Chapter Twenty Seven
Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
POV: Pevita
Tiga hari setelah kami sepakat berpacaran, aku masih menyimpan undangan makan malam dari Evan seperti orang yang baru belajar bahwa kabar baik juga bisa bertahan setelah dibaca ulang.
Judulnya Makan di rumah. Menu belum lulus uji coba. Kali ini aku membalas lewat kalender: Aku datang. Tolong jangan masak sesuatu yang perlu izin bangunan. Dia menjawab dengan satu emoji api. Dari Evan, itu ancaman yang cukup spesifik.
Aku datang membawa buah dan pakaian ganti karena dia menawarkan aku menginap. Kami sudah bicara siang tadi: tawarannya bukan kewajiban untuk apa pun, dan aku boleh pulang kapan saja. Aku tetap gugup. Selama delapan tahun, menginap di tempatnya adalah sesuatu yang bahkan tidak berani kubayangkan tanpa segera menyuruh diri sendiri berhenti.
Di dapur, Evan sedang menatap loyang seperti menunggu pengakuan kejahatan. “Aku ikuti resepnya,” katanya.
“Resep apa?”
“Yang nggak bilang ikan bisa lengket permanen.”
Aku mengambil spatula. Bagian bawah ikan nyaris menyatu dengan loyang, tapi dagingnya masih bisa diselamatkan. Kami bekerja berdua. Dia memotong bagian yang gosong, aku membuat saus dari apa yang tersisa di kulkas. Makan malam kami akhirnya berupa nasi, ikan yang penampilannya patut dirahasiakan, dan mentimun yang sengaja kuiris terlalu rapi agar satu unsur hidangan tampak terencana.
“Kita bisa pesan makanan lain,” kataku.
“Ini masih layak dimakan.”
“Itu penilaian dari orang yang pernah menyebut roti kedaluwarsa sebagai tantangan.”
Evan mencicipi suapan berikutnya, lalu mengambil ponsel. “Oke. Aku cabut pendapatku.”
Kami memesan mi untuk dibagi dan menaruh hasil masakan di wadah. Dia bilang sisanya akan menjadi makan siangnya besok. Aku menawarkan memasakkan sesuatu sebagai pengganti. Dia menggeleng.
“Aku mau kita bisa gagal masak tanpa ada yang merasa harus memperbaiki malamnya,” katanya.
Aku menaruh sendok. Dulu aku akan diam-diam membeli hidangan lebih bagus lalu mengatakan kami tidak butuh yang gagal. Sekarang aku membiarkan ikan jelek itu punya tempat di kulkasnya. Ternyata hubungan yang aman juga memberi tempat untuk hal yang tidak sempurna.
Sesudah makan, kami membersihkan dapur. Air dari keran mengenai lengan bajuku; Evan mengambil lap tanpa menyentuhku, lalu bertanya, “Boleh?” Aku mengangguk. Dia mengeringkan tanganku, jari demi jari, sampai gerakannya tak lagi punya hubungan dengan air.
“Kamu sengaja lama,” kataku.
“Aku lagi memeriksa kualitas pengeringan.”
“Hasilnya?”
“Perlu pemeriksaan ulang.”
Aku meraih kerah kausnya, memberi waktu dia menghindar. Evan justru mendekat. Ciuman itu berbeda dari tiga hari lalu. Tidak ada urgensi untuk memastikan kami kembali; kami sudah mengatakan itu. Sekarang aku bisa menyukai panas mulutnya, tangannya di pinggangku, dan jeda kecil ketika dia memastikan aku tetap mendekat atas kemauanku sendiri.
Kami berpisah untuk bernapas. Evan menempelkan dahinya pada dahiku. “Aku mau tanya sesuatu sebelum kita makin jauh.”
“Tanya.”
“Kamu ingin malam ini seperti apa? Jangan jawab berdasarkan yang kamu kira aku harapkan.”
Kalimat itu mengembalikan berat ke kakiku. Aku memikirkan tas berisi pakaian ganti, kamar yang pernah kutinggalkan dengan menangis, dan keinginanku yang tidak lagi perlu kusembunyikan untuk melindungi siapa pun.
“Aku ingin menginap,” kataku. “Aku ingin dekat sama kamu. Lebih dekat dari terakhir kali. Tapi kalau kita berhenti di tengah, aku nggak mau kamu menganggap aku berubah pikiran soal kita.”
“Nggak akan.”
“Kamu?”
“Aku juga ingin kamu. Kalau kamu nyaman, aku ingin kita melanjutkan. Tapi aku mau bisa bilang berhenti tanpa kamu mengira aku mencabut pilihanku.”
“Bisa. Kamu boleh berhenti kapan saja.”
Kami diam sebentar. Pembicaraan itu tidak mengurangi keinginan. Justru membuatku berani mengakui besarnya.
“Aku takut jadi terlalu ingin tinggal,” kataku.
Evan menyentuh sisi wajahku. “Tinggal malam ini bukan utang buat selamanya. Besok kamu boleh pergi bekerja, pulang ke rumahmu, terbang ke Singapura nanti. Aku nggak akan mengartikan setiap keberangkatan sebagai kamu meninggalkan aku.”
“Aku juga nggak akan memutuskan kamu bakal lebih baik tanpa aku kalau keadaan sulit.”
Dia mencium pelipisku. “Bagus. Karena dulu kamu salah besar soal itu.”
“Aku tahu. Aku masih belajar.”
“Aku juga.”
Aku tidak menjawab dengan janji. Aku menggandengnya ke ruang tengah. Kami duduk berdekatan, membuka tas kecilku, dan aku menunjukkan obat rutin yang perlu kuminum malam itu. Pernah ada masa ketika mengatakan kebutuhan sekecil itu saja membuatku takut tampak merepotkan. Evan mengambil air, lalu bertanya jam berapa aku biasanya tidur. Dia tidak mengambil alih; dia memberiku apa yang kuminta.
Saat kembali ke sofa, aku yang menciumnya lebih dulu. Evan menarikku ke pangkuannya, cukup pelan sampai aku bisa memilih tempat dudukku sendiri. Tangannya hangat di punggungku. Aku membuka kancing paling atas bajuku karena gerah, lalu menangkap matanya yang sengaja menunggu di wajahku.
“Aku boleh lihat kamu?” tanyanya.
“Boleh.” Aku tersenyum gugup. “Tapi jangan bikin presentasi temuan.”
“Nggak ada slide malam ini.”
“Sayang,” kataku ketika dia masih menatap wajahku, “aku sengaja bawa pakaian ganti, tapi aku nggak berencana buru-buru memakainya.”
Dia mengembuskan napas, tertawa pelan. “Itu pernyataan atau ancaman?”
“Undangan. Eksplisit, sesuai peraturan rumah ini.”
“Kalau begitu, aku terima.” Dia mencium sudut mulutku lebih dulu, seperti masih memberiku kesempatan untuk menarik ucapanku. Aku justru menariknya lebih dekat dan mengambil ciuman yang sebenarnya kuinginkan.
Tangannya bergerak dari punggung ke pinggangku. Lewat kain bajuku, sentuhan itu sudah cukup membuatku kehilangan urutan kalimat yang tadi kusiapkan. Aku memegang pergelangan tangannya, menuntunnya untuk tetap di sana, lalu merasakan dia berhenti sebentar.
“Di sini?” tanyanya.
“Di situ. Aku suka kalau kamu pegang aku begitu.”
Tatapannya berubah. Evan yang biasanya menyusun jawaban paling aman kini tampak kehabisan alasan untuk berpura-pura tenang. Aku menyukai bahwa dia membiarkanku melihatnya.
“Kamu terus menatapku,” bisikku.
“Aku sudah minta izin.”
“Izin melihat, bukan izin berhenti mencium.”
“Permintaan tambahan diterima.”
Dia menciumku lagi. Kali ini lebih lama, sampai punggungku menempel pada sandaran sofa dan aku sadar aku telah menarik kausnya kusut di antara jemari. Ciuman Evan turun ke pipi, ke bawah telinga, lalu ke leherku. Aku menarik napas keras. Dia mengangkat wajah untuk melihat reaksiku, dan aku hampir kesal karena dia berhenti tepat ketika aku ingin dia terus.
“Jangan berhenti karena aku bersuara,” kataku.
“Aku berhenti buat memastikan itu suara yang bagus.”
“Bagus. Sekarang kembali.”
Dia tertawa di kulit leherku sebelum menurut. Aku merasakan hangat tangannya di pinggangku, kemudian di punggung saat dia menarikku lebih dekat. Aku yang menggeser kancing kedua bajuku. Dia tidak langsung menyentuh bagian yang terbuka; dia menunggu mataku bertemu matanya.
“Aku ingin kamu,” kataku. “Bukan karena aku takut kamu berubah pikiran besok. Aku menginginkanmu malam ini.”
Senyumnya lenyap, digantikan sesuatu yang lebih telanjang daripada tubuh kami. “Aku juga ingin kamu. Dari tadi aku berusaha menjaga kalimatku tetap masuk akal.”
“Kamu boleh berhenti masuk akal sebentar.”
“Kamu akan mengutipnya saat aku salah beli beras.”
“Pasti.”
Kami berdiri sambil masih berciuman. Di lorong menuju kamarnya, aku tersandung ujung karpet dan Evan menahan pinggangku. Kami sama-sama tertawa, napas kami bercampur, lalu aku berjalan di depannya sambil menggenggam tangannya. Aku tidak sedang dibawa ke tempat yang tak kukenal. Aku tahu ke mana aku ingin pergi dan dia mengikutiku karena ingin berada di sana.
Lampu di samping ranjang kubiarkan menyala. Evan duduk di tepi kasur, menunggu sementara aku melepas jam tangan dan menaruhnya di meja kecil. Benda-benda biasa itu membuat malam terasa nyata, bukan adegan yang harus kami mainkan dengan sempurna. Saat aku berdiri di antara lututnya, dia meletakkan tangannya di sisi tubuhku dan mendongak.
“Masih mau aku lanjut?” tanyanya.
“Mau. Tapi cium aku dulu.”
Dia menurut. Aku membantu menarik kausnya melewati kepala, lalu berhenti untuk memandangnya. Selama ini aku hafal ekspresi Evan ketika menahan marah dan ketika berusaha tampak biasa saja. Melihatnya sekarang, rambut berantakan dan napas tidak teratur, membuat dadaku sesak oleh rasa ingin tinggal yang tidak perlu kubela.
“Sekarang kamu yang menatap,” katanya.
“Aku baru dapat izin?”
“Kamu bisa minta.”
“Boleh aku lihat kamu, Van?”
“Boleh. Mendekat juga boleh.”
Aku duduk di sisinya. Ketika dia menyentuh kulit punggungku di bawah tepi bajuku, tubuhku gemetar. Dia segera menarik tangan sedikit. Aku menahannya, bukan memaksa, hanya memberi tahu bahwa aku tetap di sini.
“Takut?”
“Sedikit,” kataku. “Aku tetap mau. Pelan dulu.”
“Pelan.”
Aku menyentuh pipinya, lalu menariknya kembali. Kami saling membantu melepaskan pakaian yang menghalangi, satu pilihan setelah pilihan lain. Sebuah kancing tersangkut dan kami terpaksa berhenti untuk membebaskannya; aku tertawa di tengah rasa gugup, dan Evan mencium telapak tanganku seolah kegagalan kecil itu layak dirayakan. Saat aku merasa terlalu terlihat, aku ingin menarik selimut sampai ke dagu. Dia tidak menahan tanganku.
“Kita bisa redupkan lampunya,” katanya.
Aku menatapnya, lalu melepaskan ujung selimut. “Biarkan menyala. Aku cuma perlu sebentar.”
Dia memberi aku waktu. Tidak ada tatapan yang menilai. Ketika aku kembali mendekat, kehangatan di matanya membuatku ingin dia melihat semuanya: keberanianku, rasa takutku, dan keputusan yang tidak lagi kuambil demi melindungi kami dari perasaan sendiri.
“Kamu cantik,” katanya, begitu lirih sampai nyaris tertutup suara hujan di luar.
“Aku tahu kamu akan bilang begitu.”
“Kamu percaya?”
“Aku sedang belajar.” Aku meraih tangannya dan meletakkannya di pinggangku. “Sekarang jangan jauh-jauh.”
Dia menarikku ke dalam ciuman yang lebih dalam. Aku membalas tanpa menyembunyikan suara ketika bibirnya menyusuri leherku dan tangannya bergerak di kulit punggungku. Ada saat aku ingin lebih cepat, lalu ada saat aku perlu memperlambatnya. Aku mengatakannya. Evan mendengarkan, dan beberapa kali dia juga menunjukkan gerakan yang membuatnya nyaman. Kami tidak sedang mengikuti naskah yang salah satunya harus pahami dari tatapan.
Saat dia bertanya lagi, jawabanku tidak tersendat. “Aku mau, Van. Aku mau lebih dekat.”
“Aku juga,” katanya. “Kalau ada yang nggak nyaman, bilang.”
“Aku bakal bilang.”
Di bawah cahaya lampu yang lembut, aku merasakan seprai bergeser dan napas Evan yang tidak lagi tertahan ketika aku menyebut namanya dekat telinganya. Aku memilih untuk tetap melihat wajahnya. Dia memilih tetap melihatku, bahkan saat sesekali rasa malu membuat kami tertawa lalu saling mencari lagi.
Ketika aku butuh berhenti sebentar, Evan berhenti. Dia mengambilkan air dan duduk di sebelahku tanpa bertanya apakah ada yang salah. Aku minum beberapa teguk, lalu menaruh gelas dan memegang wajahnya.
