Chapter Fifteen
Kalau Aku Menciummu Sekarang
POV: Evan
Pevita datang ke apartemenku pada hari kedua puluh empat dengan dua kantong bahan makanan dan keyakinan berlebihan bahwa dia bisa memasak.
“Aku bisa,” katanya saat melihat ekspresiku.
“Kamu pernah membakar air.”
“Itu panci kosong.”
“Penjelasannya tidak memperbaiki situasi.”
Dia masuk dan langsung mengambil alih dapur. Aku sudah menyiapkan bahan cadangan serta nomor restoran terdekat. Pevita menyadarinya ketika membuka kulkas.
“Kamu nggak percaya aku.”
“Aku menerapkan mitigasi risiko.”
“Malam ini kamu makan hasil masakanku.”
“Kalau masih layak disebut makanan.”
Dia mengancamku dengan spatula.
Pevita memutar musik dan mulai bekerja seolah sedang memimpin dapur restoran. Sepuluh menit kemudian, dia bertanya letak garam padahal wadahnya tepat di depan.
“Dapurmu terlalu rapi. Semua benda menyatu dengan lingkungan,” katanya.
Dia mencicipi saus dan mengerutkan hidung. Rasanya terlalu asam. Aku berdiri di belakangnya untuk mengambil gula dari rak atas. Tubuhnya berada di antara lenganku dan meja. Pevita menahan napas ketika dadaku menyentuh punggungnya.
“Kamu sengaja berdiri sedekat itu.”
“Rak gulanya di sini.”
“Kamu yang menyusun dapurnya.”
“Observasimu bagus.”
Aku mundur sambil membawa gula. Pevita menatapku seolah baru menyadari aku juga bisa bermain.
Kami membuat pasta. Pevita memotong bawang terlalu besar, aku memperbaikinya, lalu dia menuduhku mengambil alih. Lima menit kemudian saus memercik ke blusnya.
“Jangan tertawa,” katanya.
“Aku belum tertawa.”
“Wajahmu tertawa.”
Aku memberikan celemek. Saat memasangkan talinya di belakang pinggang, jariku menyentuh kulit di antara blus dan celananya. Pevita langsung diam.
Jarak kami berubah.
Aku bisa mencium aroma sampo dan sedikit parfum di lehernya. Tanganku masih berada di pinggangnya. Pevita menoleh pelan, wajah kami terlalu dekat untuk dianggap kebetulan.
“Talinya sudah terpasang?” bisiknya.
“Sudah.”
“Tapi tanganmu belum pindah.”
Aku melepaskannya dan mundur. “Sekarang sudah.”
Pevita menatapku beberapa detik, lalu kembali mengaduk saus. Ujung telinganya merah.
Makan malam ternyata bisa dimakan. Kami duduk berseberangan, tetapi ketegangan dari dapur ikut ke meja.
“Hari ke berapa?” tanyanya.
“Dua puluh empat.”
“Kamu menghitung.”
“Itu bagian kesepakatan.”
“Enam hari lagi.”
“Iya, sengaja.”
“Sudah punya jawaban?”
“Kamu melanggar aturan evaluasi hari ketiga puluh.”
“Aku cuma mengumpulkan indikasi.”
“Sinyal?”
Dia meringis. “Pilihan kata yang buruk.”
“Kalau kamu mau indikasi,” kataku, “aku suka menerima pesanmu pagi-pagi.”
Pevita berhenti memutar garpu. “Serius?”
“Aku juga menunggu judul undanganmu yang makin nggak masuk akal.”
“Kencan berikutnya bisa kuberi judul Evaluasi Integrasi Bibir.”
Aku hampir tersedak. Pevita tersenyum puas.
“Itu ancaman?”
“Proposal.”
“Scope-nya belum jelas.”
“Bisa kita bahas setelah makan.”
Ketegangan di antara kami berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat. Pevita nggak lagi malu setelah menggoda. Dia menungguku membalas, dan aku semakin sulit berpura-pura nggak ingin memberinya reaksi.
“Kamu terus melihat bibirku,” katanya.
“Aku sedang memastikan kamu benar-benar bilang hal yang kudengar.”
“Aku bisa mengulangnya lebih dekat.”
Setelah makan, kami membersihkan dapur. Pevita berdiri di sampingku saat mencuci piring. Lengannya beberapa kali menyentuh lenganku. Kali ketiga, aku tahu dia sengaja.
“Kamu melakukan itu dengan sadar,” kataku.
“Iya.”
“Apa tujuannya?”
“Mendekat.”
Aku mematikan keran. “Sudah cukup dekat?”
Pevita menatap bibirku. “Belum.”
Dia berbalik menghadapku. Tanganku otomatis menemukan pinggangnya. Kali ini aku nggak mundur.
“Aku mau mencium kamu,” katanya.
“Aku dengar.”
“Kalau aku menciummu sekarang, kamu akan berhenti?”
Pertanyaan itu membuat napasku berubah. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Kamu berencana berhenti setelah satu?”
Matanya membesar, lalu senyum pelan muncul. “Nggak.”
Aku menunduk. Jarak bibir kami tinggal beberapa senti ketika ponselnya berdering di meja.
Sebelum bunyi itu, ibu jarinya sempat menyentuh rahangku. Tubuhku condong mengikuti sentuhannya. Aku sudah tahu kalau bibir kami bertemu, satu ciuman tidak akan cukup.
Keinginan itu bukan masalah. Justru mudahnya tubuhku mengingat Pevita membuatku waspada. Aku belum mau gairah menjadi jawaban cepat atas pertanyaan yang masih kami bangun.
Pevita mengabaikannya. Ponsel berhenti, lalu berdering lagi.
“Angkat,” kataku.
“Nanti.”
“Bisa penting.”
Dia menghela napas dan mengambil ponsel. Nama Raka terlihat di layar.
“Halo?” Wajahnya berubah dalam beberapa detik. “Sekarang? Ibu di mana?”
Aku mundur, memberi ruang.
Pevita berjalan ke dekat jendela. Suaranya turun, tetapi aku masih mendengar potongan percakapan: rumah sakit, tekanan darah, obat, dan uang muka.
“Aku transfer sekarang,” katanya. “Jangan bilang Ibu dulu. Biar aku yang urus.”
Setelah panggilan selesai, dia langsung membuka aplikasi bank.
“Ibumu sakit?” tanyaku.
“Tekanan darahnya naik. Raka sudah bawa ke IGD.”
“Kita ke sana.”
“Nggak perlu. Raka ada.”
“Kamu mau pergi?”
“Aku bisa urus dari sini.”
Tangannya gemetar saat mengetik nominal transfer.
“Pevita.”
“Aku baik-baik aja.”
Kalimat itu membuat seluruh kehangatan tadi berubah. Bukan karena dia bohong tentang kondisinya, tetapi karena refleks pertamanya tetap menanggung semuanya sendirian.
“Aku bisa mengantar,” kataku.
“Nggak usah.”
“Aku nggak menawarkan membayar atau mengambil alih. Aku menawarkan mengantar.”
“Evan, sungguh, aku bisa.”
Aku menahan jawaban. Enam hari sebelum masa percobaan berakhir, kami hampir berciuman. Namun masalah sebenarnya berdiri jelas di antara kami: Pevita bisa menyatakan keinginan saat semuanya ringan, tetapi masih menutup pintu saat hidupnya terasa berat.
Dia mengambil tas. “Maaf soal malam ini.”
“Jangan minta maaf karena ibumu sakit.”
“Aku kabari nanti.”
Aku mengantarnya sampai pintu. Sebelum keluar, dia menyentuh lenganku.
“Aku benar-benar ingin mencium kamu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Dan aku nggak mundur karena berubah pikiran.”
“Aku juga tahu.”
Pintu tertutup. Aku berdiri di apartemen yang masih menyimpan aroma saus dan parfumnya.
Di meja, ada bekas lipstik samar di gelas dan celemek yang dia lepaskan terburu-buru. Beberapa menit lalu, apartemen ini terasa terlalu kecil untuk jarak di antara kami. Sekarang kembali terlalu sunyi.
Satu jam kemudian, Pevita mengirim pesan bahwa ibunya stabil dan Raka sudah mengurus administrasi.
Evan: Kamu sendiri gimana?
Balasannya datang sepuluh menit kemudian.
Pevita: Baik. Besok aku kabari lagi.
Jawaban aman. Pintu lama yang mulai terbuka kembali tertutup.
Keinginan kami sudah jelas. Yang belum jelas adalah apakah Pevita mampu membiarkanku hadir saat dia nggak sedang kuat.
Aku mengetik bahwa aku siap datang kapan pun, lalu menghapusnya. Dia sudah menolak. Memaksa masuk juga bukan bentuk kehadiran yang sehat.
Evan: Kalau “baik” itu bukan jawaban jujur, kamu boleh mengubahnya kapan saja.
Pesan itu dibaca, tetapi nggak dibalas malam itu.
Aku tidur buruk. Setiap kali terbangun, aku melihat ponsel dan menahan diri untuk menelepon. Aturan kami bukan alasan untuk menuntut akses ketika dia sedang kewalahan.
Pagi harinya, hanya ada satu pesan.
Pevita: Ibu boleh pulang siang ini. Aku belum baik-baik aja, tapi aku belum tahu cara menerima bantuan.
Itu lebih jujur daripada semua jawaban tadi malam.
Evan: Kamu nggak harus langsung tahu. Kalau mau aku datang, bilang.
Aku membawa ponsel sepanjang pagi, menunggu tanpa menyusun rencana sendiri. Menjelang malam, belum ada permintaan. Lalu Alin menelepon dan bilang Pevita membatalkan dua rapat, sesuatu yang hampir nggak pernah dia lakukan.
Aku tidak menganggap itu izin. Aku menghubungi Raka, memperkenalkan diri, dan bertanya apakah ada kebutuhan praktis. Dia mengirim daftar obat serta mengatakan Pevita belum makan sejak pagi.
Baru setelah itu aku membeli makanan. Aku datang bukan untuk memaksa masuk ke hidupnya, melainkan untuk berdiri di depan pintu dan membiarkan dia menentukan apakah pintu itu dibuka.
Sebelum berangkat, aku sempat menatap dua kantong belanja di meja dapur. Dulu aku mungkin akan membawa semuanya, menyusun jadwal obat, dan menganggap tindakanku otomatis dibutuhkan. Kali ini aku menelepon Raka lagi untuk memastikan jenis makanan yang bisa dimakan ibunya, lalu bertanya apakah kedatanganku akan membantu atau justru menambah beban. Dia menjawab bahwa Pevita membutuhkan seseorang yang tidak ikut panik. Aku nggak yakin memenuhi syarat itu, tetapi setidaknya aku bisa datang tanpa berjanji menyelesaikan hal yang bukan bagianku. Aku hanya membawa diriku, kebutuhan praktis, dan kesiapan untuk menerima jawaban apa pun yang nantinya dia berikan.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang reading
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi