Chapter Seventeen

Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya

POV: Evan

Hari ketiga puluh jatuh pada Sabtu malam. Pevita datang ke apartemenku membawa buku biru, dua gelas kopi, dan wajah seseorang yang sudah menyiapkan banyak kalimat.

“Kita evaluasi dulu?” tanyanya.

“Kamu membawa notulen?”

“Aku menahan diri.”

Kami duduk berhadapan di ruang tengah. Tiga puluh hari lalu, aku mengira kedekatan ini cuma nostalgia yang akan hilang setelah cukup banyak realitas masuk. Kenyataannya, aku mulai menunggu pesannya, menyimpan sticky note-nya, dan menyediakan ruang dalam kalender tanpa diminta.

Pevita membuka halaman pertama masa percobaan. Lima aturan kami dipenuhi catatan di pinggir.

“Hari ketujuh,” bacanya. “Aku bilang terserah mau makan di mana, padahal ingin sushi. Pelanggaran ringan.”

“Hari kedelapan, kamu mengirim undangan sushi langsung. Perbaikan diterima.”

“Hari kelima belas, kamu bilang nggak cemburu sama fotografer acara kantor.”

“Aku memang nggak cemburu.”

“Kamu memeriksa profilnya di LinkedIn.”

“Riset profesional.”

Pevita tertawa. “Aku suka tiga puluh hari ini.”

“Aku juga.”

Pengakuan kecil itu membuat tawanya berhenti. Selama sebulan, kami bergerak lewat aturan, candaan, dan tindakan praktis. Malam ini kami harus mengakui apa yang tumbuh di antaranya.

“Hal terbaiknya apa?” tanyanya.

“Malam saat kamu datang ke apartemenku dan nggak mencoba menyelesaikan masalah.”

“Hal terburuk?”

“Saat kamu hampir nggak membiarkanku datang ketika ibumu sakit.”

Dia mengangguk. “Punyaku kebalikannya. Yang terburuk saat aku hampir menutup pintu. Yang terbaik saat akhirnya aku minta kamu tinggal.”

Kami bukan lagi dua orang yang mencoba mengulang masa kuliah. Kami sudah punya kenangan baru yang tidak dibangun dari dugaan.

“Aku mau lanjut,” kataku.

Pevita yang baru membuka buku langsung berhenti. “Apa?”

“Masa percobaannya. Aku mau lanjut mengenal kamu.”

“Kamu nggak mau dengar presentasiku dulu?”

“Berapa slide?”

“Secara metaforis, banyak.”

Aku mengambil bukunya dan menutupnya. “Aku belum siap menyebut ini hubungan. Tapi aku juga nggak mau berhenti.”

Matanya berkilat. “Itu cukup.”

“Belum selesai.”

Dia duduk lebih tegak.

“Aku masih takut kamu akan memutuskan sesuatu sendirian saat keadaan berat,” kataku. “Aku masih nggak tahu apakah penjelasan tentang masa lalu akan mengubah apa pun. Dan aku nggak mau ketertarikan kita dipakai untuk menutup pembicaraan itu.”

“Aku mengerti.”

“Benar-benar mengerti?”

“Aku ingin mencium kamu sejak dua minggu lalu, tapi aku tetap datang malam ini buat mendengar jawabanmu. Jadi, iya.”

Kejujurannya membuat udara berubah.

“Sekarang giliranku,” katanya. “Kamu mau mencium aku?”

“Iya.”

“Kenapa belum?”

“Aku sedang memastikan kamu selesai bicara.”

Pevita menggeser tubuh mendekat. “Aku selesai.”

Aku menyentuh pipinya dan memberinya waktu untuk mundur. Dia justru menutup jarak.

Ciuman pertama kami lembut, hanya sentuhan singkat yang seharusnya cukup untuk memuaskan rasa penasaran. Tidak cukup.

Pevita mencengkeram kerah bajuku dan menciumku lagi. Kali ini lebih dalam. Tanganku berpindah ke pinggangnya, menarik tubuhnya mendekat sampai tidak ada ruang tersisa. Napasnya pecah di bibirku. Jari-jarinya masuk ke rambutku.

Aku mengubah sudut ciuman, mengecapnya perlahan sebelum kembali menuntut. Pevita merespons tanpa ragu. Ketika gigiku menyentuh bibir bawahnya, suara kecil lolos dari tenggorokannya.

Suara itu menghapus sisa kemampuan berpikirku.

Tangannya masuk ke balik jaketku dan mengusap punggung. Aku mencium lehernya, merasakan denyut cepat di bawah bibir. Dia menarik rambutku pelan, bukan untuk menghentikan, tetapi membawaku kembali ke mulutnya.

“Aku sudah membayangkan ini,” bisiknya.

“Berapa kali?”

“Kamu nggak butuh datanya.”

“Aku suka data.”

“Banyak.”

Aku tertawa di bibirnya. “Jawaban diterima.”

“Ini masih satu?” bisiknya.

“Data belum cukup.”

Dia tertawa kecil sebelum mulutku kembali menutup tawanya.

Kami bergerak tanpa sadar sampai punggung Pevita menyentuh sofa. Aku berada di atasnya, satu lutut di antara kakinya, sementara tangannya menarikku semakin dekat. Ciuman berpindah ke rahang dan lehernya. Dia menyebut namaku dengan suara yang membuat seluruh pertahanan terasa nggak berguna.

“Van.”

Aku berhenti.

Pevita membuka mata, napasnya cepat. “Kenapa?”

Tanganku masih berada di pinggangnya, di bawah ujung blus. Kulitnya hangat. Aku menginginkannya, dan justru karena itu aku harus jujur.

“Kalau kita lanjut, aku nggak yakin bisa berhenti di ciuman.”

“Aku juga nggak yakin mau berhenti.”

Aku memejamkan mata sebentar. “Itu masalahnya.”

Tubuhnya menegang. “Kamu menyesal?”

“Nggak.” Aku duduk dan menariknya ikut tegak. “Aku sangat menginginkan kamu. Tapi aku belum mau tubuh kita menjawab pertanyaan yang belum selesai.”

“Apa pertanyaannya?”

“Apakah kita bisa saling percaya ketika situasinya nggak hangat seperti ini. Apakah kamu tetap bicara ketika takut. Apakah aku bisa mendengar alasanmu tanpa menjadikan masa lalu senjata.”

“Ciuman nggak bisa menjawab itu.”

“Iya, benar.”

Pevita mengembuskan napas. “Aku benci kamu masuk akal saat aku ingin kamu kehilangan akal.”

“Aku sudah hampir kehilangan.”

“Hampir?”

Aku melirik blusnya yang terbuka satu kancing tanpa kami sadari. “Sangat hampir.”

Dia mengikuti tatapanku, lalu buru-buru mengancingkannya.

“Kamu pikir aku mencium kamu buat menghindari pembicaraan?”

“Nggak. Aku pikir kita berdua sudah menunggu terlalu lama dan bisa gampang menganggap keinginan sebagai kepercayaan.”

Pevita merapikan blusnya. Wajahnya merah, bibirnya sedikit bengkak. “Aku malu.”

“Kenapa?”

“Karena aku hampir menarik bajumu lepas.”

“Aku hampir membiarkanmu.”

Dia menatapku, lalu kami tertawa. Ketegangan yang tadi terasa seperti penolakan perlahan turun.

Aku menggenggam tangannya. “Berhenti bukan berarti aku nggak mau.”

“Aku tahu. Cuma butuh beberapa detik supaya egoku menerima.”

“Egomu gimana sekarang?”

“Masih ingin mencium kamu lagi.”

“Itu bukan ego.”

“Bagian lain tubuhku juga setuju.”

Aku menatapnya. Pevita menutup wajah dengan tangan.

“Aku nggak percaya baru mengatakan itu.”

“Sangat eksplisit.”

“Lupakan.”

“Tidak mungkin.”

Kami duduk berdekatan sampai napas kembali normal. Pevita menyandarkan kepala di bahuku.

“Jadi setelah tiga puluh hari, status kita apa?” tanyanya.

“Dua orang yang saling menginginkan dan masih membangun kepercayaan.”

“Panjang sekali buat ditaruh di profil.”

“Kita nggak perlu profil.”

“Karena eksklusif?”

“Aku setuju.”

Kami membahas bentuk hubungan setelah masa percobaan. Belum ada label pacaran karena aku belum siap, tetapi batasnya jelas: eksklusif, tetap berkencan, dan nggak menyembunyikan perubahan besar.

“Kalau salah satu merasa ini terlalu berat?” tanyanya.

“Bilang sebelum menghilang.”

“Kalau kamu marah?”

“Aku bilang marah.”

“Kalau aku ingin menciummu di tengah pertengkaran?”

“Kita selesaikan pertengkarannya dulu.”

“Aturanmu nggak menyenangkan.”

“Tapi kamu masih di sini.”

Pevita mengaitkan jarinya dengan jariku. “Iya. Aku masih di sini.”

Dia mengangkat kepala. “Itu keputusan langsung?”

“Iya. Aku nggak ingin berkencan dengan orang lain.”

Pevita menciumku sekali lagi, singkat dan hangat.

“Yang itu untuk apa?”

“Mengonfirmasi penerimaan keputusan.”

Aku mengantarnya pulang satu jam kemudian. Di depan pintu mobil, dia menyentuh bibirku dengan ibu jari.

“Aku nggak menganggap malam ini menyelesaikan semuanya,” katanya.

“Bagus.”

“Tapi aku juga nggak akan pura-pura ciumannya nggak penting.”

“Aku juga merasakannya.”

Dia tersenyum, masuk ke mobil, lalu pergi.

Malam itu kami mengakui keinginan tanpa mengubahnya menjadi jawaban. Anehnya, keputusan berhenti justru membuatku lebih percaya bahwa kali ini kami mungkin mampu membangun sesuatu yang tidak bergantung pada dugaan.

Sesampainya di apartemen, satu pesan menungguku.

Pevita: Aku sudah sampai. Aku masih ingin kamu. Aku juga setuju kita berhenti tadi.

Evan: Aku juga masih ingin kamu. Sangat. Tidur sebelum kita membuat keputusan buruk lewat chat.

Pevita: Itu bukan penolakan permanen, kan?

Evan: Bukan.

Pevita: Informasinya diterima.

Untuk pertama kalinya, kalimat formal itu terdengar seperti janji yang hangat.

Aku mandi dengan air lebih dingin dari biasanya dan tetap nggak berhasil menghapus ingatan tentang tubuhnya di bawah tubuhku. Namun di balik keinginan itu, ada ketenangan baru. Pevita menerima batas tanpa menjadikannya penolakan. Aku berhenti tanpa membuatnya merasa tidak diinginkan. Kami berhasil melewati satu momen yang dulu mungkin akan kami biarkan penuh asumsi.

Sebelum tidur, aku memindahkan agenda hari ketiga puluh dari kategori percobaan ke kalender utama. Nama acaranya kuubah menjadi Mulai dari Sini.

Pevita melihat perubahan itu beberapa menit kemudian.

Pevita: Apakah ini pernyataan romantis?

Evan: Iya.

Pevita: Bagus. Aku nggak akan pura-pura menganggapnya sekadar administrasi.

Aku percaya padanya.