Chapter Seven
Delapan Tahun Kemudian
POV: Evan
Alin menelepon tujuh kali sebelum aku sampai apartemen.
Aku membiarkan enam panggilan pertama berhenti sendiri. Panggilan ketujuh kujawab karena dia mulai mengirim pesan dengan huruf kapital dan ancaman datang langsung.
“Kak,” katanya tanpa salam, “jelasin.”
“Sudah malam.”
“Aku tahu. Aku yang mengatur kencannya.”
“Kesalahan yang akhirnya kamu akui.”
“Mbak Pevita pernah menolak Kak Evan?”
Aku membuka pintu apartemen dan menyalakan lampu. Ruang tengah menyambutku dengan keheningan yang biasanya nyaman. Malam itu, sunyinya terasa terlalu jelas.
“Delapan tahun lalu,” jawabku.
“Kenapa aku nggak tahu?”
“Karena aku nggak bikin presentasi keluarga tentang semua penolakan dalam hidupku.”
“Semua? Ada berapa?”
“Fokusmu mengkhawatirkan.”
Alin mengembuskan napas keras. “Aku benar-benar nggak tahu. Mbak Pevita juga nggak pernah bilang pernah kenal Kakak.”
Aku meletakkan kunci di meja. Gantungan Saturnus membentur permukaan kayu.
“Sekarang kamu tahu.”
“Terus gimana kencannya?”
“Selesai.”
“Maksudku, kalian akan ketemu lagi?”
“Nggak akan.”
Jawabanku cepat dan masuk akal. Kami sudah makan, memenuhi satu jam yang diminta Alin, serta menemukan dua kesamaan yang tidak perlu dilanjutkan. Masa lalu tetap masa lalu.
“Kak Evan—”
“Jangan atur kencan lanjutan.”
“Aku juga nggak sebodoh itu.”
“Kamu mengancam pakai foto SIM-ku. Standar kebijaksanaanmu belum meyakinkan.”
Dia menggerutu, lalu suaranya melunak. “Kakak baik-baik aja?”
“Baik.”
“Nah. Jawaban itu lagi.”
Aku menutup telepon setelah memastikan dia tidak akan menelepon Pevita untuk meminta maaf. Lalu aku berdiri di dapur, masih memakai kemeja kerja, dan menatap dua pilihan makan malam di kulkas tanpa benar-benar melihatnya.
Pevita tidak berubah sebanyak yang kuharapkan. Dia masih menggulung lengan baju saat gugup. Masih mengingat kopi tanpa gula. Masih bisa membuat percakapan terasa seperti sesuatu yang sudah kami lakukan kemarin, bukan delapan tahun lalu.
Itu tidak berarti apa-apa.
Aku memasukkan kencan buta ke kategori kejadian selesai, mandi, lalu tidur dengan AC dua derajat lebih dingin dari biasanya.
Keesokan paginya, hidup kembali normal. Ada rapat pukul sembilan, evaluasi fitur pukul sebelas, dan makan siang yang hampir kulewatkan. Pukul tiga, atasanku meminta aku masuk ke ruang konferensi.
“Kita dapat partner komunikasi untuk peluncuran platform baru,” katanya. “Agensinya udah dipilih procurement. Kamu jadi product counterpart dari sisi kita.”
“Siapa project lead mereka?”
Dia memutar laptop ke arahku.
Nama perusahaan Pevita muncul di layar. Di bawah daftar tim, tertulis jelas: Pevita Anggun Prameswari — Head of Corporate Communication.
Aku membaca nama itu dua kali, bukan karena salah lihat, tetapi karena otakku menolak menerima kebetulan dengan tingkat efisiensi seburuk ini.
“Ada masalah?” tanya atasanku.
“Nggak.”
“Kamu kenal timnya?”
“Salah satu orang.”
“Bagus. Kickoff besok. Kamu bisa koordinasi langsung.”
Bagus bukan kata yang kupilih, tetapi hubungan profesional tidak membutuhkan perasaan. Ada scope, timeline, target, dan notulen. Semua bisa dinyatakan jelas.
Malamnya, Alin datang ke apartemen membawa makanan dan rasa bersalah yang terlalu besar untuk satu orang.
“Aku baru tahu kantor kita dapat proyek bareng,” katanya.
“Aku juga.”
Dia berdiri di dekat meja makan tanpa duduk. “Aku bisa minta dipindahkan dari tim Mbak Pevita.”
“Kenapa?”
“Biar nggak makin rumit.”
“Pekerjaanmu nggak ada hubungannya dengan apa yang terjadi delapan tahun lalu.”
“Tapi aku yang mempertemukan kalian.”
“Tanpa tahu sejarahnya.”
“Tetap aja.”
Aku membuka bungkus makanan yang dibawanya. “Kalau mau menebus kesalahan, jangan pernah mengancamku dengan foto SIM lagi.”
“Itu bisa dinegosiasikan.”
“Kalau begitu rasa bersalahmu belum serius.”
Alin akhirnya duduk. “Mbak Pevita orang baik, Kak.”
Tanganku berhenti sebentar di atas sendok.
“Aku tahu,” kataku.
Itulah masalahnya. Pevita tidak pernah menjadi orang jahat. Dia cuma pernah membuatku percaya bahwa semua yang kulihat di antara kami tidak nyata.
Alin menatapku cukup lama. “Waktu itu Kakak suka banget sama dia?”
“Kamu sedang mengumpulkan data buat apa?”
“Buat tahu seberapa parah kesalahanku.”
Aku meletakkan sendok. “Kamu nggak salah. Kamu mempertemukan dua orang yang menurutmu belum saling kenal.”
“Tapi Kakak belum jawab.”
“Iya.”
“Iya apa?”
“Aku suka dia.”
Alin terdiam. Biasanya dia punya respons untuk semuanya. Kali ini wajahnya justru sedih.
“Dia juga kelihatan kacau setelah turun dari mobil,” katanya.
Aku menatapnya tajam. “Kamu bicara sama dia?”
“Dia nelepon buat memastikan aku nggak salah ngirim orang. Aku cuma tanya udah sampai atau belum.”
“Dan?”
“Dia bilang kencannya berjalan baik.”
Aku hampir tertawa. Tentu saja Pevita memilih kata yang aman.
“Jangan bahas aku sama dia lagi,” kataku.
Alin mengangguk. Kali ini tanpa protes.
“Dia atasan yang baik,” lanjut Alin. “Kalau aku kewalahan, dia bantu tanpa bikin aku merasa bodoh. Dia juga selalu—”
“Lin.”
Alin langsung diam.
“Kamu nggak perlu menjual kelebihannya. Aku akan bekerja profesional.”
“Aku nggak sedang menjodohkan lagi.”
“Bagus.”
“Tapi gantungan planet itu masih kamu pakai.”
Aku menatap kunci di meja. “Benda itu masih berfungsi.”
“Cincinnya udah diganti dua kali.”
“Kenapa semua orang memperhatikan cincin gantungan kunci?”
Alin tersenyum tipis, tetapi cukup bijak untuk tidak menjawab.
Kickoff berlangsung lewat video call keesokan siangnya. Aku masuk lima menit lebih awal. Tim internal sudah hadir. Dua orang dari agensi menyusul, lalu layar Pevita menyala.
Dia mengenakan kemeja biru gelap dan ekspresi profesional yang sempurna. Tidak ada jejak perempuan yang semalam menatap gantungan kunciku seperti sedang melihat sesuatu yang hilang.
“Selamat siang,” katanya. “Saya Pevita, project lead dari tim komunikasi.”
Tatapannya berhenti sepersekian detik pada kotak videoku.
“Pak Evan akan menjadi product counterpart utama,” kata atasanku.
“Baik,” jawab Pevita.
Satu kata. Netral. Aman.
Rapat berjalan lancar. Pevita memimpin pembahasan dengan tajam, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan merangkum keputusan tanpa membuang waktu. Aku membalas dengan data, tenggat, dan batas teknis. Tidak ada yang akan menduga kami pernah duduk di taman kampus dan mengakhiri sesuatu yang bahkan belum sempat dimulai.
Menjelang akhir, Pevita membagikan timeline kerja. Ada sesi penyelarasan kecil yang membutuhkan kami berdua.
“Untuk sinkronisasi pesan produk,” katanya, “aku—saya usulkan pertemuan langsung hari Jumat.”
Perubahan sapaan itu sangat kecil. Aku tetap menangkapnya.
“Bisa,” jawabku. “Kirim undangannya.”
Pevita mengangguk. “Akan saya kirim.”
Rapat selesai. Satu per satu kotak video menghilang sampai layar hanya menampilkan wajahku sendiri.
Beberapa detik kemudian, notifikasi kalender muncul.
*Undangan baru: Sinkronisasi Pesan Produk — Evan Mahendra dan Pevita Anggun Prameswari.*
Jumat, pukul tiga. Durasi enam puluh menit. Lokasi: kantor Pevita.
Aku menekan tombol terima.
Setelahnya aku membuka dokumen proyek dan mencoba membaca brief. Lima menit berlalu tanpa satu kalimat pun benar-benar masuk. Aku menutupnya, lalu menelepon Dimas.
Dia menjawab dengan suara berbisik. “Kalau ini bukan keadaan darurat, aku akan marah. Bayinya baru tidur.”
“Aku bertemu Mbak Salah Sinyal.”
Hening dua detik. Lalu terdengar bunyi benda jatuh.
“Siapa?”
“Kamu tahu siapa.”
“Setelah delapan tahun? Di mana?”
“Kencan buta.”
Suara Dimas naik satu oktaf sampai seseorang di sebelahnya menyuruh diam. Dia kembali berbisik. “Kamu sengaja?”
“Menurutmu aku akan sengaja mengatur kencan dengan perempuan yang membuatmu menjulukinya begitu?”
“Terus?”
“Sekarang kantor kami bekerja sama. Aku jadi counterpart-nya.”
Dimas menghela napas panjang. “Menikah memang melelahkan, Van, tapi jadi lajang juga ternyata plotnya ribet.”
“Nasihatmu sangat berguna.”
“Aku serius. Kamu gimana?”
Pertanyaan yang sama seperti Alin. Jawaban yang sama sudah siap, tetapi kali ini aku menahannya.
“Aku nggak tahu,” kataku.
Dimas nggak bercanda lagi. “Kalau belum tahu, jangan pura-pura nggak merasa apa-apa. Tapi jangan juga menganggap satu kencan menghapus delapan tahun.”
“Aku nggak akan.”
“Bagus. Sekarang tutup telepon sebelum anakku bangun dan membuktikan promosi pernikahanku menyesatkan.”
Setelah panggilan berakhir, aku memindahkan pertemuan Jumat ke kategori prioritas tinggi. Bukan karena Pevita. Proyeknya memang penting.
Aku lalu membaca profil tim agensi, menandai pertanyaan teknis, dan menyusun agenda. Semua bisa dipersiapkan. Semua bisa dikendalikan.
Kecuali satu hal: aku masih tahu persis seperti apa wajah Pevita ketika ia mencoba mengatakan sesuatu lalu memilih diam.
Pertemuan kami di restoran seharusnya menjadi kejadian satu malam. Sekarang namanya masuk ke kalender kerjaku untuk tiga bulan ke depan.
Kali ini aku tidak bisa menghindar dengan alasan apa pun.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian reading
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi