Chapter Twenty Eight

Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil

POV: Evan

Pevita menaruh dua jenis beras ke keranjang belanja dan menatapku seperti sedang menunggu hasil investigasi.

“Yang mana?” tanyanya.

“Kamu yang mengambil dua-duanya.”

“Aku ingin tahu preferensimu.”

“Aku biasa membeli yang ini.” Kutunjuk kemasan kecil. “Tapi kalau kamu suka yang satunya, kita bisa coba.”

“Kamu baru saja membuat keputusan beras terasa romantis.”

“Aku bahkan belum menyebut diskon.”

Sabtu pagi itu adalah akhir pekan terakhir sebelum Pevita berangkat untuk fase pertama penempatannya. Kami ke supermarket bukan untuk membuat kenangan besar, melainkan karena kulkasku tinggal berisi saus, telur, dan satu wadah ikan gagal dari malam sebelumnya. Ikan itu akhirnya kami buang bersama setelah membuka wadah dan sepakat tidak perlu ada pihak yang membela kehormatannya.

Di lorong peralatan rumah, Pevita menemukan dua cangkir kecil bergambar planet. Dia mengangkat satu. “Ini jebakan buat beli benda lucu yang nggak dibutuhkan?”

“Kita sudah punya cangkir.”

“Kalau begitu aku cuma mau menunjukkan. Lihat Saturnusnya miring.”

Dia menaruhnya kembali. Aku yang mengambil satu, memeriksa harganya, lalu menyerahkan kepadanya. “Aku mau beli karena aku suka. Kamu nggak harus membawa satu pulang sebagai pasangan.”

“Aku memang mau,” katanya, mengambil cangkir satunya. “Tapi kalau kupakai di Singapura, jangan paksa aku menyebutnya strategi LDR.”

“Terlambat. Aku sudah menyiapkan laporan bulanan penggunaan cangkir.”

Kami membayar belanjaan masing-masing sesuai barang yang kami pilih untuk rumah kami sendiri, lalu bergantian membawa kantong terberat. Tidak ada protes kalau yang satunya terlihat mampu. Di parkiran, Pevita bertanya apakah aku mau dia ikut menemui Ibu sore nanti. Dulu aku mungkin mengundangnya tanpa bertanya, lalu menganggap dia pasti ingin membuktikan sesuatu. Kali ini aku bilang ya hanya setelah menanyakan apakah dia punya waktu di antara persiapan berangkat.

“Aku mau datang,” katanya. “Tapi jangan jadikan aku pemeran utama acara permintaan maaf keluarga.”

“Ibu lebih tertarik memastikan kamu makan cukup. Dia baru saja membeli sekotak kue.”

Di apartemenku, Pevita membuka petunjuk resep untuk nasi ayam yang dia yakin tidak bisa gagal. Kami berhasil memasak nasinya. Ayamnya terlalu kering karena aku mengikuti timer meski ukuran potongannya lebih kecil dari yang tertulis. Dia mencicipi, diam, lalu mengambil saus.

“Kita punya pola,” kataku.

“Pola apa?”

“Nasi selalu selamat. Protein butuh pengacara.”

Dia tertawa, tetapi bukannya mengambil alih wajan, dia bertanya apakah aku ingin menumisnya lagi dengan sedikit kuah. Kami mencobanya. Hasilnya layak dibawa ke rumah Ibu, walau aku meminta dia jangan menyebut ini eksperimen kedua.

Ratih membuka pintu sebelum kami menekan bel. Dia memelukku, lalu menatap Pevita. Sejenak keduanya terlihat seperti mengingat masa kampus, dan aku takut sore kami berubah menjadi persidangan delapan tahun.

“Masuk,” kata Ibu. “Kuenya belum boleh dimakan sampai makan siang.”

“Aturan yang sangat berat, Bu,” jawab Pevita.

“Evan selalu mencoba melanggar. Kamu bisa bantu jaga?”

“Aku justru mau ikut melanggar.”

Ibu tertawa. Pevita tidak berusaha mengambil hati lewat cerita panjang. Dia menata piring setelah diminta, lalu duduk ketika Ibu menyuruhnya berhenti sibuk. Kami makan nasi ayam bersama. Ibu menebak ayamnya nyaris gosong. Kami mengaku tanpa mencari kambing hitam.

Setelah makan, aku membantu Ibu mengambil kotak obat dari lemari. Pevita tinggal di meja makan. Dari dapur terdengar suara mereka, cukup jelas tanpa perlu aku menguping.

“Kamu nggak harus janji akan membuat Evan bahagia terus,” kata Ibu.

“Aku nggak bisa janji begitu, Bu.”

“Bagus. Dia juga nggak bisa janji hal yang sama buat kamu.”

Aku menaruh kotak obat kembali. Saat muncul dari dapur, Pevita sedang menerima sepotong kue. Ibu menyodorkan bagian yang sama besarnya kepadaku. Kesetaraan dalam keluarga kami ternyata bisa diukur dengan ukuran bolu.

Alin datang terlambat sambil membawa map kerja. Dia terdiam ketika melihat Pevita di meja makan, lalu spontan berkata, “Mbak, materi rapat Senin udah saya kirim—”

Pevita mengangkat satu tangan. “Di rumah ibumu, kamu boleh panggil aku Pevita. Urusan rapat tunggu Senin, kecuali benar-benar darurat.”

“Nggak darurat,” kata Alin. “Aku cuma lupa ganti mode.”

“Aku juga dulu sering begitu.”

Alin duduk, tetapi tidak langsung mengambil kue. “Aku senang kalian baik lagi. Tapi aku harus tanya. Kalau nanti aku beda pendapat sama Mbak di kantor, bakal aneh nggak kalau aku makan malam di sini?”

Pevita menoleh kepadaku sebentar, bukan untuk meminta aku menjawab.

“Kamu boleh beda pendapat sama aku di kantor,” kata Pevita. “Aku tetap atasanmu di sana, dan kamu tetap adik Evan di sini. Kalau ada konflik kepentingan di keputusan yang langsung menyangkutmu, kita minta orang lain ikut menilai. Aku nggak mau hubungan ini jadi jalan pintas buat kamu atau alasan kamu takut bicara.”

Alin mengangguk. “Aku juga nggak mau jadi perantara pesan kalian.”

“Kamu pensiun dari jabatan itu sejak minggu lalu,” kataku.

“Pensiun paksa. Benefit-nya apa?”

“Kue,” jawab Ibu sambil meletakkan sepiring di depannya.

Setelah Ibu pergi menyiapkan teh, Pevita menambahkan, lebih pelan, “Aku juga minta maaf pernah membuatmu merasa harus memperbaiki sesuatu di antara aku dan kakakmu. Kamu nggak harus membawa urusan kami ke pekerjaan.”

“Aku memang suka ikut campur,” kata Alin. “Tapi aku mau berhenti kalau kalian minta. Yang itu bisa kulakukan.”

Tidak ada pidato besar. Mereka membuat kesepakatan yang bisa diuji Senin nanti: di kantor keduanya tetap profesional, di luar jam kerja masalah pasangan diselesaikan oleh kami sendiri. Aku melihat Pevita menerima kemungkinan dia akan ditegur Alin kalau lupa menjaga batas, tanpa memasang wajah atasan yang tidak boleh salah.

Sore menjelang ketika kami pulang. Di mobil, Pevita menarik napas panjang. “Ibumu nggak menginterogasiku.”

“Kamu kecewa? Aku bisa kirim daftar pertanyaan susulan.”

“Jangan. Aku sudah menyiapkan jawaban tiga belas halaman di kepala.”

“Kamu pikir beliau mau menanyakan apa?”

“Apakah aku bakal meninggalkanmu lagi.”

Aku memarkir mobil sebelum menjawab. “Beliau pasti memikirkannya. Aku juga. Tapi dia memilih mengenalmu lagi dari apa yang kamu lakukan sekarang.”

“Aku nggak mau kalian menelan rasa takut cuma supaya aku nyaman.”

“Kalau aku takut, aku akan bilang. Kamu juga begitu.”

Dia mengangguk, lalu memandang kantong belanja berisi dua cangkir. “Aku takut bandara minggu depan terasa seperti perpisahan lagi.”

“Aku juga. Kita bisa datang lebih awal supaya sempat bicara, bukan saling menyembunyikan muka panik di antrean.”

“Aku boleh minta kamu antar?”

“Boleh. Aku akan datang.”

Dia menyandarkan kepala sebentar di bahuku. Kami tidak menunggu sampai sedih hilang. Kami menentukan jam berangkat, memeriksa berapa lama perjalanan dari rumahnya ke bandara, lalu mengirim jadwal itu ke kalender bersama. Ada sesuatu yang menenangkan saat kecemasan diberi tempat tanpa diminta menjadi keputusan akhir.

Di apartemen, kami mencuci dua cangkir baru. Pevita memilih yang Saturnusnya miring untuk dibawa. Aku mengambil yang satunya dan meletakkannya di rak dekat cangkir lamaku. Dia tidak meninggalkan barang sebagai jaminan akan kembali; dia membawanya karena ingin memakainya di tempat lain. Aku menyukai perbedaan itu.

Raka menelepon ketika kami sedang mengeringkan cangkir. Pevita memasang pengeras suara setelah bertanya apakah aku nyaman. Raka menawarkan mengantar Ibu mereka ke kontrol hari Selasa selama Pevita pergi. Dia juga sudah menghitung ongkos pulang-pergi dan ingin menanggungnya bulan ini.

“Kamu yakin nggak mengganggu jadwal kerjamu?” tanya Pevita.

“Aku bisa tukar shift. Aku mau lakukan ini, Kak. Bukan karena Kakak pergi, tapi karena aku anaknya juga.”

Pevita memandangku sebentar. Dulu dia mungkin langsung menawarkan mengirim uang dan menyuruh Raka fokus pada pekerjaannya. Sekarang dia membuka kalendernya. “Oke. Aku akan kirim nomor klinik. Kalau ada keputusan yang perlu dibuat, telepon Ibu dulu kalau beliau bisa jawab. Setelah itu telepon aku. Kita bertiga tetap terlibat.”

Raka tertawa kecil. “Akhirnya kami dapat hak suara.”

Ketika panggilan berakhir, Pevita bersandar di meja dapur. “Aku hampir bilang semua bisa kuurus dari Singapura.”

“Aku dengar kamu berhenti sebelum mengucapkannya.”

“Rasanya aneh. Lega, tapi juga takut kalau aku nggak dibutuhkan lagi.”

“Mereka butuh kamu sebagai kakak dan anak. Bukan sebagai satu-satunya orang yang boleh bekerja.”

Dia mengangguk. Aku tidak menawarkan mengurus dokter Ibu atau mengambil alih telepon keluarga. Aku hanya menyelesaikan mengeringkan cangkir sementara dia mengirim nomor klinik kepada Raka.

“Kamu mau makan apa besok?” tanyaku.

“Yang nggak dimasak oleh kita.”

“Keputusan bersama pertama yang tanpa revisi.”

Dia tertawa dan menyentuh lenganku. Di meja dekat pintu, gantungan Saturnus masih ada. Aku belum memasangnya kembali. Pevita tidak menanyakannya. Kami masih punya ruang untuk hal yang belum selesai sambil memilih apa yang akan kami makan besok.