Chapter Twenty Three

Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku

POV: Evan

Hari Sabtu pertama tanpa undangan dari Pevita ternyata punya terlalu banyak ruang kosong.

Pukul tujuh pagi aku sudah mencuci seprai, membayar listrik, dan memindahkan rapat hari Senin ke jam yang lebih masuk akal. Pukul delapan aku menatap kalender. Di sana masih ada agenda lama bertuliskan Makan malam. Bukan rapat. Aku tidak menghapusnya. Acara itu sudah terjadi. Menghilangkan catatannya tidak akan membuatku lupa siapa yang duduk di seberangku malam itu.

Di meja dekat pintu, gantungan Saturnus masih terlepas dari kunci. Amplop Pevita ada di sampingnya. Tiga hari lalu aku membukanya. Suratnya singkat. Tidak ada permintaan kesempatan kedua, tidak ada daftar penderitaan keluarganya. Hanya pengakuan tepat tentang apa yang dia lakukan dan kalimat bahwa aku tidak harus memaafkan.

Aku percaya dia menulisnya dengan sungguh-sungguh. Itu bagian yang membuat segalanya lebih susah.

Dimas menelepon ketika aku sedang menaruh satu cangkir di rak. Dia mengajakku ke rumahnya karena istrinya pergi sebentar dan dia, menurut pengakuannya, sedang kalah jumlah dari satu bayi.

“Satu bayi tetap satu lawan satu,” kataku.

“Kamu belum pernah bertemu bayi yang ini. Dia punya jaringan pendukung berupa kurang tidurku.”

Aku datang membawa bubur untuknya dan susu formula yang dia sebut lewat telepon. Rumahnya berantakan dalam skala yang tidak bisa diselesaikan dengan spreadsheet. Dimas membuka pintu dengan kaus terbalik dan putrinya di gendongan.

“Jangan ketawa,” katanya.

“Aku belum mulai.”

“Mukamu udah.”

Aku membantu memasang kembali roda kereta bayi yang copot. Dimas duduk di lantai, menyuapi putrinya potongan pisang. Setelah setengah jam percakapan tentang baut dan noda makanan, dia bertanya tentang Pevita.

“Kami berhenti,” kataku. “Sementara. Entah apa namanya.”

Dia tidak langsung menasihati. “Kamu baca suratnya?”

“Udah.”

“Gimana?”

“Dia nggak berkelit.”

“Itu kedengarannya bagus.”

“Kedengarannya begitu.”

Dimas menaruh sendok. “Van, aku tahu kamu marah. Aku ada di sana waktu kamu mulai menyebut semua perempuan ramah sebagai orang yang cuma butuh charger.”

“Beberapa memang butuh charger.”

“Dan beberapa mau diajak makan. Kamu menolak keduanya dengan ekspresi yang sama.”

Aku memeriksa pengunci roda sekali lagi. Sudah terpasang. Tanganku tetap sibuk meskipun tidak ada lagi yang perlu dikerjakan.

“Aku benar tentang Pevita,” kataku.

“Iya. Dia bohong. Kamu benar. Semua orang yang tahu ceritanya juga bisa lihat itu sekarang.”

“Kenapa rasanya belum cukup?”

“Karena benar dan sembuh itu dua pekerjaan beda.”

Putrinya meraih jam tangan Dimas, lalu tertawa waktu dia berpura-pura menyerah. Aku teringat diriku di usia dua puluh satu: berdiri di depan Pevita sambil yakin tahu apa arti semua sore yang kami habiskan bersama. Aku menunggu delapan tahun untuk mendengar bahwa aku tidak salah. Namun setelah mendengarnya, aku tetap bangun pagi sambil mencari alasan untuk tidak percaya pada orang lain.

“Aku bikin aturan supaya nggak perlu menebak,” kataku. “Lalu aku tetap menguji setiap jawaban yang dia kasih.”

“Aturan boleh ada. Tes yang nggak ada garis akhirnya itu masalah lain.”

“Menurutmu aku harus balik?”

“Menurutku kamu harus memutuskan setelah tahu apa yang kamu butuh, bukan setelah capek jadi orang yang selalu curiga. Aku nggak hidup di kepalamu, Van.”

Dia menunjuk kereta bayi. “Aku sama sekali nggak siap jadi ayah. Tiap malam aku bikin kesalahan baru. Tapi kalau istriku harus menjamin aku nggak pernah bakal salah lagi sebelum kami mulai, anak ini nggak akan pernah punya tempat tidur yang rakitannya selesai.”

Ponselnya bergetar. Istrinya menelepon dari minimarket karena merek popok yang biasa mereka beli habis. Dimas tidak langsung memutuskan penggantinya. Dia bertanya soal ukuran, harga, dan kulit putri mereka yang sempat ruam minggu lalu. Mereka saling menyela dua kali, lalu tertawa. Setelah telepon ditutup, dia melihatku memperhatikannya.

“Apa?”

“Aku kira kamu yang biasa ngurus belanja bayi.”

“Iya. Tapi kalau aku asal pilih lalu kulitnya ruam, dia juga yang begadang. Nanya dulu itu lebih murah daripada sok tahu.”

Kalimat itu sederhana. Di kepalaku, meminta kejelasan selalu berarti mencegah orang mengelabui aku. Dimas memakainya untuk berbagi tanggung jawab, termasuk kemungkinan keliru. Dua hal yang kelihatannya sama ternyata menghasilkan hidup yang berbeda.

“Tempat tidurnya aman?”

“Sekarang aman. Jangan lapor ke siapa-siapa.”

Aku tertawa. Tidak lama, tapi cukup untuk mengubah udara di dadaku.

Sore harinya aku ke rumah Ibu untuk mengantar obat yang dia titip. Alin ada di ruang makan, sedang mengupas jeruk. Begitu melihatku, dia berdiri seperti pegawai yang tertangkap menyembunyikan laporan.

“Aku nggak minta kamu cerita soal Pevita,” kataku lebih dulu.

“Bagus, karena aku udah janji nggak jadi kurir perasaan siapa-siapa.”

Ibu mengambil kantong obat dari tanganku. “Kalian berdua bicara seperti aku nggak punya telinga.”

Alin menawarkan jeruk. Aku mengambil satu potong. Dia kembali duduk dan, untuk pertama kalinya sejak kencan buta itu, tidak mencoba mengatur apa pun antara aku dan atasannya. Agak mengejutkan bahwa aku bisa merindukan gangguannya.

“Kamu mau aku berhenti mengajakmu makan bareng kalau Mbak Pevita mungkin ada?” tanya Alin. “Aku nggak mau kamu merasa dijebak.”

Aku hampir bilang iya. Jawaban otomatis yang mudah: singkirkan setiap peluang bertemu, lalu aku tidak perlu memikirkan reaksi sendiri. Tapi Alin bertanya, bukan mengatur.

“Kalau acaranya memang keluarga dan dia diundang, kasih tahu aja sebelumnya,” kataku. “Aku yang tentukan datang atau nggak.”

“Oke.” Alin mengangkat sepotong jeruk seperti bersulang. “Lihat? Aku bisa jadi adik yang nggak menyebalkan.”

“Kita tunggu hasil uji coba tiga puluh hari.”

Dia melempar kulit jeruk ke arahku. Aku menepisnya sebelum mengenai baju Ibu.

Saat Alin pergi menjawab telepon, Ibu bertanya, “Suratnya kamu baca?”

Aku menatapnya. “Alin cerita?”

“Kamu bilang tadi amplop itu masih di meja pas meneleponku. Aku cuma ingat.”

Memang aku yang mengatakan itu. Ibu punya kebiasaan merekam hal yang kuanggap sepele.

“Udah. Dia minta maaf dengan jelas.”

Ibu menyiram tanaman dekat jendela. “Kamu nggak berutang maaf balik karena dia melakukannya dengan benar.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu juga nggak wajib terus marah supaya kejadian dulu dianggap serius.”

Aku menyandarkan punggung pada kursi. “Kalau aku mendekat dan dia bohong lagi?”

“Bisa saja. Kalau kamu menjauh, kamu juga bisa salah mengambil keputusan. Ibu nggak bisa memberi jaminan untuk salah satu jalan.”

Yang ingin kudengar justru jaminan. Bahwa orang yang pernah membuatku merasa bodoh tidak akan mengulanginya. Bahwa jika aku percaya, hasilnya setara dengan risikonya. Tidak ada yang bisa menandatangani itu.

“Aku belum siap menghubunginya,” kataku.

“Ya jangan. Siap itu bukan sesuatu yang bisa dipaksa Ibu atau Alin.”

Dalam perjalanan pulang, ponselku menampilkan notifikasi kerja. Pevita menyetujui revisi materi peluncuran melalui jalur tim, persis seperti kesepakatan kami. Tidak ada kalimat terselip untukku. Aku merasa lega dan kecewa pada saat yang sama. Dua perasaan itu boleh hadir tanpa harus segera kuubah menjadi keputusan.

Di apartemen, aku membuka kalender dan melihat satu agenda yang kubuat diam-diam setelah masa percobaan kami dimulai: Mungkin jalan sore bersama. Judulnya kubuat samar agar kalau semuanya gagal, aku bisa bilang itu cuma ide. Aku menghapus kata mungkin, lalu menyimpan agenda itu sebagai pengingat untuk diri sendiri, bukan mengirimkannya.

Aku ingin berjalan sore bersamanya. Itu kenyataan. Aku juga belum siap melakukannya. Itu kenyataan lain.

Aku menelepon Ibu sebelum tidur, bukan untuk melaporkan keputusanku. Aku bertanya apakah dia masih mau ditemani ke dokter minggu depan. Biasanya aku langsung mengambil cuti dan mengatur semuanya, lalu memberitahunya jam berangkat.

“Alin udah menawarkan hari Kamis,” kata Ibu. “Ibu mau pergi sama dia. Kamu bisa mampir Jumat kalau sempat.”

Ada rasa aneh ketika jadwalku tidak diperlukan. Lalu aku menyadari Ibu tidak sedang menolakku; dia hanya memilih hari dan orang yang cocok. “Oke. Jumat aku mampir,” kataku.

Setelah telepon ditutup, aku menandai Jumat sebagai kunjungan, bukan tugas penyelamatan. Membiarkan orang lain memilih tidak mengurangi tempatku dalam hidup mereka. Barangkali aku juga perlu mengingat itu ketika nanti mendengar jawaban yang tak bisa kukendalikan.

Surat Pevita kutaruh di laci dokumen, bukan di tempat sampah dan bukan di dekat kunci. Saturnus tetap di meja. Untuk pertama kalinya benda itu tidak kupakai sebagai bukti bahwa aku masih mencintainya, ataupun alasan untuk menghukum diriku karena masih mencintainya. Benda kecil itu cuma ada, menunggu aku mengambil keputusan yang memang milikku.