← Rising.

Chapter Nineteen

Hampir

POV: Angelica


Keponakan Bu Endang menikah hari Sabtu, dan Dapur Angel yang memegang kateringnya.

Tiga ratus porsi. Nasi liwet, ayam bakar madu, sayur labu siam, sambal goreng ati, kerupuk udang, dan puding cokelat untuk pencuci mulut. Kami mulai memasak dari Jumat sore. Bu Endang tidak tidur. Aku tidak tidur. Tole tidur tiga kali di atas karung beras dan dibangunkan tiga kali oleh Bu Endang dengan pukulan sutil di betis.

Dan Yoga, yang sama sekali tidak bisa memasak, ditugaskan Bu Endang untuk “jaga kompor nomor tiga, aduk terus, jangan sampai gosong.”

Dia mengaduk sayur labu siam selama empat jam dengan konsentrasi orang yang sedang menjinakkan bom.

“Mas, itu nggak usah segitunya,” kata Mbak Yuli.

“Bu Endang bilang jangan sampai gosong.”

“Iya, tapi Mas dari tadi nggak kedip.”

“Kalau aku kedip, nanti gosong.”

Mbak Yuli tertawa sampai harus duduk.

Sayur labu siam itu, ngomong-ngomong, adalah sayur labu siam terenak yang pernah keluar dari dapurku. Aku tidak akan pernah memberitahunya.


Sabtu siang, setelah tiga ratus porsi dikirim dan ditata di gedung pernikahan, Bu Endang mendorong kami semua ke ruang ganti darurat di belakang gedung.

“Ganti baju,” perintahnya. “Kalian semua tamu juga. Ibu yang undang. Masa yang masak nggak ikut makan?”

“Bu, saya nggak bawa baju—”

“Ibu bawain.” Bu Endang membuka tas besar yang dari tadi ia jaga seperti tas berisi emas batangan. Di dalamnya: kemeja batik untuk Tole, kebaya untuk Mbak Yuli, dan—

“Bu.”

“Apa, Neng?”

Aku menatap kebaya di tangan Bu Endang. Kebaya brokat warna hijau tua, dengan bordir emas tipis di sepanjang tepinya. Bukan kebaya pinjaman. Masih ada label harganya. Dan di bawahnya, terlipat rapi, kemeja batik laki-laki dengan motif parang warna cokelat tua dan krem.

“Ini buat siapa?”

“Kebayanya buat Neng. Batiknya buat Mas Yoga.” Bu Endang menyodorkan keduanya dengan wajah polos tanpa dosa. “Ibu beli di pasar kemarin. Diskon.”

“Bu, ini warnanya serasi.”

“Kebetulan.”

“Bu Endang.”

“Kebetulan, Neng. Pasar itu kan penuh kebetulan.”


Aku tidak sering memakai kebaya. Terakhir kali waktu wisuda kuliah, lima tahun lalu, dan itu pun kebaya sewaan yang kebesaran di pinggang.

Kebaya hijau tua ini pas. Terlalu pas. Seolah Bu Endang sudah mengukur badanku diam-diam dengan mata selama berbulan-bulan, yang mungkin memang begitu. Aku memakainya di ruang ganti kecil, lalu menyanggul rambutku seadanya dengan jepit yang kupinjam dari Mbak Yuli, lalu memakai sedikit lipstik—merah bata, lipstik kondangan, kata Lila—dan menatap cermin buram di dinding.

Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.

Perempuan di cermin itu tidak terlihat seperti pemilik katering yang setahun menangis di gudang beras. Dia terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu. Matanya terlalu terang. Pipinya sudah merah sebelum ada yang melihat. Leher jenjangnya terbuka di atas kerah kebaya, dan bordir emas di tepinya menangkap cahaya setiap kali dia bergerak.

Aku cantik. Aku tahu itu. Aku sudah tahu sejak remaja, dari cara orang menatap, dari cara pelanggan laki-laki tiba-tiba memesan dua porsi padahal makan sendirian. Tapi aku tidak pernah merasa secantik ini. Mungkin karena aku tidak pernah ingin terlihat cantik untuk satu orang tertentu.

Aku keluar dari ruang ganti.

Yoga sedang berdiri di koridor, membelakangiku, memakai batik parang cokelat tua. Rambutnya disisir rapi—pasti Bu Endang yang memaksanya. Bahunya, di balik batik yang pas di badan, ternyata lebar. Aku tidak pernah memperhatikan bahunya selebar itu. Kaus kedodoran menyembunyikan banyak hal.

“Yoga.”

Dia berbalik.

Dan berhenti.

Dia berhenti dengan cara yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan berhenti seperti orang yang terkejut. Berhenti seperti mesin yang tiba-tiba kehabisan daya. Semua gerakan di tubuhnya membeku. Matanya menatapku, lalu turun ke kebaya, lalu naik lagi ke wajahku, lalu tertahan di sana.

Dia tidak berkata apa-apa.

Lima detik. Sepuluh.

“Kenapa?” tanyaku, tiba-tiba gugup. “Jelek ya? Bu Endang yang milih, aku bilang warnanya terlalu—”

“Bukan.”

Suaranya keluar lebih serak dari biasanya.

“Bukan jelek,” katanya. Lalu dia berhenti, seolah dia lupa kata berikutnya. Laki-laki yang bisa menjelaskan hukum perlindungan data ke dua debt collector tanpa menaikkan suara, yang bisa menenangkan Bu Endang yang panik lewat telepon, sekarang berdiri di koridor gedung pernikahan dan tidak bisa menemukan satu kata.

“Terus?”

Dia menatapku lama.

“Kamu cantik,” katanya akhirnya. Pelan. Sangat pelan, seolah kata-kata itu keluar tanpa izinnya. “Kamu selalu cantik. Tapi ini—” Dia berhenti lagi. Menelan. “Aku lupa mau ngomong apa.”

Aku tidak bisa bernapas.

Dari ujung koridor, Tole muncul dengan batik yang kancingnya salah semua, dan berteriak: “KAK ANGEL! MAS YOGA! BU ENDANG NYURUH CEPET! UDAH MAU FOTO KELUARGA! KATA BU ENDANG KALIAN HARUS IKUT FOTO KARENA KALIAN UDAH KAYAK KELUARGA!”

Yoga menutup mata sebentar.

Aku tertawa. Tawa yang gemetar, yang terlalu keras, yang menyembunyikan jantung yang berdetak terlalu cepat.


Kami ikut foto keluarga. Bu Endang menempatkan kami berdua bersebelahan di barisan belakang, lalu, saat fotografer menghitung mundur, beliau mendorong bahuku sedikit sampai lenganku menempel di lengan Yoga.

Fotonya, kudengar kemudian, menjadi foto paling banyak dikomentari di grup WhatsApp keluarga besar Bu Endang. Komentar terbanyak: Itu pengantin yang mana sih? Kok yang di belakang lebih serasi?


Malam itu, pukul sepuluh, kami kembali ke Dapur Angel untuk mengembalikan baki-baki dan panci-panci katering.

Hanya kami berdua. Tole, Bu Endang, dan yang lain sudah pulang, kelelahan. Aku bilang aku bisa sendiri. Yoga bilang dia ikut. Aku tidak membantah.

Kami belum ganti baju. Aku masih memakai kebaya hijau tua. Dia masih memakai batik parang. Kami seperti dua tamu kondangan yang tersesat di dapur katering, menata panci-panci besar di gudang beras dengan cahaya satu lampu bohlam kuning.

Gudang itu sempit. Terlalu sempit untuk dua orang dan tumpukan panci.

“Yang ini di atas,” kataku, menunjuk rak paling tinggi.

Dia mengangkat panci besar itu ke rak atas. Aku memegangi tumpukan baki di bawahnya supaya tidak jatuh. Dan saat dia menurunkan tangannya, saat aku berbalik untuk mengambil baki berikutnya, kami bertabrakan.

Bukan tabrakan keras. Hanya bahu menyentuh dada. Tapi di gudang sesempit itu, tidak ada ruang untuk mundur.

Aku mendongak. Dia menunduk.

Jarak di antara wajah kami tidak lebih dari sejengkal.

Cahaya bohlam kuning jatuh dari atas, membuat bayangan di bawah tulang pipinya, membuat matanya—cokelat sangat tua, seperti kopi yang terlalu lama diseduh—terlihat hampir hitam. Aku bisa mencium wangi batik baru dan sabun mandi murahan dari kos. Aku bisa mendengar napasnya, yang tiba-tiba tidak teratur.

Dia tidak bergerak. Aku tidak bergerak.

“Angelica,” bisiknya.

Hanya namaku. Nama lengkapku, yang selalu dia pakai dengan keras kepala sementara semua orang memanggilku Angel. Dan untuk pertama kalinya, cara dia mengucapkannya tidak terdengar seperti jarak. Terdengar seperti sesuatu yang ia jaga dengan sangat hati-hati, seperti kata yang terlalu berharga untuk dipendekkan.

“Ya?”

Dia tidak menjawab. Tangannya terangkat. Pelan. Ragu. Ujung jarinya menyentuh helai rambut yang lolos dari sanggulku, menyelipkannya ke belakang telinga.

Lalu jarinya tidak pergi. Tertahan di sana, di sisi wajahku, sangat ringan, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang ia takut akan hilang kalau disentuh terlalu keras.

Aku menutup mata.

Aku merasakan dia mendekat. Sejengkal jadi setengah jengkal. Setengah jengkal jadi—

BRAKK!

Pintu tripleks gudang terbanting terbuka.

“KAK ANGEL! AKU LUPA! BERAS PESANAN BESOK BELUM DITURUNIN DARI PIKAP, AKU—”

Tole berdiri di ambang pintu, memanggul karung beras dua puluh lima kilo di bahunya.

Dia menatap kami.

Kami menatap dia.

Aku dan Yoga, di gudang beras sempit, dengan jarak setengah jengkal, tangan Yoga masih di sisi wajahku, aku masih dengan mata setengah tertutup dan kepala sedikit mendongak.

Hening tiga detik.

Lalu Tole, dengan wajah orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat, perlahan-lahan mundur. Satu langkah. Dua langkah. Karung beras masih di bahunya.

“...Aku taruh di luar aja,” bisiknya.

Dan dia menutup pintu tripleks dengan sangat, sangat pelan.

Dari luar, terdengar suara karung beras diletakkan di lantai. Lalu langkah kaki. Lalu suara Tole, berbisik sangat keras di telepon:

“Bu Endang. Bu. Ibu belum tidur kan? Bu, aku harus cerita. Bu, ini darurat—”

Aku membuka mata.

Yoga sudah menarik tangannya. Dia sudah mundur, sejauh yang dimungkinkan gudang sempit itu, punggungnya menempel di rak panci. Wajahnya merah. Benar-benar merah, dari leher sampai telinga, warna yang tidak pernah kulihat di wajahnya sebelumnya.

Kami saling menatap.

Lalu, tanpa direncanakan, kami berdua tertawa. Tawa yang tidak bisa ditahan, yang membuat perutku sakit, yang membuat Yoga harus memegangi rak supaya tidak jatuh, yang membuat panci-panci di rak bergemerincing.

“Bu Endang,” kataku di sela tawa, “besok pagi bakal bawa undangan.”

“Aku pindah kota aja,” kata Yoga.

“Nggak bisa. Kamu masih utang kopi seumur hidup sama Mang Udin.”

Dia tertawa lagi. Tawa yang sebenarnya, yang keluar dari dada, yang belum pernah kudengar sebelumnya. Suaranya dalam dan sedikit serak, seperti mesin tua yang baru distarter setelah bertahun-tahun.

Aku ingin mendengar suara itu setiap hari.


Kami tidak menyelesaikan apa yang tadi hampir terjadi.

Yoga mengantarku sampai depan pintu rumah, masih dengan batik parangnya, tangan di saku, berjalan di sampingku dengan jarak yang lebih dekat dari biasanya. Di depan pagar, dia berhenti.

“Angelica.”

“Ya?”

Dia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Kebayanya bagus,” katanya akhirnya.

Bukan itu yang mau dia katakan. Aku tahu. Dia tahu aku tahu.

“Batiknya juga,” kataku.

Dia mengangguk. Lalu berbalik, dan berjalan pulang ke arah kos di seberang dua gang, dan aku berdiri di depan pagar sampai sosoknya hilang di belokan.

Hampir.

Kami hampir.

Dan aku mulai menyadari bahwa hampir adalah kata yang paling menyiksa dalam bahasa Indonesia.