Chapter Thirty
Tidak Perlu Sinyal Lagi
POV: Evan
Ada agenda di kalenderku bertuliskan Makan malam biasa. Pevita menerimanya empat hari lalu tanpa meminta penjelasan tambahan. Ini kesalahan perhitungan pertamaku: selama empat hari dia terus menyebut kata biasa dengan nada orang yang tahu aku tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
Dia kembali ke Jakarta tiga hari lalu untuk memulai pola kerja rotasinya. Koper kecilnya ada di apartemenku, tetapi hanya untuk dua minggu ini. Kami telah sepakat ia akan tinggal di sini saat sedang di Jakarta sementara kami mencari rumah yang cocok dengan pekerjaan kami berdua. Barangnya tidak kupindahkan diam-diam. Kami memilih rak bersama, lalu berdebat sepuluh menit karena dia menganggap satu laci obat lebih penting daripada rak kedua untuk kabelku. Dia menang dengan alasan yang kuat.
Di restoran tempat kencan buta kami dimulai, aku datang lebih awal. Pelayan mengenaliku dari pemesanan sebelumnya dan bertanya apakah meja yang sama masih cocok. Dulu aku duduk di sini sambil bersiap menolak perempuan asing. Setelah tahu yang datang adalah Pevita, aku lebih ingin melarikan diri daripada memesan makanan. Malam ini aku sendiri yang meminta meja itu.
Pagi tadi Ibu meneleponku ketika aku mengecek cincin untuk ketiga kalinya. “Kamu sudah tahu kalau dia bilang tidak, kamu tetap menghormatinya?” tanyanya. Aku menjawab iya. Ibu tidak sedang meragukan cintaku; dia mengingatkan bahwa lamaran pun bukan alasan untuk mengambil hak memilih orang lain. Aku meminta pendapatnya tentang kapan ia ingin bertemu keluarga Pevita bila jawabannya ya. “Setelah kalian berdua memilih tanggal yang cocok,” katanya. Untuk sekali ini, jadwal keluarga menyusul keputusan kami, bukan sebaliknya.
Ponselku bergetar. Pesan Alin.
Alin: Jangan lihat ke meja dekat tanaman. Kami sudah sangat tidak mencolok.
Aku menoleh ke meja dekat tanaman. Alin memakai topi yang tidak pernah ia pakai di dalam ruangan, sementara Dimas mencoba menyembunyikan wajah di balik menu. Istrinya duduk di sisi lain bersama bayi mereka, jauh lebih tenang daripada dua orang dewasa itu.
Evan: Kamu berjanji tidak mengganggu.
Alin: Kami tidak mengganggu. Kami cuma gagal memilih lokasi.
Aku mengunci layar. Mereka tahu rencanaku karena Dimas membantuku mencari ukuran cincin dan Alin bersikeras memeriksa apakah restoran bisa menerima stroller. Ibu serta keluarga Pevita tahu aku akan melamar, tetapi tidak ada yang meminta Pevita memberi jawaban tertentu. Mereka setuju menunggu kabar setelahnya. Dua orang di balik tanaman rupanya punya definisi sendiri tentang menunggu.
Pevita datang mengenakan kemeja biru yang lengannya sudah digulung sedikit, kebiasaannya saat gugup. Dia berhenti ketika melihat ruangan, lalu duduk sambil mengamati wajahku.
“Kamu memilih tempat ini,” katanya.
“Masih ada makanan yang layak dicoba.”
“Tentu. Kita datang untuk menguji menu.”
Pelayan menghampiri. Aku memesan makanan yang kami pilih bersama dari daftar, lalu kopi untuknya dengan takaran susu yang dia suka. Dia tidak pernah memberitahuku angka pasti; selama beberapa bulan terakhir aku memperhatikan cara dia membuatnya dan akhirnya bertanya apakah pesananku sesuai. Malam ini dia mencicipi, mengangkat alis, dan berkata, “Benar.”
Aku sengaja tidak memakai kata itu sebagai kemenangan. Mengingat pesanan kopi bukan ujian cinta. Aku bisa salah lain kali dan dia bisa memberitahuku.
“Enam bulan tadi lebih susah daripada yang kita tulis di kalender,” kataku.
“Dan kalendermu nggak pernah mencatat dua jam aku telat menelepon.”
“Atau kunjunganku yang habis setengah hari buat cari adaptor.”
“Itu karena kamu membawa cangkir, bukan adaptor.”
“Prioritas.”
Dia tertawa. Di bawah meja lutut kami bersentuhan. Dulu sentuhan kecil cukup untuk membuatku menghitung apa artinya. Sekarang aku tahu dia ingin duduk dekat karena dia yang menarik kursinya mendekat. Aku juga bisa bertanya kalau suatu hari tidak tahu.
Makanan datang. Kami makan sungguhan, tidak berpura-pura meja ini hanya panggung bagi sesuatu yang kusimpan di saku. Pevita bercerita tentang rapat tim Jakarta yang akhirnya bisa ia pimpin dari tempat ini tanpa melepas tanggung jawab regional. Aku menceritakan Ibu yang menerima tawaran Raka untuk mengajarinya panggilan video, dan Alin yang sudah dua kali mengajukan perbedaan pendapat resmi di kantor Pevita tanpa meminta bantuanku. Hidup di luar hubungan kami tidak berhenti supaya kami bisa bersama.
Setelah piring diangkat, aku mengeluarkan kartu kecil. Tanganku tidak sampai gemetar, tetapi cukup dingin untuk diperhatikan Pevita.
“Ini undangan kalender baru?” tanyanya.
“Bukan. Kali ini aku butuh jawaban langsung.”
Dia membuka kartu itu. Di dalamnya kutulis: Mau menikah denganku? Ini pertanyaan langsung. Tidak perlu ditafsirkan.
Pevita membacanya satu kali. Dia menatapku, bukan kartu. “Mau.”
Aku sempat lupa mengambil napas. “Kamu boleh pikir dulu. Aku nggak menaruh tenggat di sana.”
“Aku sudah pikirin.” Dia tersenyum dengan mata basah. “Mau, Van.”
“Apa kamu yakin aku nggak mengajakmu menjawab terlalu cepat karena kita baru selesai enam bulan sulit?” tanyaku. Aku tahu pertanyaan itu mungkin merusak momen, tapi ingin mendengar sesuatu selain keberanianku sendiri.
“Kita nggak baru mulai saling kenal enam bulan lalu,” katanya. “Aku juga nggak bilang mau supaya enam bulan itu terasa mudah. Aku bilang mau karena waktu kita bertengkar, kamu balik bicara. Dan waktu kamu takut, kamu nggak lagi menghukumku tanpa bilang.”
“Aku tetap kadang susah diajak bicara.”
“Aku juga masih suka merasa harus membereskan semuanya sendiri. Kita sudah tahu cara menyebut itu sebelum terlambat. Aku mau terus belajar sama kamu.”
Jawabannya tidak menutupi kekurangan kami dengan romantisasi. Justru itu yang membuatku berani mempercayainya.
Aku mengeluarkan kotak cincin, tetapi tidak langsung membukanya. “Aku perlu bilang apa yang kuajak kamu jalani. Aku bukan meminta kamu berhenti pergi ke Singapura. Aku mau kita tetap membahas perubahan penempatan sebelum memutuskan soal rumah, jadwal, dan keluarga. Aku mau kamu bisa bilang kalau takut, dan aku juga akan bilang.”
“Aku mau itu,” katanya. “Aku juga nggak akan menyebut semua hal sulit sebagai alasan buat pergi diam-diam. Kalau suatu hari kita butuh mengubah rencana, aku akan duduk sama kamu dulu.”
“Aku belum menyiapkan tanggal pernikahan,” kataku. “Aku nggak mau mengejutkanmu dengan vendor, gedung, atau rencana yang sudah disetujui orang lain.”
“Bagus. Aku mau bicara sama Ibu dan Raka, kamu juga sama Ibu dan Alin. Tapi setelah itu kita yang menentukan bentuk acaranya. Aku bahkan belum tahu mau kecil atau ramai.”
“Aku cuma punya satu permintaan. Jangan biarkan Dimas jadi pembawa acara.”
“Terlambat. Dari ekspresimu, dia mungkin sudah menyiapkan slide.”
“Dia pernah membuat slide tentang keuntungan menikah padahal anaknya belum tidur tiga malam.”
“Kalau begitu kita wajib menolak dengan alasan kesehatan keluarga.”
Kami tertawa. Sesudahnya Pevita menambahkan, “Aku juga nggak mau pernikahan membuat kantor menganggap rotasiku cuma fase sementara. Aku tetap mengambil jabatan ini.”
“Aku tahu. Kita akan jelaskan itu bersama kalau ada yang bertanya.”
“Aku ingin kamu ada di pihakku tanpa mengambil alih suaraku.”
“Aku bisa berdiri di sebelahmu. Bagian jawabannya tetap kamu yang pegang.”
“Kita tinggal di apartemenku sementara, cari rumah yang bisa menampung dua pekerjaan dan dua kebiasaan tidur yang bertentangan. Kalau rumahnya belum ketemu, kita nggak berpura-pura punya jawaban.”
“Satu syarat,” katanya.
“Apa?”
“AC-nya jangan disetel buat menyimpan bahan makanan beku.”
“Aku siap bernegosiasi.”
“Ini bukan negosiasi.”
Aku tertawa dan akhirnya membuka kotak cincin. “Boleh kupakaikan?”
Dia mengulurkan tangan. “Boleh.”
Saat cincin itu terpasang, terdengar bunyi keras dari arah meja tanaman. Dimas menjatuhkan sendok. Alin berdiri terlalu cepat untuk menolong dan topinya tersangkut daun. Bayi Dimas justru bertepuk tangan, entah karena cincin atau kekacauan dua orang dewasa di dekatnya.
Pevita menoleh, lalu menatapku. “Kamu membawa tim pengawas?”
“Aku mengundang dua orang. Salah satunya membawa keluarga. Keputusan bersembunyi di balik tanaman murni hasil rapat mereka sendiri.”
Alin menyerah, melambaikan tangan. “Aku cuma mau memastikan Kak Evan nggak pakai foto SIM buat presentasi lamaran!”
“Dia pernah lihat fotonya?” tanya Pevita, mendadak sangat tertarik.
“Jangan,” kataku.
“Nanti kita bahas di rumah,” katanya, jelas tidak bercanda.
Kami mempersilakan mereka mendekat setelah bertanya kepada Pevita apakah dia ingin menikmati beberapa menit berdua lebih dulu. Dia memilih berdua. Alin mengangkat dua jempol dari jauh, lalu Dimas menariknya kembali ke kursi. Keputusan kecil yang tidak penting bagi orang lain itu membuatku ingin mencium Pevita saat itu juga.
“Aku masih punya sesuatu,” kataku. Dari saku lain kuambil dua gantungan planet. Saturnus lama dari masa kampus sudah kupasang kembali pada kunciku beberapa minggu lalu, bukan karena aku harus membuktikan apa pun. Gantungan baru berbentuk Bumi kubeli setelah kami sepakat pulang dan pergi tanpa saling menebak makna jaraknya.
“Yang ini buatmu kalau kamu mau,” kataku sambil meletakkan Bumi di meja. “Bukan supaya kita selalu ada di tempat yang sama.”
Pevita mengeluarkan kuncinya. Dia memasang Bumi sendiri, lalu mengangkatnya di samping kunci Saturnusku. Dua benda kecil itu beradu pelan. “Aku mau. Yang ini bisa ikut ke mana pun.”
“Aku juga,” kataku.
Dia menatap dua kunci itu, lalu menyimpan miliknya. Kami akhirnya membiarkan Alin dan Dimas datang, menerima pelukan, dan menelepon Ibu serta Raka untuk menyampaikan kabar. Tidak ada yang bertanya kapan tanggalnya seolah jawaban pernikahan harus langsung menjadi rangkaian tenggat. Ibu hanya tertawa lega. Raka bilang ia ingin memilih sendiri tugas yang sanggup diambil untuk persiapan nanti; Pevita mengiyakan tanpa menawarkan mengambil semuanya.
Saat mereka kembali ke meja untuk menenangkan bayi, Pevita menggenggam tanganku di bawah meja. Kami membahas pilihan akhir pekan untuk mulai melihat rumah dan perjalanan kerjanya berikutnya. Tangannya tetap di sana, tidak dilepas ketika kalender masa depan kami mulai terbuka.
Setelah delapan tahun membaca terlalu banyak tanda, akhirnya kami belajar bahwa cinta terbaik bukan yang paling pandai memberi sinyal, melainkan yang cukup berani memberikan jawaban.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi reading