Chapter Sixteen

Jangan Baik-Baik Saja Denganku

POV: Pevita

Ibu boleh pulang dari rumah sakit keesokan siangnya, tetapi dokter meminta seseorang tinggal bersamanya selama dua hari. Raka harus bekerja. Aku memindahkan tiga rapat, membawa laptop ke rumah, dan mengatakan kepada semua orang bahwa situasinya terkendali.

Tidak ada yang benar-benar terkendali.

Di rumah sakit, Ibu sempat menggenggam tanganku dan minta maaf karena membuatku meninggalkan pekerjaan. Aku bilang nggak ada yang perlu dimaafkan. Lima menit kemudian, aku masuk toilet dan menangis tanpa suara.

Kenangan lama datang terlalu mudah: lorong rumah sakit delapan tahun lalu, tagihan di tangan, Raka yang masih berseragam sekolah, dan pesan Evan yang nggak pernah kubalas dengan jujur. Tubuhku masih percaya satu-satunya cara melewati krisis adalah menutup semua pintu dan bekerja sampai masalahnya selesai.

Bedanya, sekarang ada seseorang di sisi lain pintu yang tahu aku sedang berbohong ketika bilang baik.

Ibu menolak makan karena merasa merepotkan. Raka menyalahkan dirinya karena terlambat menyadari obatnya habis. Aku mencoba mengurus resep, pekerjaan, tagihan, dan dua orang yang sama-sama bilang nggak butuh bantuan.

Pukul delapan malam, Evan mengirim pesan.

Evan: Bagaimana kondisi Ibu?

Pevita: Sudah pulang. Semuanya baik.

Tiga titik muncul.

Evan: Itu jawaban faktual atau jawaban otomatis?

Aku nggak membalas.

Pukul sembilan, dia menelepon. Kubisukan. Pukul sembilan lewat dua puluh, bel rumah berbunyi.

Evan berdiri di luar membawa kantong makanan dan obat dari apotek.

“Kamu ngapain ke sini?” tanyaku.

“Mengantar pesanan.”

“Aku nggak pesan.”

“Raka yang mengirim daftar.”

Aku menoleh tajam kepada adikku yang berdiri di ruang tengah. Dia langsung pura-pura sibuk merapikan bantal.

“Pengkhianat,” kataku.

“Aku harus masuk pagi,” jawabnya. “Kak Evan bisa gantikan aku sebentar.”

“Nggak perlu.”

Evan menatapku. “Boleh masuk?”

Aturan pertama: jangan menyuruhnya menebak.

Aku membuka pintu lebih lebar.

Evan menyapa Ibu, menaruh makanan di dapur, lalu duduk di ruang tengah tanpa mengambil alih apa pun. Ketika Ibu memintanya makan, dia menurut. Ketika Raka menjelaskan jadwal obat, Evan mencatatnya di ponsel.

Ibu mengenalinya setelah beberapa menit. “Evan yang dulu sering mengantar kamu?”

Aku membeku.

“Iya, Bu,” jawab Evan.

“Kamu lama nggak ke sini.”

Evan melirikku. “Kami sempat sibuk dengan hidup masing-masing.”

Ibu menerima penjelasan itu lalu menyuruhnya mengambil buah. Tidak ada interogasi. Hanya penerimaan sederhana yang membuat mataku panas.

Raka menarikku ke dekat pintu. “Kak Evan datang bukan karena aku paksa. Aku cuma kasih daftar obat setelah dia tanya.”

“Kamu kasih alamat?”

“Dia masih ingat.”

Tentu saja. Evan mengingat terlalu banyak hal yang pernah kuanggap bisa kuhapus dengan satu penolakan.

Aku semakin kesal karena kehadirannya membuat semuanya terasa lebih mudah.

Setelah Raka pergi, aku membawa Evan ke dapur.

“Kamu nggak harus tinggal.”

“Itu aku tahu.”

“Besok kamu kerja.”

“Aku juga tahu.”

“Kenapa datang?”

“Karena kamu butuh bantuan.”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Makanya aku bertanya sekarang. Kamu mau aku pergi?”

Jawaban iya akan mengembalikan kendali. Aku bisa begadang sendiri, mengecek Ibu tiap dua jam, dan tetap bekerja besok. Aku sudah melakukan hal yang lebih berat.

Namun aku capek. Bukan cuma kurang tidur. Aku capek menjadi orang pertama yang semua orang cari dan orang terakhir yang boleh lelah.

“Aku nggak tahu,” kataku.

“Itu jawaban yang lebih jujur.”

Aku menggulung ujung lengan baju. “Aku takut kalau mulai bergantung, aku akan terlalu banyak.”

“Terlalu banyak buat siapa?”

“Buat kamu.”

Evan bersandar ke meja dapur. “Kamu masih memutuskan kapasitas orang lain.”

“Aku cuma realistis.”

“Nggak. Kamu takut, lalu menyebutnya realistis.”

Kalimatnya tajam, tetapi suaranya nggak keras.

“Kamu nggak tahu rasanya melihat keluarga berantakan dan sadar satu-satunya orang yang bisa menjaga semuanya cuma kamu.”

“Mungkin nggak persis. Tapi aku tahu rasanya merasa harus selalu punya jawaban.”

Aku teringat malam di apartemennya, saat dia membiarkan dirinya lelah di pelukanku.

“Aku nggak mau menyeretmu ke masalahku,” kataku.

“Menemani kamu satu malam bukan berarti hidupku hancur.”

“Dulu kamu juga punya banyak beban.”

“Dan kamu tetap nggak berhak menentukan bahwa aku pasti nggak sanggup.”

Dadaku sesak. Inilah percakapan yang kuhindari delapan tahun lalu.

Evan mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuhku. “Jangan baik-baik saja denganku kalau memang nggak.”

Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.

“Aku capek,” bisikku.

“Aku paham.”

“Aku takut Ibu sakit lagi. Aku takut uangnya nggak cukup. Aku takut Raka selalu merasa bersalah. Dan aku masih merasa semuanya tugasku.”

“Kita nggak harus menyelesaikan semua malam ini.”

“Terus harus apa?”

“Minum air. Makan. Tidur dua jam. Aku yang bangun untuk jadwal obat berikutnya.”

Solusi kecil. Bukan janji menyelamatkan keluarga. Bukan pengambilalihan hidupku.

“Kamu yakin?”

“Aku datang karena memilih. Bukan karena terpaksa.”

Aku menatap wajahnya, mencari penyesalan. Nggak ada.

“Kalau aku terus butuh bantuan?”

“Kita bicarakan setiap kali.”

“Kalau masalah keluargaku nggak pernah benar-benar selesai?”

“Hidup siapa yang benar-benar selesai?”

“Aku serius.”

“Aku juga. Aku nggak menjanjikan bisa menanggung semuanya. Aku cuma bilang kamu nggak berhak menentukan batas kemampuanku tanpa bertanya.”

Itulah perbedaan antara penyelamatan dan kemitraan. Evan nggak berjanji menjadi solusi untuk keluargaku. Dia menawarkan pilihan untuk berbagi satu malam yang berat.

“Tinggal,” kataku.

Satu kata itu terasa lebih rentan daripada semua pengakuan romantis yang pernah kuberikan.

Evan mengangguk. “Aku tinggal.”

Dia memelukku setelah aku yang lebih dulu bergerak. Aku menangis di dadanya tanpa mencoba menahan suara. Tangannya mengusap rambutku dan tetap diam sampai napasku tenang.

Malam itu, Evan menjaga jadwal obat Ibu sementara aku tidur di sofa. Saat terbangun dua jam kemudian, dia sedang bicara pelan dengan Ibu di ruang makan. Bukan menyelesaikan masalah. Hanya menemani.

Aku menghampiri mereka. Evan langsung berdiri dan menyodorkan segelas air.

“Sudah waktunya obat berikutnya?”

“Lima belas menit lagi.”

“Aku bisa lanjut.”

“Iya, aku tahu.”

Dia tidak memakai kalimat itu untuk pergi. Dia duduk lagi.

Ibu melihat kami bergantian. “Kalian pacaran?”

Aku tersedak air. Evan menepuk punggungku dengan wajah terlalu tenang.

“Sedang masa percobaan,” jawabnya.

Ibu mengernyit. “Seperti pegawai?”

“Kurang lebih,” kataku.

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, Ibu tertawa. Suaranya lemah, tetapi nyata. Evan membuat rumah ini terasa lebih ringan tanpa mengambil kendali dariku.

Aku berdiri di ambang pintu dan menyadari sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama: menerima kehadiran seseorang tidak sama dengan meminta diselamatkan.

Untuk pertama kalinya, aku membiarkan Evan melihat hidupku saat sedang berantakan—dan tidak menyuruhnya pergi.

Menjelang subuh, kami duduk di teras setelah Ibu tertidur. Udara dingin dan jalan di depan rumah sepi.

“Kamu marah karena aku menolak bantuan kemarin?” tanyaku.

“Sedikit.”

“Tapi kamu tetap datang.”

“Karena marah dan peduli bisa ada bersamaan.”

Aku menyandarkan kepala ke bahunya. “Aku masih belajar.”

“Aku juga.”

“Belajar apa?”

“Bahwa memberi ruang bukan berarti harus pergi jauh.”

Kami diam beberapa saat. Tidak ada godaan atau upaya melanjutkan ciuman yang tertunda. Malam ini kedekatan kami punya bentuk lain.

“Hari ketiga puluh tinggal sedikit,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kamu masih mau sampai akhir?”

Evan menggenggam tanganku. “Aku ada di sini, kan?”

Kali ini aku tidak meminta jawaban yang lebih jelas. Bukan karena kembali membaca sinyal, melainkan karena tindakan itu sudah didampingi pilihan yang dia ucapkan sejak awal: dia datang karena mau dan tinggal karena kupinta.

Saat matahari mulai muncul, aku akhirnya mengerti bahwa bersandar tidak membuatku kehilangan kemampuan berdiri. Itu cuma berarti, untuk beberapa jam, aku tidak harus berdiri sendirian.

Evan pulang setelah Raka kembali. Sebelum masuk mobil, dia memintaku mengulangi jadwal obat Ibu, bukan karena meragukanku, melainkan untuk memastikan kami punya informasi yang sama. Aku menjawab semuanya, lalu memintanya mengabari ketika sampai. Permintaan sederhana itu terasa seperti sesuatu yang baru: aku tidak hanya menerima perhatiannya, tetapi juga berani menunjukkan bahwa aku peduli tanpa takut kebutuhan kecil akan berkembang menjadi beban besar. Ketika pesannya masuk empat puluh menit kemudian, aku menjawab bahwa aku akan tidur lagi. Untuk pertama kalinya, kalimat itu bukan kebohongan agar seseorang berhenti khawatir. Aku benar-benar bisa beristirahat karena tahu ada orang lain yang bersedia tetap hadir.