← Rising.

Chapter Nine

Folder yang Tak Sengaja

POV: Angelica


Sabtu pagi, teras Dapur Angel berubah jadi ruang kelas paling tidak resmi di seluruh kota.

Isinya: satu meja lipat pinjaman Bu Narti, tiga kursi plastik, satu laptop jadul milik Yoga, satu laptop Lila yang stikernya lebih banyak dari spesifikasinya, dan dua teman sekelas Lila yang dibawa paksa—Dika, kurus berkacamata tebal, dan Sasa, yang datang dengan kipas tangan dan wajah orang yang lebih memilih di mal.

Dan satu piring besar pisang goreng dari dapurku, karena aku sudah bilang: kalau gurunya tidak paham, setidaknya muridnya kenyang.

Aku tidak berniat menonton. Aku punya pesanan nasi kotak arisan RW yang harus selesai jam sebelas. Tapi jendela dapur menghadap teras, dan kebetulan—lagi-lagi kebetulan, minggu ini penuh kebetulan—aku memotong sayur tepat di depan jendela itu.

“Oke,” kata Lila, berdiri dengan tangan di pinggang seperti mandor. “Mas Yoga. Ini soal babak penyisihan tahun lalu. Kami bertiga nggak bisa ngerjain. Pembina kami juga nggak bisa. Kalau Mas bisa, aku traktir es teh seminggu.”

Dia menyodorkan laptopnya.

Yoga melihat layarnya. Lama. Sepuluh detik. Dua puluh.

Lila menyeringai pada Dika dan Sasa. Bisikannya terdengar sampai dapur: “Tuh kan. Bingung.”

Yoga mengembalikan laptop itu.

“Kamu udah hampir bener,” katanya pada Lila.

Seringai Lila membeku. “...Hah?”

“Cara kamu mulai udah bener. Kamu cuma nyerah satu langkah terlalu cepat.” Dia menunjuk sesuatu di layar tanpa menyentuh keyboard. “Di sini. Kamu udah nemu pintunya. Kamu cuma nggak percaya itu pintu, jadi kamu balik lagi nyari pintu lain.”

Lila menatap layar. Menatap Yoga. Menatap layar lagi.

“Coba sendiri,” kata Yoga, menyandarkan punggung, mengambil sepotong pisang goreng. “Aku nggak bakal ngerjain buat kamu. Kalau aku yang ngerjain, kamu nggak belajar apa-apa. Kamu cuma nonton.”

Selama tujuh menit berikutnya, aku memotong wortel yang sama berulang-ulang sampai jadi serpihan, karena aku tidak bisa berhenti menonton.

Lila mengetik. Berhenti. Mengerutkan dahi. Melirik Yoga. Yoga mengunyah pisang goreng dan menatap langit, sama sekali tidak membantu. Lila mengetik lagi. Dika mencondongkan tubuh, ikut menatap. Sasa berhenti mengipas.

Lalu Lila menjerit.

Bukan jeritan takut. Jeritan seperti orang yang baru menang undian motor.

“BISA! KEBUKA! DIKA, SASA, KEBUKA!”

Dika melompat dari kursi dan hampir menjatuhkan meja lipat Bu Narti. Sasa, yang lima belas menit lalu terlihat ingin pulang, bertepuk tangan dengan kipas di tangannya. Lila memeluk laptopnya seperti memeluk bayi.

Yoga menghabiskan pisang gorengnya.

“Itu kamu yang buka,” katanya. “Bukan aku.”

Lila menatapnya dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajah adikku sejak dia berumur dua belas tahun. Ekspresi tanpa sinisme. Ekspresi kagum yang telanjang, yang tidak sempat ia tutupi.

Lalu, karena dia Lila, dia segera menutupinya.

“Oke. Oke, itu soal gampang,” katanya, merapikan rambut. “Kebetulan. Soal berikutnya pasti Mas nggak bisa.”

“Mungkin.”

“Sabtu depan?”

“Kalau kamu mau.”

“Aku nggak mau. Tapi Dika mau.” Lila menunjuk Dika, yang mengangguk antusias. “Demi Dika.”

“Demi Dika,” ulang Yoga, serius sekali.

Di dapur, Bu Endang menyenggol lenganku. “Neng. Wortelnya.”

Aku menunduk. Wortel di talenan sudah jadi bubuk oranye.

“Itu buat... sup,” kataku.

“Sup apa yang wortelnya kayak pasir pantai?”

“Sup modern, Bu.”

Bu Endang mengambil talenan dari tanganku dengan wajah seseorang yang sudah menyerah pada keadaan. “Neng Angel. Neng udah kayak ABG nonton idol.”

“Saya nonton Lila.”

“Iya, iya. Lila.” Beliau mulai memotong wortel baru. “Lila yang tingginya seratus delapan puluh dan rambutnya gondrong.”

Aku tidak membalas. Tidak ada balasan yang menang melawan Bu Endang.


Siang itu, setelah murid-murid pulang dan pesanan arisan RW terkirim, dapur mendadak sunyi.

Tole tidur siang di atas tumpukan kardus di belakang, mendengkur seperti mesin jahit. Bu Endang pulang lebih cepat karena cucunya ulang tahun. Karyawan lain libur setengah hari.

Dan Yoga tertidur.

Aku menemukannya di meja pojok, kepala tertunduk di atas lengan yang dilipat, laptop di sampingnya. Napasnya pelan dan teratur. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Aku berdiri di sana lebih lama dari yang pantas.

Dia tidak tidur semalaman. Aku tahu dari matanya tadi pagi, dari cara dia menguap diam-diam saat Lila tidak melihat. Mbak Ratih—yang ternyata langganan nasi kotak sejak bulan lalu—juga sempat bercerita waktu ambil pesanan: Mas kamar tujuh ngetik sampai subuh, Mbak. Katanya nulis surat permintaan maaf. Panjang banget. Pasti salahnya gede.

Surat permintaan maaf untuk siapa?

Aku mengambil selimut kecil dari gudang—selimut tipis yang biasanya kupakai kalau aku tidur di dapur saat pesanan menumpuk—dan menyampirkannya di bahunya. Pelan. Dia tidak bangun. Dia hanya bergerak sedikit, dan sesuatu di wajahnya yang biasanya tegang mengendur, seperti orang yang bermimpi tentang sesuatu yang tidak menyakitkan untuk pertama kalinya setelah sangat lama.

Wajahnya, tanpa pertahanan, ternyata muda. Lebih muda dari tiga puluh satu tahun. Wajah orang yang terlalu cepat tua karena memikul sesuatu yang bukan miliknya.

Aku menyibakkan rambut yang jatuh di matanya.

Lalu aku menarik tanganku cepat-cepat, seperti menyentuh panci panas, karena apa yang barusan kulakukan?

Aku mundur satu langkah. Lengan bajuku menyenggol laptopnya.

Layarnya menyala.


Aku bersumpah aku tidak bermaksud melihat.

Laptopnya tidak terkunci, karena tadi dia hanya menutupnya separuh. Dan yang menyala di layar bukan kode, bukan hal-hal teknis yang biasa ia kerjakan dan tidak kumengerti.

Yang menyala adalah sebuah folder yang terbuka.

Namanya tertulis di bagian atas jendela.

Laporan 14 Maret.

Di dalamnya ada beberapa file. Satu email yang disimpan. Beberapa lampiran. Nama file email itu cukup panjang untuk terbaca dari tempatku berdiri, dan begitu aku membacanya, seluruh tubuhku dingin.

PERINGATAN — Celah pada Sistem Inti Data Nasabah — Mohon Tindakan Segera.

Tanggal di sampingnya: 14 Maret. Dua tahun lalu.

Aku menghitung di kepala. Kebocoran itu terjadi bulan September. Aku ingat karena tagihan pinjol pertamaku datang bulan November, dan petugas yang kutelepon dengan suara gemetar waktu itu bilang data saya “kemungkinan termasuk dalam kebocoran bulan September.”

Maret ke September.

Enam bulan.

Aku menatap layar itu, dan jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut suaranya akan membangunkan Yoga.

Aku tidak boleh membukanya. Ini bukan milikku. Ini laptop orang lain, folder orang lain, rahasia orang lain. Aku sudah melanggar aturanku sendiri berkali-kali minggu ini—mengintip kata sandi, mengintip pantulan di layar—tapi itu semua hal kecil. Ini bukan hal kecil. Ini sesuatu yang ia simpan di folder tersendiri, dengan nama tanggal, seperti orang menyimpan surat dari seseorang yang sudah meninggal.

Aku harus menutup laptop ini. Sekarang. Lalu pergi ke dapur dan pura-pura tidak pernah melihat apa pun.

Tanganku terulur ke arah laptop.

Dari belakang, Tole mendengkur sangat keras, lalu bergumam dalam tidurnya: “...jangan klik... jangan klik, Le...”

Aku membeku. Lalu, meski jantungku masih berdebar, aku hampir tertawa. Bahkan dalam tidurnya, Tole menghafal kartu laminasi itu.

Jangan klik.

Tanganku berhenti di udara, setengah jalan antara menutup laptop dan menyentuh touchpad.

Aku memikirkan dua belas karyawanku. Memikirkan Bu Fatimah yang menangis dan tidak pernah memesan lagi. Memikirkan foto wajahku dengan stempel merah PENIPU yang dikirim ke grup warga kompleks. Memikirkan setahun penuh menangis di balik tripleks gudang beras.

Memikirkan laki-laki yang sekarang tidur di depanku dengan selimutku di bahunya, yang selama setahun penuh kubenci sebagai penyebab semua itu.

Dan memikirkan satu email, bertanggal enam bulan sebelum semuanya hancur, berjudul peringatan.

Kalau isi email itu adalah apa yang kutakutkan—apa yang kuharapkan—maka setahun penuh kebencianku dibangun di atas kebohongan. Dan aku berhak tahu.

Atau mungkin aku tidak berhak. Mungkin hak itu milik dia, dan dia memilih untuk tidak memberikannya padaku, dan aku seharusnya menghormati itu.

Aku berdiri di sana selama satu menit penuh. Satu menit terpanjang dalam hidupku.

Tole mendengkur lagi.

Yoga tetap tertidur, napasnya pelan, wajahnya tenang di bawah selimutku.

Aku duduk di kursi di sampingnya. Pelan, supaya tidak berderit.

Lalu, dengan jari yang gemetar, dengan rasa bersalah yang sudah mengendap di perutku bahkan sebelum aku melakukannya, aku membuka email itu.