Chapter Twenty Nine
Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
POV: Pevita
Di bandara, aku memberi Evan cangkir Saturnusku untuk dipegang sementara aku mencari paspor. Dia memeriksa tas bagian luar yang tadi sudah kuperiksa dua kali, lalu mengembalikan paspor dari saku jaketku sendiri.
“Aku mau komentar,” katanya.
“Simpan buat panggilan Minggu.”
“Panggilan Minggu khusus evaluasi insiden paspor.”
Kami tertawa, lalu pengumuman penerbanganku terdengar. Tanganku dingin. Evan menggenggamnya sampai aku bisa melihat wajahnya tanpa sibuk memeriksa apakah dia menyesal datang.
“Aku takut kamu bakal berubah pikiran waktu aku di sana,” kataku.
“Aku juga takut kita bakal kesulitan. Itu bukan jadwal putus.”
“Aku telepon setelah sampai.”
“Kalau sudah istirahat. Bukan saat masih antre imigrasi cuma buat membuktikan sesuatu.”
Aku mencium pipinya, lalu berjalan menuju pemeriksaan. Aku menoleh sekali; dia masih di situ. Aku tidak memintanya berdiri sampai aku hilang dari pandangan. Dia tidak menyuruhku kembali. Kami membiarkan keberangkatan menjadi perjalanan kerja, bukan latihan ditinggalkan.
Tujuh minggu kemudian, aturan panggilan Minggu kami diuji oleh hal yang tidak pernah muncul di kalender: lelah. Tim baruku baru saja kehilangan satu anggota, dan aku harus memperbaiki materi presentasi untuk tiga negara. Pukul sepuluh malam, aku melihat dua panggilan Evan yang terlewat. Jadwal kami pukul delapan. Aku sudah menulis sebentar lagi, tetapi pesan itu tertahan sebagai draf ketika ponselku mati.
Sesudah mengisi daya, aku melihat foto dari acara peluncuran kantor Evan yang dikirim Alin ke grup keluarga. Nadine berdiri di sisinya, memegang papan penghargaan bersama. Aku tahu siapa Nadine. Aku juga tahu foto itu tidak menjelaskan apa-apa. Rasa cemburu tetap datang bersamaan dengan rasa bersalah karena dua panggilan terlewat.
Pesanku kepada Evan berbunyi: Maaf aku kelewatan jadwal. Baru selesai dan ponselku mati. Kamu masih bisa bicara sepuluh menit? Aku capek, tapi aku ingin dengar suaramu.
Dia menelepon. “Kamu aman?”
“Aman. Aku salah nggak ngabarin sebelum rapat tambahan. Aku kira cuma sebentar.”
“Aku menunggu dua jam. Aku jadi kesal.”
“Kamu berhak. Aku nggak akan bilang kamu lebay.”
Di layar, wajahnya tampak lelah juga. “Ada satu hal yang bikin aku tambah kesal. Aku melihat kamu aktif di dokumen kerja setengah jam lalu. Aku langsung berpikir kamu memilih pekerjaan daripada bicara denganku.”
“Aku memang masih bekerja. Tapi aku nggak memilih buat diam ke kamu. Aku ceroboh soal waktu dan baterai.”
“Aku tahu dua hal itu beda. Aku perlu dengar kamu bilang sendiri.”
Kalimat berikutnya nyaris tertahan. Aku memandang foto acara kantor sekali lagi. “Aku juga cemburu lihat fotomu sama Nadine. Ini bukan tuduhan. Aku cuma nggak mau menyimpan perasaan itu lalu bersikap aneh besok.”
Evan mengerutkan alis, lalu mengambil ponselnya yang lain untuk melihat foto tersebut. “Dia rekan di tim peluncuran. Kami dapat penghargaan buat proyek yang sama. Kamu mau aku ceritakan acaranya?”
“Mau. Tapi aku nggak minta kamu menjauh dari dia.”
“Bagus. Karena kami masih satu tim.”
Kami saling diam beberapa detik. Ini bagian yang paling mudah dihindari: dua orang sama-sama capek, sama-sama punya alasan, dan tetap harus memutuskan cara memperlakukan satu sama lain.
“Aku nggak sanggup ngobrol panjang malam ini,” kataku. “Besok jam tujuh waktu Jakarta aku kosong. Kamu mau lanjut saat itu?”
“Mau. Aku masih kesal, tapi aku nggak menghilang.”
“Aku juga nggak.”
Besoknya kami kembali ke percakapan itu. Aku memindahkan pengingat sepuluh menit sebelum panggilan rutin dan memberitahu Evan saat jam kerja akan berubah. Evan berjanji tidak menjadikan status aktif di dokumen sebagai bukti aku sengaja mengabaikannya. Kami tidak menghapus dua jam dia menunggu; kami membuat kebiasaan yang lebih baik dari kegagalan itu.
“Aku juga perlu bilang apa yang terjadi sesudah telepon semalam,” kata Evan. “Aku hampir menulis daftar semua jadwal yang pernah kamu geser. Aku ingin menang dengan angka.”
“Kamu jadi menulisnya?”
“Satu baris. Habis itu aku sadar aku nggak sedang mengaudit pekerjaan. Aku sedang takut bakal ditinggal tanpa pemberitahuan.”
Aku menggeser kursi supaya layar laptop sejajar wajahku. “Kalau aku menghilang tanpa bilang, kamu boleh marah. Kemarin aku salah. Tapi aku mau kamu bicara sama aku tentang kejadian kemarin, bukan mengumpulkan bukti buat memutuskan siapa aku selamanya.”
“Iya. Itu juga yang aku mau darimu kalau aku bikin kesalahan.”
Kami mengulang jadwal baru keras-keras, bukan karena jamnya sulit diingat. Aku ingin yakin kami benar-benar memilih kebiasaan itu berdua. Sebelum menutup panggilan, aku bertanya apakah dia masih ingin dengar ceritaku tentang pekerjaan. Dia menjawab mau, tetapi besok saja; malam ini dia perlu tidur. Aku tidak membaca penundaan itu sebagai hukuman.
Pada bulan ketiga, Evan datang ke Singapura untuk akhir pekan. Aku menjemputnya di stasiun dekat kantorku. Dia keluar membawa tas kecil dan satu kotak makanan ringan pesanan Raka untuk Ibu—titipan yang salah kota karena Raka mengira aku pulang minggu depan.
“Aku bisa bawa pulang lagi,” kata Evan.
“Bisa juga kita makan isinya dan pura-pura koper bandara yang salah.”
“Kamu berencana merekayasa laporan kehilangan makanan?”
“Cuma kalau kamu bersedia jadi saksi.”
Kami memilih membeli pengganti untuk Ibu dan memakan satu bungkus sambil berjalan. Di apartemen sewaku, cangkir Saturnus miring berdiri di samping laptop. Evan mengeluarkan cangkir pasangannya dari tas, dibungkus kaus agar tidak pecah.
“Kamu benar-benar membawa itu?”
“Laporan penggunaan cangkir harus diaudit di lokasi.”
Aku mencium sudut bibirnya. “Hasil awal?”
“Pemilik cangkir pertama lebih menarik daripada datanya.”
Dia menarikku kembali ketika aku hendak pura-pura tersinggung. Kami saling mencium di dekat rak sepatu, tertawa karena tasnya menghalangi pintu. Kali ini kedekatan tidak terasa seperti puncak yang harus kami capai untuk membuktikan LDR berhasil. Dia bertanya apakah aku ingin istirahat dulu; aku bilang aku ingin menutup pintu, menaruh tasnya, lalu menciumnya lagi. Kami melakukan tepat itu. Saat akhirnya berbaring berdampingan, obrolan kami justru tentang selimut apartemen yang terlalu tipis dan tempat makan siang besok.
Kunjungannya tidak seluruhnya mudah. Minggu pagi aku dipanggil kantor untuk masalah konferensi pers, padahal kami sudah berjanji pergi ke taman. Aku menatap layar ponsel terlalu lama, teringat perdebatan dua bulan sebelumnya.
“Aku perlu dua jam,” kataku. “Aku kecewa. Kamu boleh kecewa juga.”
“Aku kecewa,” jawabnya. “Kita bisa geser taman ke sore? Kalau masalahnya molor, kasih tahu sebelum dua jamnya habis.”
“Setuju.”
Masalahnya selesai lebih cepat. Kami sampai di taman saat matahari tidak lagi menyengat. Tidak ada foto dramatis untuk menandai bahwa hubungan kami kuat; kami hanya berjalan, membeli minum, lalu pulang dengan kaki pegal dan rencana bulan depan yang kami buat berdua.
Bulan kelima, atasanku mengundangku ke rapat yang kutunggu sekaligus kutakuti: evaluasi penempatan. Target tim terpenuhi, dan mereka menawarkan skema rotasi dua minggu di Jakarta, dua minggu di Singapura untuk tahap berikutnya. Jabatan serta tanggung jawab regionalku tetap. Tawaran tertulis masuk ke emailku siang itu.
Ada satu syarat yang hampir membuatku menjawab tidak: pemimpin tim Jakarta harus mengambil keputusan harian saat aku di Singapura, tanpa menunggu persetujuanku untuk hal kecil. Aku sempat membayangkan pekerjaan berantakan. Lalu aku meminta kepala operasi mempertemukanku dengan calon pemimpin itu. Kami menyelesaikan daftar kewenangan satu per satu. Aku tidak perlu berada di dua kota sekaligus agar posisiku tetap berarti.
Aku ingin menelepon Evan saat itu juga dan menyebutnya kejutan. Lalu aku teringat bahwa kejutan menyenangkan tetap bisa menjadi keputusan sepihak bila aku sudah menerima sebelum kami bicara. Aku meminta waktu dua hari untuk meninjau rincian. Malamnya aku mengirim pesan.
Pevita: Ada tawaran rotasi Jakarta–Singapura setelah penempatan enam bulan selesai. Belum kujawab. Mau kita baca bareng malam ini?
Evan: Mau. Jam delapan? Aku juga perlu cek jadwal kerjaku.
Di panggilan video, kami membahas waktu tempuh, minggu dengan rapat besar, dan rumah mana yang akan tetap kami pakai. Ada bulan ketika aku harus menukar urutan dua minggu; ada minggu ketika Evan tidak bisa bepergian sama sekali. Kami menulis kemungkinan itu di kalender, lalu menyisakan ruang untuk perubahan, bukan menyulap jadwal menjadi janji yang mustahil dilanggar.
“Aku ingin mengambil tawaran ini,” kataku. “Bukan karena takut pulang penuh waktu, tapi karena pekerjaanku di sini belum selesai.”
“Aku mendukungnya,” kata Evan. “Aku juga ingin kamu punya waktu di Jakarta yang bukan cuma menebus rasa bersalah karena kita berjauhan.”
“Dan kamu nggak harus mengorbankan pekerjaanmu setiap kali aku ada di Jakarta.”
“Bagus. Berarti kita masih boleh punya hari sibuk meski satu kota.”
Aku menerima skema itu keesokan harinya. Keputusan profesional tetap milikku; bentuk hidup bersamanya kami susun bersama. Ketika enam bulan pertamaku berakhir, aku mengemas cangkir Saturnus untuk dibawa pulang. Bukan sebagai tanda aku meninggalkan Singapura selamanya, melainkan karena dua minggu berikutnya aku akan memakainya di meja makan Evan.
Sebelum berangkat, aku menelepon Ibu dan Raka. Mereka sudah punya jadwal kontrol sendiri selama enam bulan terakhir dan tidak membatalkannya hanya karena aku kembali. Ibu malah bertanya apakah aku sempat mengajarinya memakai aplikasi panggilan video yang lebih sederhana. Aku bilang bisa hari Minggu. Tidak ada yang memintaku kembali menjadi satu-satunya penanggung jawab. Anehnya, itulah sambutan pulang yang paling hangat.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal reading
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi