Chapter Six
Kamu Salah Mengartikan
POV: Pevita
Pada minggu Evan memintaku bertemu di taman, ayahku pergi meninggalkan rumah dan utang yang bahkan jumlahnya nggak kami tahu.
Semua terjadi dalam tiga hari. Senin, dua orang datang menagih dan menunjukkan surat yang belum pernah kulihat. Selasa, Ibu mengunci diri di kamar dan menolak makan. Rabu pagi, pihak kampus mengirim pengingat pembayaran semester berikutnya.
Uang yang kusimpan nggak cukup untuk semuanya. Kalau kupakai buat kuliah, Raka mungkin nggak bisa membayar sekolah. Kalau kupakai buat rumah, aku harus berhenti kuliah dan mencari kerja penuh waktu.
Aku tetap datang ke kelas karena diam di rumah membuatku merasa tenggelam. Evan duduk di sebelahku, mendorong sebungkus biskuit ke atas meja seperti biasa.
“Kamu belum sarapan,” katanya.
“Sudah.”
Dia menatapku.
“Sedikit,” koreksiku.
“Makan.”
Aku membuka bungkusnya supaya dia berhenti melihatku seperti itu. Justru kebaikan kecilnya membuat dadaku semakin sesak.
Seandainya Evan cuma baik sesekali, aku bisa menjaga jarak. Masalahnya, dia selalu ada. Dia nggak banyak bertanya, nggak pernah membuat bantuannya terdengar seperti utang, dan memperlakukanku seolah aku cukup kuat untuk berdiri sendiri. Di dekatnya, aku mulai ingin berhenti kuat untuk beberapa menit.
Keinginan itu menakutkan.
Seusai kelas, dia bilang ingin bicara di taman belakang. Nada suaranya tenang, tetapi jarinya beberapa kali menyentuh gantungan Saturnus yang terpasang di tasnya.
Aku tahu.
Selama ini aku mungkin pura-pura nggak melihat, tetapi aku tahu cara dia mencariku saat masuk ruangan. Aku tahu kenapa dia selalu menunggu kendaraanku pergi. Aku tahu arti biskuit keju di dalam tas orang yang nggak suka keju.
Dan aku mencintainya.
Kesadaran itu seharusnya membuatku bahagia. Sebaliknya, aku melihat tumpukan surat utang di rumah, wajah Ibu yang kosong, dan Raka yang bertanya apakah dia harus berhenti sekolah.
Evan juga bekerja sambil kuliah. Dia membantu Ibu dan Alin. Masa depannya baru mulai terbentuk. Kalau aku bilang iya, aku tahu apa yang akan dia lakukan: dia akan tinggal. Dia akan menawarkan uang yang nggak dia punya, waktu yang seharusnya dipakai buat dirinya sendiri, dan bahu yang diam-diam juga kelelahan.
Lebih buruk lagi, aku mungkin akan menerimanya.
Taman hampir kosong saat aku datang. Evan berdiri di dekat bangku tempat kami merayakan ulang tahunnya. Tangannya masuk ke saku, tetapi bahunya terlalu kaku untuk terlihat santai.
“Kamu telat tiga menit,” katanya.
“Aku pikir kamu nggak menghitung.”
“Aku selalu menghitung.”
Aku tersenyum meski ingin menangis. “Mau ngomong apa?”
Dia nggak berputar-putar. Itu salah satu hal yang paling kusukai darinya.
“Aku suka kamu.”
Semua suara di sekitar kami seperti menjauh.
Evan menarik napas. “Bukan baru kemarin. Aku suka kamu sejak kita mulai ngerjain tugas bareng. Aku cuma baru yakin beberapa minggu terakhir.”
Aku ingin bertanya apa yang membuatnya yakin, meski sudah tahu jawabannya. Semua perhatian yang kuberikan dengan hati-hati ternyata tetap terbaca.
“Aku nggak minta kamu langsung jawab,” lanjutnya. “Tapi aku mau kita mencoba. Bukan sebagai partner tugas.”
Kalau dia memberiku waktu, aku mungkin akan jujur. Aku mungkin akan bilang bahwa aku juga menyukainya, tetapi hidupku sedang hancur. Lalu dia akan bertanya bagaimana dia bisa membantu.
Aku nggak boleh membiarkannya.
“Maaf, Van.” Suaraku terdengar stabil, dan aku membenci diriku karena sudah terlalu ahli terdengar baik-baik saja. “Kayaknya kamu salah mengartikan sikapku.”
Wajahnya nggak langsung berubah.
“Apa?”
Aku memaksa diri melanjutkan. “Aku nyaman sama kamu, tapi bukan seperti itu.”
Ada jeda panjang. Evan melihatku seperti sedang memeriksa angka yang nggak cocok dengan hasil perhitungannya.
“Bukan seperti itu,” ulangnya.
“Iya.”
“Datang ke rumahku. Mengenal Ibu dan Alin. Mengatur ulang jadwalmu. Semua itu cuma—”
“Aku juga begitu sama teman-temanku.”
Itu bohong. Aku nggak pernah menunggu siapa pun selesai bekerja sampai tengah malam. Nggak pernah menghafal pesanan kopi seseorang setelah melihatnya sekali. Nggak pernah membayangkan tinggal di rumah orang lain hanya karena makan sup bersama keluarganya.
Evan mengangguk pelan. “Berarti aku yang salah.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kemarahan.
Aku bisa menghentikannya. Cukup satu kalimat: kamu nggak salah, aku cuma takut. Namun kalau kubuka sedikit saja, dia akan melihat semuanya.
“Aku nggak bermaksud bikin kamu berpikir begitu,” kataku.
Kebohongan kedua. Aku memang ingin dia tahu, berkali-kali, sampai keadaan membuat keinginan itu terasa egois.
“Nggak apa-apa.” Evan melepaskan gantungan Saturnus dari tasnya. Untuk sesaat kupikir dia akan mengembalikannya. Jari-jarinya menggenggam benda itu, lalu memasukkannya ke saku. “Makasih udah jawab.”
“Van—”
“Aku harus kerja.”
“Shift-mu masih dua jam lagi.”
Dia menatapku. Aku langsung sadar kesalahanku. Bahkan saat sedang menghancurkannya, aku masih menunjukkan bahwa aku hafal jadwalnya.
“Aku mau datang lebih awal,” katanya.
Dia pergi tanpa menoleh.
Aku duduk di bangku setelah langkahnya menghilang. Tanganku gemetar saat membuka buku catatan biru. Di halaman kosong, aku menulis karena kalau tidak, aku mungkin akan mengejarnya.
Aku menyukainya. Justru karena itu aku harus membuatnya pergi.
Kalimat itu terlihat masuk akal selama beberapa detik. Lalu tinta mulai kabur karena air mataku jatuh ke halaman.
Aku menutup buku itu sebelum keberanianku berubah dan membuatku berlari mengejarnya.
Malamnya, Evan keluar dari grup tugas. Dia mengirim semua file, membagi catatan dengan rapi, dan menuliskan apa yang masih perlu diselesaikan. Profesional sampai akhir.
Aku mengetik pesan panjang.
Aku bohong. Ayahku pergi. Rumahku berantakan. Aku takut kalau menerima kamu, aku akan menjadikanmu tempat bergantung.
Kuhapus.
Ketik lagi.
Aku juga suka kamu. Sangat.
Kuhapus lagi.
Akhirnya aku mengirim satu kalimat pengecut.
Pevita: Maaf kalau aku membuat semuanya jadi canggung.
Pesan itu dibaca pukul sebelas lewat empat belas. Tidak ada balasan.
Di rumah, keadaan nggak memberi ruang untuk patah hati. Raka menungguku di ruang tamu dengan tagihan sekolah. Ibu masih berada di kamar. Di meja ada surat lain dengan angka yang membuat kepalaku berdenyut.
“Aku bisa berhenti les,” kata Raka pelan.
“Nggak usah.”
“Kakak juga bisa cuti satu semester.”
Aku menatap adikku. Dia masih terlalu muda untuk memasang wajah setenang itu.
“Kamu dengar dari siapa?”
“Ibu. Katanya uang kuliah Kakak bisa dipakai buat bayar utang dulu.”
Aku ingin marah, tetapi nggak tahu kepada siapa. Ayah nggak ada. Ibu sedang sakit. Raka cuma berusaha membantu.
“Kakak akan cari kerja,” kataku. “Kamu tetap sekolah.”
“Terus kuliah Kakak?”
“Nanti bisa dilanjut.”
Kalimat itu terdengar mudah, sama seperti kalimat yang kukatakan kepada Evan di taman. Aku terus membuat keputusan besar dengan suara tenang, lalu menyebutnya satu-satunya pilihan.
Malam itu aku tidur di lantai dekat pintu kamar Ibu. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat wajah Evan saat berkata, berarti aku yang salah.
Aku sudah menyelamatkannya dari masalahku, begitu aku berusaha meyakinkan diri.
Namun orang yang kuselamatkan seharusnya nggak terlihat seperti baru kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.
Hari-hari berikutnya, Evan tetap sopan. Kalau bertemu di koridor, dia mengangguk. Kalau ada urusan tugas, dia menjawab seperlunya. Dia nggak pernah menuntut penjelasan atau membuatku merasa bersalah di depan orang lain.
Justru itu yang paling menyakitkan. Semua kehangatan yang dulu dia berikan menghilang dengan bersih, seolah aku memang cuma salah satu anggota kelompok.
Dua minggu kemudian, aku berhenti kuliah sementara dan mulai bekerja penuh waktu. Aku nggak sempat mengucapkan selamat tinggal. Atau mungkin aku sengaja nggak mencari kesempatan.
Di hari terakhir, aku berdiri di seberang kedai tempat Evan bekerja. Dari balik kaca, kulihat dia membuat kopi sambil bicara dengan pelanggan. Gantungan Saturnus tergantung pada kunci di pinggangnya.
Dia masih menyimpannya.
Aku hampir masuk. Hampir mengatakan semua yang seharusnya kukatakan di taman.
Lalu ponselku berdering. Raka bilang Ibu belum keluar kamar sejak pagi.
Aku berbalik dan pergi.
Saat itu aku menyebutnya pengorbanan. Butuh delapan tahun sampai aku berani menyebutnya dengan nama yang benar: ketakutan yang kubungkus sebagai keputusan terbaik untuk orang lain.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan reading
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi