Chapter Eighteen
Aku Menyukaimu, Evan
POV: Pevita
Setelah mencium Evan, aku kehilangan kemampuan bersikap normal selama dua hari.
Setiap kali dia bicara di rapat, aku teringat bagaimana suaranya terdengar di dekat leherku. Setiap kali tangannya memindahkan dokumen, aku ingat telapak itu berada di pinggangku.
Alin menangkapku menatap layar video call terlalu lama.
“Mbak kenapa?”
“Fokus kerja.”
“Saya fokus. Mbak yang tersenyum ke tabel anggaran.”
Aku menutup laptop sedikit lebih keras dari perlu.
Evan justru terlihat tenang. Pesannya tetap teratur, candanya tetap kering, dan satu-satunya bukti dia terpengaruh adalah undangan kalender makan malam dengan judul: Pembahasan Lanjutan yang Tidak Boleh Diselesaikan dengan Ciuman.
Aku menerima undangan itu lalu menambahkan catatan: Tidak ada jaminan aturan terakhir dipatuhi.
Balasannya datang: Pelanggaran akan ditinjau berdasarkan situasi.
Aku menghabiskan sisa hari dengan senyum yang terus muncul sendiri. Namun di balik kegembiraan itu, ada satu hal yang belum kukatakan dengan benar. Aku sudah menyatakan ketertarikan dan mengaku nggak pernah melupakannya. Belum pernah kukatakan bahwa perasaanku sekarang bukan sisa cinta masa kuliah.
Delapan tahun bisa mengubah seseorang. Evan yang sekarang lebih tenang, lebih keras menjaga dirinya, dan jauh lebih berani meminta batas. Aku jatuh cinta pada versi lama, tetapi aku sedang menyukai lelaki yang berdiri di hadapanku sekarang.
Kami bertemu di taman kota setelah kerja. Tempat terbuka itu jelas dipilih agar kami nggak mengulang kejadian di sofa.
“Kamu takut sama dirimu sendiri?” tanyaku.
“Aku realistis.”
“Kamu yang bilang takut bukan berarti realistis.”
“Kamu menyimpan semua kalimatku untuk dipakai melawanku?”
“Dokumentasi.”
Kami berjalan sambil membawa kopi. Tangannya beberapa kali menyentuh tanganku sebelum akhirnya menggenggamnya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” kataku.
“Katakan.”
Jantungku berdebar seolah ini lebih menakutkan daripada mengajaknya kencan.
“Aku menyukaimu, Evan.”
Dia menatapku.
Angin menggerakkan daun di atas kami. Orang-orang berlari di jalur taman, seorang anak tertawa mengejar gelembung sabun, dan dunia tetap bergerak meski bagiku kalimat tadi terasa seperti berdiri di tepi sesuatu.
“Aku latihan mengatakannya sejak pagi,” akuku. “Ternyata tetap menakutkan.”
“Kamu kelihatan tenang.”
“Itu karena aku ahli menyembunyikan panik.”
“Aku tahu.”
“Tapi kali ini aku nggak menyembunyikan maksudnya.”
“Aku tahu aku sudah bilang nggak pernah melupakan kamu,” lanjutku. “Tapi itu bicara soal masa lalu. Yang ini soal sekarang. Aku suka laki-laki yang kamu jadi. Aku suka caramu tetap datang tanpa mengambil alih. Aku suka humor menyebalkanmu. Aku suka kamu tahu kapan harus menahanku dan kapan membiarkanku memilih.”
“Pevita—”
“Aku belum selesai.”
Dia mengangguk.
“Aku nggak mengatakan ini supaya kamu membalas. Aku nggak mau pengakuanku jadi tagihan. Aku cuma nggak ingin ada satu bagian pun yang harus kamu tafsirkan.”
Evan menarikku ke bangku. Kami duduk berdampingan.
“Aku ingin mempercayaimu,” katanya.
Kalimat itu bukan jawaban yang kuimpikan, tetapi aku memaksakan diri mendengarnya sampai selesai.
“Aku percaya kamu tertarik. Aku percaya kamu serius menjalani tiga puluh hari ini. Tapi ada bagian diriku yang masih menunggu semuanya berubah.”
“Karena dulu?”
“Iya.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku tahu. Tapi aku belum siap mendengar penjelasan lalu dipaksa merasa lebih baik.”
“Aku nggak akan memaksa.”
Aku menarik napas. “Ada bagian dari penjelasan yang mungkin membuatmu mengerti kenapa aku melakukan itu.”
“Mengerti bukan berarti akibatnya hilang.”
“Iya, aku tahu.”
“Dan aku takut kamu akan menceritakannya saat aku sedang dekat begini, lalu aku merasa jahat kalau tetap terluka.”
Kejujurannya membuatku ingin membela diri, tetapi aku menahannya. “Kapan kamu siap?”
“Aku akan bilang.”
“Kalau butuh waktu lama?”
“Kamu bebas memutuskan apakah mau menunggu.”
“Aku memilih menunggu. Bukan buat menghukum diri. Karena aku ingin melakukan ini dengan benar.”
Evan menatap tangan kami. “Itu yang ingin kupercaya.”
“Mungkin bukan kamu. Mungkin aku sendiri yang akan merasa harus memaafkan karena alasanmu terdengar masuk akal.”
Aku menunduk. Dia benar. Penjelasanku bisa berubah menjadi pembelaan kalau diberikan demi mengendalikan hasil.
“Aku bisa menunggu,” kataku.
“Jangan jadikan menunggu sebagai pengorbanan baru.”
“Bukan. Ini pilihan.”
Evan mengusap punggung tanganku. “Aku belum bisa bilang cinta.”
Dadaku sakit, tetapi aku mengangguk. “Kamu nggak harus.”
“Tapi aku memilih tetap di sini.”
Aku menatapnya lagi.
“Aku ingin melanjutkan ini,” katanya. “Aku ingin melihat apa yang terjadi kalau kita nggak lari.”
“Aku nggak akan lari.”
“Jangan berjanji tentang sesuatu yang belum diuji.”
“Kalau begitu aku akan membuktikannya satu hari setiap kali.”
“Dan kalau kamu gagal satu hari?”
“Aku nggak akan menghapus dua puluh sembilan hari lain. Aku akan bilang aku gagal, lalu memperbaikinya.”
Itulah hal yang sedang kupelajari: perubahan bukan janji bahwa aku nggak akan pernah takut lagi. Perubahan adalah berhenti memakai rasa takut sebagai alasan untuk menutup semua pilihan.
Kami melanjutkan berjalan setelah matahari turun. Percakapan berubah lebih ringan. Evan bercerita tentang Dimas yang memaksanya mengaku apakah ciuman kami bagus. Aku tertawa sampai hampir menumpahkan kopi.
“Kamu jawab apa?”
“Aku menutup telepon.”
“Berarti bagus.”
“Kenapa semua orang menarik kesimpulan dari diamku?”
“Karena ekspresimu mudah dibaca.”
“Kamu salah orang untuk mengatakan itu.”
Aku menerima sindirannya. “Benar.”
Di parkiran, Evan membukakan pintu mobilku. Aku berdiri di depannya, menimbang apakah boleh mencium dia.
“Kamu sedang berpikir terlalu keras,” katanya.
“Aku ingin mencium kamu, tapi takut kamu menganggapnya tekanan setelah pengakuanku.”
“Terima kasih sudah bilang.”
“Jadi?”
Dia menunduk dan menciumku pelan. Tidak panas seperti malam di sofa. Ciuman ini terasa seperti jawaban sementara yang jujur: belum cinta, belum sepenuhnya percaya, tetapi tidak pergi.
“Aku mau,” katanya setelah mundur. “Itu alasannya.”
Aku menyentuh bibir sendiri. “Kamu semakin pandai bicara jelas.”
“Aku punya partner latihan yang sangat cerewet.”
Aku masuk ke mobil sambil tersenyum.
Sebelum pintu kututup, Evan menahannya. “Pevita.”
“Hm?”
“Aku senang kamu bilang menyukaiku.”
Jantungku kembali berdetak cepat. “Meskipun kamu belum membalas?”
“Aku nggak perlu punya jawaban yang sama untuk menghargai keberanianmu.”
Aku mengangguk. Itu bukan cinta, tetapi bukan kehampaan. Evan menerima perasaanku tanpa memanfaatkannya dan tanpa memberi janji palsu.
Di perjalanan pulang, aku nggak menangis karena sedih. Aku menangis karena delapan tahun lalu aku yakin cinta harus diterima atau diputus sekaligus. Malam ini Evan menunjukkan bahwa dua orang bisa berdiri di tempat berbeda dan tetap saling memperlakukan dengan lembut.
Malam itu, aku menulis di buku biru: Aku menyukainya. Kali ini aku tidak membuatnya pergi.
Aku nggak tahu bahwa beberapa hari kemudian, kalimat lama di buku yang sama akan menghancurkan semua kemajuan kami.
Sebelum pulang, aku sempat menelepon Raka. Untuk pertama kalinya aku cerita bahwa aku sedang mencoba lagi dengan Evan.
“Kakak bahagia?” tanyanya.
“Iya. Takut juga.”
“Takut dia pergi?”
“Takut aku melakukan sesuatu yang membuatnya pergi.”
Raka diam sebentar. “Kalau takut, bilang ke dia. Jangan cuma bilang ke aku.”
Nasihat dari adikku terdengar sederhana, tetapi tepat. Aku mengirim pesan kepada Evan sebelum keberanianku hilang.
Pevita: Aku bahagia setelah malam ini. Aku juga takut merusaknya.
Evan: Aku juga takut. Bedanya, sekarang kita tahu dan bisa membicarakannya.
Aku membaca balasan itu sampai dada terasa lebih ringan. Ketakutan yang diucapkan nggak langsung hilang, tetapi berhenti menjadi rahasia yang mengatur keputusan dari belakang.
Di kantor keesokan harinya, Evan mengirim kopi melalui kurir. Pada gelas ada catatan: Aku belum bisa bilang cinta. Bukan berarti perasaanmu berjalan sendirian.
Aku menyimpan catatan itu di buku biru, tepat di samping halaman baru tentang pengakuanku. Aku nggak membutuhkannya sebagai janji. Itu hanya bukti bahwa Evan mendengar dan memilih menjawab sejauh yang dia mampu.
Aku menutup buku dengan hati-hati. Untuk pertama kalinya, halaman-halaman baru di dalamnya berisi kalimat yang sudah benar-benar kuucapkan. Aku mengira itu berarti masa lalu akhirnya nggak punya kuasa lagi. Aku belum sadar bahwa satu halaman lama masih menunggu ditemukan.
Aku menutup buku, menaruhnya di atas kotak materi proyek, lalu tertidur tanpa menyadari satu halaman lama terselip longgar di antara catatan baru.
- 1 Kencan dengan Perempuan yang Pernah Menolakku
- 2 Perempuan yang Menghapus Presentasiku
- 3 Hal-Hal Kecil yang Mulai Kutunggu
- 4 Rumah yang Pertama Kali Ia Datangi
- 5 Hari ketika Aku Terlalu Yakin
- 6 Kamu Salah Mengartikan
- 7 Delapan Tahun Kemudian
- 8 Rekan Kerja, Tidak Lebih
- 9 Undangan yang Tidak Ambigu
- 10 Tiga Kesamaan
- 11 Masa Percobaan Tiga Puluh Hari
- 12 Aturan Pertama: Jangan Menyuruhku Menebak
- 13 Kopi yang Masih Kamu Ingat
- 14 Lelaki yang Berhenti Menatapku
- 15 Kalau Aku Menciummu Sekarang
- 16 Jangan Baik-Baik Saja Denganku
- 17 Satu Ciuman Tidak Menjawab Semuanya
- 18 Aku Menyukaimu, Evan reading
- 19 Buku Biru
- 20 Ternyata Aku Tidak Pernah Salah
- 21 Luka yang Kamu Bawa ke Hidupku
- 22 Maaf Tidak Mengembalikan Delapan Tahun
- 23 Hari ketika Tidak Ada yang Mengejarku
- 24 Singapura
- 25 Kamu Kembali Memilih untukku
- 26 Kali Ini Aku yang Menjawab
- 27 Malam ketika Tidak Ada yang Pergi
- 28 Pacaran Ternyata Isinya Hal-Hal Kecil
- 29 Enam Bulan, Dua Kota, Satu Jadwal
- 30 Tidak Perlu Sinyal Lagi