Chapter Eighteen
Sepuluh Menit
POV: Yoga
Mereka datang hari Kamis, pukul sebelas pagi, saat dapur paling ramai.
Dua laki-laki. Satu bertubuh besar dengan kepala plontos dan jaket kulit imitasi meski matahari sedang terik-teriknya. Satu lagi lebih kecil, lebih muda, memegang map dan HP, dengan senyum yang terlalu lebar untuk wajah yang terlalu dingin.
Aku tidak perlu bertanya siapa mereka. Aku tahu dari cara mereka berdiri di ambang pintu dapur: kaki dibuka lebar, menghalangi jalan, seperti dua orang yang terbiasa membuat ruangan terasa lebih sempit dengan kehadiran mereka.
Aku juga tahu dari wajah Angelica.
Wajahnya tidak pucat seperti di hari HP-nya berdering tujuh kali dalam satu jam. Wajahnya justru mengeras. Rahangnya menegang. Dia meletakkan sendok nasi di atas meja dengan sangat pelan, seolah takut kalau dia bergerak terlalu cepat, sesuatu di dalam dirinya akan pecah.
“Ibu Angelica Wiradinata?” kata yang lebih kecil, suaranya ramah palsu. “Kami dari bagian penagihan. Ibu punya tunggakan di aplikasi kami. Sudah lewat seratus dua puluh hari. Kami sudah hubungi berkali-kali, Ibu nggak pernah angkat.”
Dapur berhenti.
Mbak Yuli berhenti menyelotip kotak. Pak Darto berhenti di tengah jalan dengan dua kardus di tangan. Tole, di dekat kompor, menggenggam sutil seperti menggenggam senjata.
Di luar, di depan pintu dapur yang terbuka, tiga pelanggan yang sedang menunggu pesanan mulai menoleh. Seorang ibu dengan anak kecil. Dua karyawan kantor kelurahan yang biasa makan siang di sini.
“Saya nggak punya pinjaman di aplikasi apa pun,” kata Angelica. Suaranya datar, tapi aku mendengar getarannya. “Identitas saya dicuri. Saya sudah lapor.”
“Semua orang bilang gitu, Bu.” Yang besar maju satu langkah. “Kalau Ibu nggak bayar hari ini, kami terpaksa—”
“Terpaksa apa?”
Suaraku.
Aku tidak berdiri. Aku tetap duduk di meja pojok. Tapi aku menutup laptopku, pelan, dan memutar kursiku sedikit, sampai aku menghadap mereka.
Kedua laki-laki itu menoleh. Yang besar menatapku dari ujung kepala sampai sandal jepit, dan aku melihatnya memutuskan dalam satu detik bahwa aku tidak berbahaya. Orang kurus berkaus kedodoran yang duduk di pojok dapur katering.
“Mas siapa?”
“Teman.”
“Ini bukan urusan Mas.”
“Mungkin,” kataku. “Tapi kalian belum jawab. Terpaksa apa?”
Yang kecil tersenyum lebih lebar. “Terpaksa kami datang lagi bawa tim yang lebih banyak, Mas. Terpaksa kami kabari keluarga dan kenalan Ibu Angelica. Terpaksa kami sebarkan informasi tunggakannya, supaya beliau ada motivasi membayar.”
“Oke.” Aku mengangguk. Lalu aku berdiri, berjalan ke meja kasir, mengambil teko teh yang selalu ada di sana untuk pelanggan, dan menuang tiga gelas.
Semua orang menatapku. Dua penagih itu. Angelica. Tole. Pelanggan di pintu.
Aku membawa dua gelas ke meja kecil di dekat pintu, meletakkannya, lalu menarik dua kursi plastik.
“Duduk,” kataku. “Kita ngobrol sepuluh menit. Habis itu terserah kalian.”
Mereka saling pandang. Bingung. Orang-orang seperti mereka terbiasa menghadapi dua jenis reaksi: takut, atau marah. Mereka tahu cara menangani keduanya. Takut bisa ditekan. Marah bisa dipancing sampai yang marah terlihat salah.
Mereka tidak tahu cara menangani teh manis dan kursi plastik.
Yang kecil duduk lebih dulu. Mungkin karena penasaran. Yang besar ikut duduk, jaket kulitnya berderit.
Aku duduk di depan mereka dengan gelas tehku sendiri. Angelica berdiri di belakangku. Aku tidak melihatnya, tapi aku merasakan dia di sana, seperti merasakan panas kompor di punggung.
“Boleh saya lihat surat tugasnya?” tanyaku.
Yang kecil berkedip. “Surat tugas?”
“Penagih dari perusahaan pinjaman resmi wajib bawa surat tugas dari perusahaannya. Sama kartu identitas penagih. Sama sertifikat kalau dia penagih lapangan.” Aku menyesap teh. “Saya cuma mau lihat.”
“Itu... ketinggalan di kantor.”
“Oke. Nama perusahaannya apa?”
Dia menyebut satu nama. Nama aplikasi yang tidak asing bagiku. Aku sudah mencatatnya berminggu-minggu lalu, di dokumen panjang yang kutulis sampai subuh, di samping dua puluh dua nama lain.
Aku mengeluarkan HP-ku. HP butut dengan lakban hitam di kameranya. Aku mengetik sesuatu, menunggu sebentar, lalu memutar layarnya ke arah mereka.
“Ini daftar resmi penyelenggara pinjaman yang terdaftar dan berizin,” kataku. “Daftarnya publik. Siapa aja bisa cek. Perusahaan kalian nggak ada di sini.”
Yang kecil menatap layar. Senyumnya mulai kehilangan bentuk.
“Artinya,” lanjutku, masih dengan nada yang sama, seperti menjelaskan cara membuat teh, “perusahaan kalian ilegal. Pinjaman dari perusahaan ilegal nggak punya dasar hukum buat ditagih. Dan Bu Angelica nggak pernah ngajuin pinjaman itu, jadi bahkan kalau perusahaan kalian legal pun, tagihannya tetap nggak sah.”
“Mas, itu bukan—”
“Terus,” aku memotong, tidak keras, hanya terus berbicara, “barusan Mas bilang di depan saksi—” aku melirik ke arah pintu, ke tiga pelanggan yang sekarang menonton tanpa malu-malu, “—bahwa kalian akan menyebarkan informasi tunggakan ke keluarga dan kenalan Bu Angelica. Menyebarkan data pribadi orang tanpa izin, dengan tujuan menekan atau mempermalukan, itu pelanggaran. Ada pasalnya. Ancaman pidananya nggak kecil.”
Yang besar mulai bergerak tidak nyaman di kursinya.
“Dan satu lagi.” Aku menunjuk ke sudut langit-langit, ke arah kamera kecil yang kupasang di atas pintu dapur dua bulan lalu, di hari yang sama aku membuat salinan cadangan sistem Angelica. “Kamera itu ngerekam suara. Dari kalian masuk sampai sekarang.”
Hening.
Di luar, ibu dengan anak kecil itu menarik anaknya sedikit lebih dekat. Dua karyawan kelurahan saling berbisik.
Yang kecil menatap kamera itu. Lalu menatapku. Lalu menatap gelas teh di depannya, yang belum ia sentuh.
“Mas ini siapa sih?” tanyanya. Kali ini suaranya tidak ramah lagi. Tidak juga mengancam. Hanya bingung, dengan sedikit takut yang mulai merembes masuk.
Aku menatapnya.
“Saya cuma orang yang tahu ember ini bocor di mana,” kataku. “Saya nggak akan ngapa-ngapain kalian. Saya nggak akan ngancem. Saya cuma mau kalian pulang, terus bilang ke atasan kalian: nama Angelica Wiradinata dihapus dari daftar. Semua catatan tunggakan atas nama dia, hapus. Jangan ada yang dateng ke sini lagi. Jangan ada yang nelpon lagi. Jangan ada yang ngirim fotonya ke grup mana pun lagi.”
“Kalau nggak?”
“Kalau nggak, rekaman tadi, sama nama perusahaan kalian, sama daftar dua puluh dua perusahaan lain yang nagih dia, saya serahin ke pihak yang berwenang. Lengkap. Rapi. Dengan tanggal dan jam.” Aku menyesap teh lagi. “Saya nggak marah. Saya cuma rapi.”
Sepuluh menit.
Aku tidak menghitung, tapi Tole menghitung. Dia bilang padaku setelahnya, dengan mata berbinar, bahwa dari aku menuang teh sampai dua laki-laki itu berdiri dan keluar dari dapur tanpa menyentuh tehnya, waktunya sembilan menit empat puluh tiga detik.
Mereka tidak mengatakan apa-apa saat pergi. Yang besar menatapku sekali lagi dari ambang pintu, dengan ekspresi orang yang tidak mengerti apa yang baru saja terjadi padanya. Yang kecil menyimpan map dan HP-nya, lalu berjalan cepat ke arah motor tanpa menoleh.
Mereka tidak lari. Tapi wajah mereka pucat. Seperti orang yang datang untuk mengintimidasi dan pulang dengan kesadaran bahwa merekalah yang baru saja diintimidasi—tanpa satu kata kasar pun.
Motor mereka menghilang di ujung gang.
Dan baru setelah suara mesinnya benar-benar hilang, dapur itu bernapas lagi.
Yang pertama bereaksi adalah ibu dengan anak kecil di pintu.
“Mas,” katanya, matanya lebar. “Mas itu... pengacara?”
“Bukan, Bu.”
“Polisi?”
“Bukan.”
“Terus apa?”
Sebelum aku sempat menjawab, Tole sudah menjawab dari arah kompor dengan suara penuh kebanggaan: “FBI, Bu!”
“Bukan FBI, Tole.”
Tapi sudah terlambat. Ibu itu berbisik ke dua karyawan kelurahan. Dua karyawan kelurahan berbisik ke satu sama lain. Dan aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu besok matahari terbit, bahwa sebelum magrib, seluruh gang akan tahu bahwa ada “Mas FBI” di Dapur Angel yang mengusir dua debt collector hanya dengan teh manis.
Pak Darto, yang dari tadi berdiri membeku dengan dua kardus di tangan, akhirnya menaruh kardusnya. Dia berjalan ke arahku dan menepuk bahuku, sekali, keras. Tidak berkata apa-apa. Lalu dia kembali bekerja.
Mbak Yuli tersenyum padaku dari meja packing. Senyum malu-malu yang belum pernah kulihat di wajahnya.
Bu Endang, yang ternyata dari tadi berdiri di ambang pintu gudang, menghapus air matanya dengan ujung celemek dan berkata dengan suara bergetar: “Ibu bilang juga apa. Calon mantu.”
Dan Angelica.
Angelica masih berdiri di belakangku. Tidak bergerak. Tidak bicara.
Aku berbalik.
Dia menatapku dengan mata yang basah. Bukan basah karena takut. Bukan karena lega. Basah karena sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat dadaku sesak hanya dengan melihatnya.
“Sepuluh menit,” katanya pelan. Suaranya pecah. “Setahun aku nangis gara-gara mereka. Setahun. Dan kamu selesain dalam sepuluh menit. Sambil minum teh.”
“Itu bukan aku,” kataku. “Itu aturan yang emang udah ada. Aku cuma bacain.”
“Jangan.” Dia menggeleng. “Jangan bilang gitu. Jangan bilang cuma.”
Aku diam.
Dia melangkah maju. Satu langkah. Lalu satu lagi. Sampai jarak di antara kami tinggal setengah meter. Aku bisa mencium wangi bawang goreng dan sabun cuci piring di rambutnya, wangi yang entah kenapa sudah jadi wangi favoritku di dunia.
“Kamu tadi,” bisiknya, hanya untukku, “nggak naikin suara sama sekali. Mereka ngancem aku di depan pelanggan, di depan karyawanku, dan kamu tuang teh. Kamu nggak marah. Kamu nggak teriak. Kamu cuma duduk dan—” suaranya bergetar, “—dan jadi orang paling menakutkan di ruangan.”
“Aku nggak mau nakutin kamu.”
“Kamu nggak nakutin aku.” Dia tersenyum, air matanya jatuh. “Kamu bikin aku ngerasa aman. Untuk pertama kalinya dalam setahun.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Jadi aku mengangkat tangan—pelan, ragu, seperti orang yang belajar gerakan baru—dan menghapus air mata di pipinya dengan ibu jari.
Dia menutup mata. Bersandar sedikit ke tanganku.
Di belakang kami, Tole berbisik sangat keras ke Bu Endang: “Bu, Bu, itu romantis nggak sih?”
“Diem, Le.”
“Tapi itu romantis kan, Bu?”
“DIEM, LE.”
Angelica tertawa di tengah tangisnya. Aku menarik tanganku, telingaku terasa panas.
Dan di luar, di depan pintu dapur yang terbuka, kerumunan kecil mulai berkumpul. Tetangga-tetangga yang mendengar keributan. Bu Narti di depan, tentu saja, dengan HP terangkat. Dan aku mendengar bisik-bisik mereka, potongan-potongan kalimat yang dibawa angin siang masuk ke dapur:
“...cuma sepuluh menit...”
“...nggak teriak sama sekali...”
“...siapa sih dia sebenarnya?”
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit reading
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.