Chapter Twenty One
Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
POV: Pevita
Evan mengirim pesan dua hari setelah percakapan di restoran.
Evan: Aku ingin bicara. Di apartemenku, jam tujuh.
Tidak ada label kencan. Aku datang tanpa membawa buku biru, hadiah, atau penjelasan baru.
Sepanjang perjalanan, aku mengulang satu aturan: dengarkan tanpa membela diri. Bukan karena aku tidak punya alasan, tetapi karena alasan sudah dia dengar. Malam ini milik akibat yang selama ini nggak pernah kulihat.
Aku hampir mengirim pesan bahwa dia boleh membatalkan kalau belum siap. Kuhapus. Menawarkan jalan keluar yang tidak diminta adalah kebiasaan lama dalam bentuk lebih sopan.
Evan membuka pintu dan langsung berjalan ke ruang tengah. Gantungan Saturnus tergeletak di meja, dilepas dari kunci.
Aku duduk di ujung sofa. “Aku dengar.”
Dia tetap berdiri. “Setelah kamu menolakku, aku pernah dekat sama seseorang waktu kerja pertama. Namanya Mira. Dia mengajakku makan, mengirim pesan tiap malam, dan bilang nyaman sama aku. Aku nggak pernah bertanya apakah dia suka karena takut salah lagi.”
Aku menahan napas.
“Dia akhirnya pacaran sama orang lain. Katanya dia menunggu aku bergerak.”
“Kamu menyukainya?”
“Mungkin. Aku nggak pernah membiarkan diriku mencari tahu.”
Rasa sakit menusuk, tetapi ini bukan waktunya cemburu. Mira adalah manusia nyata yang ikut terkena akibat dari sesuatu yang kulakukan.
“Aku minta maaf kepadanya juga,” kataku.
“Kamu bahkan nggak mengenalnya.”
“Aku tahu. Tapi aku ikut menciptakan versi dirimu yang membuat dia menunggu.”
Evan menggeleng. “Jangan ambil semua kesalahan. Aku yang memilih diam sama dia.”
“Tapi pilihan itu tumbuh dari luka yang kubuat.”
“Keduanya bisa benar.”
Kalimat itu lebih dewasa daripada cara kami memperlakukan masa lalu. Ada pilihan Evan yang tetap menjadi tanggung jawabnya, dan ada luka yang jelas-jelas kubuat.
Evan berjalan ke dekat jendela. “Ada juga perempuan lain yang bilang aku dingin karena selalu meminta semua hal dinyatakan seperti kontrak. Aku pikir itu cara paling aman.”
“Van...”
“Kamu pikir kamu cuma menolak aku satu malam. Aku membawa kalimatmu ke setiap hubungan setelah itu.”
Air mataku jatuh.
“Aku membuatmu meragukan semua orang.”
“Kamu membuatku meragukan diriku sendiri.”
Dia akhirnya duduk, tetapi tetap jauh. “Setelah kamu, aku mulai membaca ulang semua interaksi. Kalau seseorang tersenyum, aku bertanya apakah dia cuma sopan. Kalau dia menyentuh tangan, aku bilang itu kebetulan. Aku membuat ketidakpedulian terdengar seperti kedewasaan.”
“Dan ketika kita bertemu lagi, aku memaksamu melewati semua itu.”
“Kamu memang berusaha. Aku nggak menyangkalnya.”
“Tapi usaha sebulan nggak menghapus delapan tahun.”
“Tidak.”
Aku memaksa diri tetap menatapnya. “Aku nggak akan meminta kamu menghitung kencan, kopi, atau ciuman kita sebagai pembayaran.”
“Bagus. Karena aku nggak mau semua yang hangat berubah jadi transaksi.”
“Semuanya nyata,” kataku. “Perasaanku, usahaku, dan keinginanku. Tapi itu nggak membatalkan kerusakan yang kubuat.”
“Aku tahu semuanya nyata. Itu justru membuatnya lebih sakit.”
“Karena kamu masih menyukaiku?”
Evan menatapku lama. “Iya. Aku masih menyukaimu. Aku masih ingin menyentuhmu. Dan aku marah karena tubuhku nggak berhenti menginginkan orang yang membuatku seperti ini.”
Kejujurannya melukai sekaligus memberiku tanggung jawab untuk tidak memanfaatkan keinginan itu.
“Aku nggak akan menyentuhmu,” kataku.
“Makasih.”
Jarak di antara kami bukan lagi tebakan. Itu batas yang dia minta dan aku terima.
Tidak ada jawaban yang bisa mengecilkan kalimat itu.
“Aku minta maaf,” kataku. “Bukan karena kita kehilangan kesempatan delapan tahun. Aku minta maaf karena aku memalsukan kenyataan yang kamu alami. Kamu nggak salah membaca. Kamu nggak terlalu berharap. Aku memang mencintaimu dan aku berbohong supaya kamu pergi.”
Evan menatapku. Matanya merah, tetapi suaranya tetap rata.
“Kenapa baru sekarang kamu bisa ngomongnya dengan benar?”
“Karena dulu aku pengecut.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku masih takut, tapi aku nggak mau pake rasa takut sebagai alasan.”
Dia duduk di kursi seberang. Jarak di antara kami terasa lebih jauh daripada delapan tahun.
“Aku nggak tahu apakah aku bisa melanjutkan hubungan ini,” katanya.
Dadaku seperti dihantam, tetapi aku memaksa diri untuk tetap mendengar.
“Aku mengerti.”
“Jangan bilang mengerti kalau kamu berharap aku berubah pikiran.”
“Aku memang berharap. Tapi itu nggak membuat keputusanmu kurang sah.”
“Kalau aku nggak kembali?”
Pertanyaan itu hampir menghentikan napasku.
“Aku akan tetap menyesal. Aku akan tetap mencintaimu. Tapi aku nggak akan mengejarmu melewati batas yang kamu kasih.”
“Kamu bisa menjalankannya?”
“Aku nggak tahu apakah bisa tanpa gagal. Tapi kalau gagal, aku akan berhenti dan memperbaiki, bukan menyebut pelanggaran itu sebagai cinta.”
Untuk sesaat, wajah Evan melunak. Lalu jarak kembali ada.
Evan mengusap wajah. “Setiap kali melihatmu sekarang, aku memikirkan dua versi. Perempuan yang sedang berusaha jujur dan perempuan yang membiarkanku percaya aku bodoh.”
“Keduanya aku.”
“Itu masalahnya.”
Aku ingin mendekat, tetapi tidak berani tanpa izin.
“Apa yang kamu butuhkan?” tanyaku.
“Aku butuh bangun pagi tanpa memikirkan apakah perhatianmu hari ini akan berubah makna besok.”
“Aku nggak bisa memperbaikinya lewat janji.”
“Benar.”
“Jadi aku akan berhenti janji. Aku bakal lakuin apa yang kamu minta sekarang.”
Evan mengangguk kecil. Tidak ada pengampunan di sana, tetapi ada pengakuan bahwa aku akhirnya mendengar.
“Jarak.”
Satu kata itu menyakitkan, tetapi jelas.
“Apakah kita putus?” tanyaku.
“Kita belum pernah sepakat menyebutnya pacaran.”
“Aku tahu. Tapi kita eksklusif. Kita memilih melanjutkan.”
Evan menatap gantungan Saturnus. “Untuk sekarang, anggap itu berhenti.”
Aku merasakan kehilangan itu secara fisik. Tiga puluh hari, ciuman, makan malam, dan pagi di rumah Ibu tidak hilang, tetapi masa depan yang mulai kubayangkan mendadak tertutup.
“Oke,” kataku meski suaraku pecah.
“Berapa lama?”
“Aku nggak tahu.”
“Proyek kantor?”
“Kita selesaikan profesional. Di luar itu, jangan hubungi aku dulu.”
Aku mengangguk. “Oke.”
“Kamu nggak akan mengirim pesan panjang?”
“Nggak akan.”
“Nggak akan minta Alin bicara?”
“Sama sekali nggak.”
Evan terlihat seperti ingin percaya, tetapi belum bisa.
Aku berdiri. Di meja, Saturnus kecil menangkap cahaya lampu.
“Kamu mau mengembalikannya?” tanyaku.
“Aku belum tahu.”
“Apa pun yang kamu pilih, aku akan terima.”
Tanganku sudah berada di gagang pintu ketika Evan memanggil.
“Pevita.”
Aku menoleh.
“Ciuman kita nyata. Tiga puluh hari itu juga nyata. Aku nggak mau kebohonganmu menghapus semuanya, tapi sekarang aku nggak bisa memisahkannya.”
“Aku tahu.”
“Berhenti bilang itu.”
Aku menelan kata maaf yang hampir keluar lagi. “Aku akan pergi.”
Aku meninggalkan apartemennya tanpa menyentuhnya.
Di lorong, aku harus berhenti karena kaki terasa lemas. Aku ingin kembali, memeluknya, dan mengatakan bahwa kami terlalu dekat untuk berakhir begini. Keinginan itu bukan izin.
Aku masuk lift. Pintu hampir menutup ketika kulihat Evan masih berdiri di ambang apartemen. Dia tidak memanggil. Aku juga tidak menahan pintu.
Di lift, aku menangis tanpa suara. Perpisahan kami kali ini berbeda. Delapan tahun lalu aku memaksa Evan pergi supaya aku nggak perlu menghadapi pilihannya. Sekarang aku pergi karena dia meminta ruang, dan menghormati permintaan itu adalah satu-satunya bentuk cinta yang boleh kuberikan.
Sesampainya di mobil, aku menghapus undangan kencan berikutnya dari kalender. Aku tidak menghapus agenda lama. Hari-hari itu nyata, seperti kata Evan, dan aku tidak berhak menghilangkannya hanya karena akhirnya menyakitkan.
Sebelum menjalankan mobil, aku menulis di catatan pribadi: Aku ingin kembali ke atas. Aku memilih tidak melakukannya.
Untuk pertama kalinya, menahan diri bukan cara kabur. Itu cara menghormati jawabannya.
Di rumah, aku meletakkan ponsel jauh dari tempat tidur supaya nggak tergoda menghubunginya. Aku menangis sampai tertidur, tetapi tidak menyesali keputusan untuk pergi. Rasa sakit ini adalah konsekuensi, bukan keadaan darurat yang memberiku hak melanggar batas.
Pagi harinya, aku bangun dengan mata bengkak dan keinginan yang sama kuat untuk menelepon. Aku mandi, berpakaian, lalu pergi bekerja tanpa melakukannya. Setiap jam yang kulewati tanpa melanggar permintaannya terasa kecil, menyakitkan, dan perlu. Aku sedang belajar menerima batas yang dulu tak pernah kuberikan secara adil kepadanya saat itu dulu.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku reading
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi