Chapter Thirteen

Kopi yang Masih Kamu Ingat

POV: Evan

Hari kerja terburukku dalam enam bulan dimulai dengan server pengujian yang gagal, berlanjut dengan vendor yang mengubah jadwal, lalu mencapai puncaknya ketika direktur meminta demo tetap berjalan seolah dua masalah pertama tidak ada.

Pukul tujuh malam, kantor hampir kosong. Aku masih duduk di ruang rapat dengan tiga layar menyala dan dua puluh tujuh pesan belum dibaca.

Pevita mengirim pesan sejak satu jam lalu.

Pevita: Kencan kita jadi malam ini? Kalau kamu butuh waktu, bilang langsung.

Aku mengetik baik, lalu menghapusnya.

Evan: Hari ini berantakan. Aku masih di kantor dan nggak tahu selesai kapan. Aku mau membatalkan kencan.

Balasannya datang cepat.

Pevita: Oke. Kamu mau ditemani atau sendirian?

Pertanyaannya tidak menawarkan solusi yang tidak kuminta. Dia juga nggak menghilang setelah menerima pembatalan.

Evan: Sendirian dulu.

Pevita: Baik. Aku nggak akan mengganggu. Kabari kalau berubah pikiran.

Aku kembali ke layar. Satu jam berikutnya dipenuhi panggilan, revisi, dan keputusan yang semuanya terasa salah. Tim teknis berhasil menyalakan lingkungan cadangan, tetapi data demo belum sinkron. Direktur menanyakan progres setiap lima belas menit seolah frekuensi pertanyaan bisa mempercepat server.

Pukul sembilan lewat dua puluh, aku menyadari belum makan sejak siang. Di luar ruang rapat, lampu meja sudah padam semua. Di dekat pintu ada gelas americano hangat, roti isi, dan sticky note.

Bukan gangguan. Cuma logistik. Aku pulang setelah menaruh ini.

Tidak ada nama. Tidak perlu.

Aku menyentuh gelasnya. Suhunya pas, cukup hangat untuk diminum langsung. Americano tanpa gula, seperti yang selalu kupesan. Roti tanpa keju, karena dia juga masih mengingat aku nggak suka keju meski selalu membawanya untuk dia dulu.

Aku mengecek kamera pesan masuk.

Evan: Kamu tadi ke sini?

Pevita: Iya. Aku sudah pergi. Kamu minta sendirian.

Evan: Makasih.

Pevita: Makan.

Satu kata itu membawa kembali meja kedai delapan tahun lalu, saat dia menyuruhku memakan roti di sela shift. Dulu perhatiannya membuatku yakin. Setelah penolakan, aku belajar menganggap detail-detail seperti itu tidak punya arti.

Roti itu berisi ayam lada hitam, pesanan yang biasa kupilih kalau harus bekerja malam. Pevita bukan cuma mengingat jenis kopi. Dia ingat pola kecil yang bahkan jarang kusadari sendiri.

Ada catatan kedua di bawah bungkusnya.

Aku ingin membantu, tapi aku tahu kamu nggak suka diambil alih. Jadi aku cuma memastikan kamu punya tenaga untuk menyelesaikannya.

Perbedaannya penting. Dulu, kami sering membantu tanpa bertanya. Sekarang dia menerima batas yang kuberikan, lalu tetap hadir tanpa melanggarnya.

Aku menyimpan sticky note itu di saku laptop sebelum sempat mempertanyakan alasannya.

Sekarang dia sudah memberitahukan artinya berkali-kali.

Aku makan sambil menyelesaikan sinkronisasi data. Pukul sepuluh tiga puluh, demo cadangan akhirnya berhasil. Direktur mengirim ucapan terima kasih ke grup. Tim bersorak lewat panggilan video, lalu satu per satu keluar.

Aku tetap duduk di ruangan gelap dengan cahaya layar mengenai wajah.

Hari itu belum terasa selesai. Tubuhku lelah, tetapi pikiranku masih berlari melewati semua kemungkinan gagal.

Tanpa terlalu memikirkannya, aku menelepon Pevita.

Dia menjawab pada dering kedua. “Halo?”

“Kamu udah tidur?”

“Belum.”

“Aku berubah pikiran.”

Ada jeda pendek. “Mau ditemani?”

“Iya.”

“Aku balik.”

“Nggak usah ke kantor. Aku akan pulang.”

“Ke apartemenmu?”

“Kalau kamu mau.”

“Aku mau.”

Empat puluh menit kemudian, Pevita berdiri di depan pintuku memakai kemeja kerja yang sama dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat asal. Dia membawa satu kantong makanan tambahan.

“Aku udah makan,” kataku.

“Itu buat besok pagi. Aku belajar dari kebiasaanmu melewatkan sarapan.”

Dia masuk setelah aku memberi jalan. Tatapannya berkeliling sebentar.

“Kamu benar-benar menyetel AC dua puluh derajat.”

“Kamu datang untuk menemani atau mengaudit suhu?”

“Dua-duanya.”

Aku menaikkan suhu menjadi dua puluh tiga. Pevita terlihat menang, tetapi cukup bijak untuk tidak berkomentar.

Kami duduk di sofa. Dia nggak langsung bertanya tentang pekerjaan. Nggak membuka laptopku atau menawarkan strategi. Dia cuma duduk dekat, membiarkan televisi menyala tanpa suara.