“Aku cuma perlu napas,” kataku. “Aku masih mau kamu di sini.”
“Aku di sini.”
“Aku tahu. Sekarang aku mau lanjut.”
Dia menunggu sampai aku menariknya mendekat. Keinginan itu tumbuh lagi tanpa tergesa, di antara ciuman yang tidak dihitung dan sentuhan yang kubalas dengan aktif. Kami tetap bersama di dalam setiap perubahan ritme, sampai aku tidak lagi memikirkan bagaimana seharusnya malam ini berlangsung. Yang kurasakan hanya bahwa aku dapat meminta, memberi, berhenti, dan kembali tanpa kehilangan dirinya. Keinginanku tidak perlu ditebak. Keinginannya juga tidak.
Setelahnya aku berbaring dengan pipi di dadanya. Kamar itu tidak berubah menjadi tempat ajaib. AC masih terlalu dingin, ada suara kendaraan dari jalan, dan salah satu bantalnya jatuh. Justru hal-hal biasa itu yang membuatku percaya aku benar-benar ada di sana.
“Kedinginan?” tanyanya.
“AC kamu kayak punya dendam pribadi.”
Dia meraih pengatur suhu. “Aku bisa mematikan.”
“Turunin anginnya aja. Aku masih mau alasan buat dekat.”
“Kamu sekarang cukup terang-terangan.”
“Aku belajar dari aturan yang nyebelin.”
“Aturan itu berhasil.”
Aku mengangkat kepala. “Kamu baik-baik aja?”
“Aku senang. Aku juga capek. Dua laporan ini nggak saling membatalkan.”
Aku tertawa sampai dahiku menyentuh bahunya. Lalu aku bertanya lagi, lebih pelan, “Ada bagian tadi yang bikin kamu merasa harus melanjutkan karena takut aku kecewa?”
“Nggak. Aku memilih semuanya. Makasih udah berhenti saat aku minta.”
“Aku akan selalu berhenti.”
“Jangan jadikan itu janji yang harus terdengar heroik,” katanya. “Cukup dengar kalau aku bilang.”
“Kamu juga boleh bilang kalau besok butuh waktu sendiri,” kataku. “Aku mungkin sedih, tapi aku nggak akan langsung mengartikan itu penyesalan.”
“Besok aku mau sarapan sama kamu,” katanya. “Setelah itu aku harus bekerja dua jam. Kalau kamu mau pulang, bilang. Kalau mau tinggal dan baca buku di sofa, boleh.”
Aku menatapnya. Selama ini kata tinggal bagiku berarti menyerahkan seluruh ruang pribadi sampai orang lain merasa terbebani. Dia baru saja menawarkan tempat tanpa menghapus jadwalnya sendiri. Aku bisa menerimanya tanpa menjadikan satu pagi sebagai janji seumur hidup.
“Aku mau baca di sofa,” kataku. “Tapi aku akan pakai selimut, karena pengatur suhu rumah ini jelas disetel oleh beruang kutub.”
Evan menarik selimut lebih tinggi untuk menutup kakiku. “Permintaan dicatat. Keluhan tentang AC akan masuk rapat mingguan.”
Aku mengangguk. Kami bicara tentang keberangkatanku minggu depan, tentang baju yang harus kucuci besok, dan kapan dia akan mampir membantu memeriksa koper—kalau aku memang ingin dibantu. Aku bilang iya, tetapi hanya untuk memilih adaptor perjalanan. Dia setuju tanpa memperluas tugasnya ke seluruh hidupku.
Ponselku menunjukkan tengah malam. Aku bisa pulang sekarang, menghindari pagi yang mungkin membuat keintiman ini terasa terlalu besar. Tanganku bergerak ke tepi ranjang, mencari tas.
Evan melihatnya. “Kamu mau pulang?”
Aku berhenti. “Aku sempat mikir begitu. Bukan karena ingin pergi. Aku takut besok rasanya beda.”
“Besok mungkin beda. Kita bisa sarapan dan bicara kalau ada yang terasa aneh.”
“Kamu mau aku tinggal?”
“Mau. Itu undangan, bukan tes.”
Aku berbalik menghadapnya dan menarik selimut sampai bahu. “Kalau begitu aku tinggal.”
Dia menaruh ponsel di meja, lalu memberiku bagian bantal yang tadi jatuh setelah membersihkan sarungnya. Aku masih takut pada hal-hal yang belum terjadi, tetapi malam itu aku tidak pergi mendahuluinya. Evan mematikan lampu setelah bertanya apakah aku nyaman. Dalam gelap, tangannya mencari tanganku; kali ini aku menggenggamnya sampai kami tertidur.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi reading
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi