Chapter Twelve
Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
POV: Pevita
Masalah dari berjanji akan selalu bicara jelas adalah aku baru sadar betapa seringnya manusia memakai kalimat aman untuk menyembunyikan keinginan.
Kencan pertama dalam masa percobaan dijadwalkan Jumat malam. Pukul empat sore, aku sudah membuka percakapan Evan tiga kali.
Kalau kamu capek, kita bisa batalkan.
Kuhapus. Aku tidak ingin membatalkan.
Kamu jadi datang?
Kuhapus. Undangan kalendernya sudah diterima.
Akhirnya aku mengetik kalimat yang sebenarnya.
Pevita: Aku menunggu kencan kita malam ini dan berharap kamu juga.
Balasan Evan datang dua menit kemudian.
Evan: Aku juga menunggunya. Ini jawaban langsung.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Alin yang sedang berdiri di depan mejaku langsung bertanya apakah aku sakit.
“Nggak. Kakakmu baru saja bersikap romantis seperti formulir pajak.”
“Oh.” Dia mengangguk paham. “Berarti suasana hatinya bagus.”
Kencan kami berlangsung di arena permainan dalam pusat perbelanjaan. Aku memilihnya karena semua kencan sebelumnya terlalu banyak duduk dan bicara serius. Aku ingin melihat apakah kami masih bisa bersenang-senang tanpa masa lalu duduk sebagai orang ketiga.
Evan berhenti di depan mesin basket. “Kamu yakin?”
“Aku pernah menang lomba basket waktu SMA.”
“Lomba atau permainan kelas?”
“Detailnya nggak penting.”
Tiga menit kemudian, dia menang dengan selisih dua puluh poin.
“Mesinnya nggak seimbang,” kataku.
“Kita pakai mesin yang sama.”
“Lenganmu lebih panjang.”
“Itu bukan kesalahan mesin.”
Aku mengajaknya bermain balap mobil dan kalah lagi. Di permainan capit boneka, Evan menghabiskan lima koin tanpa hasil, sementara aku mendapat boneka beruang kecil pada percobaan kedua.
Sebelumnya kami bermain hoki meja. Evan terlalu fokus bertahan sampai lupa aku bisa memantulkan keping dari sisi meja. Saat mencetak angka terakhir, aku mengangkat kedua tangan seperti juara dunia.
“Kamu curang,” katanya.
“Namanya strategi.”
“Kepingnya hampir mengenai anak kecil.”
“Tapi nggak kena.”
“Standar keselamatanmu mengkhawatirkan.”
Aku mencondongkan badan. “Kamu kesal karena kalah?”
“Aku sedang mengevaluasi risiko berkencan denganmu.”
“Hasilnya?”
“Tinggi.”
“Tapi masih diterima?”
Tatapannya berhenti di wajahku. “Masih.”
Satu kata itu terasa lebih menggoda daripada semua kalimat yang kulatih di rumah.
“Akhirnya,” kataku. “Keadilan.”
“Mesinnya rusak.”
“Mesinnya tetap sama.”
Dia menatapku, lalu tertawa kecil saat menyadari kalimatnya kukembalikan.
Aku menyodorkan boneka itu. “Buat kamu.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin memberi sesuatu ke kamu.”
“Apa maknanya?”
“Aku senang kamu datang.”
Evan menerima boneka itu dan memasukkannya ke saku jaket, kepala beruangnya tetap menyembul keluar. Pemandangan lelaki setinggi seratus delapan puluh satu sentimeter dengan boneka kecil di dada membuatku ingin memotret.
“Aku mau mengambil foto,” kataku.
“Tidak.”
“Aturan pertama. Bilang alasannya.”
“Aku nggak mau bukti visual ini dipakai Alin.”
“Aku janji nggak akan mengirim ke dia.”
“Tetap nggak boleh.”
Aku menurunkan ponsel. “Oke.”
Evan terlihat sedikit terkejut karena aku nggak membujuk lagi. Beberapa detik kemudian, dia berdiri di depan dinding warna-warni.
“Satu foto,” katanya. “Untuk kamu.”
Aku mengambilnya cepat sebelum dia berubah pikiran. “Makasih.”
“Jangan jadikan foto kontak.”
“Sudah telat.”
Dia mengeluarkan ponsel. “Kalau begitu aku butuh foto balasan.”
“Boleh.”
“Berdiri di sana.”
Aku menurut, lalu menyadari dia mengarahkan kamera saat aku masih memegang boneka hasil permainan.
“Tunggu, rambutku—”
Kamera berbunyi.
“Kamu curang.”
“Dokumentasi harus natural.”
Kami makan mi setelah bermain. Bahuku menyentuh lengannya di meja sempit. Evan nggak bergeser.
“Aku mau tanya sesuatu,” kataku.
“Tanya.”
“Kamu tertarik sama aku sekarang?”
Dia meletakkan sumpit. Pertanyaanku mungkin terlalu langsung, tetapi aku sudah capek hidup di wilayah mungkin.
“Iya,” jawabnya.
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Seberapa tertarik?”
“Itu bukan satuan yang bisa diukur.”
“Coba pakai skala satu sampai sepuluh.”
“Tujuh.”
“Cuma tujuh?”
“Enam setelah kamu protes.”
Aku menyenggol lengannya. “Aku serius.”
“Aku juga.” Dia menatapku. “Aku tertarik. Kalau nggak, aku nggak akan menerima tiga puluh hari ini.”
“Tapi?”
“Tertarik dan percaya bukan hal yang sama.”
Kegembiraanku mereda, tetapi nggak hilang. Dia tidak menolak ketertarikannya. Dia cuma menjaga bagian dirinya yang pernah kurusak.
“Aku mengerti,” kataku.
“Benar?”
“Nggak sepenuhnya. Tapi aku akan mencoba.”
Aku mengaduk mi yang mulai dingin. “Apa yang membuatmu paling sulit percaya?”
“Aku nggak tahu apakah perhatianmu muncul karena kamu benar-benar menginginkanku atau karena merasa bersalah.”
Rasa bersalah memang membawaku melihat kerusakan yang kutinggalkan, tetapi itu bukan alasan aku masih hafal cara Evan memegang cangkir atau suara tawanya.
“Aku merasa bersalah,” jawabku. “Tapi aku mengejar kamu karena masih menyukaimu. Kalau cuma rasa bersalah, aku cukup minta maaf lalu menjauh.”
“Kamu pernah menganggap menjauh sebagai kebaikan.”
“Makanya sekarang aku memilih tinggal.”
Evan diam, mencerna jawabanku.
“Jawaban itu lebih baik,” katanya.
“Daripada apa?”
“Daripada jawaban yang menurutmu ingin kudengar.”
Kami berjalan ke parkiran sambil bergandengan tangan. Kali ini aku nggak perlu meminta karena Evan yang lebih dulu membuka telapak tangannya di dekatku.
“Ini inisiatif?” tanyaku.
“Iya.”
“Romantis?”
“Jangan merusaknya dengan audit.”
Aku tertawa dan mendekat setengah langkah. Di dalam lift, pantulan kami terlihat seperti pasangan sungguhan. Tangannya menggenggam tanganku, boneka kecil menyembul dari saku, dan jarak di antara tubuh kami semakin tipis.
Aku menatap bibirnya terlalu lama.
Evan menangkapnya. “Kamu sedang memikirkan sesuatu?”
Panas naik ke wajahku. Versi lama diriku akan menyangkal.
“Iya,” jawabku. “Aku sedang berpikir ingin mencium kamu.”
Tatapannya turun ke bibirku, lalu kembali ke mata.
“Itu sangat jelas,” katanya.
“Kamu keberatan?”
Pintu lift terbuka sebelum dia menjawab. Dua orang masuk, membuat kami mundur.
Di luar gedung, Evan mengantarku ke mobil. Sebelum aku masuk, dia membungkuk dan mencium keningku pelan.
“Aku nggak keberatan,” katanya dekat telingaku. “Tapi bukan malam ini.”
Dia berjalan pergi, meninggalkanku berpegangan pada pintu mobil dengan lutut yang mendadak nggak berguna.
Di mobil, aku memeriksa foto Evan. Boneka beruang menyembul dari saku dan ekspresinya seperti orang yang dipaksa membuat kartu identitas baru. Aku menjadikannya foto kontak, lalu menggantinya lagi setelah ingat larangannya.
Ponselku bergetar.
Evan: Kamu menjadikannya foto kontak?
Pevita: Cuma tujuh detik.
Evan: Pelanggaran tercatat.
Pevita: Hukumannya apa?
Tiga titik muncul cukup lama.
Evan: Kamu harus datang ke kencan berikutnya.
Aku menggigit bibir supaya nggak tersenyum terlalu lebar.
Pevita: Aku menerima hukuman itu.
Evan: Jumat, jam tujuh. Aku yang pilih tempat.
Pevita: Ini ajakan romantis?
Evan: Iya. Aku mengajakmu berkencan.
Aku membaca pesan itu berkali-kali. Selama beberapa hari terakhir, aku selalu menjadi pihak yang bergerak duluan. Sekarang Evan membuat rencana tanpa didorong aturan atau undangan dariku.
Aku menelepon Alin sebelum ingat bahwa kami sepakat nggak melibatkannya. Panggilan kuhentikan sebelum tersambung.
Kegembiraan ini harus bisa kusimpan sendiri. Bukan sebagai rahasia, melainkan karena hubungan kami nggak membutuhkan penonton untuk membuktikan bahwa ia bergerak.
Pevita: Aku mau datang.
Evan: Bagus. Jangan telat.
Pevita: Aku akan datang sepuluh menit lebih awal supaya sempat menatap bibirmu dengan jelas.
Balasan Evan baru masuk hampir satu menit kemudian.
Evan: Pernyataan diterima. Efek sampingnya juga.
Kali ini aku benar-benar menutup wajah. Evan bukan tidak bisa membalas godaan. Selama ini dia cuma memilih menahannya.
Aku pulang dengan jantung yang masih terlalu cepat. Di lampu merah, aku mengulang ciuman di kening tadi dan memaksa diri tidak mengubahnya menjadi janji yang belum dia berikan.
Itu bukan confession. Bukan juga kepastian bahwa tiga puluh hari akan berakhir sebagai hubungan. Namun Evan sudah melakukan sesuatu yang nggak akan dia lakukan pada awal pertemuan kami: dia menunjukkan ketertarikan tanpa langsung menariknya kembali.
Aku membuka buku biru setelah sampai apartemen dan menulis tanggal malam itu. Bukan daftar strategi. Cuma satu catatan: Hari ini dia mulai mendekat atas pilihannya sendiri.
Lalu kututup bukunya. Aku tidak perlu merencanakan respons sempurna. Tugasku cuma menjaga agar keberanian kecil itu tetap aman ketika diberikan kepadaku.
Saat itu aku akhirnya paham: Evan bukan tidak tertarik. Dia takut mempercayai ketertarikan itu—dan aku sudah memutuskan akan cukup sabar untuk membuatnya merasa aman.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak reading
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi