Chapter Five

Hari ketika Aku Terlalu Yakin

POV: Evan

Aku mulai yakin Pevita menyukaiku pada hari dia datang ke seminar proposal produk yang bahkan Dimas sebut terlalu membosankan untuk dihadiri secara sukarela.

Acara itu bukan seminar besar. Cuma presentasi mahasiswa terpilih di depan tiga dosen dan dua perwakilan perusahaan. Kalau idenya lolos, kami dapat pendanaan kecil untuk bikin prototipe. Kalau gagal, setidaknya ada nasi kotak.

Aku sudah mengerjakan proposal itu selama dua bulan. Pevita tahu karena beberapa kali menemukanku tertidur di perpustakaan dengan laptop masih menyala. Namun pagi itu dia punya ujian pengganti di gedung lain.

“Aku mungkin telat,” katanya malam sebelumnya.

“Nggak masalah.”

“Kamu mau aku datang?”

Pertanyaannya terlalu langsung. Aku pura-pura sibuk merapikan kabel charger.

“Kalau sempat.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku presentasi jam sepuluh. Ujianmu selesai setengah sebelas.”

“Berarti aku telat.”

“Kesimpulanmu benar.”

Dia memukul lenganku dengan buku catatan biru.

Pukul sepuluh lewat lima, namaku dipanggil. Aku berdiri di depan ruangan dengan kemeja pinjaman Dimas dan telapak tangan dingin. Kursi tamu hampir penuh, tetapi kursi yang kusisakan di baris belakang tetap kosong.

Aku bilang pada diriku sendiri itu lebih baik. Pevita perlu menyelesaikan ujiannya. Aku nggak butuh penonton tertentu untuk menjelaskan produk yang kubuat sendiri.

Slide ketiga baru muncul ketika pintu belakang terbuka pelan.

Pevita masuk dengan napas masih terburu. Rambutnya agak berantakan, kertas ujian terselip di antara buku, dan salah satu tali sepatunya belum terikat. Dia melihatku, mengangkat ibu jari, lalu duduk di kursi kosong itu.

Aku kehilangan satu kalimat.

Salah satu dosen mengernyit. Aku mengulang penjelasan, kali ini tanpa melihat ke belakang lagi. Namun setelah itu suaraku lebih stabil. Setiap kali panel memberi pertanyaan sulit, aku tahu ada seseorang di ruangan yang sudah mendengar ide itu sejak masih berantakan dan tetap menganggapnya layak.

Proposalnya lolos tahap berikutnya.

Begitu acara selesai, Pevita menghampiriku lebih dulu.

“Kamu keren,” katanya.

“Kamu cuma dengar separuh.”

“Separuh yang kudengar keren.”

“Ujianmu gimana?”

Dia membuat wajah bersalah. “Aku mengumpulkan lima belas menit lebih cepat.”

“Kenapa?”

“Kalau aku jawab karena mau lihat presentasimu, kamu bakal marah?”

“Aku akan bilang keputusanmu nggak efisien.”

“Tapi senang?”

Aku menatapnya. Pevita tersenyum seolah sudah tahu jawabannya.

“Nilaimu jangan sampai jelek,” kataku.

“Berarti senang.”

Dimas muncul sambil membawa dua nasi kotak. “Saya menyaksikan percakapan ini tanpa konteks dan tetap merasa jadi orang ketiga.”

Pevita mengambil satu kotak dari tangannya. “Kamu memang orang ketiga.”

“Kejam.” Dimas menyerahkan kotak lain kepadaku. “Padahal aku yang meminjamkan kemeja. Tanpa aku, Evan presentasi pakai kaus kedai.”

“Kemejanya kebesaran,” kata Pevita.

“Badan dia yang kurang usaha.”

Aku menyuruh Dimas pergi. Dia malah duduk dan menghabiskan makan siang bersama kami.

Beberapa minggu setelah seminar itu, Pevita semakin masuk ke bagian hidupku yang biasanya tertutup. Dia datang ke rumah tanpa perlu alasan tugas. Alin mulai mengirim pesan langsung kepadanya kalau butuh bantuan memilih hadiah untuk Ibu. Ibu selalu memasak lebih banyak setiap kali tahu Pevita akan datang.

Aku juga mulai hafal hal-hal yang nggak pernah sengaja kupelajari. Pevita nggak suka mentimun. Dia menggulung lengan baju ketika cemas dan mengetuk ujung pulpen dua kali saat menemukan ide. Kalau sedang sedih, dia justru bicara lebih banyak supaya orang lain nggak sempat bertanya.

Suatu Minggu, dia membantu Alin belajar matematika di meja makan. Aku baru pulang dari shift tambahan dan menemukan keduanya berdebat soal cara menghitung persentase. Ibu sedang melipat pakaian di ruang tengah sambil sesekali membela Alin meski jawabannya jelas salah.

“Kak Pevita lebih sabar daripada Kak Evan,” kata Alin.

“Kak Pevita belum tahu kamu akan menanyakan hal yang sama lima kali,” jawabku.

Pevita menoleh. “Kamu udah makan?”

“Belum.”

Dia berdiri dan mengambil piring dari dapur tanpa bertanya lagi. Gerakannya terlalu alami, seolah dia sudah berkali-kali melakukannya di rumah itu.

Ibu melihatku dari balik tumpukan pakaian. Senyumnya kecil, tetapi sangat jelas.

“Apa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.”

Pevita kembali membawa nasi dan lauk yang sudah dipanaskan. “Kenapa semuanya melihat aku?”

“Nggak ada,” jawabku dan Ibu bersamaan.

Alin tertawa. Pevita duduk lagi, masih bingung, sementara aku mulai makan dan mencoba mengabaikan rasa hangat yang nggak ada hubungannya dengan makanan.

Saat mengantarnya pulang sore itu, Pevita bilang dia suka berada di rumahku.

“Alin berisik,” kataku.

“Makanya aku suka.”

“Alasan yang aneh.”

“Rumah yang berisik karena orang-orangnya saling bicara itu menyenangkan.”

Dia mengucapkannya sambil menatap jalan. Ada sesuatu di balik kalimat itu, tetapi ketika kutanya, dia cuma bilang sedang capek.

Masalah keluarganya sesekali muncul di tepi percakapan, lalu buru-buru dia dorong kembali. Dia pernah membatalkan janji karena ibunya sakit. Pernah meminjam uang kas kelompok dan mengembalikannya dua hari kemudian tanpa penjelasan. Aku nggak memaksa. Kupikir kalau dia siap, dia akan cerita sendiri.

Sebagai gantinya, aku memastikan dia nggak perlu meminta untuk hal-hal kecil. Membawakan materi saat dia absen. Menunggu kendaraan bersamanya. Menyimpan camilan di tas karena dia sering lupa makan.

Menurut Dimas, semua itu sudah melewati batas partner tugas.

“Kamu suka dia,” katanya saat kami duduk di tangga gedung setelah kelas.

“Analisis yang dangkal.”

“Kamu menyimpan biskuit rasa keju padahal kamu nggak suka keju.”

“Pevita suka.”

“Makasih banget udah memperkuat analisisku.”

Aku menatap lapangan. Pevita sedang bicara dengan teman sekelas di seberang. Dia tertawa, lalu entah kenapa menoleh ke arahku. Tatapan kami bertemu. Dia langsung melambaikan tangan.

Aku membalas sebelum sempat memikirkan gerakannya.

“Dia juga suka kamu,” kata Dimas.

“Dia ramah sama semua orang.”

“Dia datang ke rumahmu, kenal ibu dan adikmu, mengingat jadwal kerjamu, serta hampir mengorbankan ujian demi presentasimu.”

“Dia mengumpulkan lebih cepat, bukan mengorbankan.”

“Baik. Kalian berdua cuma rekan akademis yang kebetulan saling menatap dari jarak tiga puluh meter.”

Aku nggak jawab.

Keyakinanku datang beberapa hari kemudian, pada ulang tahunku. Aku nggak pernah merayakannya di kampus dan nggak pernah memberi tahu Pevita tanggalnya. Namun seusai kelas, dia menarikku ke taman belakang gedung.

Di bangku ada Alin, Ibu, dan Dimas dengan kue kecil yang bentuknya miring. Alin memegang lilin angka dua dan satu. Ibu membawa kotak makan. Dimas mengenakan topi ulang tahun yang terlalu kecil.

“Kamu ngapain?” tanyaku kepada Pevita.

“Merayakan ulang tahunmu.”

“Aku bisa lihat.”

“Bagus. Berarti kejutannya jelas.”

Dia tahu dari Alin. Lebih dari itu, dia mengatur semuanya di sela jadwal kuliah dan masalah rumah yang nggak pernah dia ceritakan. Setelah kue dipotong, Pevita memberiku kotak kecil.

Di dalamnya ada gantungan kunci berbentuk Saturnus, biru tua dengan cincin logam tipis.

“Kenapa planet?” tanyaku.

“Karena kamu suka bikin semua hal mengorbit jadwalmu.”

“Saturnus bukan pusat orbit.”

“Aku tahu kamu bakal protes. Makanya aku pilih itu.”

Di balik candaan, tatapannya lembut. Terlalu lembut untuk sekadar teman, pikirku saat itu.

Malamnya, Dimas mengantarku ke halte.

“Kalau setelah semua ini kamu masih bilang dia cuma ramah, aku akan menyita hakmu membuat analisis,” katanya.

Aku memutar gantungan planet di jari. “Kalau aku salah?”

“Kamu nggak salah.”

Aku memikirkan kopi tanpa gula, kotak makan, kursi yang selalu disimpan, rumah yang mulai menganggapnya keluarga, dan caranya berlari setelah ujian hanya untuk mendengar separuh presentasiku.

Untuk pertama kalinya, semua detail itu terasa mengarah pada satu jawaban.

Aku bahkan menyusun kalimatnya malam itu, lalu menghapus semua versi yang terdengar seperti proposal kerja. Nggak ada daftar alasan, nggak ada target, dan nggak ada rencana cadangan. Aku cuma ingin bilang bahwa aku menyukainya dan bertanya apakah dia mau mencoba bersamaku. Sederhana, setidaknya sebelum jawabannya diberikan.

Besoknya aku meminta Pevita bertemu di taman belakang kampus setelah kelas.

Dia langsung mengiyakan tanpa bertanya apa yang mau kubahas.

Aku datang lebih awal dengan keyakinan penuh bahwa kali ini, aku tidak sedang menebak.