Chapter Twenty Three
Cuma Manfaatin Kamu
POV: Angelica
Aku tahu siapa dia sebelum Yoga menyebut namanya.
Aku pernah melihat wajahnya di layar HP-ku, setahun lalu, di artikel gosip murahan yang kubaca sambil menyusun tembok kebencianku bata demi bata. Perempuan berambut panjang di samping Yoga di acara lamaran. Sheren Wirawan.
Di foto itu dia cantik. Di depan Dapur Angel, di siang yang terik, di samping sedan hitam berpelat Jakarta, dia lebih cantik lagi. Cantik yang mahal. Cantik yang terawat di ruangan-ruangan dingin dan tidak pernah kena minyak goreng.
Dan dia menatap Yoga seperti orang menatap rumah lama yang dulu pernah ia tinggali.
Aku masih berdiri di ambang pintu dapur dengan nampan di tangan. Kotak nasi makan siang Yoga. Tempe mendoan dua potong. Es jeruk, jeruk peras, bukan sachet.
Tidak ada yang bergerak.
Lalu Yoga menoleh ke arahku. Hanya sekilas. Dan di wajahnya ada sesuatu yang membuat perutku dingin—bukan rasa bersalah, bukan juga rindu pada perempuan di depannya. Sesuatu yang lebih buruk.
Takut. Takut untukku.
“Angelica,” katanya. “Aku pinjam waktu sebentar.”
Dia membawa Sheren ke ujung gang, ke bawah pohon jambu milik Pak RT. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku hanya bisa melihat dari jendela dapur—seperti aku dulu melihat kelas teras—dan memotong-motong mentimun yang sama sekali tidak perlu dipotong.
“Neng,” kata Bu Endang pelan, berdiri di sampingku. “Itu siapa?”
“Mantan tunangannya.”
Bu Endang diam lama. Lalu beliau mengambil pisau dari tanganku dengan lembut.
“Mentimunnya udah jadi acar, Neng.”
Sheren pergi dua puluh menit kemudian. Sedan hitam itu mundur pelan dari gang sempit, hampir menyerempet gerobak bakso, lalu menghilang.
Yoga kembali ke dapur. Duduk di meja pojok. Makan siangnya dengan diam.
Dia tidak menyisakan tempe untuk terakhir. Dia makan semuanya sekaligus, cepat, tanpa merasakan apa pun, seperti makan nasi Bu Sri di dua tahun terakhirnya.
“Dia mau apa?” tanyaku, akhirnya.
“Ngingetin.”
“Ngingetin apa?”
Dia menatap kotak nasinya yang kosong. “Ayahnya tahu aku lagi nyari orang yang bikin kebocoran itu.”
“Terus?”
“Terus ayahnya nggak suka.”
Itu semua yang dia katakan. Aku menunggu lebih banyak. Dia tidak memberikannya.
Dan semalam—hanya semalam sebelumnya—dia menciumku di atap gudang beras dan bilang aku celahnya.
Tiga hari kemudian, semuanya mulai runtuh.
Hari pertama, petugas dinas datang tanpa pemberitahuan. Inspeksi sanitasi. Mereka memeriksa setiap sudut dapur—lantai, saluran air, wastafel, kulkas, gudang beras—dengan wajah orang yang sudah memutuskan akan menemukan sesuatu sebelum masuk. Mereka menemukan satu kecoak di bawah rak bumbu. Satu. Yang mungkin masuk dari selokan tetangga tadi malam. Mereka menuliskannya di berita acara dengan huruf besar.
“Ada laporan masyarakat, Bu,” kata petugasnya, saat aku bertanya kenapa inspeksi mendadak. “Kami wajib tindak lanjut.”
“Laporan dari siapa?”
“Rahasia, Bu.”
Hari kedua, ulasan-ulasan mulai muncul. Puluhan, dalam satu malam, di aplikasi pesan-antar dan di peta. Bintang satu. Makanannya basi. Ada rambut di nasi. Saya keracunan, anak saya masuk rumah sakit. Akun-akun tanpa foto profil, tanpa riwayat ulasan, semuanya dibuat dalam minggu yang sama.
Dua puluh tiga pesanan dibatalkan sebelum siang.
Hari ketiga, telepon dari kantor cabang sebuah perusahaan asuransi besar yang selama setahun terakhir jadi pelanggan katering terbesarku. Tiga ratus porsi tiap minggu. Penyelamat Dapur Angel di bulan-bulan paling sulit.
“Mohon maaf, Ibu Angelica. Kontrak kita dihentikan mulai bulan depan. Keputusan dari kantor pusat.”
“Kenapa? Ada keluhan soal makanan?”
“Tidak ada, Bu. Hanya... keputusan kantor pusat.”
Aku menutup telepon dengan tangan gemetar. Lalu, karena aku tidak bisa berhenti, aku mencari nama perusahaan asuransi itu di internet.
Pemegang saham terbesarnya adalah grup usaha yang juga memiliki saham di Bank Nusa Raya.
Aku tidak menangis di gudang beras kali ini. Aku terlalu marah untuk menangis.
Aku berdiri di tengah dapur, dengan berita acara inspeksi di satu tangan dan HP yang penuh ulasan bintang satu di tangan lain, dan aku mengumpulkan karyawanku. Dua belas orang. Dua belas keluarga.
“Kita nggak tutup,” kataku. “Kita nggak akan tutup. Kecoaknya udah dibasmi. Ulasannya palsu, aku udah lapor. Kontrak asuransi hilang, kita cari yang lain. Kita pernah lewatin yang lebih parah dari ini.”
Mereka mengangguk. Pak Darto. Mbak Yuli. Tole. Bu Endang.
Tapi aku melihat ketakutan di mata mereka. Dan aku tahu mereka melihat ketakutan yang sama di mataku.
Yoga berdiri di belakang mereka. Di dekat pintu. Dia tidak duduk di meja pojok. Dia tidak membuka laptopnya. Dia hanya berdiri, menatapku, dengan wajah yang sudah lama tidak kulihat.
Wajah hari pertama. Wajah yang semua perabotnya ditutup kain putih.
Dia datang ke dapur malam itu, setelah semua orang pulang.
Aku sedang di meja kasir, menghitung berapa bulan Dapur Angel bisa bertahan tanpa kontrak asuransi. Jawabannya: empat. Mungkin lima, kalau aku tidak mengambil gaji.
“Angelica.”
Aku mengangkat kepala.
Dia berdiri di depan meja kasir. Tangannya di saku. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Tenang yang sama seperti saat dia menuang teh untuk dua debt collector.
“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya. “Dan aku mau kamu dengerin sampai habis.”
Ada sesuatu di nadanya yang membuat jantungku berhenti sebentar.
“Ini gara-gara ayahnya Sheren, kan?” kataku sebelum dia sempat mulai. “Inspeksi. Ulasan palsu. Kontrak asuransi. Itu semua dia. Gara-gara kamu nyari orang itu.”
“Iya.”
“Kalau gitu kita lawan. Kamu punya email itu. Kamu punya bukti. Kita—”
“Nggak ada kita.”
Kalimatnya jatuh seperti piring yang dilepas dari ketinggian.
Aku menatapnya. “Apa?”
Dia menarik napas. Lalu, dengan suara yang tidak naik, tidak turun, tidak bergetar sedikit pun, dia mulai bicara.
“Aku deket sama kamu karena sistemmu,” katanya. “Benda yang ngunci Dapur Angel itu dibikin orang yang sama dengan yang bikin kebocoran bank. Aku tahu dari hari pertama. Aku butuh akses ke sistemmu buat ngelacak dia. Aku butuh alasan buat terus dateng ke sini tiap hari tanpa kamu curiga.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Makan siang,” lanjutnya. “Laptop baru. Kelas teras. Semua itu bagus buat aku. Bikin aku punya tempat. Bikin aku punya alasan. Bikin aku keliatan kayak orang yang lagi bangkit, padahal aku cuma lagi berburu.”
“Kamu bohong.”
“Pinjol-pinjolmu,” katanya, tidak berhenti. “Aku bersihin karena itu bagian dari data yang bocor. Aku butuh polanya. Kamu cuma kasus pertama.”
“Kamu bohong.”
“Dan semalem,” katanya, dan untuk pertama kalinya suaranya berhenti sepersekian detik—sangat singkat, nyaris tidak terdengar—sebelum lanjut, “di atap. Itu kesalahan. Aku kebawa suasana. Aku udah dua tahun nggak deket sama siapa-siapa. Kamu kebetulan ada.”
Kebetulan ada.
Kalimat itu menembus sesuatu di dalam dadaku yang tidak kutahu masih bisa ditembus.
“Proyek,” bisikku. “Kamu tahu soal catatan Proyek di HP-ku?”
Dia diam sebentar. “Lila pernah cerita.”
“Jadi kamu tahu aku—” suaraku pecah, “—kamu tahu aku ngerencanain semuanya. Laptop. Lakban. Kelas. Papan nama. Kamu tahu aku—”
“Aku tahu.” Dia menatapku lurus. “Dan aku biarin. Karena itu ngebantu aku.”
Aku berdiri dari kursi. Kakiku gemetar.
“Ngomong lagi,” kataku. “Lihat mataku, terus ngomong lagi kalau semua itu cuma buat ngebantu kamu.”
Dia menatap mataku.
Dan dia tidak berkedip.
“Aku cuma manfaatin kamu, Angelica.”
Aku tidak ingat apa yang kulakukan setelah itu.
Bu Endang yang memberitahuku keesokan harinya, karena beliau kembali ke dapur malam itu untuk mengambil HP yang ketinggalan dan menemukanku di lantai di belakang meja kasir, memeluk lutut, tidak bersuara.
Yoga sudah pergi.
Beliau bilang aku tidak menangis. Aku hanya duduk di lantai dan menatap pintu. Beliau bilang aku mengatakan satu kalimat, berulang-ulang, dengan suara datar, seperti orang yang sedang menghafal sesuatu yang tidak masuk akal.
Dia nggak kedip. Dia nggak kedip. Dia nggak kedip.
Keesokan harinya, Yoga tidak datang.
Begitu juga lusa. Dan hari setelahnya.
Lampu kamar nomor tujuh, yang bisa kulihat dari atap gudang beras, tetap menyala setiap malam sampai subuh. Tapi pintunya tidak pernah terbuka untukku.
Dan hal yang paling aneh, hal yang tidak kusadari sampai seminggu kemudian, ketika aku akhirnya berhenti cukup lama untuk menyadari apa pun:
Sejak hari Yoga pergi, tidak ada lagi petugas dinas yang datang tanpa pemberitahuan.
Tidak ada lagi ulasan bintang satu dari akun-akun tanpa foto.
Dan pada hari kedelapan, seseorang dari kantor perusahaan asuransi itu menelepon. Suaranya canggung. Kontrak dilanjutkan. Ada kesalahan administrasi. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Aku menutup telepon itu dan duduk lama sekali di meja kasir.
Lalu aku naik ke atap gudang beras, duduk di kursi plastik yang sama, di samping kursi plastik kosong yang seminggu lalu diduduki seseorang yang bilang aku celahnya.
Aku menatap lampu kamar nomor tujuh di seberang dua gang.
Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku membiarkan diriku memikirkan kalimat yang tidak berani kupikirkan.
Dia nggak kedip.
Laki-laki yang selama tiga bulan ini kuamati lebih dekat dari siapa pun. Yang matanya selalu bergerak saat berpikir, selalu berkedip cepat saat gugup, selalu menghindar saat Bu Endang menggodanya.
Laki-laki yang bisa menuang teh untuk dua debt collector tanpa tangannya gemetar sedikit pun.
Laki-laki yang pernah memberitahuku bahwa dia tidak tahu cara lain menjaga orang yang dia sayang selain berdiri di depan dan tenggelam sendirian.
Dia tidak berkedip karena dia sedang melakukan hal yang paling ia kuasai di dunia.
Bukan berbohong.
Menjaga gerbang.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu reading
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.