Pevita melihat gantungan Saturnus di mangkuk dekat pintu, tetapi nggak menyentuhnya. Di rak buku, novel yang kubeli saat kencan kedua masih terbungkus plastik.

“Kamu belum baca,” katanya.

“Aku sibuk.”

“Takut ternyata tokohnya mengirim pesan di bab dua?”

“Aku akan mengembalikannya kalau konfliknya selesai terlalu cepat.”

“Toko buku nggak menerima pengembalian karena plot sehat.”

Percakapan ringan itu memberi pikiranku tempat mendarat. Saat kembali membawa air, Pevita sudah melepas sepatu dan duduk dengan kaki terlipat, terlihat cocok di ruang tengahku.

“Apartemenmu terlalu sunyi,” katanya.

“Biasanya aku suka.”

“Malam ini?”

Aku duduk di sampingnya. “Malam ini nggak.”

Setelah beberapa menit, ketegangan di bahuku mulai turun.

“Demo-nya berhasil,” kataku.

“Bagus.”

“Tapi kami hampir gagal karena aku terlalu percaya vendor akan mengikuti timeline.”

Pevita menoleh. “Kamu merasa itu salahmu?”

“Aku pemilik produknya.”

“Berarti kamu bertanggung jawab menanganinya. Bukan berarti semua kesalahan dibuat olehmu.”

“Hasil akhirnya tetap tanggung jawabku.”

“Dan kamu berhasil memperbaikinya.”

Aku menyandarkan kepala ke sofa. “Aku capek menjadi orang yang selalu punya jawaban.”

Kalimat itu keluar sebelum sempat kutahan.

Pevita nggak bilang aku kuat. Nggak bilang semuanya akan baik-baik saja. Dia menggeser tubuh dan membuka tangannya sedikit.

“Kamu mau dipeluk?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Dia mendekat dan memelukku. Kepalaku jatuh ke bahunya. Tangannya mengusap punggungku perlahan, tanpa buru-buru mengubah momen itu menjadi sesuatu yang romantis.

“Aku nggak butuh kamu memperbaiki apa pun,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku cuma butuh berhenti berpikir sebentar.”

“Berhenti aja.”

Tangannya bergerak pelan di punggungku. Tidak ada kalimat motivasi atau usaha mencari sisi positif. Dia membiarkanku capek tanpa membuat kelelahanku menjadi masalah yang harus dia selesaikan.

“Dulu aku mengira kalau aku cukup kompeten, semua orang akan aman,” kataku. “Ibu, Alin, timku. Kalau ada yang gagal, berarti aku melewatkan sesuatu.”

“Kamu bukan sistem cadangan untuk semua orang.”

“Itu kalimat komunikasi perusahaan?”

“Bukan. Itu kalimat perempuan yang sedang memelukmu.”

Aku tersenyum di bahunya.

“Aku suka kamu di sini,” kataku.

Tubuhnya menegang kecil. “Di apartemenmu?”

“Di dekatku.”

Dia tidak meminta penjelasan lebih lanjut. Genggamannya di punggungku sedikit menguat.

Kami tetap seperti itu sampai napasku lebih tenang. Aku sadar ini pertama kalinya sejak bertemu lagi aku memberinya sesuatu yang tidak berbentuk aturan atau kesempatan: kelelahanku yang sebenarnya.

Saat Pevita hendak pulang, aku menahan pergelangan tangannya.

“Tinggal sebentar lagi.”

“Berapa lama?”

“Aku nggak tahu.”

Dia duduk kembali tanpa meminta kepastian.

Malam itu tidak ada ciuman. Kami hanya duduk berdekatan sambil berbagi cerita kecil tentang hari masing-masing. Namun ketika Pevita akhirnya pergi menjelang tengah malam, apartemenku tidak langsung terasa kosong.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku menceritakan bagian hidupku yang berantakan kepadanya—dan dia hadir tanpa mengambil alih.

Setelah pintu tertutup, aku menemukan makanan untuk sarapan di kulkas dengan sticky note baru: Aku pergi karena sudah malam, bukan karena menghilang.

Aku memotret catatan itu dan mengirimnya.

Evan: Informasinya jelas.

Pevita: Bagus. Tidur.

Aku menurut. Malam itu aku tertidur tanpa memeriksa kalender untuk hari berikutnya.

Pagi harinya, aku menemukan Pevita sudah memasukkan satu agenda baru ke kalender: Sarapan Evan—mandiri, tanpa pengawasan.

Aku memotret makanan yang dia tinggalkan setelah memanaskannya.

Evan: Agenda selesai.

Pevita: Bukti diterima. Kondisi kamu?

Jempolku sempat bergerak ke jawaban otomatis. Baik. Satu kata aman yang menutup percakapan. Aku menghapusnya.

Evan: Masih lelah, tapi lebih ringan. Semalam membantu.

Tiga titik muncul.

Pevita: Makasih sudah bilang jujur.

Aku menaruh ponsel dan melihat sticky note di meja. Trust ternyata tidak kembali sebagai keputusan besar. Ia datang lewat hal kecil: secangkir kopi, makanan di kulkas, pertanyaan yang memberi pilihan, dan satu jawaban jujur yang tidak dihukum.

Aku belum sepenuhnya percaya kepada Pevita. Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, aku percaya bahwa kami sedang bergerak ke arah yang benar.

Dan itu cukup untuk hari ini.