Chapter Ten

Tiga Kesamaan

POV: Pevita

Pada kencan kedua, aku membawa daftar.

Evan melihat buku biru di tanganku lalu menghela napas. “Kita akan rapat?”

“Kita akan menyelesaikan tugas Alin.”

“Tugas apa?”

“Tiga kesamaan. Waktu kencan buta, kita baru menemukan dua.”

“Dijebak Alin dan sama-sama belum menikah.”

“Kamu ingat.”

“Aku mengingat banyak hal. Itu bukan bukti romantis.”

Kami sedang berjalan di toko buku besar setelah makan siang. Aku memilih tempat itu karena dulu kami sering mengerjakan tugas di perpustakaan, tetapi toko buku terasa lebih netral. Nggak ada meja tertentu yang menyimpan kenangan buruk.

“Kesamaan ketiga harus ditemukan secara alami,” katanya.

“Aku punya daftar kandidat.”

“Itu kebalikan dari alami.”

Aku membuka buku. “Kita sama-sama suka kopi.”

“Setengah Jakarta juga.”

“Sama-sama nggak suka terlambat.”

“Itu standar perilaku.”

“Sama-sama kenal Alin.”

“Itu musibah bersama, bukan kesamaan.”

Aku tertawa. “Kamu menolak semua.”

“Aku menjaga kualitas data.”

Kami berpencar di rak berbeda. Beberapa menit kemudian, aku menemukan Evan membaca buku tentang manajemen produk. Bahkan saat kencan, pilihannya tetap seperti materi kerja.

Aku memilih satu novel romansa dari meja rekomendasi dan menyerahkannya kepadanya. Sampulnya menampilkan pasangan yang berdiri membelakangi satu sama lain.

“Coba baca sinopsisnya,” kataku.

Evan membaca dua kalimat, lalu mengembalikan buku itu. “Konfliknya selesai kalau salah satu mengirim pesan.”

“Mungkin mereka takut.”

“Takut bukan alasan untuk membuat orang lain menebak.”

Aku menahan buku lebih erat. “Kadang orang berpikir diam adalah cara melindungi seseorang.”

“Orang yang dilindungi tetap berhak memilih.”

Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Bahwa waktu itu aku nggak melihat pilihan lain. Bahwa rumahku nyaris runtuh. Bahwa menerima cintanya terasa seperti menyeret dia masuk ke reruntuhan.

Namun kalau kujelaskan sekarang, di antara rak novel dan pengunjung yang lalu-lalang, itu akan terdengar seperti pembelaan yang terlambat.

“Kamu benar,” kataku.

Evan terlihat sedikit terkejut. “Nggak ada bantahan?”

“Aku sedang memperbaiki kebiasaan.”

Dia mengambil novel tadi dan memasukkannya ke keranjang belanja. “Aku akan cek apakah tokohnya benar-benar mengirim pesan.”

“Kamu membeli novel romansa?”

“Untuk verifikasi.”

“Tentu.”

Aku menyembunyikan senyum dan berjalan di sebelahnya.

“Kamu tahu toko ini juga menjual novel?” tanyaku.

“Aku tahu. Aku sengaja menghindarinya.”

“Kenapa?”

“Banyak tokohnya akan menyelesaikan masalah kalau bicara jujur sejak bab pertama.”

Aku menelan sindiran yang mungkin memang ditujukan kepadaku.

“Kalau semua jujur dari awal, novelnya pendek,” kataku.

“Hidup mereka lebih sehat.”

“Tapi nggak ada cerita.”

“Nggak semua rasa sakit harus dijadikan cerita bagus.”

Dia mengembalikan buku ke rak. Aku tahu percakapan kami sudah menyentuh batas yang belum dia izinkan untuk dilewati.

Kami pindah ke bagian alat tulis. Evan mengambil kalender meja, lalu langsung mengembalikannya setelah aku tertawa.

“Ada apa?”

“Kamu datang ke toko buku dan tertarik sama kalender.”

“Kalender berguna.”

“Aku bisa membayangkan apartemenmu. Semua barang sejajar, isi kulkas diberi label tanggal, AC terlalu dingin.”

“AC-ku normal.”

“Berapa derajat?”

“Dua puluh.”

“Itu tempat penyimpanan daging.”

Dia hampir tersenyum. “Kamu belum pernah datang.”

“Itu undangan?”

“Observasi.”

“Sayang sekali.”

Kami minum kopi di kafe dalam toko. Evan memesan pesananku sebelum aku sempat bicara: latte dengan satu shot tambahan.

“Kamu ingat,” kataku.

“Aku pernah dengar kamu memesannya minggu lalu.”

“Dan delapan tahun lalu.”

Dia nggak menyangkal, tetapi juga nggak membenarkan.

Aku memutar cangkir. “Kenapa kamu menerima kencan kedua?”

“Karena undangannya masuk jadwal.”

“Jawaban serius.”

“Aku belum pergi.”

Kalimat sederhana itu memberi harapan lebih besar daripada yang seharusnya.

“Aku senang kamu datang,” kataku.

“Aku dengar.”

“Aku juga senang ngobrol sama kamu.”

“Pevita.”

“Hm?”

“Kamu nggak harus melaporkan semua perasaan setiap lima menit.”

“Aku sedang memastikan nggak ada yang ambigu.”

“Ada perbedaan antara jelas dan membuat laporan berkala.”

Aku menutup wajah sebentar. “Aku buruk sekali dalam hal ini.”

“Kamu memimpin divisi komunikasi.”

“Itu komunikasi perusahaan. Perusahaan nggak menatapku seperti sedang mengaudit jiwaku.”

Evan tertawa. Bukan senyum kecil, melainkan tawa pendek yang benar-benar lepas. Suara itu membuat sesuatu di dadaku menghangat.

“Nah,” kataku. “Kesamaan ketiga. Kita sama-sama masih bisa tertawa kalau sedang bersama.”

“Terlalu subjektif.”

“Kamu barusan tertawa.”

“Satu data belum cukup.”

Kami meninggalkan kafe menjelang sore. Di eskalator menuju lantai dasar, gantungan Saturnus terlihat saat Evan mengambil kunci mobil. Aku memikirkan benda-benda yang kusimpan di apartemen: tiket seminar produknya, foto kelompok setelah presentasi, dan satu bungkus permen yang sudah kosong.

“Aku tahu kesamaan ketiga,” kataku.

Evan mengikuti tatapanku ke gantungan planet, lalu wajahnya menegang.

“Kita sama-sama belum bisa membuang benda lama.”

“Kamu nggak tahu apa yang kusimpan.”

Aku membuka dompet dan menarik foto kecil yang sudah mulai pudar. Foto kelompok setelah presentasi pertama. Aku berdiri di sebelah Evan sambil tertawa. Dia menatap kamera dengan wajah datar, tetapi bahunya menyentuh bahuku.

“Cuma ini?” tanyanya.

“Nggak.”

Aku menunjukkan tiket seminar produknya yang terselip di belakang foto. Kertasnya sudah menguning di ujung.

“Kamu menyimpan tiket?”

“Aku juga punya bungkus permen dari hari kelompok kita dibentuk.”

“Itu terdengar seperti gejala penimbunan.”

“Kamu mengganti cincin gantungan kunci dua kali.”

“Itu perawatan barang.”

“Kalau begitu punyaku dokumentasi sejarah.”

Evan menatap foto lagi. Kali ini sudut bibirnya bergerak.

“Aku bawa ini ke mana-mana,” kataku.

Evan menerima foto itu. Jarinya berhenti di ujung kertas yang terlipat.

“Untuk apa?”

Inilah titik ketika versi lamaku akan mencari alasan aman. Karena fotonya lucu. Karena dompetnya jarang dibersihkan. Karena lupa membuang.

Aku menatapnya dan memilih jawaban yang sebenarnya.

“Karena aku nggak pernah benar-benar melupakan kamu.”

Suara toko buku mengalir di sekitar kami. Evan mengembalikan foto itu perlahan.

“Aku nggak tahu harus jawab apa,” katanya.

“Kamu nggak harus jawab sekarang.”

“Kamu mengharapkan sesuatu?”

“Aku berharap kamu percaya bahwa kali ini aku serius. Tapi aku tahu harapan bukan kewajibanmu.”

Dia diam. Aku memasukkan foto itu kembali ke dompet dan memaksakan diri nggak mengisi keheningan.

Evan bisa pergi. Bisa menyudahi kencan dan mengatakan ini terlalu berat. Sebaliknya, dia berdiri di sampingku sampai eskalator membawa kami ke bawah.

Di pintu keluar, dia membuka payung ketika hujan mulai turun.

“Mobilmu di mana?” tanyanya.

“Basement sebelah timur.”

“Aku antar sampai lift.”

Kami berjalan di bawah satu payung. Bahunya sesekali menyentuh bahuku, tetapi dia nggak menjauh.

Di depan lift basement, kami berhenti. Pintu lift terbuka, tetapi aku nggak langsung masuk.

“Aku tahu pengakuanku mungkin bikin kamu nggak nyaman,” kataku.

“Bukan nggak nyaman.”

“Lalu?”

Dia melihat angka lantai di atas pintu, seolah jawabannya tertulis di sana. “Aku belum tahu apa yang bisa kupercaya.”

Itu bukan penolakan. Juga bukan penerimaan.

“Kalau begitu aku akan menunjukkan lewat tindakan,” kataku. “Tapi kalau suatu saat kamu ingin aku berhenti, bilang langsung. Aku akan berhenti.”

Evan menatapku. “Kamu benar-benar mau mengikuti jawaban yang mungkin nggak kamu suka?”

“Iya.”

Pintu lift hampir menutup. Aku menahannya dengan tangan.

“Sampai ketemu di kantor,” katanya.

“Dan di kencan berikutnya?”

“Kirim undangannya.”

Aku masuk ke lift sambil tersenyum. Pintu menutup sebelum dia melihat betapa leganya aku.

Di dalam mobil, aku nggak langsung menyalakan mesin. Tanganku masih gemetar sedikit setelah mengatakan sesuatu yang kusimpan delapan tahun. Tidak ada ledakan, tidak ada adegan dramatis, dan tidak ada jawaban cinta. Hanya Evan yang memilih tetap berada di bawah payung yang sama.

Aku membuka kalender dan membuat undangan baru, tetapi nggak langsung mengirimnya. Kali ini aku ingin memberi ruang tanpa berubah menjadi menghilang. Aku menyimpan drafnya dengan judul sederhana: Kencan Ketiga—kalau kamu masih mau.

Lalu kuhapus bagian terakhir.

Kencan Ketiga.

Kalau aku menginginkannya, aku harus berani mengatakannya tanpa mengecilkan keinginanku sendiri.

Aku menekan tombol kirim sebelum keberanianku sempat berubah pikiran.

Undangan itu diterima kurang dari satu menit kemudian.

Dia belum membalas pengakuanku.

Namun untuk pertama kalinya, aku mengatakan perasaanku tanpa kode, dan Evan tetap tinggal.