Chapter Forty One
Epilog — Rising.
POV: Yoga
Akad nikah itu sederhana.
Di masjid dekat Broto Cell, di kota sebelah, karena Bapak bilang beliau ingin menikahkan anaknya di tempat yang bisa dilihat semua langganannya. Mang Ujang, tetangga kios, jadi saksi. Bu Endang menangis dari baris perempuan sampai riasannya luntur. Lila jadi pendamping pengantin dan merekam segalanya. Tole menjatuhkan cincin sekali, tapi Pak Darto menangkapnya sebelum menggelinding.
Sheren tidak datang. Tapi dia mengirim pesan, pagi itu, satu baris:
Kamu pantes bahagia, Yoga. Akhirnya kamu nggak tenggelam sendirian. Jaga dia. — S.
Aku membalas dengan satu kata. Makasih. Dan aku tahu, dari jarak yang akhirnya terasa benar, bahwa dia juga sedang belajar berdiri—untuk dirinya sendiri, kali ini.
Saat penghulu menyelesaikan ijab kabul, saat aku mengucapkan kalimat yang membuat Angelica Wiradinata resmi jadi istriku, aku menatap Bapak.
Beliau duduk di baris depan, dalam kemeja batik terbaiknya—yang sama dengan di foto papan gabus, yang sudah dua puluh tahun jadi kemeja terbaiknya—dan beliau menangis tanpa suara, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, beliau tidak menyembunyikannya.
Malam itu, malam pertama kami sebagai suami istri, aku menutup pintu kamar.
Dan aku tidak melakukan apa yang selama dua tahun selalu kulakukan di balik pintu yang tertutup.
Aku tidak mengunci diri.
Aku membuka jendela. Membiarkan cahaya bulan masuk. Membiarkan diriku dilihat, dan melihat, dan tidak takut pada keduanya.
Angelica tertawa pelan soal sesuatu, dan aku memadamkan lampu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, gelap tidak terasa seperti tempat bersembunyi.
Gelap terasa seperti rumah.
POV: Angelica
Enam bulan kemudian, ruko dua pintu dari Dapur Angel akhirnya punya papan nama.
Yoga menolak memasangnya selama berbulan-bulan. Belum waktunya, katanya terus. Aku tidak pernah mengerti apa yang dia tunggu.
Sampai pagi peresmian itu, saat aku datang membawa papan nama yang kupesan—dan menemukan bahwa Yoga sudah membuat sendiri, diam-diam, dengan tangannya sendiri, dari papan kayu dan cat yang dibelinya di toko bangunan.
Aku berhenti di depan ruko, memegang papan nama cetakanku yang sekarang tidak berguna, dan menatap papan buatannya yang tergantung di atas pintu.
Hurufnya tidak rapi. Catnya belang di beberapa tempat. Jelas dibuat orang yang lebih terbiasa dengan keyboard daripada kuas.
Tapi aku tidak pernah melihat papan nama yang lebih indah.
RISING Sekolah Keamanan Digital — Gratis
Dan di bawahnya, lebih kecil, dengan cat yang sudah mulai mengering:
“Semua sistem punya celah. Termasuk kamu. Itu bukan kelemahan — itu pintu buat orang lain masuk dan nolongin.”
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Kalimat yang dulu ia ucapkan di hari pertama, sebagai prinsip teknis yang dingin. Kalimat yang kubalikkan jadi pertanyaan di malam mati lampu. Kalimat yang jadi pengakuan cintanya di atap. Kalimat yang ia pakai untuk meruntuhkan orang yang menjatuhkannya.
Sekarang jadi kalimat yang menyambut anak-anak di pintu sekolahnya.
Lila berdiri di sampingku, membaca papan nama itu, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, adikku yang sinis dan tajam lidah itu tidak punya satu pun komentar nyinyir.
“Keren,” cuma itu katanya, pelan. “Keren banget, Kak.”
Hari pertama sekolah itu buka, dua belas anak datang.
Anak-anak warnet. Anak-anak yang belajar dari YouTube. Anak-anak yang otaknya encer tapi tidak pernah punya yang menunjukkan arah. Persis seperti Yoga tiga puluh tahun lalu, duduk di bangku plastik di Broto Cell, menonton ayahnya membongkar HP.
Yoga berdiri di depan kelas, dengan spidol di tangan dan papan tulis di belakangnya, dan untuk sesaat dia hanya diam. Menatap mereka. Dua belas wajah yang menunggu.
Aku menontonnya dari pintu.
Dan aku melihat sesuatu yang membuat dadaku penuh sampai hampir sakit.
Laki-laki yang tiga bulan lalu keluar dari kamar kos hanya untuk membeli nasi bungkus satu. Yang menutup semua kamera dengan lakban hitam. Yang mengira satu-satunya cara mencintai orang adalah dengan menghilang.
Sekarang berdiri di depan dua belas anak, dengan wajah terbuka, dengan lampu yang menyala di matanya, dan tidak ada satu pun lakban tersisa di mana pun dalam hidupnya.
Dia tidak bangkit untuk kembali ke puncak.
Dia bangkit untuk berdiri di tempat yang bisa dilihat. Untuk berani dilihat lagi.
Dan aku—aku yang mengira datang untuk membuka satu sistem yang terkunci, lalu memutuskan membuka satu orang yang terkunci—aku berdiri di pintu, dengan cincin perak sederhana di jari, dan menyaksikan dunia akhirnya melihat apa yang sudah lama kulihat sendiri.
Siapa pahlawannya.
Siapa Yoga.
“Selamat pagi,” kata suamiku ke dua belas anak itu. Suaranya tidak gemetar. “Hari ini kita belajar satu hal. Bahwa setiap sistem, setiap orang, punya celahnya sendiri.” Dia tersenyum. “Dan itu bukan hal yang buruk.”
Matahari pagi masuk lewat jendela yang terbuka lebar, jatuh di lantai kelas, membentuk segitiga cahaya yang bergeser pelan.
Kali ini, tidak ada yang menutupnya dengan kardus.
Kali ini, dibiarkan masuk.
— TAMAT —
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising. reading