Chapter Twenty Four
Singapura
POV: Evan
Kesalahan pertama minggu itu terjadi di ruang rapat, dan bukan dilakukan siapa pun di antara kami.
Seorang direktur regional dari agensi Pevita masuk ke panggilan proyek lima menit terlambat. Kami sedang membahas jadwal peluncuran di Jakarta ketika dia menyebut versi materi untuk pasar Singapura. Nama Pevita muncul di layar bersama tabel persetujuan regional.
“Untuk fase berikutnya, nanti Pevita yang pegang koordinasi dari sana,” katanya sambil menggulir berkas. “Eh, ini udah diumumin internal, kan?”
Tidak ada yang menjawab cepat. Pevita, di kotak video sebelah kananku, membeku sepersekian detik.
“Belum final,” katanya. Suaranya tetap profesional. “Kita fokus dulu ke materi Jakarta. Yang regional akan kami konfirmasi lewat jalur resmi.”
Aku mengalihkan pandangan ke catatan. Bulan depan. Lokasi Singapura. Namanya tertulis sebagai kandidat penanggung jawab. Detailnya terlalu spesifik untuk disebut sekadar kemungkinan yang baru dibicarakan sambil lalu.
Rapat berjalan dua puluh menit lagi. Aku memberi masukan tentang urutan rilis, memutuskan satu pekerjaan yang perlu diuji ulang, lalu menutup panggilan tanpa menatap kotak video Pevita. Setelahnya aku mengecek dokumen proyek. Ada catatan perubahan dua hari lalu: akses materi regional dialihkan sementara ke timnya. Itu urusan kerja yang sah. Justru karena sah, aku tidak punya alasan untuk menariknya menjadi percakapan pribadi di depan orang lain.
Pevita mengirim pesan melalui kanal proyek.
Pevita: Bisa bicara soal yang tadi setelah jam kerja? Aku mau jelasin langsung. Kalau kamu nggak mau, bilang aja.
Aku menatap kalimat itu. Tidak ambigu. Tidak mengirim Alin. Namun undangan itu datang setelah orang lain lebih dulu memberitahuku.
Evan: Bukan hari ini. Materi peluncuran tetap lewat tim sesuai kesepakatan.
Dia membalas satu kata.
Pevita: Oke.
Sore itu ada presentasi untuk bagian kepatuhan. Aku mendengarkan semua pertanyaan dan menjawabnya dengan rapi. Seorang rekan bilang aku tenang sekali menghadapi revisi mendadak. Dia tidak tahu aku baru saja membaca kata Singapura enam belas kali di sebuah tabel yang tak ada kaitannya dengan revisi.
Aku menghubungi Dimas saat pulang. Bukan meminta keputusan; hanya memastikan pikiranku tidak berubah menjadi ruang sidang dengan satu saksi.
“Dia mau pindah?” tanyanya.
“Ada tawaran. Aku dengarnya dari direktur regional.”
“Dia udah menerima?”
“Belum tahu.”
“Dia pernah bilang ke kamu?”
“Nggak.”
“Kalian sedang nggak bicara di luar pekerjaan, Van.”
“Aku ingat. Batas itu aku yang minta.”
“Berarti jangan menuduh dia melanggar aturan yang kamu bikin kalau dia justru menurut.”
Aku diam sampai lampu merah berubah hijau. Kalimat Dimas masuk akal, tapi tidak menutup pertanyaan yang lebih sulit: kapan Pevita tahu, dan apakah dia sedang menyiapkan kepergian tanpa pernah bermaksud mengatakannya?
“Aku akan tanya,” kataku.
“Bagus. Tanya yang memang kamu nggak tahu. Jangan bikin dia jawab vonis yang udah kamu tulis.”
Di apartemen, aku membuka kembali pesan Pevita, lalu memilih tidak membalas malam itu. Aku memerlukan beberapa jam untuk memisahkan kabar kerja dari rasa ditinggalkan. Bukan supaya bisa mengampuni otomatis, melainkan supaya saat bicara nanti aku tahu apa yang sebenarnya kutanyakan.
Pagi berikutnya, pemimpin proyek dari kantorku meminta konfirmasi apakah perpindahan PIC regional akan mengganggu jadwal. Aku menjawab sesuai dokumen: belum ada perubahan resmi. Pernyataanku benar. Menjaganya tetap netral ternyata menguras lebih banyak tenaga daripada rapat kemarin.
Saat makan siang, aku memeriksa log persetujuan versi regional karena itu memang bagianku. Semua perubahan akses tercatat atas nama kepala operasi, bukan Pevita. Bahkan permintaan penambahan namanya datang dari kantor Singapura. Informasi itu tidak menghapus fakta bahwa dia tahu lebih dulu, tetapi mencegahku menuduh dia sengaja memasukkan namanya diam-diam agar aku menemukan petunjuk. Aku menutup log sebelum mulai mencari hal-hal di luar kewenanganku.
Nadine melewati mejaku dan melihat makan siangku masih utuh. “Ada keputusan produk yang bikin kamu lupa makan?”
“Keputusan orang lain. Produknya aman.”
Dia mendorong kotak makan mendekat. “Kalau gitu makan dulu. Keputusan orang lain biasanya nggak selesai karena kita menatap nasi.”
