← Rising.

Chapter Six

Kagum yang Menyebalkan

POV: Angelica


Tugasnya cuma satu: buka sistem yang terkunci.

Itu yang kami sepakati. Itu yang kutulis di catatan HP-ku malam itu, lengkap dengan tanggal, supaya kalau suatu hari nanti dia menagih lebih, aku punya bukti. Yoga Pratama — buka sistem Dapur Angel — dibayar makan siang — selesai.

Sistemnya sudah terbuka sejak lima hari lalu.

Dia masih datang setiap hari.

Dan setiap hari, ada sesuatu di dapurku yang berubah tanpa aku minta.

Hari pertama setelah sistem hidup, aku menemukan semua data pesanan sudah punya salinan cadangan otomatis yang tersimpan rapi di tempat lain, diperbarui tiap malam jam dua. Aku tidak pernah memintanya. Aku bahkan tidak tahu itu bisa dilakukan tanpa bayar langganan mahal.

“Kalau besok kejadian lagi,” katanya waktu kutanya, sambil mengunyah perkedel, “kamu nggak perlu gedor pintu siapa-siapa. Tinggal pulihin dari cadangan. Sepuluh menit.”

“Aku nggak minta itu.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa dikerjain?”

Dia mengangkat bahu. “Bosan.”

Bosan. Laki-laki yang dua tahun tidak melakukan apa pun selain menatap langit-langit kamar kos, tiba-tiba bosan.

Hari kedua, semua kata sandi di komputer dapur diganti. Kata sandi lama—dapurangel123, yang kupakai di semua tempat sejak membuka usaha—dihapus dari muka bumi dan diganti rangkaian huruf yang kelihatan seperti kucing berjalan di atas keyboard. Dia menuliskannya di kertas, memasukkannya ke amplop, dan menyerahkannya padaku dengan wajah serius seperti petugas notaris menyerahkan surat wasiat.

“Simpan di tempat yang cuma kamu yang tahu,” katanya. “Jangan di laci kasir. Jangan difoto. Jangan ditempel di monitor.”

“Kamu pikir aku sebodoh itu?”

Dia melirik monitor kasir. Di pojok kanan bawah, tertempel sticky note kuning bertuliskan kata sandi WiFi dapur, kata sandi akun bank usaha, dan nomor PIN mesin EDC, dengan tulisan tanganku sendiri.

Aku mencabut kertas kuning itu dan meremasnya. “Itu Tole yang nempel.”

“Tulisannya tulisanmu.”

“Tole yang nyuruh.”

Dia tidak membantah. Dia hanya menatapku dengan ekspresi datar yang entah kenapa jauh lebih menyebalkan daripada kalau dia tertawa.


Hari ketiga adalah hari laminasi.

Aku datang ke dapur pagi-pagi dan menemukan kartu-kartu kecil berlaminasi ditempel di tiga tempat: di samping komputer kasir, di dinding dekat colokan HP kurir, dan—entah kenapa—di pintu kulkas.

Isinya sama.

SEBELUM KLIK, TANYA DIRI SENDIRI: 1. Aku nunggu email ini nggak? 2. Kenapa dia buru-buru banget nyuruh aku? 3. Kalau ragu, tanya Mas Yoga. Atau Bu Endang. Jangan tanya Tole.

Di bawahnya ada gambar tangan. Gambarnya jelek sekali. Seperti gambar anak TK yang belum lulus. Tapi gambar itu jelas maksudnya: telunjuk yang ditahan, tidak jadi menekan.

Tole berdiri di depan kartu di pintu kulkas dengan wajah terluka.

“Kak Angel,” katanya. “Kenapa namaku disebut? Di kartu resmi?”

“Karena kamu yang klik email tagihan paket itu, Le.”

“Iya, tapi itu kan udah lewat. Masa lalu. Orang berhak berubah.” Dia menunjuk poin ketiga dengan jari gemetar. “Ini namanya pencemaran nama baik. Aku bisa lapor.”

“Lapor ke siapa?”

Tole berpikir. Dia melirik ke arah Yoga, yang sedang duduk di meja pojok dengan laptop dan segelas teh, sama sekali tidak terganggu.

“...Ke Mas Yoga.”

“Ditolak,” kata Yoga tanpa mengangkat kepala.

Tole menatap langit-langit, seolah meminta keadilan dari Tuhan. Bu Endang tertawa sampai harus berpegangan pada meja.

Dan aku—aku pura-pura tidak tertawa, padahal perutku sakit menahannya. Aku pura-pura kesal karena dia menempel kartu di dapurku tanpa izin. Aku pura-pura tidak memperhatikan bahwa di kartu itu, di poin ketiga, nama yang ia tulis pertama adalah namanya sendiri. Tanya Mas Yoga. Seolah dia berencana tetap di sini cukup lama untuk ditanyai.


“Neng, tahu nggak, dia bikin jadwal piket bersih-bersih juga.”

Aku berhenti mengiris bawang. “Jadwal piket?”

Bu Endang mengangguk, mengeluarkan selembar kertas dari kantong celemeknya, dan membentangkannya di meja seperti peta harta karun. Tabel rapi. Nama-nama karyawan, hari, tugas. Dan di kolom paling kanan, ada keterangan kecil yang ditulis dengan tulisan tangan yang sama dengan kartu laminasi.

Pak Darto Selasa-Jumat karena Senin anaknya les. Mbak Yuli jangan shift malam Kamis, dia antar ibunya kontrol. Bu Endang jangan angkat galon, pinggangnya.

Aku membaca tabel itu dua kali.

“Dia tahu dari mana anak Pak Darto les hari Senin?”

“Nanya,” kata Bu Endang. “Kemarin dia ngobrol sama Pak Darto lima belas menit. Ngobrol sama Yuli juga. Sama Ibu juga.” Beliau menepuk pinggangnya. “Ibu cuma bilang sekali, sambil lalu, pinggang Ibu suka kumat. Dia inget.”

Aku meletakkan pisau.

Ada sesuatu yang tidak beres dengan laki-laki ini. Bukan tidak beres yang berbahaya. Tidak beres yang membingungkan. Seperti menemukan bahwa orang yang kamu kira dingin dan tidak peduli ternyata menyimpan catatan kecil tentang pinggang juru masakmu.

Orang jahat tidak mencatat hal seperti itu. Orang jahat tidak peduli siapa yang antar ibunya kontrol hari Kamis.

“Neng,” kata Bu Endang, lebih pelan sekarang, nada bercandanya hilang. “Ibu udah tiga puluh tahun ngeliat orang. Ibu tahu bedanya orang yang baik karena mau dilihat baik, sama orang yang baik karena emang nggak bisa enggak.” Beliau melipat kembali kertas itu. “Yang ini yang kedua.”

Aku tidak menjawab.

Karena kalau aku menjawab, aku harus mengakui sesuatu yang selama setahun penuh tidak boleh kuakui: bahwa mungkin, mungkin saja, gambar yang kubangun tentang Yoga Pratama itu salah.

Dan kalau gambar itu salah, maka seluruh tembok kebencian yang kususun bata demi bata—setiap telepon debt collector, setiap pelanggan yang pergi, setiap malam aku menangis di gudang beras—semuanya dibangun di atas fondasi yang keliru.

Itu terlalu berat untuk diakui sambil mengiris bawang.

Jadi aku melanjutkan mengiris bawang.


Sore itu, setelah semua pesanan terkirim dan dapur mulai sepi, aku duduk di seberangnya.

Dia sedang mengetik sesuatu. Aku tidak tahu apa. Tapi aku memperhatikan wajahnya—hal yang kulakukan diam-diam, akhir-akhir ini, terlalu sering untuk orang yang mengaku tidak tertarik.

