Chapter Four
Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
POV: Pevita
Pertama kali Evan mengajakku ke rumahnya, dia menyampaikannya seperti pemberitahuan pemindahan lokasi rapat.
“Perpustakaan tutup lebih cepat hari Sabtu. Kita kerjain di rumahku.”
“Itu ajakan?” tanyaku.
“Informasi.”
“Kalau aku nggak mau?”
“Kita cari tempat lain.”
“Berarti ajakan.”
Dia menatapku beberapa detik, lalu menghela napas. “Kamu mau datang ke rumahku buat ngerjain tugas?”
Aku tersenyum. “Mau.”
Rumah Evan berada di gang yang cukup lebar untuk satu mobil, dengan pagar abu-abu dan pot bunga yang disusun rapi di teras. Nggak besar, tetapi catnya bersih dan jendelanya terbuka. Dari luar saja, rumah itu terasa seperti tempat yang ditinggali orang, bukan sekadar tempat pulang untuk tidur.
Seorang anak perempuan membuka pintu sebelum Evan sempat mengetuk.
“Kak Evan bawa cewek!” teriaknya ke dalam rumah.
Evan memejamkan mata. “Alin, volume suaramu bisa diturunkan.”
“Ini Kak Pevita?”
Aku berkedip. “Kamu tahu namaku?”
Alin, yang waktu itu masih berseragam SMP, mengangguk cepat. “Kak Evan pernah—”
Evan menutup mulut adiknya dengan satu tangan. “Dia baca nama anggota kelompok di file.”
Alin mengeluarkan suara protes dari balik telapak tangannya. Aku menahan tawa.
“Masuk,” kata Evan kepadaku. “Sebelum dia menciptakan informasi baru.”
Ibunya keluar dari dapur sambil mengeringkan tangan. “Ini Pevita?”
Kali ini aku menoleh kepada Evan. “Semua orang tahu aku?”
“Nama kelompok kami ada di halaman depan tugas.”
“Tentu.”
Bu Ratih menyambutku dengan senyum hangat dan menyuruhku duduk. Nggak ada tatapan menilai dari kepala sampai kaki, nggak ada pertanyaan soal orang tua atau tempat tinggal. Dia cuma bertanya aku mau teh atau kopi, lalu menambahkan sepiring pisang goreng sebelum aku sempat jawab.
Kami mengerjakan tugas di meja makan karena kamar Evan terlalu sempit untuk dua laptop. Alin duduk di ujung meja sambil pura-pura belajar, padahal sejak tadi memperhatikan kami.
“Kak Pevita,” panggilnya.
“Hm?”
“Kak Evan di kampus galak nggak?”
“Nggak.”
Evan berhenti mengetik dan menatapku.
Aku melanjutkan, “Lebih tepatnya menyebalkan.”
Alin tertawa sampai hampir menjatuhkan pensil. Evan kembali ke laptop dengan wajah datar.
“Aku menyesal mengundangmu.”
“Katanya tadi cuma informasi.”
“Sekarang resmi jadi penyesalan.”
Bu Ratih datang membawa teh dan duduk sebentar bersama kami. Dia bercerita bahwa Evan sejak kecil suka menyusun jadwal, bahkan pernah membuat daftar giliran memakai televisi.
“Itu karena Alin menonton kartun enam jam,” bela Evan.
“Aku masih kecil,” kata Alin.
“Sekarang juga masih.”
“Aku empat belas tahun.”
“Secara hukum masih anak-anak.”
Aku tertawa lebih sering dalam setengah jam daripada sepanjang minggu itu. Evan di rumah berbeda dari Evan di kampus. Dia tetap bicara singkat dan memasang wajah seolah semuanya cuma persoalan yang perlu dibereskan, tetapi tangannya otomatis memindahkan piring lebih dekat ke ibunya. Dia mengecilkan suara televisi saat Bu Ratih menerima telepon. Ketika Alin mengeluh soal soal matematika, dia berhenti mengerjakan tugas kami untuk menjelaskan tanpa membuat adiknya merasa bodoh.
Aku melihat semuanya tanpa sengaja. Atau mungkin terlalu sengaja.
Ponselku bergetar di samping laptop. Pesan dari Raka menampilkan tiga kata yang langsung membuat perutku kaku.
Raka: Ayah belum pulang.
Aku membalik ponsel.
“Kenapa?” tanya Evan.
“Nggak apa-apa.”
Dia nggak langsung percaya. Aku bisa melihatnya dari cara matanya berhenti di tanganku yang mulai menggulung ujung lengan baju.
“Kalau kamu harus pulang, tugasnya bisa dilanjut besok.”
“Nggak perlu. Cuma adikku nanya sesuatu.”
Kebohongan itu keluar terlalu gampang. Ayah sudah tiga hari nggak pulang. Ibu mengurung diri di kamar sejak pagi. Penagih utang datang kemarin dan bicara cukup keras sampai tetangga ikut keluar.
Aku seharusnya pulang. Aku juga tahu pulang nggak akan otomatis membuat Ayah muncul atau Ibu mau makan.
Bu Ratih meletakkan mangkuk sup di meja menjelang magrib. “Makan dulu sebelum lanjut.”
“Nggak usah repot-repot, Bu.”
“Nggak repot. Saya masak memang buat dimakan.”
Alin langsung mengambil mangkuk. “Kalau Kak Pevita nggak makan, nanti porsinya buat aku.”
“Kamu baru habis tiga pisang goreng,” kata Evan.
“Itu camilan.”
“Lambungmu nggak membedakan kategori.”
Aku menerima mangkuk yang disodorkan Bu Ratih. Supnya sederhana, berisi wortel, kentang, ayam, dan daun bawang. Hangatnya merambat ke telapak tangan.
“Kak Pevita suka pedas?” tanya Alin.
“Suka.”
Dia mendorong botol sambal ke arahku. Evan langsung menahannya.
“Itu sambal buatan Ibu. Sedikit aja.”
“Aku kuat pedas,” kataku.
“Semua korban bilang begitu.”
Aku menuangkan satu sendok penuh untuk membuktikannya. Dua suap kemudian, mataku berair dan Alin tertawa sampai bersandar ke kursi. Bu Ratih buru-buru memberiku air. Evan cuma menggeser gelas susu dari dekatnya ke depanku.
“Nggak usah komentar,” kataku setelah minum.
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Wajahmu komentar.”
“Wajahku netral.”
“Wajah Kak Evan memang begitu,” sahut Alin. “Kayak kecewa sama dunia.”
Untuk pertama kalinya sejak pesan Raka masuk, aku tertawa tanpa harus memaksa.
Sudah lama aku nggak makan di meja yang dipenuhi percakapan biasa. Di rumah, suara pintu dibuka bisa membuat semua orang tegang. Suara motor berhenti di depan pagar bisa berarti Ayah pulang atau orang lain datang menagih. Makan malam sering dilakukan terpisah karena Ibu bilang nggak lapar dan Raka pura-pura sudah makan di rumah teman.
Di rumah ini, Alin mengeluh soal ulangan. Bu Ratih menyuruh Evan menambah nasi. Evan menolak, lalu tetap menambah setelah ibunya melotot. Nggak ada yang berjalan hati-hati di antara kalimat.
“Enak?” tanya Bu Ratih.
Aku mengangguk. “Enak banget, Bu.”
“Kalau begitu sering-sering main. Biar Evan punya teman selain laptop.”
“Bu.”
“Apa? Ibu cuma bilang berteman.”
Aku menunduk supaya mereka nggak melihat senyumku.
Setelah makan, hujan turun. Bukan hujan deras, cuma cukup untuk membuatku punya alasan tinggal sedikit lebih lama. Kami menyelesaikan revisi terakhir di ruang tengah. Alin tertidur dengan buku matematika di dada. Bu Ratih memindahkan buku itu, lalu menyelimuti kakinya.
Evan duduk di lantai di samping meja rendah, bahunya cuma beberapa senti dari bahuku.
“Kamu dari tadi lihat mereka,” katanya pelan.
“Aku nggak boleh?”
“Boleh. Aku cuma penasaran.”
Kursor di layar berkedip. Untuk sesaat, aku ingin bilang semuanya. Tentang Ayah yang makin jarang pulang. Tentang utang yang angkanya nggak pernah diberitahukan kepadaku. Tentang Ibu yang mulai sulit bangun dari tempat tidur. Tentang rasa takut bahwa semester depan aku mungkin nggak bisa kembali ke kampus.
Evan nggak akan memotong. Dia juga nggak akan mengasihaniku. Aku sudah tahu itu.
“Rumahmu enak,” kataku akhirnya.
“Karena sup?”
“Karena... tenang.”
Dia melihat wajahku, bukan layar. “Rumahmu nggak?”
Pertanyaannya lembut. Justru itu yang membuatku takut.
Kalau aku mulai cerita, mungkin aku akan menceritakan semuanya. Kalau dia menawarkan bantuan, mungkin aku akan menerimanya. Dan kalau aku mulai merasa aman di dekatnya, aku nggak yakin bisa kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.
Aku tersenyum. Senyum yang sudah kulatih bertahun-tahun untuk menutup pintu tanpa terlihat kasar.
“Rumahku juga. Cuma lebih berisik.”
Evan diam cukup lama hingga aku tahu dia nggak percaya. Namun dia nggak memaksa.
Ketika hujan berhenti, dia mengantarku sampai ujung gang untuk menunggu kendaraan. Kami berdiri di bawah lampu jalan yang redup. Bau tanah basah bercampur dengan aroma sup yang masih tertinggal di bajuku.
“Kabarin kalau sudah sampai,” katanya.
“Buat apa?”
“Supaya aku tahu anggota kelompokku nggak hilang.”
Aku tersenyum. Alasan yang sama seperti malam di kedai kopi.
Kendaraanku datang. Sebelum masuk, aku menoleh ke rumah dengan jendela terang di belakang Evan. Bu Ratih terlihat sedang membereskan meja. Alin sudah bangun dan melambaikan tangan dari pintu.
Untuk satu detik yang terlalu jujur, aku membayangkan datang lagi bukan karena tugas.
Lalu ponselku bergetar. Pesan kedua dari Raka muncul.
Raka: Kak, Ibu nangis lagi.
Bayangan itu pecah secepat kemunculannya.
Aku masuk ke kendaraan dan menutup pintu, membawa kehangatan rumah Evan bersamaku sekaligus rasa takut bahwa aku mulai menginginkan sesuatu yang nggak mungkin kumiliki.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi reading
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi