Chapter Eleven

Masa Percobaan Tiga Puluh Hari

POV: Evan

Undangan kencan ketiga dari Pevita masuk hari Minggu malam dengan judul yang lebih sederhana daripada dua sebelumnya.

*Kencan Ketiga.*

Tidak ada catatan lucu, agenda tambahan, atau penjelasan bahwa acara itu romantis. Aku menatap layar cukup lama sampai notifikasi kedua masuk.

Pevita: Judulnya sengaja singkat. Bukan berarti aku berubah pikiran.

Evan: Informasinya diterima.

Pevita: Kamu selalu membalas seperti petugas layanan pelanggan?

Evan: Pertanyaanmu sudah kami terima dan sedang diproses.

Dia mengirim emoji kesal. Aku menerima undangannya.

Sebelum berangkat, aku menelepon Dimas. Bukan untuk minta izin, tetapi untuk memastikan usul tiga puluh hari itu nggak terdengar seperti kontrak kerja yang menyamar sebagai hubungan.

“Kedengarannya memang seperti kontrak,” katanya. “Tapi kalian berdua aneh. Mungkin justru cocok.”

“Pendapatmu nggak membantu.”

“Kamu mau menerimanya?”

“Aku belum tahu.”

“Kalau jawabannya benar-benar nggak, kamu nggak akan meneleponku.”

Aku mematikan panggilan sebelum dia sempat mempromosikan pernikahan lagi.

Kami bertemu Rabu malam di kedai kecil dekat kantorku. Pevita sudah duduk saat aku datang, tetapi kopinya belum disentuh. Buku birunya terbuka pada halaman yang dibagi menjadi dua kolom.

“Kamu bawa notulen?” tanyaku.

“Aku bawa usul.”

“Biasanya kalimat itu diikuti pekerjaan tambahan.”

“Tiga puluh hari.”

Aku menarik kursi. “Apa yang tiga puluh hari?”

“Kasih aku tiga puluh hari buat mengenal kamu lagi.”

Pevita mengucapkannya tanpa melihat buku. Tangannya tetap meremas ujung halaman, tetapi suaranya stabil.

“Kenapa harus pakai batas waktu?”

“Karena aku nggak mau mengejar kamu tanpa arah sampai kamu merasa tertekan. Selama tiga puluh hari, kita kencan, ngobrol, dan melihat apakah masih ada sesuatu yang bisa dibangun. Setelah itu kamu boleh bilang berhenti.”

“Sekarang juga aku boleh bilang berhenti.”

Wajahnya menegang, tetapi dia mengangguk. “Iya.”

Aku duduk dan menaruh ponsel di meja. “Terus kalau aku bilang iya?”

“Kita buat aturan.”

“Tentu ada aturan.”

Dia mendorong buku ke arahku. Kolom kiri berjudul Yang Akan Kulakukan. Kolom kanan masih kosong.

“Aku akan bilang langsung kalau mau sesuatu,” katanya. “Nggak pakai kode. Nggak cemburu diam-diam. Nggak membuat keputusan buat kamu.”

“Yang terakhir cukup spesifik.”

“Memang.”

Aku membaca daftar itu lagi. “Kamu menyusun semuanya sendiri.”

“Aku nggak tahu aturanmu.”

“Berarti bagian ini seharusnya dibahas, bukan diberikan.”

Pevita langsung mengambil pulpen. “Oke. Kita bahas.”

Kesediaannya mengubah rencana tanpa membela diri membuatku diam sesaat. Delapan tahun lalu, dia sudah datang dengan keputusan final. Kali ini dia menyisakan ruang untuk jawabanku.

“Kenapa tiga puluh?” tanyaku.

“Cukup lama buat melihat apakah ini cuma nostalgia. Cukup singkat supaya kamu nggak merasa terjebak.”

“Dan setelah hari ketiga puluh?”

“Kita bicara. Kalau kamu mau lanjut, kita lanjut. Kalau nggak, aku berhenti mengejar.”

“Bisa semudah itu?”

“Nggak,” jawabnya. “Tapi aku tetap harus menghormati jawabanmu.”

“Kalau aku butuh waktu lebih?”

“Kamu bilang. Kita putuskan bareng.”

Jawaban yang tepat. Namun kali ini dia mengucapkannya tanpa terdengar seperti sedang lulus ujian.

“Aturan pertama,” kataku. “Jangan menyuruhku menebak.”

Dia menulisnya.

“Kalau marah, bilang marah. Kalau butuh ruang, bilang butuh ruang. Jangan menghilang lalu berharap aku paham alasannya.”

“Setuju.”

“Aturan kedua, proyek kantor tetap profesional.”

“Aku setuju.”

“Ketiga, nggak ada campur tangan Alin.”

Pevita mengangkat kepala. “Dia udah menawarkan bantuan.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Dia adikku. Wajahnya nggak bisa menyimpan rencana kriminal.”

Pevita menulis aturan ketiga sambil tertawa.

“Keempat,” lanjutku, “nggak ada keputusan sepihak. Termasuk keputusan bahwa sesuatu pasti buruk buatku.”

Pulpen berhenti bergerak.

“Setuju,” katanya lebih pelan.

“Kamu punya tambahan?”

“Kalau kamu nggak nyaman, bilang. Jangan menghukumku dengan sopan sampai aku harus menebak.”

Aku menatapnya. “Itu tuduhan?”

“Permintaan.”

“Baik.”

“Dan satu lagi. Selama tiga puluh hari, kamu nggak boleh terus menganggap semua yang kulakukan nggak punya makna.”

“Kalau kamu menyebutkan maknanya, aku akan percaya itu yang kamu maksud.”

“Berarti kalau aku bilang aku berdandan buat kamu?”

“Aku akan mencatat bahwa kamu berdandan buat aku.”

“Kalau aku bilang aku ingin memegang tanganmu?”

Tatapannya turun ke tanganku di atas meja. Jarak di antara jari kami kurang dari satu buku.

“Kamu sedang bilang atau memberi contoh?” tanyaku.

Pevita menelan ludah. “Bilang.”

Aku membalik telapak tangan. Dia meletakkan tangannya di atas tanganku pelan, seolah memberiku waktu untuk menarik diri.

Aku tidak menarik diri.

Jarinya hangat. Genggamannya nggak kuat, tetapi jelas. Kami sudah pernah bersentuhan saat kuliah—bahu, tangan ketika bertukar buku, ujung jari saat memberikan kopi. Tidak pernah seperti ini. Tidak pernah dengan makna yang diucapkan lebih dulu.

“Ini bagian dari masa percobaan?” tanyaku.

“Aku berharap begitu.”

“Berapa lama durasi pegangan tangannya?”

“Aku belum membuat KPI.”

“Perencanaanmu kurang lengkap.”

Pevita tertawa, tetapi nggak melepaskan tanganku.

Pelayan membawa makanan dan memaksa kami menarik tangan. Sepanjang makan, kami menyusun jadwal tanpa mengubahnya menjadi kontrak kaku. Maksimal dua kencan per minggu karena pekerjaan. Pesan boleh dikirim kapan saja, tetapi nggak harus dibalas saat rapat. Masalah keluarga nggak boleh disembunyikan sampai meledak.

“Aturan terakhir terdengar ditujukan khusus kepadaku,” katanya.

“Karena memang begitu.”

“Kamu juga harus cerita kalau ada masalah.”

“Aku nggak punya kebiasaan menghilang.”

“Kamu punya kebiasaan bilang baik padahal nggak.”

Aku nggak bisa membantah tanpa membuktikan ucapannya.

“Bagaimana soal batas fisik?” tanyanya.

Aku mengangkat alis.

“Kita udah pegangan tangan. Kalau aku ingin mencium kamu, aku akan tanya.”

“Sangat prosedural.”

“Aku bisa membuat formulir kalau kamu mau.”

“Jangan beri Alin ide.”

Pevita tertawa, lalu kembali serius. “Kamu juga boleh mulai. Dan kita berdua boleh berhenti kapan saja.”

“Nggak ada ciuman untuk menghindari percakapan,” kataku.

“Yang itu juga setuju.”

“Nggak ada kedekatan fisik untuk membuktikan kamu serius.”

“Itu juga setuju.”

Dia menulis dua aturan tambahan. Halamannya semakin penuh, tetapi anehnya aku tidak merasa terkurung. Aturan itu justru membuat ruang di antara kami terasa aman.

“Aku juga punya pertanyaan,” kata Pevita. “Selama tiga puluh hari ini, kamu akan berkencan sama orang lain?”

“Nggak.”

“Karena nggak ada yang mengajak atau karena memilih nggak?”

“Apa bedanya?”

“Besar.”

Aku melihat wajahnya yang berusaha tenang. “Karena aku memilih fokus pada ini.”

Bahunya turun sedikit. “Aku juga.”

“Kamu cemburu pada orang yang belum ada?”

“Aku sedang mengumpulkan informasi.”

“Itu definisi yang kreatif.”

“Baik. Aku cemburu pada kemungkinan kamu berkencan dengan orang lain.”

Kejujurannya begitu cepat sampai aku nggak sempat memasang pertahanan.

“Aku senang mendengarnya,” kataku.

“Kamu senang aku cemburu?”

“Aku senang kamu bilang langsung.”

Pevita tersenyum, lalu menambahkan aturan kelima: cemburu harus diucapkan, bukan dipakai untuk menghukum.

“Aturan keenam,” katanya, “kita nggak menghitung siapa yang lebih banyak berusaha.”

“Kenapa?”

“Karena aku mungkin tergoda menganggap setiap kencan sebagai cicilan kesalahan.”

Aku menghargai bahwa dia mengatakannya sebelum pola itu terbentuk. “Setuju. Kamu nggak sedang membayar utang.”

“Aku sedang meminta kesempatan.”

“Dan aku sedang ngasih kesempatan itu. Bukan menjualnya.”

Dia mencoret kata membuktikan dari catatan awal lalu menggantinya dengan membangun. Perubahan satu kata itu terasa seperti inti dari kesepakatan kami.

Kami bukan sedang memperbaiki masa lalu. Kami sedang mencoba membuat sesuatu yang baru.

Kami mengakhiri malam dengan kesepakatan tiga puluh hari. Bukan pacaran. Bukan juga pertemanan biasa. Sesuatu di antaranya yang cukup jelas untuk dijalani dan cukup rapuh untuk dihentikan.

Di depan kedai, Pevita mengulurkan tangan lagi.

“Ini permintaan langsung,” katanya. “Aku mau memegang tanganmu sampai mobilmu datang.”

Aku menyambut tangannya. “Permintaan diterima.”

Pevita tersenyum. Kali ini aku membiarkan diriku menafsirkan senyum itu sesuai penjelasan yang sudah dia berikan.

Di mobil, kehangatan jemarinya masih terasa. Tiga puluh hari tidak menjanjikan apa pun, tetapi aku sudah masuk ke situasi yang hasilnya nggak bisa kukendalikan sepenuhnya.

Notifikasi kalender berbunyi. Pevita mengirim agenda pertama: Hari 1—Kencan yang Tidak Membutuhkan Evaluasi Harian.

Aku menambahkan komentar: Evaluasi tetap dilakukan pada hari ke-30.

Balasannya datang cepat: Baik, Pak Project Manager Perasaan.

Aku tertawa sendiri sebelum menjalankan mobil.