Dia berubah sedikit dalam lima hari ini. Rambutnya masih panjang, tapi sudah disisir. Kausnya masih kedodoran, tapi bersih. Dan wajahnya—wajah yang di hari pertama kelihatan seperti dinding yang lupa dicat—mulai punya warna. Tulang pipinya masih menonjol, tapi tidak lagi terlihat seperti tulang yang menunggu kulitnya menyerah. Kalau dia terus makan masakanku sebulan lagi, Bu Endang mungkin benar. Mungkin dia akan kembali seperti dulu.

Dan dulunya, kalau aku boleh jujur pada diriku sendiri di dapur yang sudah sepi ini, pasti tampan. Jenis tampan yang tidak tahu dirinya tampan. Jenis yang paling berbahaya.

“Kamu ngeliatin,” katanya, masih tanpa menoleh.

“Enggak.”

“Pantulan di layar.” Dia memiringkan laptopnya sedikit. Di permukaan layar yang gelap di satu sudut, ada bayanganku. Jelas. Sedang menatap. “Udah dua menit.”

Aku merasakan panas naik dari leher ke telinga. Aku sangat, sangat berharap dapurku cukup gelap untuk menyembunyikannya.

“Aku lagi mikir,” kataku.

“Mikir apa?”

“Mikir kenapa kamu ngerjain semua ini.” Aku menunjuk sekeliling: kartu laminasi, jadwal piket yang ditempel di dinding, komputer kasir yang sekarang menyala dengan tampilan yang jauh lebih rapi dari sebelumnya. “Tugasmu cuma buka sistem. Udah kelar lima hari lalu. Kamu nggak dibayar buat yang lain.”

Dia berhenti mengetik.

Untuk waktu yang lama, dia diam. Lalu dia menutup laptopnya separuh, dan menatapku. Bukan menatap pantulan di layar. Menatapku langsung. Dan aku menyadari bahwa ini mungkin pertama kalinya dia benar-benar melihat lurus ke mataku sejak hari dia membuka pintu sejengkal.

“Kamu dua belas karyawan,” katanya pelan. “Dua ribu pelanggan. Satu tempat yang, waktu semuanya kekunci, bikin kamu nggak tidur tiga hari dan dateng ke pintu orang yang paling kamu benci.”

“Terus?”

“Terus aku nggak mau kamu harus ngelakuin itu lagi.” Dia membuka laptopnya kembali. “Itu aja.”

Itu aja.

Aku duduk di sana dengan mulut sedikit terbuka, dan seluruh tembok kebencianku berdiri di belakangku, tiba-tiba terasa seperti tembok dari kardus.

Aku benci ini.

Aku benci bahwa dia bisa mengatakan hal seperti itu dengan datar, seperti melaporkan cuaca. Aku benci bahwa dia mengatakannya tanpa menuntut terima kasih. Aku benci bahwa kalimat aku nggak mau kamu harus ngelakuin itu lagi akan terus terulang di kepalaku malam ini, besok, mungkin lusa.

Dan yang paling kubenci dari semuanya: aku mulai kagum.

Kagum pada laki-laki yang ada di puncak daftar kebencianku.

Kagum yang menyebalkan, yang tidak diundang, yang datang seperti kucing liar yang sekali diberi makan langsung merasa rumah ini miliknya.

“Makan siang besok,” kataku, berdiri terlalu cepat sampai kursiku berderit. “Jam dua belas. Jangan telat.”

“Aku nggak pernah telat.”

“Ya udah, jangan mulai.”

Aku berjalan ke gudang beras dengan langkah yang terlalu cepat, menutup pintu, dan bersandar di karung-karung beras dalam gelap.

Lalu aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Angelica Wiradinata,” bisikku pada diri sendiri, “kamu bodoh.”

Karung beras tidak membantah.

Itu, entah kenapa, terasa seperti persetujuan.