Aku tersenyum kecil. Nadine tidak bertanya lebih jauh. Aku makan sambil melihat jadwal proyek yang memang menjadi tanggung jawabku, bukan mencoba menyusun masa depan Pevita dari file kantor.
Siang hari Pevita menelepon lewat jalur kantor. Aku mengangkat karena ada tenggat persetujuan desain. Dia menyebut tiga koreksi, aku menjawab tiga koreksi. Setelah selesai, hening sebentar.
“Soal kemarin,” katanya. “Aku nggak akan bahas kalau kamu belum mau. Tapi aku nggak mau kamu cuma dapat potongan cerita dari rapat.”
“Kapan kamu pertama tahu?” tanyaku.
Dia menarik napas. “Dua minggu lalu. Tawaran tertulisnya masuk lima hari lalu.”
Lima hari. Suratnya dia serahkan empat hari lalu. Ada peluang di antara kedua hal itu untuk menuliskan satu kalimat tentang masa depan tanpa memintaku menjawabnya.
“Kenapa nggak bilang di surat?”
“Karena surat itu tentang kesalahanku, bukan tentang karierku. Dan kamu minta jangan dihubungi di luar pekerjaan.”
“Sebelum kita berhenti?”
“Aku baru dapat kabar informal waktu itu. Aku takut ngomong seolah udah pasti.”
Aku menatap pena di tangan. Dia baru saja memakai kata sinyal. Ironinya tidak lucu.
“Kamu udah buat keputusan?”
Hening lagi. “Belum kutandatangani apa pun.”
“Itu bukan jawaban yang kutanya.”
“Aku sedang memikirkan jawabannya.”
Aku tahu suara itu. Pevita terdengar seperti sedang memegang semua bagian rapuh sendirian, yakin jika orang lain menyentuh satu bagian saja semuanya runtuh. Delapan tahun lalu dia juga mengatakan sesuatu yang secara teknis benar tentang kesiapannya, sambil menyembunyikan bagian yang menentukan hidupku.
“Jadi rencanamu apa? Menunggu sampai kamu berangkat dan aku cuma baca perubahan lokasimu di undangan rapat?”
“Van, nggak. Aku mau bicara.”
“Setelah seseorang keceplosan.”
“Aku tahu itu kelihatan buruk.”
“Kelihatan? Aku sedang berusaha melihat perubahanmu. Lalu aku harus belajar tentang kamu pergi dari tabel pekerjaan.”
Dia tidak langsung membalas. Dari belakang sambungan terdengar suara pintu tertutup; mungkin dia mencari ruang privat. Aku tidak perlu membayangkan wajahnya untuk tahu dia terluka. Itu tidak membatalkan rasa sakitku.
“Aku nggak berniat mengambil keputusan buat kamu,” katanya.
“Tapi kamu sedang menyusun keputusan tentang kita tanpa aku di dalamnya. Kamu bahkan belum bilang ada pilihan yang harus dibicarakan.”
“Aku ngikutin batas yang kamu minta.”
“Aku tahu. Itu yang bikin semuanya rumit.” Aku menekan pangkal hidung. “Aku minta ruang, bukan meminta kamu menghilangkan fakta yang bakal mengubah hubungan kita kalau suatu hari kita mencoba lagi.”
“Kita belum mencoba lagi,” katanya pelan.
“Benar.”
Kata itu memotong sesuatu di antara kami. Kami memang tidak sedang bersama. Aku tidak punya hak menahan pekerjaannya, dan mungkin dia tidak punya kewajiban memberitahu setiap peluang sebelum keputusan final. Tetapi aku punya hak untuk tidak menunggu di ambang pintu ketika orang lain sudah menyiapkan koper.
“Kamu boleh ambil promosi itu,” kataku. “Aku nggak akan jadi alasan kamu menolak.”
“Aku nggak bilang mau menolak.”
“Aku juga nggak minta kamu begitu. Aku bilang jangan ajak aku membangun sesuatu sambil kamu diam-diam menentukan bentuk akhirnya sendirian.”
“Kapan kita bisa bicara?”
Aku melihat kalender kami yang penuh rapat bersama dan akhir pekan yang kosong. Rasanya terlalu mudah mengisi salah satunya dengan pertemuan, seolah satu percakapan akan kembali menambal semua retak.
“Nggak untuk minta kesempatan kedua,” kataku. “Aku mau tahu keputusanmu, tapi bukan hari ini.”
“Oke. Aku akan nunggu kamu yang tentukan waktunya.”
Setelah sambungan putus, aku mengirim persetujuan desain tepat waktu. Lalu aku keluar dari kantor sebelum waktu lembur biasanya. Di lift ada pantulan wajahku, lebih marah daripada yang kukira. Kali ini kemarahanku bukan hanya pada kebohongan lama. Aku takut baru mulai bergerak dari tempatku berdiri, lalu menemukannya sudah separuh jalan ke kota lain.
Malamnya aku mengirim satu undangan kalender kepada Pevita. Bukan kencan, bukan rapat proyek.
Judulnya: Bicara. Besok, pukul tujuh. Tanpa penonton.
Undangan diterima lima menit kemudian. Aku menutup laptop. Untuk sekarang, pintu kesempatan kedua terasa tertutup. Besok aku akan mendengar apa dia benar-benar mengerti kenapa.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura reading
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi