← Rising.

Chapter One

Lakban Hitam

POV: Yoga


Kamarku tidak pernah benar-benar gelap. Itu yang orang tidak tahu.

Ada cahaya yang menyelinap dari celah ventilasi di atas pintu, tipis, kekuningan, milik lampu lorong kos yang tak pernah dimatikan Bu Narti karena katanya “biar maling mikir dua kali.” Ada cahaya dari lampu indikator charger HP yang berkedip hijau setiap kali baterainya penuh. Ada cahaya dari jendela kecil yang kututup kardus bekas mi instan, tapi kardusnya melengkung di satu sudut, jadi setiap jam tiga sore matahari menusuk masuk dan jatuh tepat di lantai, membentuk segitiga kecil yang bergeser pelan sampai hilang di dinding.

Aku hafal semuanya. Dua tahun cukup untuk menghafal apa pun.

Lampu kamarnya sendiri tidak pernah kunyalakan. Saklarnya ada di samping pintu, putih, sedikit retak. Aku bisa saja menekannya. Tidak ada yang melarang. Tapi lampu itu terang, dan terang membuat aku bisa melihat semuanya dengan jelas: tumpukan bungkus nasi yang belum kubuang, kaus yang sudah dipakai empat hari, laptop di sudut meja yang tertutup debu, dan lakban hitam yang kutempel di kameranya.

Lakban hitam itu juga ada di kamera HP-ku. Depan dan belakang. Kalau aku harus memesan sesuatu, aku memesannya tanpa melihat wajahku sendiri di layar. Kalau ada panggilan video, aku tidak mengangkatnya. Tidak ada yang meneleponku dengan video. Tidak ada yang meneleponku, titik.

Jam di HP menunjukkan 12.47.

Tiga belas menit lagi aku akan keluar.

Rutinitasku sederhana, dan aku menjaganya seperti orang menjaga satu-satunya hal yang masih ia kendalikan. Pukul satu siang, aku pakai sandal jepit, turun tangga kos, belok kiri di mulut gang, jalan dua puluh tiga langkah ke warung nasi Bu Sri. Nasi, telur dadar, sayur labu, sambal sedikit. Satu bungkus. Bayar sembilan ribu, uang pas. Bu Sri sudah berhenti mengajakku ngobrol sejak tahun pertama. Aku berterima kasih untuk itu.

Pulang. Makan di lantai. Tidur, atau tidak tidur, tergantung apakah kepalaku mau diam.

Itu hidupku sekarang. Dulu tidak begini.

Dulu aku bangun pukul lima dengan tiga layar menyala dan kopi yang selalu dingin karena aku lupa meminumnya. Dulu aku punya kartu akses ke lantai 31 gedung kaca di Sudirman. Dulu orang-orang memanggilku “Pak” padahal umurku baru dua puluh delapan, dan aku risih setiap kali mendengarnya. Dulu aku punya mimpi yang terlalu besar untuk diucapkan keras-keras, jadi aku hanya menuliskannya di halaman belakang buku catatan: Indonesia nggak perlu takut sama internetnya sendiri.

Buku catatan itu ada di bawah tumpukan kardus. Aku tidak pernah membukanya lagi.

Pukul 12.53. Tujuh menit.

Lalu pintu kamarku digedor.

Bukan diketuk. Digedor. Tiga kali, keras, dengan kepalan tangan yang jelas tidak berniat sopan.

Aku diam. Ini bukan pertama kalinya. Bu Narti sudah menggedor pintuku setiap tanggal lima selama empat bulan terakhir, sejak aku berhenti membayar sewa. Biasanya dia akan menyerah setelah gedoran keenam, lalu berteriak sesuatu tentang “anak muda zaman sekarang” dan pergi.

Gedoran keempat. Kelima.

“Saya tahu kamu di dalam.”

Suaranya bukan suara Bu Narti.

Suara perempuan. Muda. Rendah, tapi tajam, seperti pisau yang diasah sampai bisa membelah kertas tanpa suara. Dan ada sesuatu di bawahnya—getaran tipis yang hanya bisa didengar orang yang terbiasa mendengar orang panik.

“Aku nggak butuh kamu buka pintu. Aku cuma butuh lima menit.”

Aku tidak bergerak.

“Kamu Yoga Pratama, kan? Yang dulu di Bank Nusa Raya?”

Ada sesuatu yang dingin turun dari tengkuk sampai ke ujung jariku.

Sudah lama tidak ada yang menyebut nama itu lengkap dengan nama bank di belakangnya. Orang-orang di sini mengenalku sebagai “Mas kamar tujuh”. Bu Sri mengenalku sebagai “telur dadar, sayur labu”. Nama Yoga Pratama hanya hidup di internet, di artikel-artikel lama dengan judul yang masih bisa kuhafal titik komanya.

Kepala Keamanan Siber Diduga Dalang Kebocoran 30 Juta Data Nasabah.

“Aku tahu kamu dengar.” Suaranya naik setengah nada. “Sistem kateringku kena ransomware tadi pagi. Semua pesanan, semua data pelanggan, gaji karyawan—kekunci. Mereka minta lima ratus juta dalam tiga hari. Teknisi yang kupanggil angkat tangan. Dia bilang cuma satu orang di kota ini yang bisa buka itu, dan dia kasih alamat ini.”

Aku menatap pintu.

“Aku nggak mau minta tolong sama kamu.” Jeda. “Sumpah, kamu orang terakhir di dunia yang mau aku mintain tolong. Tapi aku punya dua belas karyawan yang gajian minggu depan, dan aku nggak punya lima ratus juta.”

Sunyi sebentar. Lalu, lebih pelan:

“Tolong.”

Kata itu yang membuatku berdiri.

Bukan karena aku tersentuh. Aku sudah lama tidak tersentuh oleh apa pun. Tapi kata “tolong” dari orang yang jelas-jelas membenciku punya bobot yang aneh. Seperti melihat orang menelan sesuatu yang pahit di depanmu dan tidak memuntahkannya.

Aku membuka pintu.

Hanya sejengkal. Rantai pengamannya masih terpasang.

Dan untuk sesaat aku lupa apa yang mau kukatakan.

Dia berdiri di lorong dengan lampu kuning di belakangnya, jadi wajahnya setengah dalam bayangan, tapi setengah yang terlihat sudah cukup. Rambut hitam diikat asal, beberapa helai lolos dan menempel di pelipis yang berkeringat. Mata yang tajam dan besar, dengan bulu mata yang tidak perlu maskara, menatapku seperti sedang mengukur berapa dalam lubang yang harus ia gali untuk menguburku. Hidung lurus. Bibir yang dirapatkan sampai garisnya pucat. Dia memakai kemeja kerja putih yang lengannya digulung sampai siku, celemek hitam bertuliskan Dapur Angel yang belum dilepas, dan wajah yang sudah lama tidak tidur.

Dia cantik. Sangat cantik, dengan cara yang membuat orang lupa sopan santun dan menatap terlalu lama.

Aku kesal pada diriku sendiri karena menyadarinya.

“Kamu,” katanya. Bukan pertanyaan. Pengumuman.

“Cari orang lain,” kataku. Suaraku serak. Sudah berapa hari aku tidak bicara?

“Udah. Udah lima orang. Semuanya bilang sama: ini bukan ransomware biasa, ini dibikin orang yang ngerti banget, dan satu-satunya yang bisa ngelawan orang kayak gitu ya orang kayak gitu juga.” Matanya menyipit. “Orang kayak kamu.”

Ada nada di kata terakhir itu. Bukan pujian. Tuduhan.

“Aku bukan orang kayak gitu,” kataku.

“Oh ya?” Dia mengeluarkan HP dari saku celemek dan menyodorkannya ke celah pintu. Layarnya menampilkan foto: monitor komputer dengan latar merah dan teks putih. Surat tebusan. “Coba bilang itu sambil lihat ini.”

Aku tidak mau melihat.

Aku melihat.

Kebiasaan lama tidak mati. Kebiasaan lama hanya tidur, dan tidurnya ringan.

Mataku menyapu teks itu dalam dua detik. Formatnya rapi. Bahasa Indonesianya baku, terlalu baku, seperti orang yang terbiasa menulis surat resmi. Nominal tebusan dalam rupiah, bukan dolar. Tenggat tujuh puluh dua jam. Dan di bagian bawah, ada satu kalimat yang membuat sesuatu di dalam kepalaku berdetak pelan, seperti mesin tua yang distarter setelah bertahun-tahun.

Seluruh data nasabah Anda akan dipublikasikan.

Nasabah. Bukan pelanggan. Bukan pengguna.

Orang yang menulis ini terbiasa dengan kata nasabah.

“Semua sistem punya celah,” kataku, sebelum sempat menahannya. “Sistemmu cuma kebetulan punya yang besar.”

Dia menatapku. Lama.

“Jadi kamu bisa?”

Aku menutup mulutku. Terlambat. Aku tahu wajahku sudah menjawab.

“Aku nggak bilang aku mau.”

“Aku nggak nanya kamu mau atau nggak.” Suaranya datar. “Aku nanya kamu bisa atau nggak.”

“Dua pertanyaan itu beda.”

“Buat aku sama.” Dia memasukkan HP kembali ke saku. “Aku Angelica. Angelica Wiradinata. Dapur Angel, dua gang dari sini, yang cat hijau. Kamu mungkin pernah lihat motor kurirku lewat.”

Aku pernah. Motor bebek dengan kotak thermal hijau. Lewat depan kos tiap pagi pukul enam, tiap siang pukul sebelas. Aku tidak tahu itu punya siapa. Aku tidak pernah ingin tahu.

“Kenapa kamu bilang aku orang terakhir yang mau kamu mintain tolong?” tanyaku. Aku tidak tahu kenapa aku bertanya. Mungkin karena aku sudah tahu jawabannya dan ingin mendengarnya, seperti menekan memar untuk memastikan masih sakit.

Dia diam sebentar. Rahangnya mengeras.

“Karena NIK-ku ada di tiga puluh juta data yang bocor itu,” katanya pelan. “Dan setahun terakhir, aku ditagih dua puluh tiga pinjol yang nggak pernah aku ajuin. Debt collector datang ke dapurku, teriak-teriak di depan pelanggan, nyebarin fotoku ke grup WA kompleks dengan tulisan ‘penipu’. Aku hampir bangkrut, Mas Yoga. Hampir. Gara-gara data yang kamu bocorin.”

Kalimat itu masuk dan duduk di dadaku seperti orang yang sudah lama tahu tempatnya.

Aku tidak membantah. Aku tidak pernah membantah. Dua tahun lalu, di depan penyidik, di depan wartawan, di depan ayahku, aku tidak membantah. Ada alasan untuk itu, dan alasan itu masih ada, dan dia tidak perlu tahu.

“Maaf,” kataku.

Satu kata. Tidak cukup. Tidak akan pernah cukup.

Matanya berkedip, seperti dia tidak menyangka. Mungkin dia menyangka aku akan membela diri. Mungkin dia sudah menyiapkan argumen. Sekarang argumennya menggantung di udara tanpa lawan.

“Maaf nggak bikin gajian karyawanku cair,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Jadi?”

“Jadi cari orang lain.”

Aku menutup pintu.

Di balik pintu, aku mendengar napasnya—satu tarikan panjang, tajam, seperti orang yang menahan diri untuk tidak menendang sesuatu. Lalu langkah menjauh. Lalu, dari ujung lorong, suara yang sangat kukenal.

“Neng, Neng! Itu Mas kamar tujuh? Dia ngomong? Barusan dia ngomong?”

Bu Narti.

“Iya, Bu.”

“Ya Allah, empat bulan saya gedor nggak pernah dibuka! Neng pakai jampi apa?”

“Nggak pakai apa-apa, Bu. Saya cuma marah.”

“Wah, saya juga marah tiap bulan, Neng, nggak dibukain!”

“Mungkin marahnya Ibu kurang cantik.”

Hening sesaat.

“...Iya juga sih.”

Lalu suara pintu kamar sebelah terbuka. Mbak Ratih, teller bank yang kerja shift malam dan tidur sepanjang siang, yang dindingnya berbagi denganku dan yang tidak pernah sekali pun menyapaku.

“Bu Narti, ini jam berapa sih? Saya baru tidur jam sembilan pagi!”

“Mbak Ratih, Mbak Ratih, Mas kamar tujuh ngomong!”

“Terus kenapa? Saya juga ngomong! Saya ngomong ‘tolong jangan berisik’ tiap hari, nggak ada yang dengerin!”

Aku bersandar di pintu dan, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sesuatu di sudut mulutku bergerak. Bukan senyum. Belum. Hanya otot yang lupa caranya, dan sedang mencoba mengingat.

Aku langsung menghentikannya.


Pukul 13.02. Aku terlambat dua menit dari jadwal.

Aku memakai sandal, membuka pintu, dan hampir menginjaknya.

Kotak nasi. Kardus putih dengan stiker hijau: Dapur Angel — Masakan Rumah, Hati yang Penuh. Di atasnya, selembar kertas dilipat dua, ditindih sendok plastik supaya tidak terbang.

Aku menatapnya lama, seperti menatap paket mencurigakan.

Lalu aku membungkuk dan membuka kertasnya.

Tulisan tangannya tegak, rapi, sedikit miring ke kanan, dengan tekanan pena yang dalam sampai kertasnya berbekas.

Ini bukan sogokan. Ini ujian rasa. Kalau masakanku enak, berarti aku pantas ditolong. Kalau nggak enak, kamu boleh terus nutup pintu.

Besok aku balik.

— A.

P.S. Kamu kurus banget. Itu bukan perhatian. Itu observasi.

Aku membaca P.S.-nya dua kali.

Kemudian aku berdiri di lorong dengan kotak nasi di tangan, sandal jepit di kaki, dan rencana ke warung Bu Sri yang tiba-tiba terasa tidak masuk akal.

Aku masuk kembali ke kamar. Menutup pintu. Duduk di lantai, di tempat biasa, di mana segitiga cahaya jam tiga akan jatuh nanti.

Aku membuka kotaknya.

Nasi putih yang masih mengepul tipis. Ayam bakar dengan bumbu yang meresap sampai ke tulang, kecokelatan di pinggirnya. Tumis buncis dengan bawang putih. Sambal terasi dalam wadah kecil terpisah. Dan sepotong tempe mendoan yang digoreng tipis, garing di tepi, lembut di tengah—jenis yang dulu dibuat ibuku setiap Jumat sebelum beliau meninggal, sebelum semuanya mulai retak.

Aku makan suapan pertama.

Lalu aku berhenti.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk diam dengan sendok di tangan. Hanya saja, ketika aku sadar, segitiga cahaya sudah mulai muncul di lantai, dan nasinya sudah dingin, dan aku sudah menghabiskan semuanya sampai butir terakhir tanpa ingat menelannya.

Sudah dua tahun aku makan untuk tidak mati.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku makan dan merasakan sesuatu.

Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana, lalu langsung mengeluarkannya lagi karena itu konyol, lalu memasukkannya lagi.

Di sudut meja, laptop yang tertutup debu itu diam saja. Lakban hitam di kameranya sudah mengelupas di satu sudut. Aku tidak pernah memperhatikannya.

Aku tidak menyentuhnya.

Belum.

Tapi malam itu, saat lampu lorong menyelinap masuk lewat ventilasi dan aku berbaring menatap langit-langit, kepalaku tidak mau diam. Kepalaku terus mengulang satu kata dari surat tebusan itu, seperti lagu yang tidak bisa dihentikan.

Nasabah.

Orang yang menulis itu pernah bekerja di bank.

Dan sesuatu yang sudah lama mati di dalam diriku—sesuatu yang dulu punya nama, nama yang ditulis dengan huruf kecil, nama yang dulu membuat orang-orang di forum gelap berhenti mengetik—bergerak sekali.

Pelan sekali.

Seperti jari yang berkedut di ruang jenazah.