Chapter Thirty
Lomba
POV: Yoga
Kemenangan di kecamatan membawa tim Tiga Tanda ke tingkat kota.
Kabar itu datang lewat surat resmi yang dikirim ke sekolah Lila. Lila membawanya ke Dapur Angel, membentangkannya di meja pojokku, dan menunjuk satu baris di bagian bawah dengan jari yang masih berplester dari perkelahian minggu lalu.
Formulir pendaftaran tingkat kota wajib mencantumkan nama pembina atau pelatih tim. Pelatih dari komunitas diperbolehkan.
“Pelatih dari komunitas,” ulang Lila. “Diperbolehkan.”
Aku menatap baris itu.
“Aku udah nulis nama Mas,” katanya.
“Lila—”
“Udah ditulis. Pakai pulpen. Nggak bisa dihapus.” Dia melipat tangannya di dada. “Pak Sutrisno udah aku kasih tahu. Dia bilang nggak apa-apa. Dia malah lega. Dia bilang dia nggak sanggup ditanya juri soal kampanye anti-penipuan kalau dia sendiri ngira video kami tentang narkoba.”
“Lila, namaku—”
“Aku tahu nama Mas kayak gimana di internet.” Lila menatapku lurus. “Tapi Mas sendiri yang bilang ke Kakak, minggu lalu, Mas lagi nyari cara yang basahnya paling sedikit.” Dia mengangkat dagunya. “Ini caranya. Nama Mas ditulis sebagai pelatih komunitas. Kalau ada yang ngomong macem-macem, biar aku yang basah duluan.”
Aku menatap gadis di depanku. Lalu menatap Angelica di balik meja kasir, yang pura-pura sibuk dengan kalkulator.
“Kamu yang ngajarin dia ngomong gitu?” tanyaku.
“Nggak,” kata Angelica, tidak mengangkat kepala. “Dia nguping.”
Lomba tingkat kota diadakan di gedung pertemuan balai kota, hari Sabtu.
Gedungnya jauh lebih besar dari aula kecamatan. Ada tiga puluh tim dari seluruh kota. Ada panggung dengan layar besar. Ada kursi-kursi berlapis kain untuk tamu kehormatan. Ada wartawan lokal dengan kamera.
Dan ada aku, duduk di bangku penonton baris ketujuh, memakai batik parang cokelat tua yang dibelikan Bu Endang untuk kondangan.
“Kenapa pakai batik itu?” bisik Angelica, duduk di sampingku dengan kebaya hijau tua yang sama.
“Kenapa kamu pakai kebaya itu?”
“Bu Endang yang maksa.”
“Bu Endang juga yang maksa aku.”
Kami saling menatap. Lalu menatap ke arah Bu Endang, yang duduk dua baris di depan kami dengan kebaya, kacamata baca, dan selendang batik, masih dalam karakter nenek di video Tiga Tanda. Beliau menoleh, melihat kami, dan mengacungkan jempol dengan senyum yang sangat lebar.
“Beliau sengaja,” bisik Angelica.
“Beliau selalu sengaja.”
Tim Tiga Tanda tampil di urutan ke dua puluh dua.
Video mereka sudah diperbarui untuk tingkat kota. Ada adegan tambahan: Bu Narti sebagai tetangga yang hampir tertipu undian kulkas, diselamatkan oleh Putri dengan tiga jari teracung. Ada adegan kelas teras, dengan delapan anak dan papan tulis bekas menu. Dan di akhir video, layar menjadi hitam, dan dua kalimat putih muncul.
Kalau orang dewasanya yang ketipu, kamu yang ngajarin dia.
Terima kasih untuk pelatih kami, yang ngajarin kami bahwa pahlawan nggak harus kelihatan.
Aku tidak tahu soal kalimat kedua. Mereka tidak memberitahuku.
Gedung itu hening sebentar. Lalu tepuk tangan meledak, lebih keras dari di kecamatan.
Angelica menggenggam tanganku di bawah kursi.
Mereka menang. Juara pertama tingkat kota. Mereka akan mewakili kota ke tingkat provinsi.
Pembawa acara membaca dari kertas saat lima anak itu naik ke panggung.
“Juara pertama, tim Tiga Tanda, dengan pelatih komunitas... Bapak Yoga Pratama!”
Dan di situ, sesuatu terjadi.
Bukan sorakan. Bukan tepuk tangan. Bisik-bisik. Aku mendengarnya menyebar dari baris depan ke belakang, seperti riak di permukaan kolam. Yoga Pratama? Yang itu? Yang di artikel? Yang dalang kebocoran? Kepala-kepala menoleh. Mencari. Beberapa orang di barisan tamu kehormatan saling berbisik dengan wajah serius.
Aku merasakan semua tatapan itu seperti panas matahari jam tiga yang jatuh dari celah kardus. Dulu aku akan menunduk. Dulu aku akan pergi.
Hari ini, Angelica menggenggam tanganku lebih erat.
“Jangan nunduk,” bisiknya.
Aku tidak menunduk.
Di panggung, Lila mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara. Tidak ada yang memberinya. Dia hanya mengambilnya.
“Saya Lila,” katanya. Suaranya bergetar di awal. “Ketua tim. Dan saya mau ngomong satu hal.”
Gedung hening.
“Saya tahu kalian bisik-bisik,” katanya. “Saya juga baca artikelnya. Yang asli, sama yang judulnya diganti-ganti. Saya juga denger orang di sekolah saya bilang pelatih kami penjahat.” Dia menarik napas. “Tapi yang ngajarin Putri nyelametin ibu kos dari penipuan undian kulkas, itu pelatih kami. Yang ngajarin staf kelurahan kami supaya data bantuan seribu dua ratus keluarga nggak bocor, itu pelatih kami. Yang nyelametin uang arisan satu RT, uang pensiun seorang nenek, dan akun toko warung kopi, itu pelatih kami.”
Dia menoleh ke barisan penonton. Mencari. Menemukanku.
“Dan yang ngajarin saya,” katanya, suaranya pecah, “bahwa orang yang dicap penjahat belum tentu penjahat. Itu juga pelatih kami.”
Dia menyerahkan mikrofon kembali ke pembawa acara yang berdiri bengong.
Hening tiga detik.
Lalu seseorang di barisan belakang bertepuk tangan.
Lalu seseorang lagi.
Lalu Bu Endang berdiri, dengan kebaya dan kacamata bacanya, dan bertepuk tangan keras-keras sambil berteriak, “Itu calon mantu saya!”
Seluruh gedung tertawa. Dan tepuk tangan itu menyebar, dari belakang ke depan, sampai barisan tamu kehormatan pun ikut bertepuk tangan—sebagian dengan canggung, sebagian dengan tulus.
Aku duduk di bangku baris ketujuh, dengan tangan Angelica di tanganku, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan wajahku.
“Berdiri,” bisik Angelica.
“Apa?”
“Mereka nungguin kamu. Berdiri.”
Aku berdiri.
Pelan. Canggung. Dengan batik parang cokelat tua yang dibelikan Bu Endang, di depan ratusan orang yang sebagian besar mengenal namaku dari judul berita yang salah.
Aku tidak melambai. Aku tidak tersenyum. Aku hanya berdiri, dan mengangguk sekali ke arah panggung. Ke arah lima anak yang memegang piala emas plastik. Ke arah Lila yang menangis sambil tersenyum.
Lalu aku duduk lagi, karena kakiku tiba-tiba tidak bisa menopang badanku.
Setelah acara, saat kerumunan mulai bubar, aku melihatnya.
Hanya sekilas. Di dekat pintu keluar gedung, di antara orang-orang yang berdesakan keluar. Bahu lebar yang sudah turun. Rambut hampir putih. Kemeja batik lama yang warnanya sudah pudar—kemeja batik yang kukenal, karena aku melihatnya di foto di papan gabus. Foto hari pertamaku masuk Bank Nusa Raya. Kemeja batik terbaik Bapak.
Aku berhenti.
Laki-laki itu tidak menoleh. Dia berjalan keluar bersama kerumunan, punggungnya membungkuk sedikit, langkahnya pelan.
“Yoga?” Angelica menyentuh lenganku. “Kenapa?”
Aku tidak menjawab. Aku mendorong kerumunan, berusaha mengejar. Tapi pintu keluar terlalu penuh. Terlalu banyak orang. Saat aku akhirnya sampai di luar, di tangga gedung balai kota, di bawah matahari sore yang miring, laki-laki itu sudah tidak ada.
Aku berdiri di tangga, menatap jalan, menatap parkiran, menatap halte angkot di seberang.
Kosong.
Mungkin aku salah lihat. Mungkin hanya bapak-bapak lain dengan kemeja batik lama dan bahu yang sudah turun. Ada ribuan bapak-bapak seperti itu di kota ini.
Angelica menyusulku. Dia berdiri di sampingku di tangga, napasnya sedikit tersengal.
“Kamu lihat siapa?”
“Nggak tahu,” kataku. “Mungkin salah lihat.”
Dia menatapku lama. Lalu menatap jalan yang kosong.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang dia sembunyikan dengan cepat, tapi tidak cukup cepat.
Bukan bingung.
Lega.
“Angelica,” kataku pelan. “Kamu ngundang seseorang?”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tanganku, dan menarikku turun tangga, menuju lima anak dan satu Bu Endang berkebaya yang sedang melambai-lambai dengan piala emas plastik di parkiran.
“Ayo,” katanya. “Bu Endang mau traktir bakso. Katanya buat ngerayain calon mantunya diakuin satu kota.”
Aku membiarkan dia menarikku.
Tapi sebelum masuk ke pikap sewaan, aku menoleh sekali lagi ke arah halte angkot di seberang jalan.
Kosong.
Dan entah kenapa, kekosongan itu tidak lagi terasa seperti papan gabus tanpa foto.
Rasanya seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan seseorang. Yang masih hangat.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba reading
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.