Chapter Three
Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
POV: Evan
Setelah presentasi kami dapat nilai tertinggi di kelas, dosen membuat keputusan yang menurutnya efisien dan menurutku ceroboh: mempertahankan kelompok yang sama untuk tugas akhir semester.
Pevita merayakannya dengan menaruh permen di atas mejaku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena kita nggak perlu adaptasi sama partner baru.”
“Kamu senang karena punya kesempatan kedua menghapus pekerjaanku?”
“Aku udah belajar pakai fitur copy.”
“Kemajuan besar.”
Sejak itu, dia mulai muncul dalam jadwalku tanpa pernah dibicarakan. Senin dan Rabu, kami bertemu di perpustakaan setelah kelas. Jumat, kami mengecek perkembangan tugas sebelum aku pergi kerja. Kalau salah satu telat, yang lain mengirim pesan. Bukan kebiasaan penting. Cuma pengaturan kerja.
Setidaknya begitu penjelasanku waktu Dimas mengambil kursi di depanku di kantin dan bertanya kenapa aku terus melihat pintu.
“Aku nunggu anggota kelompok.”
“Anggota kelompokmu cuma satu?”
“Yang dua lagi nggak pernah datang.”
“Oh.” Dia mengangguk pelan. “Yang rambut panjang itu?”
“Kamu kenal?”
“Nggak. Tapi kamu melihat tiga cewek masuk dan cuma bereaksi waktu dia datang.”
Aku berhenti mengaduk es teh.
Pevita berjalan ke meja kami sambil membawa dua kotak makan. Dia meletakkan satu di depanku tanpa bertanya.
“Ibuku masak kebanyakan,” katanya.
“Kemarin juga kebanyakan.”
“Ibuku konsisten.”
Dimas melihat kotak itu, lalu melihatku dengan ekspresi orang yang baru menemukan bukti kriminal. Aku menendang tulang keringnya di bawah meja.
“Aku Dimas,” katanya kepada Pevita sambil meringis. “Sahabat Evan yang sering disakiti tanpa alasan.”
“Pevita. Partner Evan yang pekerjaannya sering diperiksa tiga kali tanpa alasan.”
“Ada alasan,” kataku. “Riwayatmu buruk.”
Pevita duduk di sebelahku. “Satu kesalahan nggak bisa dijadikan identitas.”
“Bisa kalau enam slide.”
Dimas tertawa terlalu keras. Lima menit kemudian dia pergi dengan alasan ada kelas, padahal jadwalnya kosong. Sebelum pergi, dia menepuk bahuku dua kali seperti baru menyerahkan tanggung jawab negara.
Kotak makan dari Pevita berisi nasi, ayam kecap, dan tumis buncis. Porsinya terlalu banyak untuk sisa masakan yang kebetulan dibawa.
“Kamu sendiri makan apa?” tanyaku.
Dia membuka kotaknya. Isinya sama, tetapi ayamnya cuma satu potong. Punyaku dua.
Aku memindahkan satu potong ayam ke kotaknya.
“Eh, buat kamu.”
“Aku nggak butuh dua.”
“Kamu kerja sampai malam.”
“Kamu juga punya kelas sampai sore.”
Dia menatap ayam yang kupindahkan, lalu tersenyum kecil. “Kalau aku pindahin lagi, kamu bakal balikin?”
“Iya.”
“Capek juga debat sama kamu.”
“Kita baru mulai.”
Kami makan sambil membahas tugas. Pevita ingin melakukan wawancara pengguna pada Sabtu siang. Aku bilang aku bekerja sejak pukul satu. Dia membuka buku catatan biru, mengecek beberapa halaman, lalu mencoret jadwal.
“Minggu pagi?” tanyanya.
“Kamu nggak perlu mengubah jadwal.”
“Aku yang mengusulkan wawancara.”
“Kalian bisa jalan tanpa aku.”
“Bisa,” katanya. “Tapi hasilnya bakal lebih bagus kalau kamu ikut.”
Tidak ada rasa kasihan dalam suaranya. Dia nggak bilang pasti berat harus kuliah sambil kerja. Nggak menanyakan gajiku atau kenapa aku harus mengambil shift tambahan. Dia cuma menggeser jadwal, seolah waktuku sama berharganya dengan waktu semua orang.
“Minggu jam sembilan,” kataku.
“Jam sepuluh. Kamu pulang lewat tengah malam hari Sabtu.”
“Aku bisa bangun.”
“Aku tahu. Tapi aku nggak mau ngobrol sama orang yang cuma tidur empat jam.”
“Kamu ngobrol sama dirimu sendiri setiap hari.”
Pevita menyipitkan mata. “Jam sembilan tiga puluh. Final.”
“Baik.”
“Kamu kalau bilang ‘baik’ terdengar kayak sedang nyusun balas dendam.”
Aku menatapnya. Kalimat itu terasa aneh karena delapan tahun kemudian Alin akan mengatakan hal yang hampir sama, tetapi saat itu aku cuma mengangkat bahu.
Minggu pagi, Pevita datang membawa kopi untukku. Americano tanpa gula, suhu hangat, bukan panas. Dia juga membawa empat lembar daftar pertanyaan yang sudah diperbaiki berdasarkan catatanku.
“Aku belum bilang pesananku,” kataku.
“Aku pernah lihat kamu pesan di kedai.”
“Sekali.”
“Aku punya ingatan bagus.”
Kami mewawancarai lima mahasiswa di taman kampus. Saat salah satu responden memberi jawaban berputar-putar, Pevita bisa mengarahkannya tanpa membuat orang itu merasa dipotong. Aku mencatat data. Dia membaca suasana. Cara kerja kami berbeda, tetapi hasilnya pas.
Responden terakhir datang terlambat hampir satu jam. Pukul dua belas lewat sepuluh, ponselku bergetar karena pesan supervisor yang menanyakan apakah aku bisa masuk lebih cepat. Dua pegawai mendadak izin.
Aku mengetik jawaban sambil menghitung perjalanan. Kalau wawancara dimulai sekarang, aku akan telat minimal dua puluh menit.
“Kamu harus pergi?” tanya Pevita.
“Masih ada satu responden.”
“Aku bisa lanjut sendiri.”
“Pertanyaan teknis bagian akhir—”
“Sudah kamu kasih catatan.” Dia membalik lembar pertanyaan. Semua kemungkinan jawaban bercabang sudah diberi tulisan tangannya sendiri. “Kalau ada yang nggak jelas, aku rekam jawabannya dan kita bahas nanti.”
“Nanti malam aku baru selesai.”
“Besok juga bisa.”
Aku memasukkan buku ke tas. “Maaf.”
“Kenapa minta maaf?”
“Kamu jadi harus ngerjain sisanya.”
Pevita mengangkat bahu. “Kita partner. Hari ini aku yang punya waktu lebih banyak. Lain kali mungkin kamu.”
Sesederhana itu. Nggak ada nada seolah dia sedang berkorban. Nggak ada kalimat yang membuatku harus menjelaskan kondisi keuangan keluargaku. Dia cuma membagi beban berdasarkan siapa yang bisa mengerjakannya.
Malamnya, saat aku sedang membersihkan mesin kopi, ponselku bergetar.
Pevita: Wawancaranya selesai. Rekaman dan catatan sudah kukirim. Jangan dibuka sekarang. Fokus kerja.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
Pevita: Dan makan. Aku tahu kamu belum makan.
Aku menoleh ke arah kamera keamanan di sudut ruangan meski tahu dia nggak mungkin melihatku.
Evan: Kamu nggak tahu.
Pevita: Sekarang aku tahu karena kamu membantah.
Aku memasukkan ponsel ke saku, lalu mengambil roti dari rak pegawai sebelum kembali bekerja.
Sesudahnya, kami duduk di tangga gedung fakultas. Matahari sudah tinggi. Pevita membuka tas dan mengeluarkan dua roti.
“Ibumu juga beli roti kebanyakan?” tanyaku.
“Yang ini aku beli.”
“Kenapa dua?”
“Karena aku tahu kamu belum sarapan.”
“Kamu nggak tahu.”
“Tadi kamu minum kopi dalam empat teguk. Orang kenyang nggak minum secepat itu.”
“Itu teori yang lemah.”
“Makan aja.”
Aku menerima roti itu. Pevita tersenyum puas, kemudian membuka buku birunya dan mulai merangkum hasil wawancara.
Selama minggu-minggu berikutnya, hal-hal kecil semacam itu terus terjadi. Dia menyimpan kursi untukku di kelas. Aku mencetak materi untuknya karena printer kosnya sering rusak. Dia mengingat jadwal kerjaku. Aku membawa charger cadangan karena baterai laptopnya selalu hampir habis. Kami nggak pernah menyebutnya perhatian. Semua punya alasan praktis.
Masalahnya, alasan praktis mulai terasa kurang cukup.
Suatu hari Pevita nggak datang ke perpustakaan. Pesannya baru masuk dua puluh menit setelah waktu janjian.
Pevita: Maaf, Van. Ada urusan keluarga. Hari ini aku nggak bisa datang.
Aku membalas bahwa itu bukan masalah, lalu mencoba membaca jurnal yang sudah kubuka. Sepuluh menit kemudian, aku masih berada di paragraf yang sama.
Perpustakaan nggak berubah. AC tetap terlalu dingin. Meja di depanku tetap dipenuhi coretan pensil. Orang di belakang tetap mengetuk-ngetukkan pulpen dengan ritme menyebalkan.
Tapi kursi kosong di sebelahku membuat semuanya terasa salah susun.
Keesokan harinya, Pevita muncul di kelas dengan lingkar gelap tipis di bawah mata. Dia tersenyum saat melihatku, tetapi senyum itu terlambat setengah detik.
“Urusan keluargamu selesai?” tanyaku.
Tangannya langsung merapikan buku biru. “Udah. Cuma hal kecil.”
Aku tahu itu bukan hal kecil. Aku juga tahu tatapan orang yang nggak mau ditanya lagi.
Jadi aku menggeser satu kotak susu cokelat ke mejanya.
“Apa ini?”
“Minuman.”
“Aku bisa lihat.”
“Berarti nggak perlu dijelasin.”
Dia memegang kotak itu dengan dua tangan. “Buat aku?”
“Dimas salah beli.”
Dari dua baris di belakang, Dimas menoleh. “Aku bahkan belum bicara sama kamu hari ini.”
Aku mengabaikannya.
Pevita tertawa kecil. Kali ini senyumnya sampai ke mata. “Makasih.”
Aku membuka laptop sebelum dia sempat membaca wajahku terlalu lama.
Saat dosen masuk, aku baru sadar sesuatu yang seharusnya sederhana: sejak beberapa minggu terakhir, setiap kali masuk ruangan, aku selalu mencari satu orang lebih dulu.
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku berhenti pura-pura nggak tahu siapa.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu reading
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi