Evaluasi tiga bulan tetap ada, tapi kantor setuju hak kerja dari Jakarta dan biaya perjalanan ditetapkan dari awal.”

Aku mengangguk. Dia memberi informasi, bukan meminta penilaianku setelah semuanya selesai. Perbedaannya kecil di permukaan, besar di tempat yang selama ini sakit.

“Aku senang kamu ambil,” kataku.

“Aku belum tahu kamu mau dengar kabar itu.”

“Aku mau. Dan aku juga sedih membayangkan kamu pergi. Dua hal itu bisa sama-sama ada.”

Pevita menarik napas, seolah izin untuk tidak memilih di antara dua reaksi itu juga sesuatu yang dia butuhkan.

“Aku baca suratmu beberapa kali,” kataku. “Kamu nggak minta aku cepat sembuh. Tapi aku tetap merasa seperti ada tenggat yang kutaruh sendiri di kepala.”

“Aku nggak mau kamu jawab cuma karena Jumat udah datang.”

“Bukan itu sebabnya aku ngajak kamu. Aku takut kalau terus nunggu sampai yakin seratus persen, aku bakal menghabiskan enam bulan mencari alasan buat nggak memulai apa pun.”

Dia memandangku, tetapi tidak mendekat. Aku bersyukur dia membiarkan kata-kataku selesai.

“Aku masih marah tentang dulu,” lanjutku. “Mungkin sesekali aku akan marah lagi. Aku nggak mau berpura-pura satu surat sudah mengembalikan semua yang hilang.”

“Kamu nggak perlu.”

“Aku juga nggak bisa terus menganggap tiap kesalahanmu sebagai bukti kamu pasti menyiapkan kebohongan baru. Kalau aku begitu, hubungan ini jadi ujian yang nggak mungkin kamu lulus.”

“Aku sempat mengulang pola itu soal Singapura.”

“Iya. Dan kamu akhirnya menunjukkan bagian tawaran yang paling berisiko. Aku melihatnya.”

Pevita menunduk. Aku menunggu sampai dia mengangkat wajah lagi.

“Aku mencintaimu,” kataku. Kalimat itu keluar tanpa latihan, tetapi tidak lebih mudah karenanya. “Aku mencintai perempuan yang dulu menemani aku menyelesaikan presentasi, dan yang sekarang berani bilang pekerjaannya juga penting. Aku nggak mencintai kebohonganmu. Aku nggak akan bilang itu bagian manis dari cerita kita.”

Matanya basah. “Van...”

“Aku memilih kamu. Bukan karena aku sudah nggak takut, tapi karena kali ini aku mau ikut menentukan.”

Dia mengusap pipi, lalu tertawa kecil dalam keadaan menangis. “Aku ingin peluk kamu. Aku boleh?”

“Sebentar. Ada satu hal lagi.”

Tangannya berhenti di pangkuan. “Oke.”

“Aku mau kita pacaran. Beneran, bukan tiga puluh hari percobaan yang nggak ada kelanjutannya. Tapi kita perlu bicara gimana menjalani enam bulan itu sebelum aku menjanjikan sesuatu yang kedengarannya bagus doang.”

Aku mengambil dua gelas air. Kami duduk di meja makan dan membuka kalender masing-masing. Kali ini aku tidak membuat tabel untuk menguji dia; kami butuh tahu minggu mana dia harus berada di Singapura dan kapan pekerjaanku membuat perjalanan mustahil.

“Minggu pertama aku harus di sana penuh,” katanya. “Setelah itu masih banyak yang belum pasti. Aku nggak mau bilang aku bisa telepon setiap malam kalau kenyataannya aku pulang tengah malam.”

“Satu panggilan terjadwal tiap Minggu. Kalau ada rapat atau kamu capek, kita pindah waktunya, bukan menghilang.”

“Dan kalau aku butuh kamu di hari lain?”

“Bilang. Jangan menguji apakah aku peka dari jumlah emoji.”

“Kamu menghancurkan satu-satunya strategi menggoda yang kupunya.”

“Strategimu punya anggaran cadangan.”

Dia tertawa sungguhan. Aku merindukan suara itu lebih daripada yang berani kuakui.

Kami menyepakati tiga hal lain: perjalanan direncanakan bergantian sesuai kemampuan, bukan dibebankan kepada salah satu; keputusan pekerjaan yang berdampak pada hubungan dibicarakan saat masih pilihan; kalau salah satu perlu ruang setelah bertengkar, dia menyebut kapan bisa kembali bicara. Tidak ada kewajiban membalas pesan kerja saat tengah malam dengan alasan cinta.

“Aku juga punya aturan yang perlu diubah,” kataku. “Kalau kamu telat balas karena kerja, aku nggak boleh diam-diam mencatatnya sebagai bukti kamu mulai menjauh.”

“Kamu pernah begitu?”

“Sering. Selama masa percobaan. Aku bilang aku cuma butuh kejelasan, padahal kadang aku menghitung hal-hal yang bahkan nggak kamu tahu sedang dinilai.”

Pevita tidak meraih kesempatan itu untuk menyamakan kesalahan kami. “Kalau aku tahu kamu cemas, aku bisa bilang kapan bakal selesai kerja. Tapi kamu mesti kasih tahu, Van.”

“Iya. Kalau kamu mendadak diam, aku akan tanya sekali dengan jelas, bukan membuat sepuluh skenario. Dan kalau aku butuh diyakinkan, aku akan minta, bukan membuat tes.”

“Aku bisa lakuin itu. Nggak selalu dengan jawaban sempurna, tapi dengan jawaban jujur.”

Aku menandai satu Minggu pertama yang mungkin untuk panggilan kami. Pevita menandai tanggal pelatihannya. Dua jadwal itu kadang bertabrakan; kami langsung mencari waktu lain. Kalender tidak meramal apakah cinta kami akan bertahan, tetapi ia cukup untuk menunjukkan di mana kami perlu saling bicara.

“Kalau aku gagal bicara tepat waktu?” tanya Pevita.

“Kamu akui. Lalu kita perbaiki bagian yang bisa diperbaiki. Aku juga harus berhenti menyimpan kesalahanmu buat dipakai saat bertengkar berikutnya.”

Dia menatapku lama. “Aku sayang kamu. Aku takut kalimat itu kedengaran seperti meminta kamu lupa.”

“Nggak. Aku dengar artinya sekarang.”

Aku mengulurkan tangan di atas meja. Dia meletakkan tangannya di sana setelah melihat wajahku, memastikan aku memang menginginkannya. Kehangatan kulitnya tidak menyelesaikan delapan tahun. Aku tidak meminta itu.

“Sekarang kamu boleh peluk aku,” kataku.

Pevita berdiri begitu cepat kursinya bergeser. Aku tertawa sebelum tubuhnya sampai ke tubuhku. Pelukannya erat, lalu melonggar ketika aku menarik napas; dia memberi ruang tanpa menjauh. Aku menyentuh punggungnya dan menahan dia di sana.

“Aku mau cium kamu,” bisikku.

“Aku juga. Sangat.”

Ciuman pertama setelah perpisahan itu tidak rapi. Kami tersenyum terlalu dekat, bibirku menyentuh pipinya dulu, dan dia menggumam, “Koordinasi kita jelek.” Saat aku menciumnya lagi, tidak ada yang lucu. Dia menarik napas di antara dua ciuman, telapak tangannya naik ke leherku. Aku membalas, lebih dalam, cukup lama sampai meja dan kalender kehilangan arti sesaat.

Aku yang berhenti. “Aku mau malam ini berhenti di sini.”

Dia langsung mengendurkan pelukannya. “Oke.”

“Bukan karena aku nggak ingin kamu.”

“Aku tahu.” Lalu dia mengoreksi diri, tersenyum kecil. “Aku dengar kamu bilang begitu.”

Dia mengambil gelasnya, lalu duduk di sampingku, bukan di pangkuanku. Pilihan jarak kecil itu membuatku bisa menjernihkan kepala. “Aku juga perlu bilang sesuatu,” katanya. “Kalau nanti aku panik di Singapura dan ingin menyelesaikan semuanya sendirian lagi, aku akan bilang aku sedang panik. Bukan tiba-tiba membatalkan rencana kita atas namamu.”

“Kalau aku mulai mencari bukti kamu bakal pergi, aku akan mengaku kalau sebenarnya aku takut,” jawabku. “Kamu nggak perlu menebak kenapa aku mendadak kaku.”

“Bisa jadi kita akan lupa sekali-dua kali.”

“Kalau begitu kita ingatkan lagi. Aku nggak mau aturan ini jadi alasan baru buat saling menghitung kesalahan.”

Kami menaruh gelas di wastafel. Besok pagi pekerjaan tetap menunggu kami, dan pekan depan ada penerbangan yang tak bisa kuhentikan dengan satu kalimat cinta. Anehnya, menyebut kenyataan itu membuatku ingin tinggal lebih lama malam ini, bukan melarikan diri dari kemungkinan buruk.

Aku mengambil Saturnus dari meja. “Aku belum mau memasangnya lagi cuma supaya terlihat seperti semuanya selesai.”

“Nggak perlu.”

“Tapi aku juga nggak mau menyimpannya seperti barang bukti.”

Kutaruh benda itu di samping dua ponsel yang menampilkan kalender terbuka. Pevita meraih tanganku, kali ini setelah aku mengulurkannya lebih dulu. Besok kami masih punya kesulitan praktis. Malam ini kami punya jawaban yang tidak diberikan salah satu atas nama yang lain.