Chapter Fourteen

Lelaki yang Berhenti Menatapku

POV: Pevita

Aku bertemu Nadine pada hari kedua puluh masa percobaan, di acara networking perusahaan yang seharusnya hanya berisi presentasi, makan malam, dan percakapan profesional yang cepat dilupakan.

Sejak siang, Evan cuma mengirim satu pesan yang mengatakan dia akan datang langsung dari kantor. Aku membalas dengan foto pilihan dua gaun. Dia memilih hitam dengan alasan sederhana: dia ingin melihatku memakainya.

Aku membaca pesannya lima kali, lalu mengganti pakaian tiga kali sebelum kembali pada pilihan hitam. Di perjalanan, aku mengingatkan diri bahwa acara itu bagian dari pekerjaan. Evan boleh bicara dengan siapa pun. Masa percobaan kami bukan kepemilikan, dan ketertarikannya kepadaku nggak menghapus seluruh perempuan di ruangan.

Semua pemikiran dewasa itu lenyap saat melihat tangan Nadine di lengannya.

Dia berdiri di samping Evan ketika aku masuk ke ballroom. Tinggi, elegan, dan mengenakan gaun hijau gelap yang membuat semua orang lain terlihat kurang usaha. Tangannya menyentuh lengan Evan saat mengatakan sesuatu. Evan menunduk untuk mendengar, lalu tersenyum.

Perutku langsung terasa nggak nyaman.

Alin mengikuti arah pandangku. “Itu Mbak Nadine.”

“Aku nggak tanya.”

“Saya juga belum menjelaskan.”

“Itu bagus.”

Alin menggigit bibir supaya nggak tertawa. “Dia rekan bisnis. Dulu pernah dikenalkan ke Kak Evan sama Mas Dimas.”

Aku menoleh terlalu cepat. “Dikenalkan buat apa?”

“Mbak tahu buat apa.”

“Mereka pernah pacaran?”

“Setahu saya nggak.”

Jawaban itu seharusnya cukup. Namun Evan kembali tertawa saat Nadine mengatakan sesuatu, dan kecemburuan yang sudah kusepakati untuk kuucapkan terasa jauh lebih sulit ketika harus benar-benar dikeluarkan.

Evan melihatku beberapa detik kemudian. Tatapannya turun singkat ke gaun hitam yang kupakai, lalu kembali ke wajahku. Dulu aku mungkin akan menganggap itu pujian. Sekarang aku menunggu kata-kata.

Dia berjalan menghampiri bersama Nadine.

“Pevita, ini Nadine,” katanya. “Nadine, Pevita. Project lead komunikasi.”

Project lead. Bukan perempuan yang sedang dikencaninya selama dua puluh hari.

Nadine mengulurkan tangan. “Akhirnya ketemu. Evan beberapa kali menyebut tim komunikasinya sangat kompeten.”

“Semoga bukan cuma itu yang dia bilang.”

Kalimat itu lolos sebelum sempat kusaring. Evan mengangkat alis. Nadine justru tersenyum.

“Saya yakin ada konteks yang saya lewatkan,” katanya.

“Ada,” jawab Evan. “Tapi bukan tanggung jawabmu.”

Nadine tertawa, lalu pamit menyapa klien lain. Sikapnya hangat, nggak genit, dan sama sekali nggak pantas dijadikan musuh. Itu membuat kecemburuanku terasa lebih memalukan.

Seorang kolega menarik Evan ke kelompok lain. Aku menjalani tiga percakapan sambil terus sadar di mana dia berdiri. Nadine beberapa kali kembali ke kelompoknya. Mereka jelas nyaman dan punya lelucon kerja yang nggak kupahami.

Rasa takut lamaku menemukan bentuk baru. Dulu aku merasa nggak pantas menerima Evan karena hidupku berantakan. Sekarang aku bertanya apakah dia akan lebih mudah bersama perempuan yang nggak membawa sejarah buruk.

Saat Evan melewatiku, dia berhenti dan menyerahkan sepiring makanan tanpa mentimun.

“Kamu belum makan.”

“Dua canapé termasuk makan.”

“Nggak menurut tubuh manusia.”

Perhatian kecil itu dilakukan di tengah ruangan penuh orang, tanpa terlihat romantis bagi siapa pun selain kami.

“Kamu baik-baik aja?” tanya Evan.

Jawaban otomatis sudah sampai di ujung lidah. Aku menelannya.

“Aku cemburu,” kataku.

Evan menatapku tanpa berkedip. “Sekarang?”

“Iya. Sama Nadine.”

Sudut bibirnya naik. “Kenapa?”

“Karena dia cantik, kelihatan nyaman sama kamu, dan Alin bilang kalian pernah dijodohkan.”

“Dikenalkan.”

“Bedanya tipis.”

“Kami makan malam dua kali.”

Dadaku mengencang. “Dua kali?”

“Makan malam pertama untuk kenalan. Kedua untuk sepakat bahwa kami lebih cocok jadi rekan kerja.”

“Kenapa harus dua kali buat menyimpulkan itu?”

“Data satu pertemuan belum cukup.”

Aku memelototinya. Dia jelas menikmati ini.

“Kamu sengaja membuatku kesal.”

“Aku sedang menikmati kejujuranmu.”

“Itu terdengar sadis.”

Evan mendekat setengah langkah. “Aku nggak berkencan dengan Nadine. Aku nggak tertarik secara romantis kepadanya. Selama tiga puluh hari ini, satu-satunya perempuan yang kukencani adalah kamu.”

Kebisingan ballroom terasa menjauh.

“Cukup jelas?” tanyanya.

“Cukup.”

“Masih cemburu?”

“Masih sedikit.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Karena aku suka kamu menginginkanku.”

Panas naik ke wajahku. Evan yang dulu mungkin akan menunduk setelah mengatakan kalimat semacam itu. Evan yang sekarang menatap reaksiku dengan tenang.

“Kamu mulai berbahaya,” kataku.

“Kamu yang minta kejelasan.”

Dia mengambil gelas dari tanganku. “Sekarang giliranku bertanya. Kamu cuma cemburu atau juga takut?”

“Dua-duanya.”

“Takut apa?”

“Kamu sadar ada orang lain yang lebih mudah.”

“Lebih mudah bukan berarti lebih aku inginkan.”

“Kamu bahkan belum tahu apakah menginginkanku cukup untuk memercayaiku.”

“Benar. Tapi itu masalah antara aku dan kamu. Nadine nggak ada hubungannya.”

Jawabannya nggak memberiku kepastian palsu, tetapi tetap menempatkanku sebagai satu-satunya orang dalam pertimbangan romantisnya.

“Sekarang boleh aku menikmati bagian kamu cemburu?”

“Lima detik.”

Evan melihat jam tangannya. “Mulai sekarang.”

Aku mencubit lengannya. Dia tertawa dan menghentikan hitungan.

Acara dimulai. Kami duduk di meja berbeda karena penempatan perusahaan. Sepanjang presentasi, beberapa kali aku menangkap Evan melihat ke arahku. Berbeda dari awal kami bertemu lagi, saat dia sengaja menjaga tatapan tetap profesional.

Saat makan malam, Nadine menghampiriku sendirian.

“Saya harap tadi nggak membuat situasi canggung,” katanya.

“Bukan salah kamu.”

“Evan orang baik, tapi dulu dia seperti selalu menunggu alasan untuk mundur.”

Aku menggenggam gelas lebih erat. “Dia cerita?”

“Nggak. Itu cuma kesan saya.” Nadine tersenyum. “Malam ini dia berbeda. Dia terus mencari seseorang di ruangan.”

Tatapannya bergerak ke Evan, lalu kembali kepadaku.

Aku nggak perlu bertanya siapa.

Seusai acara, Evan menungguku di lobi. Dia mengambil selendang dari tanganku dan menyampirkannya ke bahuku tanpa diminta.

“Aku mau mengatakan sesuatu,” kataku.

“Silakan.”

“Aku senang kamu menatapku lagi.”

Tangannya masih berada di dekat leherku. “Aku nggak sadar pernah berhenti.”

“Kamu berhenti selama delapan tahun.”

Dia terdiam, lalu membenarkan ujung selendangku. “Sekarang aku sedang mencoba untuk nggak berhenti.”

Aku tidak merasa menang atas Nadine. Aku merasa dipilih dalam sebuah tindakan kecil—dan untuk saat ini, itu cukup.

Di mobil, pesan Evan masuk sebelum aku meninggalkan parkiran.

Evan: Kamu terlihat sangat cantik malam ini. Ini seharusnya kukatakan saat pertama melihatmu.

Pevita: Kenapa baru sekarang?

Evan: Aku terlalu sibuk menikmati reaksimu saat cemburu.

Pevita: Lima detikmu sudah habis.

Evan: Aku mengajukan perpanjangan.

Aku pulang tanpa kepastian tentang hari ketiga puluh. Namun Evan nggak membuatku menebak apakah Nadine adalah ancaman. Dia mengatakannya langsung, lalu menunjukkan pilihannya dengan menungguku pulang.

Keesokan paginya, aku menemukan undangan kalender baru dari Evan: Makan Siang Hari ke-21—tanpa kandidat lain. Di bagian catatan, dia menulis bahwa Nadine tidak termasuk peserta, pengamat, atau topik pembahasan.

Aku meneleponnya sambil berjalan menuju ruang rapat.

“Kamu sedang mengejekku?”

“Sedikit.”

“Aku menyesal jujur.”

“Bohong.”

“Iya. Aku justru senang.”

“Aku tahu.”

Kepercayaan dirinya membuatku kesal sekaligus hangat. “Kamu juga harus jujur kalau cemburu.”

“Aku akan mencatatnya.”

“Bukan dicatat. Diucapkan.”

“Baik, Bu Pevita.”

Sebelum menutup telepon, dia memanggil namaku.

“Aku memilih gaun hitam karena memang ingin melihatmu memakainya,” katanya. “Bukan karena dua pilihanmu sama saja.”

Aku berhenti di depan pintu rapat. “Itu juga sudah kamu bilang.”

“Aku mengulang supaya nggak ada ruang buat kamu meragukannya.”

Setelah panggilan berakhir, aku sadar bahwa rasa dipilih tidak selalu datang lewat pernyataan besar. Kadang ia cuma seseorang yang mau mengulang jawaban karena tahu ketakutanmu belum sepenuhnya diam.

Di ruang rapat, Alin menangkap senyumku dan mengangkat alis. Aku nggak menceritakan percakapan tadi. Hubunganku dengan Evan akhirnya punya ruang privat yang nggak bergantung pada bantuan siapa pun. Aku hanya meminta Alin memulai presentasi, lalu menyimpan ponsel dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Nadine tetap cantik, kompeten, dan dekat secara profesional dengan Evan. Tidak satu pun berubah. Yang berubah adalah aku sudah bertanya dan Evan sudah menjawab. Kecemburuanku tidak harus berubah menjadi hukuman atau permainan diam-diam. Ia cukup diucapkan, didengar, lalu diselesaikan bersama tanpa ada yang terluka sama sekali.