Chapter Thirty Five
Datang Tanpa Dipanggil
POV: Yoga
Dua tahun aku tidak memakai nama itu.
Nama yang ditulis dengan huruf kecil. Nama yang dulu membuat orang di forum-forum gelap berhenti mengetik, karena kalau rising sudah masuk, berarti permainan sudah selesai.
Malam takbiran itu, pukul sebelas lewat, aku mengetiknya kembali.
Bukan untuk pamer. Bukan untuk siapa pun. Aku memakainya karena Jejak akan mengenalinya. Karena dua orang yang pernah berdiri di sisi berlawanan selama bertahun-tahun, yang belum pernah bertemu muka, bisa saling mengenali dari satu hal saja: cara mereka bekerja. Tanda tangan.
Aku meninggalkan tanda tanganku di tempat yang aku tahu dia akan melihatnya.
rising.
Dan di seberang sana, di suatu tempat yang tidak kutahu, seseorang yang dua tahun merasa aman—seseorang yang mengira satu-satunya orang yang bisa mengejarnya sudah dikubur hidup-hidup di kamar kos—membeku.
Aku tahu dia membeku, karena selama tiga detik, semuanya berhenti.
“Dia berhenti,” bisik Dimas, menatap layar. “Yog, dia berhenti. Kenapa dia berhenti?”
“Karena dia baru sadar,” kataku pelan, “dia nggak sendirian lagi malam ini.”
Orang mengira pertarungan seperti ini seperti di film. Ledakan. Layar penuh angka berjatuhan. Teriakan.
Tidak.
Pertarungan seperti ini sunyi. Dua orang, entah berapa jauh jaraknya, duduk di depan layar masing-masing, dan yang satu mencoba membuka apa yang dikunci yang lain, secepat yang lain menguncinya kembali. Seperti dua orang mendorong pintu yang sama dari dua sisi. Yang menang adalah yang paling sabar. Yang paling kenal kebiasaan lawannya. Yang paling tahu di mana lawannya akan lengah.
Dan aku kenal Jejak. Dua bulan aku mempelajarinya. Aku tahu dia malas mengganti kebiasaan. Aku tahu dia ceroboh saat merasa terdesak. Aku tahu dia, seperti semua orang yang terlalu lama tidak tertangkap, mulai percaya dirinya tidak bisa tertangkap.
Itu celahnya.
Setiap orang yang terlalu yakin dirinya tak tersentuh, pada akhirnya meninggalkan satu pintu terbuka. Jejak juga.
“Lila,” kataku, tanpa mengangkat kepala. “Kamu lihat yang aku kerjain?”
Di sampingku, Lila menatap layarku dengan mata lebar. “I-iya, Mas.”
“Kamu ngerti?”
Jeda. Lalu, pelan, suaranya bergetar: “Dikit. Mas lagi... maksa dia buru-buru. Biar dia salah langkah.”
Aku hampir tersenyum. Gadis itu. Dua bulan lagi dia akan lebih baik dari separuh rekan kerjaku dulu.
“Pinter,” kataku. “Catat apa yang aku lakuin. Suatu hari kamu bakal perlu.”
“Buat apa, Mas?”
Aku tidak menjawab. Tapi di dalam kepalaku, aku sudah tahu. Suatu hari, mungkin tidak lama lagi, akan ada sekolah. Dengan papan nama. Dan anak-anak seperti Lila akan belajar bukan untuk menyerang, tapi untuk menjaga. Dan aku ingin Lila ada di baris pertama.
Menjelang tengah malam, aku hampir kalah.
Itu bagian yang tidak akan kuceritakan ke siapa pun nanti. Bahwa ada satu momen, sekitar pukul setengah dua belas, ketika Jejak melakukan sesuatu yang tidak kuduga—sesuatu yang cerdas, brutal, putus asa—dan selama sepuluh detik, aku kehilangan pijakan.
Sepuluh detik di mana seluruh sistem pembayaran itu bergoyang di ujung tanduk. Di mana gaji dan THR dan bansos jutaan orang menggantung di antara pulih dan hilang selamanya.
Sepuluh detik di mana aku, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, merasakan tangan Angelica di bahuku.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia tidak tahu apa yang terjadi di layar. Dia hanya merasakan sesuatu di punggungku yang menegang, dan dia meletakkan tangannya di sana, dan dia menekan pelan.
Dan sepuluh detik itu berlalu.
Aku menemukan pijakan lagi. Bukan karena aku lebih pintar dari Jejak. Karena aku punya sesuatu yang tidak dia punya.
Dia bertarung sendirian, di suatu tempat yang gelap, dikejar ketakutannya sendiri.
Aku bertarung dikelilingi orang. Dimas di satu sisi, membaca cepat, menunjuk. Wulan dan Gilang bergantian memeriksa. Lila mencatat setiap gerakanku. Bu Endang mengantar kopi panas tanpa henti. Dan Angelica, tangannya di punggungku, mengingatkanku bahwa apa pun yang terjadi malam ini, aku tidak akan keluar dari ruangan ini sendirian.
Jejak punya kepintaran.
Aku punya barisan.
Dan pada akhirnya, itu yang menentukan.
Pukul satu dini hari, sesuatu berubah.
Aku merasakannya sebelum aku melihatnya. Seperti orang yang mendorong pintu berat, dan tiba-tiba merasakan beban di sisi lain berkurang. Jejak mulai lelah. Mulai panik. Dan orang yang panik mulai mengulang kebiasaan lamanya, kebiasaan yang sudah kuhafal.
Dia meninggalkan tanda tangannya.
jejak.
Huruf kecil semua. Sama seperti di sistem Dapur Angel. Sama seperti di kebocoran dua tahun lalu. Teledor yang sama, dari orang yang sama, yang terlalu yakin dia tidak akan pernah tertangkap.
Dan kali ini, tanda tangan itu tidak hilang ke dalam kegelapan.
Kali ini, aku menangkapnya. Merekamnya. Menyimpannya di tempat yang tidak bisa dihapus siapa pun—bukan di laptopku, tapi di tangan tiga orang berbeda sekaligus, Dimas, Wulan, Gilang, yang masing-masing menyimpan salinannya, sehingga sekali pun Jejak menghancurkan satu, dua yang lain tetap ada.
“Dapet,” bisik Dimas, suaranya pecah. “Yog. Kita dapet dia.”
Aku tidak menjawab. Aku masih bekerja. Karena menangkap tanda tangannya adalah satu hal. Menyelamatkan uang jutaan orang adalah hal lain, dan yang kedua lebih penting dari yang pertama.
Tapi di dalam dadaku, sesuatu yang dua tahun berdiri di depan gerbang akhirnya merasakan hal yang sudah lama tidak kurasakan.
Bukan balas dendam.
Keadilan.
Pukul dua, sistem pembayaran itu kembali bernapas.
Aku tidak melakukannya sendirian. Tidak mungkin sendirian. Begitu aku berhasil menahan Jejak cukup lama, begitu laporan dan bukti yang kukirim sejak sore akhirnya sampai ke tangan orang-orang yang berwenang dan punya kuncinya, mereka bergerak. Birokrasi yang lambat itu, begitu diberi arah yang jelas dan bukti yang rapi, akhirnya berlari.
Satu per satu, saldo kembali. THR masuk. Bansos cair. Gaji ke-13 muncul lagi di rekening orang-orang yang menunggu.
Di teras Dapur Angel, HP Pak Darto berbunyi. Dia menatap layarnya. Lalu dia duduk di lantai teras, menutup wajah dengan kedua tangan, dan menangis.
“Masuk,” bisiknya. “Gaji saya masuk. Ya Allah. Masuk.”
Bu Narti menjerit dari dapur: “THR anak saya masuk! Masuk, Neng!”
Mang Udin menelepon, suaranya pecah: “Mbak Angel! Saldo toko saya balik! Gimana ini? Siapa yang benerin?”
Dan di grup-grup WhatsApp seluruh kota, seluruh negeri, kepanikan pelan-pelan berubah jadi kelegaan, lalu jadi pertanyaan yang sama, berulang-ulang, dari jutaan orang sekaligus:
Tadi itu apa? Siapa yang benerin?
Katanya ada yang ngelawan. Anonim. Namanya huruf kecil semua.
rising? rising yang itu? Yang udah ngilang bertahun-tahun?
rising balik???
Aku menutup laptop.
Teras itu hening. Semua menatapku. Dimas. Wulan. Gilang. Lila. Bu Endang. Dan Angelica, tangannya masih di punggungku.
“Udah?” bisik Lila.
“Udah,” kataku.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku mengucapkan nama itu dengan suara keras, di depan orang-orang, tanpa takut.
“rising udah pulang.”
Lila menatapku. Dahinya berkerut. Dia belum mengerti. Belum sepenuhnya. Potongan-potongan itu belum tersambung di kepalanya.
Tapi Angelica mengerti. Dia selalu mengerti.
Dan dia menggenggam tanganku, erat, di bawah meja, di teras yang penuh orang, dan dia tidak mengatakan apa pun—karena ada hal-hal yang terlalu besar untuk kata-kata, dan ini salah satunya.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil reading
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.