Chapter Twenty

Ternyata Aku Tidak Pernah Salah

POV: Evan

Aku datang ke restoran pukul enam lewat lima puluh. Meja yang sama seperti kencan buta kami sudah dipesan atas nama Pevita, tetapi kali ini tidak ada tiga kesamaan, tidak ada hujan romantis, dan tidak ada kesempatan berpura-pura kami cuma dua orang yang kebetulan dipertemukan.

Pevita datang tepat pukul tujuh dengan buku biru di tangan.

“Kamu nggak harus membawanya,” kataku.

“Aku nggak mau menyembunyikan apa pun lagi.”

Dia duduk. Buku itu diletakkan di antara kami seperti barang bukti.

“Ceritakan dari awal,” kataku.

Pevita menarik napas. “Minggu sebelum kamu menyatakan perasaan, Ayah pergi. Dia meninggalkan utang yang kami nggak tahu jumlahnya. Ibu depresi dan hampir nggak mau keluar kamar. Uang kuliahku harus dipakai buat rumah dan sekolah Raka.”

Aku mendengarkan tanpa menyela.

“Aku tahu kalau bilang aku juga suka, kamu akan tinggal. Kamu akan membantu meski saat itu kamu juga bekerja buat membantu Ibu dan Alin.”

“Apa yang sebenarnya terjadi sama ibumu?”

Pevita menatap tangannya. “Setelah Ayah pergi, Ibu berhenti makan dan hampir nggak keluar kamar. Suatu malam dia pingsan. Di rumah sakit, dokter bilang kondisinya bukan cuma fisik. Raka masih lima belas tahun dan terus bertanya kapan Ayah pulang.”

“Kenapa kamu nggak cerita saat itu?”

“Karena setiap kali melihatmu, aku ingin berhenti kuat. Aku takut kalau mulai cerita, aku akan meminta kamu menyelesaikan sesuatu yang nggak bisa diselesaikan.”

“Kamu bisa meminta ditemani.”

“Waktu itu aku nggak tahu bedanya ditemani dan diselamatkan.”

Aku teringat Pevita muda yang selalu bicara lebih banyak saat sedih. Semua tanda yang dulu tidak kupahami sekarang memperoleh konteks. Namun konteks datang terlambat.

“Itu seharusnya pilihanku.”

“Iya, aku tahu.”

“Tapi kamu memutuskan aku nggak sanggup.”

“Aku memutuskan aku nggak boleh menjadikanmu tempat bergantung.”

“Kamu tetap membuat keputusan untukku.”

“Benar.”

“Kalau aku bilang aku tetap ingin mencoba, apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu bahkan nggak memberiku kesempatan untuk tahu.”

Pevita menggenggam buku lebih kuat. “Aku pikir cinta yang baik berarti nggak menyeret orang yang kucintai ke masalahku.”

“Cinta yang baik juga nggak menghapus hak orang lain.”

“Sekarang aku tahu.”

“Sekarang, setelah aku hidup dengan akibatnya.”

Dia menerima kalimat itu tanpa membela niatnya. Sebagian diriku ingin dia melawan supaya kemarahan ini lebih mudah. Penyesalannya membuat semuanya lebih rumit.

Pevita menunduk. “Aku takut kalau menerima kamu, aku nggak tahu apakah itu karena cinta atau karena butuh diselamatkan.”

“Jadi kamu bilang aku mengarang semuanya.”

“Aku pikir kalau aku meninggalkan sedikit harapan, kamu akan menunggu.”

“Aku memang akan menunggu kalau itu pilihanku.”

“Dan aku takut hidupmu ikut berhenti.”

Kemarahan yang kutahan sejak kemarin naik lagi. “Kamu masih membicarakannya seolah kebohonganmu hadiah buatku.”

“Bukan.” Dia langsung mengangkat kepala. “Aku salah. Alasanku cuma ngejelasin ketakutanku, bukan ngebenerin caraku.”

Aku bersandar. Pelayan datang, menyadari suasana meja, lalu pergi lagi tanpa menawarkan menu.

“Kamu tahu apa yang terjadi setelah itu?” tanyaku.

“Sebagian.”

“Aku berhenti mempercayai penilaianku sendiri. Setiap ada perempuan baik, aku mencari penjelasan paling netral. Kalau dia ingat hal kecil, itu cuma karena ingatannya bagus. Kalau dia mencari aku, mungkin dia butuh sesuatu. Aku belajar bahwa berharap adalah bentuk kesombongan.”

Aku menceritakan tentang Mira. Tentang makan malam yang kukira pertemanan sampai dia menyerah menunggu. Tentang dua hubungan singkat lain yang berakhir karena aku menolak percaya perhatian bisa berarti cinta tanpa pernyataan tertulis.

“Aku pernah membuat daftar indikator hubungan sehat,” kataku. “Bukan karena teratur. Karena aku nggak percaya pada perasaanku sendiri.”

Pevita menutup mulut. Air matanya jatuh ke tangannya.

“Dimas bilang aku terlalu defensif. Ibu bilang aku seperti selalu menunggu ditinggalkan. Aku pikir mereka nggak mengerti bahwa aku cuma berhati-hati.”

“Itu karena aku.”

“Nggak semuanya. Pilihan setelah itu tetap punyaku. Tapi suaramu ada di setiap pilihan itu.”

Air mata Pevita jatuh, tetapi dia nggak memotong.

“Ternyata aku nggak pernah salah,” lanjutku. “Aku membaca semuanya dengan benar. Kamu yang mengubah jawabannya setelah aku berani bertanya.”

“Kamu benar.”

“Dan sekarang aku harus merasa lega?”

“Nggak mungkin.”

“Karena aku nggak lega. Aku marah.”

“Kamu berhak.”

“Jangan memberiku izin untuk marah seolah itu juga keputusanmu.”

Pevita memejamkan mata. “Maaf.”

Aku melihat buku biru. “Berapa banyak yang kamu tulis tentang aku?”

“Banyak.”

“Kenapa nggak pernah menghubungiku?”

“Awalnya karena aku sibuk bekerja dan mengurus keluarga. Setelah keadaan membaik, aku malu. Semakin lama, semakin nggak ada cara yang terasa pantas.”

“Kamu pernah mencari tahu tentang aku?”

“Sering.”

“Dari siapa?”

“Media sosial. Teman kampus. Kadang dari Alin setelah dia masuk kantor, sebelum aku tahu dia adikmu.”

“Kamu tahu aku di Jakarta?”

“Aku tahu.”

“Tahu aku bekerja di mana?”

“Tahu.”

Setiap jawaban menambah bentuk pada diamnya. Dia bukan kehilangan jejak. Dia memilih tidak mendekat berkali-kali.

“Sementara aku mengira kamu sudah lupa.”

“Aku nggak pernah lupa.”

“Itu nggak membuatnya lebih baik.”

“Aku ngerti.”

“Saat Alin mulai bekerja di bawahmu, kamu nggak mengenali nama belakangnya?”

“Aku baru menghubungkannya setelah melihat foto keluarga.”

“Dan setelah tahu?”

“Aku hampir mengundurkan diri sebagai atasannya.”

“Hampir lagi.”

Pevita menerima sindiran itu. “Aku takut mendekat lewat dia akan terasa seperti memanfaatkan keluargamu.”

“Tapi kamu tetap membiarkan Alin mengatur kencan buta.”

“Aku nggak tahu orangnya kamu sampai masuk restoran.”

“Setelah melihatku, kamu bisa pergi.”

“Aku nggak mau pergi lagi.”

Kalimat itu menyentuh bagian diriku yang masih menginginkannya. Aku membenci bahwa rasa itu tetap ada di tengah kemarahan.

“Jadi kamu memilih diam lagi.”

“Iya, lagi.”

Jawaban jujurnya tidak membuat semuanya lebih mudah.

“Aku ingin pulang,” kataku.

Wajahnya pucat. “Oke.”

“Aku belum selesai dengan ini. Tapi aku nggak bisa duduk di sini lebih lama.”

“Aku mengerti.”

“Jangan bilang mengerti. Kamu nggak tahu rasanya menemukan luka terbesar dalam hidupmu dibangun dari kebohongan orang yang sedang kamu coba cintai lagi.”

Pevita memucat. “Kamu benar. Aku nggak tahu rasanya.”

“Aku juga nggak tahu apakah bisa melihatmu tanpa memikirkan itu.”

“Aku nggak akan meminta jawaban sekarang.”

“Bagus. Karena aku nggak punya.”

Restoran tempat kami mulai lagi sekarang menjadi tempat masa lalu benar-benar menyusul.

Untuk pertama kalinya sejak reuni, aku berharap kami tidak pernah dipertemukan kembali sebelum luka ini dibuka dengan benar.

Keinginan itu sendiri membuatku semakin marah lagi.

“Aku akan memberi ruang.”

Aku berdiri. Pevita tetap duduk, kedua tangannya memegang buku biru.

Dia nggak menahanku. Dulu aku mungkin menganggap diamnya bukti bahwa aku nggak penting. Sekarang aku tahu diam itu penuh perasaan yang sengaja dia sembunyikan. Pengetahuan baru itu tidak lagi terasa romantis.

“Besok proyek tetap jalan,” kataku.

“Aku akan profesional.”

“Aku juga.”

“Kalau kamu butuh semua komunikasi lewat tim lain—”

“Jangan putuskan sekarang. Aku akan bilang kalau butuh.”

Pevita mengangguk. Bahkan dalam situasi ini, aku harus mengingatkannya untuk tidak menawarkan solusi sebelum aku memilih.

Di luar restoran, hujan mulai turun. Delapan tahun lalu, kebenaran mungkin akan membuatku memeluknya. Sekarang kebenaran itu datang setelah luka tumbuh menjadi bagian dari caraku hidup.

Aku benar tentang cintanya.

Namun mengetahui bahwa aku benar tidak mengembalikan delapan tahun yang kujalani dengan merasa bodoh.

Aku berjalan tanpa payung sampai hujan membasahi kemeja. Di mobil, tanganku gemetar terlalu keras untuk memasukkan kunci.

Dimas menelepon karena aku tidak membalas pesannya sejak kemarin. Aku mengangkat tanpa salam.

“Dia memang suka aku dulu,” kataku.

Hening panjang.

“Kamu baik-baik aja?”

“Sama sekali nggak.”

Itu pertama kalinya malam itu aku memberi jawaban yang sepenuhnya jujur.

“Mau aku datang?”

“Jangan. Aku perlu sendiri.”

“Oke. Tapi kirim pesan kalau sudah sampai rumah.”

Aku hampir menolak, lalu mengingat semua hal yang baru kukatakan kepada Pevita tentang hak memilih. “Iya.”

Sesampainya di apartemen, aku melepas gantungan Saturnus dari kunci dan menaruhnya di meja. Aku nggak membuangnya. Aku juga nggak sanggup memasangnya kembali.