Chapter Eight

Rekan Kerja, Tidak Lebih

POV: Pevita

Evan datang ke kantorku hari Jumat tepat pukul tiga, membawa laptop, dokumen cetak, dan jarak delapan tahun yang dipasang rapi di wajahnya.

“Selamat sore, Bu Pevita,” katanya di depan timku.

Bu Pevita.

Saat kuliah, dia memanggilku Vita kalau sedang kesal dan Pev kalau terlalu capek mengucapkan dua suku kata. Sekarang namaku terdengar seperti jabatan.

“Selamat sore, Pak Evan.” Aku membalas dengan senyum profesional. “Ruang rapatnya sudah siap.”

Alin yang berdiri di dekat pintu langsung menunduk, pura-pura memeriksa ponsel. Rasa bersalahnya bisa dilihat dari seberang ruangan.

Rapat berlangsung sempurna. Itu justru masalahnya.

Evan menanggapi setiap usulanku dengan data. Dia mengoreksi istilah teknis tanpa terdengar merendahkan, mengirim file sebelum kuminta, dan memastikan semua anggota tim mendapat kesempatan bicara. Dia memperlakukanku dengan hormat penuh—persis seperti orang lain.

Dulu, dia akan menggeser kopi menjauh dari laptopku karena tahu tanganku ceroboh. Akan menyelipkan komentar kering saat aku terlalu serius. Akan menangkap tanda kecil bahwa aku belum makan.

Sekarang, saat aku hampir menumpahkan air, dia cuma menunggu staf membersihkannya.

Aku baru sadar kehilangan perhatian Evan lebih menyakitkan daripada kalau dia marah.

“Ada revisi untuk key message kedua?” tanyaku.

“Ada.” Dia memutar layar. “Kalimatnya menjanjikan proses instan, padahal verifikasi bisa sampai dua puluh empat jam.”

“Kalau diganti ‘lebih cepat’?”

“Bisa, selama nggak pakai angka.”

“Baik. Kami revisi.”

Percakapan kami terdengar seperti milik dua orang yang baru dikenalkan lewat email.

Rapat selesai pukul empat lewat dua belas. Anggota tim keluar satu per satu. Alin sengaja menjadi orang terakhir, lalu berubah pikiran ketika melihat tatapanku.

Sebelum pergi, salah satu stafku memuji cara Evan menjelaskan batas produk tanpa membuat tim kreatif merasa disalahkan. Staf lain bilang koordinasi proyek ini akan mudah karena counterpart kami sangat responsif. Aku mengangguk dan mencatat semua masukan seperti atasan yang normal.

Mereka nggak tahu bahwa dulu aku pernah melihat Evan mengerjakan tugas sampai tangannya gemetar karena kurang tidur. Mereka cuma mengenal lelaki yang datang dengan jabatan bagus, pakaian rapi, dan jawaban yang selalu siap. Aku mengenal perjalanan menuju semua itu—atau setidaknya pernah merasa mengenalnya.

Sekarang, bahkan untuk menanyakan apakah dia sudah makan, aku nggak punya hak yang jelas.

“Saya... mau mengecek materi dulu,” katanya.

“Di luar,” jawabku.

“Iya, Mbak.”

Pintu tertutup. Tinggal aku dan Evan.

Dia memasukkan charger ke tas. “Notulennya tolong dikirim hari ini.”

“Van.”

Tangannya berhenti, tetapi dia nggak menoleh. “Kalau soal proyek, panggil Evan juga nggak masalah.”

“Aku bukan mau bahas proyek.”

“Kalau begitu, waktunya kurang tepat.”

Aku menahan napas. “Kapan waktu yang tepat?”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu bahkan nggak mau melihatku.”

Evan akhirnya menatapku. Wajahnya tetap tenang. “Aku melihatmu sepanjang rapat.”

“Kamu tahu maksudku.”

“Masalah kita memang selalu soal maksud yang nggak diucapkan.”

Kalimat itu tepat mengenai tempat yang paling sakit.

“Tentang malam itu—”

“Kencan buta kita sudah selesai.”

“Aku bicara soal delapan tahun lalu.”

“Itu juga sudah selesai.”

Dia mengucapkannya tanpa marah, lalu berdiri. Aku lebih siap menghadapi tuduhan daripada ketenangan semacam ini.

“Aku minta maaf,” kataku.

“Aku dengar.”

“Cuma itu?”

“Kamu mau aku bilang apa?”

Aku nggak punya jawaban yang pantas. Selama bertahun-tahun, aku membayangkan pertemuan kami. Dalam semua versi, Evan marah dan aku menjelaskan semuanya. Nggak pernah kubayangkan dia baik-baik saja tanpa membutuhkan penjelasanku.

“Notulennya kukirim sebelum jam enam,” kataku akhirnya.

“Makasih.”

Dia pergi.

Aku tetap di ruang rapat sampai suara langkahnya nggak terdengar lagi. Di meja, dia meninggalkan satu lembar koreksi dengan tulisan tangan kecil dan rapi. Dulu, di pojok kertas seperti itu, dia sering menggambar wajah datar kalau revisiku terlalu banyak. Sekarang nggak ada apa-apa selain catatan kerja.

Aku melipat kertas itu, lalu membukanya lagi karena merasa bodoh. Benda itu bukan kenang-kenangan. Itu dokumen proyek.

Alin masuk tiga puluh detik kemudian sambil membawa dua kopi. “Mbak baik-baik aja?”

“Kenapa semua orang menanyakan itu setelah aku bertemu kakakmu?”

“Karena jawaban kalian biasanya kelihatan bohong.”

Aku menatapnya. Alin segera menyodorkan kopi sebagai perisai.

“Aku benar-benar nggak tahu kalian pernah dekat,” katanya. “Kak Evan nggak pernah cerita.”

“Aku juga nggak pernah cerita.”

“Kenapa?”

“Karena aku pengecut.”

Alin terdiam.

Aku menceritakan bagian yang boleh dia tahu: kami teman kuliah, Evan mengungkapkan perasaan, dan aku menolaknya dengan cara buruk. Aku nggak menceritakan utang, Ibu, atau kebohongan yang sebenarnya. Itu tetap harus kudengar langsung oleh Evan, kalau suatu hari dia mau.

“Mbak masih suka Kak Evan?” tanya Alin.

Aku melihat pintu yang baru saja dilewatinya. “Pertanyaanmu sangat nggak profesional.”

“Saya tanyanya sebagai adik.”

“Lebih nggak profesional lagi.”

Alin menunggu.

“Iya,” jawabku. “Masih.”

Mengatakannya keras-keras membuat dadaku terasa lebih ringan sekaligus lebih takut.

“Terus mau gimana?”

Refleks pertamaku adalah bilang tidak akan melakukan apa-apa. Evan sudah punya hidup. Aku nggak berhak mengganggunya. Kalimat-kalimat itu terdengar mulia dan sangat mirip alasan yang kupakai delapan tahun lalu.

Aku sudah tahu ke mana alasan itu membawa kami.

“Aku akan bicara sama dia,” kataku.

Alin duduk di kursi seberang. “Sebagai adik, aku harus bilang Kak Evan susah percaya sama orang. Bukan cuma Mbak. Setelah kuliah, dia beberapa kali dikenalkan teman, tapi selalu mundur kalau situasinya mulai serius.”

Rasa bersalah menusuk pelan. “Karena aku?”

“Aku nggak tahu. Kak Evan nggak pernah menyalahkan siapa pun. Dia cuma selalu bilang jangan berasumsi.”

Kalimat itu terdengar seperti aturan hidup yang dibangun dari satu malam di taman kampus.

“Aku nggak akan minta kamu membantu,” kataku.

“Saya belum menawarkan.”

“Wajahmu sudah menyusun rencana.”

Alin menutup mulut, ketahuan.

“Ini harus aku lakukan sendiri,” lanjutku. “Kalau Evan menolak, itu juga jawaban yang harus kuterima.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk, Alin terlihat lega. “Oke. Tapi kalau butuh foto Kak Evan yang bagus, saya punya.”

“Foto SIM?”

“Mbak tahu?”

Aku tertawa. Rupanya beberapa ancaman keluarga memang bertahan lintas waktu.

“Mbak baru saja bicara.”

“Bukan soal masa lalu. Soal sekarang.”

Malamnya, aku membuka percakapan Evan di ponsel. Tidak ada satu pun pesan pribadi sejak kencan buta. Semua komunikasi kami tersimpan di grup proyek dan email formal.

Aku mengetik: Kamu sudah makan?

Kuhapus. Terlalu mirip sinyal lama.

Aku mengetik: Kalau Sabtu kamu kosong, mungkin kita bisa minum kopi.

Kuhapus lagi. Kata mungkin memberi terlalu banyak ruang untuk kabur.

Akhirnya, aku menutup ponsel tanpa mengirim apa pun.

Namun kali ini aku tidak memutuskan untuk menghilang. Aku cuma butuh satu malam untuk belajar mengatakan apa yang kuinginkan tanpa meminta Evan menebak.

Aku membuka buku biru dan menulis satu kalimat di halaman baru: Jangan putuskan jawabannya sebelum kamu bertanya.

Besoknya, kalimat itu kubawa ke kantor.

Sepanjang pagi, aku beberapa kali melihat Evan lewat di layar grup proyek. Jawabannya selalu cepat, sopan, dan secukupnya. Saat aku mengirim revisi key message, dia membalas bahwa versi baru sudah akurat. Tidak ada pujian tambahan, tetapi juga nggak ada dinding yang sengaja ditinggikan.

Aku menyadari pengejaran ini nggak boleh berupa serangan besar yang memaksanya memberi jawaban. Yang harus kulakukan justru hal paling sulit: hadir konsisten, berkata jelas, lalu membiarkan dia menentukan langkahnya sendiri.

Untuk memulainya, aku menutup buku biru, berjalan ke ruang rapat berikutnya, dan memutuskan akan mengajaknya makan setelah agenda kerja kami selesai. Bukan “kalau sempat”, bukan “mungkin”, dan bukan alasan membahas proyek.

Aku juga berjanji nggak akan memakai Alin sebagai perantara. Evan harus mendengar keinginanku dari mulutku sendiri, dan dia harus bebas menolaknya tanpa tekanan keluarga atau pekerjaan. Pikiran itu tetap menakutkan, tetapi rasa takut bukan lagi izin untuk membuat keputusan atas namanya.

Kalau gagal, setidaknya kali ini Evan akan menerima kebenaran, bukan teka-teki yang kususun demi melindungi diri sendiri.

Itu sudah cukup.